Nanditha

Nanditha
PENYESALAN MIRA


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju apartemen Brian, Gunadh berubah pikiran dan langsung berbalik arah menuju rumah sakit di mana Mira dirawat. Ia merasa sudah terlalu lama meninggalkan sang putri. Ia tidak tenang.


"Arya, tolong kamu cari pria bernama Brian di apartemen xx. Kata Anton, laki-laki itu pasti mengetahui orang yang sedang kita cari." Perintah Gunadh lewat sambungan telepon.


"Baik tuan." Sahut Arya singkat.


Meski perintah sang tuan mengganggu waktu liburnya, Arya tidak pernah berkata tidak bila Gunadh memintanya melakukan sesuatu.


"Cari tau sebanyak mungkin informasi mengenai kejadian di apartemen itu. Lakukan cara apapun untuk menggali informasi."


"Baik tuan."


Gunadh menutup sambungan telepon dan kembali fokus pada jalan di depannya.


Gunadh tiba dan langsung menuju ruang perawatan sang putri. Ia menatap lekat wajah tenang Mira yang masih terlelap. Bi Asih yang sejak kemarin menjaga nona kecilnya, baru saja keluar dari kamar kecil dan mendapati majikannya sudah duduk di samping Mira.


"Tuan, sudah sarapan?" Tanya bi Asih.


Ia bertanya, sebab tadi pagi-pagi sekali Gunadh pergi. Wanita paruh baya itu tau betul seperti apa majikannya itu.


Gunadh menjawab dengan gelengan kepala. Bi Asih menarik nafas. Ia tidak bisa memaksa Gunadh. Ia mengerti bagaimana perasaan tuannya. Hanya saja, bila Gunadh dibiarkan dengan pola makan yang tidak teratur laki-laki itu bisa sakit.


"Tuan, saya ijin keluar sebentar ya." Pamit bik Asih dan hanya dijawab dengan anggukan.


Asisten rumah tangga itu melangkah menuju kantin rumah sakit. Berniat membelikan Gunadh sarapan sekaligus makan siang.


Ia tidak ingin majikan yang sudah ia anggap seperti anaknya itu sakit, dan akhirnya ia sendiri yang repot mengurus dua orang.


Gunadh masih betah membelai rambut putrinya. Hingga dering ponsel menghentikan kegiatannya.


Gunadh bangkit, mendorong kursi yang ia duduki dan bangkit menjauh dari putrinya.


"Ya halo,"


"Halo tuan, kami sudah menemui pria yang tuan maksud."


"Bagus, cari sebanyak mungkin informasi darinya. Segera kita harus menemukan dua pria itu."


"Dia meminta sejumlah uang bila kita ingin informasi yang lebih detail tuan."


"Berapa yang dia mau?" Tanya Gunadh tanpa basa-basi.


"Seratus juta tuan," sahut Arya.


Gunadh menarik nafas.


"Berikan saja. Asal itu bisa menjadi jalan untuk saya mengetahui apa yang menimpa Mira."


"Baik tuan."

__ADS_1


Gunadh menutup sambungan telepon.


Sementara gadis yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu, hanya berpura-pura tidur. Ia terbangun ketika mendengar derit kursi yang Gunadh dorong.


Ia menyimak obrolan yang daddynya lakukan bersama seseorang. Meski sedikit samar, namun dari yang gadis itu dengar, ia dapat menyimpulkan bahwa Gunadh masih terus mencari informasi mengenai apa yang sebenarnya menimpa dirinya.


Mira merasa tersentuh, ia baru sadar kalau ayahnya begitu sangat mengkhawatirkannya. Ia masih memiliki orang yang menyayanginya dengan tulus.


Muncul penyesalan dari dalam hati gadis itu. Kenapa ia harus gelap mata hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup?


'Dad ... Maafin Mira ...' jeritnya dalam hati. Air mata yang muncul di ujung matanya, tidak dapat menutupi kesedihan dan penyesalan itu, meski matanya terpejam.


Bi Asih muncul dengan beberapa kantung makanan di tangannya, tepat ketika Gunadh baru saja mengakhiri panggilan telepon.


"Tuan," wanita itu mendekati Gunadh yang berdiri di dekat sofa.


"Saya sudah belikan makanan yang tuan suka, sebaiknya makan dulu." Ucap bik Asih


"Oh, makasih banyak Bik ..." Gunadh hendak mendaratkan pantatnya di sofa. Namun suara lemah Mira mengurungkan niatnya.


"Dad ..."


Gunadh menoleh, menatap sang putri yang matanya sudah memerah.


Gunadh segera mendekati anaknya.


"Ada apa sayang? Apa ada yang sakit?"


Mira menggeleng.


"Non sama bibik mau? Biar daddynya makan dulu. Kasihan dari pagi belum makan." Ucap wanita itu lembut.


"Nanti saja saya makannya bik ..."


"Aku sama bik Asih aja dad, Daddy makan dulu. Nanti kita ngobrol." Bujuk Mira.


"Ya sudah Daddy makan dulu ya," Gunadh yang merasakan lapar akhirnya mengikuti ucapan sang putri.


Bik Asih duduk di kursi yang tadi Gunadh duduki.


"Non Mira mau minum? Bibik tadi beli jus alpukat."


"Boleh bik." Ucap gadis itu pelan.


Bik Asih mengambilkan jus yang ia tawarkan m. Mengatur ranjang agar nona kecilnya nyaman saat meminum jus.


"Mau jajan?" Tanyanya lagi saat Mira menyerahkan cup jus kembali padanya.


Mira menggeleng.

__ADS_1


"Bik ... Aku bikin kalian repot ya? Maafin ya bik." Ucap gadis itu.


"Non nggak boleh ngomong gitu. Kita semua sayang sama non. Nggak ada yang merasa direpotkan." Nasihat bik Asih.


"Tapi sedih dan patah hati. Terutama tuan, dia ayah yang baik non. Dia hancur saat tau non melakukan hal ini."


Mata Mira berkaca-kaca, merasa sangat bersalah karena sudah membuat daddynya terluka.


"Janji ya non, jangan lagi melakukan hal ini. Apapun yang terjadi, ingat. Tuhan nggak suka sama ciptaannya yang tidak pandai bersyukur." Nasihat bik Asih.


Mira hanya menunduk dan memainkan jarinya.


"Mira nggak akan gitu lagi bik ... Mira janji." Ucapnya kemudian.


Gunadh yang melihat interaksi putrinya dengan sang art, merasa bersyukur ditengah musibah yang terjadi ia masih memiliki orang-orang yang tulus dan setia terhadapnya.


Dan hal lain yang membuat dia semakin bahagia, sebab putrinya kini sudah mulai mau membuka suara.


Biasanya Mira hanya mau bicara dengan sang psikolog, tapi kini gadis belia itu bahkan mau bicara dengan bik Asih.


Ia menikmati makanannya sembari terus mendengar obrolan dua perempuan beda usia itu."


"Di luar sana, banyak anak-anak kurang beruntung yang bukan hanya tidak mendapat kasih sayang mama atau papanya, tapi tidak keduanya. Bahkan tidak jarang bibik temui, anak seusia non Mira dipaksa jualan atau meminta-minta di jalanan. Jangan mengingkari anugrah Tuhan non. Saat non sedih, adukan kesedihan itu sama Tuhan. Percaya sama bibik, perasaan itu pasti langsung hilang." Nasihat bik Asih membuat bukan hanya Mira, tapi Gunadh juga bersyukur.


Di dalam kesulitan, tekanan, dan segala masalah yang datang, ia masih dapat melalui dengan baik.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


haiii aku mau promo karya temenku lagi nih ... bisa diintip yaaa


"Kamu dijadikan alat penukar hutang oleh kekasihmu, sekarang kamu ikut Mamih!"


"Tidak mungkin, Anda pasti berbohong?"


Begitu terkejutnya Lura, saat kekasih yang amat ia cintai menjadikannya sebagai alat penebus hutang kepada seorang mucikari.


Cinta yang selama ini ia harapkan pada Farrel bisa membawanya pada masa depan cerah.


Justru cinta itu yang membuat kehidupannya menjadi kelabu.


Kehidupannya di jual secara sengaja tanpa ia ketahui.


Cinta itu berubah menjadi benci.


Kehidupan dunia malam yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya harus ia jalani. Kehormatannya pun terenggut paksa.


Bagaimana kehidupan Lura setelah ini.


Akankah kehidupan kelabu itu bisa memutih seperti harapannya?

__ADS_1


Saat si pemilik kehormatan datang mencarinya.



__ADS_2