
Bolehkah aku meminta pada Sang pemberi nyawa, agar kamulah wanita yang senantiasa menemaniku, melayaniku, mendukungku, dalan setiap langkah, dalam setiap hembusan nafas.
Waktu menunjukkan pukul 22.30. Cukup larut bagi gadis itu untuk tiba di kostan.
"Ga berasa udah larut aja ya yank... Padahal aku masih pengen di dekat kamu." Keluh Gunadh saat memarkirkan motor matic milik Nandita.
"Ya kan besok kita bisa ketemu lagi mas,,,." Nandita menghibur sang kekasih.
Kenapa terbalik ya? Harusnya kan Nandita yang dihibur Gunadh. Bukankah dari segi usia, laki-laki itu lebih dewasa? Selain itu, biasanya wanita lebih manja dibandingkan pria bukan?
"Besok bisa ketemu lagi mas,," Gunadh menirukan ucapan Nandita, dengan melebarkan bibirnya.
"Kaya gampang aja cari waktunya wanita karir satu ini." Sindir Gunadh.
"Jangan mulai mas,,,, aku kan udah minta maaf. Dan kita sepakat meluangkan waktu tiap week end, agar bisa pergi berdua. Udah dong jangan dibahas lagi,,,." Raut sedih jelas tergambar di wajah Nandita.
Ia berusaha menghibur Gunadh, sekaligus menghibur hatinya juga. Sadar selama ini dirinya terlalu sibuk, hingga sering mengabaikan pasangannya.
Kini ia ingin berubah, belajar membagi waktu agar semua bisa seiring sejalan.
Berharap bisa memiliki waktu yang cukup untuk bersama, agar bisa saling mengerti dan memahami pasangan.
Tidakkah Gunadh tahu? Banyak keresahan, ketakutan, dan keraguan yang masih membayangi pikiran Nandita.
Gunadh meraih pundak Nandita, mendekatkan dirinya agar bisa mendekap lebih erat gadis di hadapannya itu.
"Maaf yank,, aku becanda. Jangan nangis lagi,,, aku gak bisa liat kamu sedih begini." Ucapnya sembari membelai punggung gadis itu.
"Aku sayang kamu mas,,, sayang banget,,,." Hanya kalimat itu yang Nandita ucapkan. Masih merasa bersalah atas apa yang terjadi selama ini.
"Ya,,, dan rasa sayangku ke kamu lebih dari apa yang kamu rasa." Balas Gunadh
Mereka berpelukan cukup lama. Meresapi aroma tubuh masing-masing, mendengarkan detak jantung satu sama lain.
"Aku pulang ya,,,. Kamu istirahat yang cukup. Jaga diri dan jaga hati kamu untuk pria tua ini." Tersenyum manis, Gunadh mengatakan dirinya tua.
"Mas hati-hati di jalan. Kabarin aku kalau sudah sampai. Salam untuk Mira ya, maaf aku belum sempat nemenin dia lagi." Nandita menatap Gunadh tak kalah mesra.
Cup
Cup
Cup
Gunadh mengecup kening, ke dua pipi dan terakhir
Cup
Ia mengecup bibir Nandita.
Gadis itu sudah tidak terkejut lagi, ini kali ke dua laki-laki di hadapannya melakukan itu.
Namun pipinya yang merona, tidak dapat ya sembunyikan dari Gunadh.
__ADS_1
Terang saja, meski ia sudah bisa dikatakan dewasa, namun jangankan bersentuhan bibir, berpelukan, pegangan tangan, pacaran saja gadis itu tidak pernah. Jadi wajar saja kalau ia merasa malu dengan perlakuan Gunadh.
Gunadh memang harus merasa bangga, karena dia laki-laki pertama yang memberi pengalaman itu pada Nandita.
"Hati-hati mas,,,." Ucap Nandita pelan, saat mengantar Gunadh menuju mobilnya.
"Ya,,, kamu masuk sana, istirahat. Ini udah malam. Besok aku ke tempat baru kamu melatih silat ya,,, sambil ajak Mira juga." Gunadh membelai rambut gadisnya.
Aah rasanya mereka enggan untuk berpisah. Namun tidak mungkin juga selalu bersama.
Dengan berat jalinan tangan itu terlepas.
🌟🌟🌟
Nandita masih sibuk memasak pagi itu, saat suara Gunadh terdengar di depan pintu.
Sengaja gadis itu membuka pintu kamar, agar kamarnya tidak pengap.
"Masuk aja mas,, aku masih di dapur ini. Bentar lagi selesai." Ucapnya, dan hanya melongokkan kepalanya tanpa berniat menghampiri tamunya itu.
"Onty masak apa?" Mira datang menghampiri Nandita yang masih sibuk di dapur.
Benar rupanya gadis itu ikut serta pagi ini.
"Eeh Mira ikut juga? Maaf onty tadi gak liat,,,. Duduk dulu di sana ya, ini sebentar lagi selesai kok." Nandita menunjukkan kasurnya dengan dagu, sebab kedua tangannya masih sibuk memegang lap dan spatula.
"Ini onty masak apa?" Ulang Mira sekali lagi
"Waaahhhh masak besar onty ya,,,." Mira bertepuk tangan melihat menu masakan yang sudah Nandita buat, dan ia letakkan di bawah tudung saji.
Nandita hanya tersenyum menanggapi kehebohan Namira.
Ia patut bersyukur, setelah perubahan sikap Mira saat liburan dulu, dan hubungan mereka yang sempat merenggang, kini Mira kembali seperti dulu. Mau bersikap ramah padanya.
Meski untuk mengumumkan hubungan mereka, sepertinya Gunadh dan Nandita belum melakukan itu.
Mereka sepakat, membiarkan Mira tahu dengan sendirinya. Dan menunggu reaksi gadis itu ke depan seperti apa.
Bila nanti Mira menyatakan tidak setuju, barulah Gunadh perlahan memberinya pengertian.
"Naah,,, udah selesai. Onty bersih-bersih dulu ya... Habis itu kita makan." Nandita hanya bicara dengan Mira saja, tanpa perduli Gunadh yang sudah kesal karena tak sekalipun disapa oleh Nandita.
Setelah selesai dengan urusannya, barulah Nandita menyapa sang kekasih.
"Mas,, mau dibawa ke sini apa ambil sendiri di dapur?" Nandita mengangkat piring yang ia bawa.
"Bawa sini aja yank, males gerak aku." Gunadh menjawab, namun matanya kembali fokus menatap layar televisi.
Nandita menggelar karpet kecil di samping rak TV, menyiapkan makanan yang ia buat, serta menyiapkan jeruk hangat untuk minum.
"Mas,,, bangun donk. Makan dulu, nanti lagi rebahannya." Sorot mata Nandita menajam, melihat laki-laki itu masih santai di atas kasur sembari memilih chanel TV.
"Eh ya maaf,,,." Gunadh segera beranjak, masuk ke dapur untuk mencuci tangan.
__ADS_1
Beberapa kali ikut makan di kostan gadis itu, ya jadi tahu kebiasaan Nandita, kalau makan tidak pernah menggunakan sendok, melainkan langsung pakai tangan.
Mira memperhatikan interaksi mereka berdua. Gadis belia itu dilema, bingung mau mengikuti hatinya atau menuruti kata sang mommy.
"Ingat Mira,, jangan pernah percaya pada onty Nandita, dia ingin merebut Daddy kamu, memisahkan kalian seperti dia pisahkan mommy sama Daddy dulu." Hasutan Safira tiap kali membahas soal Nandita.
"Enak?" Tanya Nandita pada Mira saat melihat gadis itu makan dengan lahap.
"Enak banget onty,, bihunnya aku suka. Dendeng sama urutannya juga mantap. Yang di rumah udah habis aku pake camilan sambil nonton kartun." Ucap Mira dengan mulut sibuk mengunyah.
"Ya udah, nanti bawa punya onty aja sebagian kalau Mira mau." Tawar Nandita.
"Ya sayang,,, onty kamu ini udah jadi wanita karir, sibuknya ngalah-ngalahin CEO perusahaan, sampai gak ada waktu untuk masak." Sindir Gunadh.
Nandita memutar bola matanya malas. Pendendam sekali laki-laki di depannya ini.
"Onty,,, habis ini mau ada acara kemana?" Tanya Mira saat membantu Nandita mengangkat perabotan tempat makan tadi.
"Onty ada jadwal latihan sekarang. Kata Daddy kamu, kamu mau ikut. Benar?" Nandita memastikan lagi.
"Emang boleh? Aku kan bukan siswa onty?"
"Boleh donk.... Itu kan bukan kegiatan sekolah, dan gak di lingkungan sekolah kita latihannya. Siapapun boleh kok ikut." Ucap Nandita.
"Berarti aku boleh ajak temen juga ya onty?"
"Boleh aja, nanti biar ada teman sebaya. Biar seimbang umur sama berat badannya. Untuk sekarang kan baru latihan dasar, baru pengenalan gerak, tehnik, gitu-gitu,, jadi masih bisa gabung latihannya." Ucap gadis itu lagi.
Tak menunggu lama, pekerjaan dapur Nandita selesai.
"Mau berangkat sekarang mas? Atau aku duluan aja sama Mira?" Ucap Nandita pada Gunadh, yang setelah selesai makan, kembali ke posisi semula lagi sembari menonton TV.
"Kenapa sih yank kaya yang keseeel gitu sama aku dari tadi?" Tanya Gunadh?
"Sssttt kalo ada Mira gak usah panggil sayang-sayang gitu mas, aku takut dia gak suka." Rasanya dulu Nandita sudah pernah membahas hal itu, namun dasar Gunadh keras kepala.
Syukur tadi Mira masuk ke kamar mandi, jadi tidak mendengar obrolan mereka.
"Mas kalo libur, gini terus ya di rumah? Malas-malasan, habis makan tidur lagi, gitu?"
Gunadh hanya mengangkat bahunya sesaat, sebagai respon ucapan Nandita.
"Sampai jam berapa nanti latihannya?" Gunadh bertanya saat mobil sudah memasuki gedung tempat latihan.
"Biasanya latihannya empat jam mas, tapi hari ini aku bilang cukup dua jam aja sama anak-anak." Ucap gadis itu.
"Yeeeiii jadi berarti ya Dad kita ke pantai? Kan Daddy udah janji kemarin,,." Mira bersorak senang.
Nandita menoleh pada Gunadh, yang saat ini sedang mengemudi.
"Kemarin pas aku pulang, Mira rupanya belum tidur. Dia nungguin aku, soalnya tumben aku pulang malam tanpa kasih tau dia. Agar dia gak merajuk, aku janjian ajak dia ke pantai hari ini." Gunadh yang mengerti arti tatapan Nandita, segera memberi penjelasan.
Gadis itu mengangguk tanda setuju. Ada baiknya juga mereka memiliki waktu bertiga, agar bisa saling mendekatkan hubungan satu dengan yang lain.
__ADS_1