
Masalah bila tidak diselesaikan, tidak akan selesai dengan sendirinya. Diam hanya membungkus semua ragu dan keluh kesah tanpa bisa menjadi obat untuk luka dan kegamangan dalam jiwa.
Itu sesungguhnya yang terjadi diantara dua insan yang saling mencinta yakni Gunadh dan Nandita.
Kebiasaan untuk memendam masalah sendiri, membuat mereka menyembunyikan resah dan ketakutan di balik topeng senyum. Mencoba meyakinkan hati, bila semua baik-baik saja.
"Mas ... Ini kebanyakan ..." Mata Nandita membola, begitu Gunadh menyerahkan beberapa kantong belanja dari brand terkenal yang tadi mereka datangi.
"Aku belum pernah manjain kamu yank, selama ini kamu gak pernah minta apa-apa dari aku." Tatap Gunadh lembut ke manik mata Nandita.
"Iya tapi gak gini juga. Aku jadi gak enak. Mas kerja susah payah ngumpulin uang, masa sekarang dengan mudahnya di hamburin gini." Menatap satu persatu paper bag berbagai warna di depannya.
Gunadh gemas, ditariknya rambut panjang Nandita yang tergerai menutupi telinga. Hal yang sudah lama tidak laki-laki itu lakukan.
"Kamu tuh cerewet tau yank ... Dimana-mana wanita itu senang kalau dikasih barang sama pasangannya. Ini malah komplain."
Setelah berpisah dari Safira, Gunadh sangat jarang membelanjakan uangnya. Ia bukan tipe orang yang suka mengkoleksi banyak barang dengan fungsi yang sama.
Uangnya lebih banyak habis disebabkan oleh anaknya. Dan buat dia, itu bukan hal yang patut di resahkan.
Nandita mengusap bagian kepala yang rambutnya ditarik tadi. Dia senang momen itu terulang lagi. Dalam hati berharap, saat seperti itu akan terus terulang hingga mereka menua bersama.
"Tumben gak ngomel?" Ledek Gunadh ketika menyadari perlakuannya barusan malah membuat Nandita tersenyum, bukan kesal seperti biasa.
"Nanti kalau aku ngomel, mas ngambek lagi. Tadi aja aku diem mas ikut diemin aku." Balas Nandita
Gunadh tidak lagi bisa menjawab, sebab apa yang dikatakan Nandita benar adanya.
Mestinya sebagai orang yang lebih dewasa, Gunadh lebih mengerti dan bisa mengendalikan egonya. Tidak malah ikut diam ketika Nandita dalam keadaan mood yang tidak baik.
"Btw makasih mas untuk semua ini. Maaf, aku malah gak kepikiran buat beliin mas apa-apa." Ucap Nandita tulus, menatap Gunadh dengan lembut.
"Sama-sama sayang. Aku gak minta kamu untuk beliin aku apapun. Cukup tetap di samping aku, menemani dan menggenggam tanganku dalam setiap keadaan, itu udah cukup untukku." Kata Gunadh.
"Seandainya suatu hari nanti, ada sesuatu atau seseorang yang membuat kita pisah gimana mas?"
"Gak akan aku biarkan. Siapapun dan apapun itu, aku akan berjuang untuk mempertahankan kamu. Kamu dan Namira adalah hal paling penting dalam hidup ku sekarang."
Wajah Nandita perlahan berubah ketika Gunadh menyebut nama anaknya.
"Mas, kalau Mira tetap tidak merestui hubungan kita gimana?"
"Gak mungkin yank ... Dia pasti akan merestui kita, mas akan membuat dia kembali seperti dulu sama kamu. Anak itu anak yang baik. Meski keras kepala tapi dia adalah anak yang sensitif dan mudah tersentuh."
Mendengar pujian Gunadh untuk Mira, Nandita berharap semua itu benar.
Ia pun akan berusaha mendekatkan diri lagi pada gadis belia itu. Itu janji Nandita yang ia ucap dalam hati, tanpa Gunadh tahu.
🌟🌟🌟
__ADS_1
"Duuuh yang habis pacaran, mukanya cerah banget ..." Goda Candra ketika Nandita masuk ke kamar setelah sebelumnya melakukan kencan romantis berdua dengan Gunadh.
"Apaan sih kamu Ndra, kaya dia gak aja." Rona merah di pipi Nandita tidak dapat ia sembunyikan.
"Apaan tuuh, perasaan tadi pagi udah shoping. Tadi shoping lagi kamu?" Candra semakin kepo, melihat tentengan Nandita yang cukup banyak.
"Ooh ini dikasih mas Gunadh." Nandita terlihat ragu saat mengatakan itu.
"Wooww ... Coba liat ..." Candra sangat antusias begitu tahu barang-barang itu pemberian Gunadh.
"Ta ... Kapan pacarmu itu nyiapin ini?" Nandita hanya menggedikkan bahunya. Sebab setahu mereka, Gunadh hanya membeli untuk sang putri.
Nandita pun ikut melihat apa saja yang dibelikan Gunadh untuknya.
Banyak yang Gunadh belikan untuknya. Mulai dari sepatu, baju, parfum, tas, dan perhiasan.
Saat Gunadh memilih barang untuk sang putri, ia juga memilih untuk Nandita. Hanya saja, Gunadh tidak memberi tahu gadis itu. Sebab Gunadh yakin, bila Nandita tahu, gadis itu pasti akan menolak.
Gunadh ingin menjadi pasangan yang bisa memanjakan wanitanya. Berharap hal ini bisa membuat ikatan mereka lebih kuat lagi.
"Kalian itu saling sayang, tapi sering kali salah paham. Komunikasi kalian itu mestinya diperbaiki tau." Nasihat Candra pada sahabatnya.
"Gak tahu juga Ndra, aku kaya masih ragu gitu. Bukan sama dia, tapi sama kerumitan ini."
"Ya mangkanya itu diobrolin. Memangnya selama ini tiap kalian ketemu, bahas apaan sih? Ciuman doang?"
"Kita tuh jarang ketemu yang waktunya luang banget. Terus seringan ketemu sama Mira juga." Jelas Nandita.
"Nanti deh pelan-pelan aku coba untuk ajak dia ngobrol dari hati ke hati." Ucap Nandita kemudian.
Sembari berbincang, mereka merapikan barang-barang yang Gunadh berikan.
🌟🌟🌟
Gunadh masih saja terjaga meski hari telah larut. Terbiasa bekerja bahkan hingga larut, membuat Gunadh sulit memejamkan mata saat berlibur. Hal itu juga yang membuat ia meminta Arya mengirim berkas-berkas yang harus ia pelajari dan periksa.
Hingga waktu menunjukkan pukul 02 dini hari, barulah ia bisa memejamkan mata.
Drt
Drt
Drt
Getar ponsel mengejutkan laki-laki itu hingga ia terjaga.
Panggilan luar negeri dari sang asisten, membuat alisnya berkerut. Diliriknya jam baru menunjuk angka 4, itu berarti di Indonesia sudah pukul 10 00pagi.
"Halo, ada apa Arya?"
__ADS_1
"Tuan, maaf menganggu waktu istirahat Anda. Terjadi kecelakaan kerja di proyek yang baru kita bangun. Beberapa buruh yang mengalami luka berat maupun ringan sudah dibawa ke rumah sakit. Dan ..." Arya menjeda ucapannya. Ia tampak ragu mengatakan.
"Dan apa Arya?" Suara Gunadh terdengar berat. Firasatnya mengatakan, hal buruk terjadi.
"Dan ada sekitar lima sampai sepuluh orang tertimpa beton yang roboh. Dan hingga kini Basarnas masih berusaha mengevakuasi." Ucap Arya dengan suara rendah.
Gunadh memejamkan matanya. Mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam
"Urus semuanya Arya, laporkan juga ke dinas ketenaga kerjaan juga asuransi."
"Masalahnya tuan, sebagian dari mereka pegawai lepas yang tidak terikat kontrak secara resmi."
Gunadh kehilangan kata-kata. Lama terdiam, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia secepatnya.
Tidak mungkin ia membiarkan Arya menghadapi masalah ini seorang diri.
Mencari penerbangan paling cepat, Gunadh mendapatkan tiket keberangkatan pukul 08.00 waktu setempat. Setelah semua siap, ia pun menuju kamar Satya dan kemudian ke kamar Nandita. Sengaja ia mengajak Satya, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Tok
Tok
Tok
Gunadh mengetuk pintu dengan gusar. Ponsel kedua gadis itu tidak bisa dihubungi, sebab sama-sama kehabisan daya.
"Lho mas, ada apa?" Tanya Nandita dengan handuk masih menempel di kepalanya
"Yank ... Maaf, mas harus balik duluan. Ada masalah di proyek. Tadi pagi Arya menghubungi mas. Kamu gak apa-apa kan?"
Nandita terkejut mendengar berita sedih itu.
"Ya ampun mas ... Terus gimana sekarang?"
"Mas juga belum tahu pastinya. Itu sebabnya mas mau pulang lebih dulu, doakan semu baik-baik aja."
"Iya mas. Terus Nanti mas pesawat jam brapa?"
"Jam 8 yank"
"Kalau gitu aku siap-siap dulu ya mas."
Gunadh menganggukkan kepala tanda setuju.
Mereka mengantar Gunadh hingga bandara.
Sementara Nandita, Satya dan Candra kembali ke hotel.
Mereka masih punya waktu hingga malam untuk mengeksplor kota tersebut.
__ADS_1