Nanditha

Nanditha
NAMIRA SEMAKIN BENCI


__ADS_3

Tetaplah berbuat baik, meski kadang kebaikan kamu disalah artikan oleh orang lain. Jangan dengarkan omongan mereka yang membenci kamu. Ingat, kamu hidup bukan hanya untuk membuat orang lain tertawa, tapi tetap, kamu harus menjadi orang berguna.


Nandita melanjutkan makan nya, kemudian meminum coklat hangat di depannya. Enggan menanggapi ocehan orang di sampingnya.


Safira bertambah kesal sebab Nandita tak terpancing.


"Dikasi berapa kamu tiap kali nemenin mas Gunadh??" Tanya nya lagi


Mata Nandita berubah tajam, seakan ingin membelah mantan istri Gunadh.


"Kamu ada masalah apa sama saya??"


Safira tersenyum licik. Pancingannya berhasil. Nandita emosi.


"Gak ada masalah, hanya merasa terusik aja sama sikap kamu yang sok manis dihadapan Mira. Ingat ya Mira itu anakku, kamu gak akan bisa gantiin aku di hidupnya."


Nandita tersenyum tipis. Tidak habis pikir dengan kelakuan wanita berpenampilan elegan itu


"Sangat tidak berminat saya menggantikan kamu. Siapa kamu?? Hanya wanita egois yang tega meninggalkan suami dan anak demi nafsu. Jangan samakan kamu dengan saya. Kita jauh berbeda."


Ucap Nandita santai sambil mengaduk sisa coklat di cangkirnya.


Wajah Safira memerah menahan marah sekaligus malu. Namun Nandita mana perduli.


Gadis itu bangkit hendak pergi dari sana, enggan berlama-lama berhadapan dengan sosok menyebalkan itu.


"Dasar pelakor, ga tau malu sekali kamu merebut suami dan mendekati anakku." Sengaja Safira bicara dengan bahasa Inggris, bermaksud mencari simpati orang lain di sana.


"Dasar wanita gila" Ucap Nandita sambil tersenyum remeh.


Safira tidak terima, ia melayangkan tamparan ke arah wajah gadis itu namun Nandita menahan dengan tangannya. Ia juga mencengkeram tangan itu dengan kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Kamu sala kalau ingin beradu kekerasan dengan saya. Jangankan tangan ringkih ini, mematahkan tulang rusuk kamu pun kecil bagi saya. Tapi saya bukan kamu, saya tidak rela mengotori tangan saya untuk itu." Nandita menghempas tangan Safira dengan kasar. Disaat bersamaan muncul Gunadh dan Namira yang melihat Safira tersungkur.


"Mommy....." Teriak gadis kecil itu. Matanya menatap nyalang penuh kebencian pada Nandita. Sementara Gunadh merasa dilema, ingin melihat keadaan siapa lebih dulu.


"Nandita,,," ucap laki-laki itu lirih. Namun Nandita yang sudah marah, memilih acuh dan berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Safira bangkit di papah oleh anaknya. Gadis kecil itu menangis melihat sang mommy tidak berdaya.


"Mommy gak apa-apa sayang, kamu jangan nangis dong...." Safira membujuk Mira. Semua itu tidak luput dari perhatian Gunadh yang masih mematung ditempat semula.


'Gak mungkin Nandita bersikap begitu kalau tidak dipancing emosinya' batin Gunadh berucap. Namun ia sadar, akan sulit membuat Mira menerima Nandita seperti dulu. Ini akan menjadi pr berat untuknya.


Safira bersorak senang, tidak apa ia malu karena terjatuh di lantai, keberhasilannya membuat citra buruk Nandita dihadapan Mira sudah menjadi bayaran yang sepadan menurutnya.


🌟🌟🌟


Hari sudah sore saat Nandita baru tiba di depan kamar hotelnya. Banyak barang yang ia bawa. Wajah cantiknya terbalut lelah. Namun begitu, ia begitu menikmati harinya. Berkeliling mengunjungi tempat-tempat belanja murah, sambil menikmati makanan khas Indonesia yang dijual di sana.

__ADS_1


"Ehm dari mana Ta?" Tanya Gunadh yang melihat Nandita hendak membuka pintu kamar nya.


"Habis jalan-jalan mas, tadi sempat ke lucky plaza." Jawab Nandita singkat.


"Aku masuk dulu mas" lanjutnya lagi kemudian menghilang di balik pintu.


'huh susah sekali menghadapi orang kayak kamu Ta. Kamu terlalu tangguh, kalau bukan aku yang nurunin ego, aku yakin kamu akan tetap cuek sama aku' keluh Gunadh memandang pada pintu yang telah tertutup rapat.


Gunadh kembali ke kamarnya. Menyelesaikan pekerjaan yang dikirim Satya tadi siang. Gunadh selalu membawa laptop kemana pun ia pergi, sebab sebaik apapun ia mempersiapkan liburan, hal mendesak akan selalu terjadi. Contohnya seperti saat ini.


Gunadh mengambil ponsel nya mengetikkan pesan untuk gadis yang baru tadi ditemui.


G : "Ta,,,,"


Sepuluh menit tidak ada jawaban


G : "Ta,,,, masih marah sama aku??"


Masih belum dibalas. Gunadh menelepon nomor Nandita.


Hingga panggilan ketiga


"Kenapa mas?" Baru lah suara Nandita terdengar.


"Aku masih keringkan rambut, nanti aja neleponnya ya." Nandita hendak mematikan sambungan


"Eeehhh tar dulu.... Nanti aku ke kamar kamu ya... Kita makan malam bareng"


"Mmmm aku lagi males keluar mas, cape tadi seharian jalan. Mau tidur aja, tadi aku udah makan juga soalnya." Gadis itu menolak halus, namun Gunadh tetap berusaha.


"Kalau gitu temenin aku aja, dari tadi belum sempet makan siang."


"Lho kenapa ga makan??"


"Ya tadi satya kirimin banyak email, ada banyak berkas yang mesti diperiksa. Jadi lupa makan"


"Kenapa sih mas,,,, kayanya pekerjaan lebih penting daripada kesehatan kamu. Memang kamu bakal bisa nikmatin semua hasil usaha kamu kalau kamu sakit?"


Gunadh tersenyum senang mendengar kecerewetan Nandita, itu artinya dia sudah tidak marah lagi.


"Terus mau gak nih,, temenin mas nanti cari makan??"


"Ya sudah nanti panggil aja aku."


Panggilan diputus. Gunadh segera mengganti baju untuk pergi bersama Nandita.


Sementara itu, Safira dan Namira puas mengelilingi pusat perbelanjaan sedari siang. Setelah kejadian di restaurant tadi, Mira menemani sang mommy di kamarnya.


Safira menangis pilu di dalam kamar.

__ADS_1


"Mommy malu banget sayang,,,, di depan umum mommy diperlakukan seperti pengemis yang minta-minta."


"Mommy,,,, udah ya... Jangan nangis lagi...."


"Sakit banget hati mommy sayang,,, bahkan dia bilang, dia ga Sudi jadi pengganti mommy. Berarti seandainya dia berhasil menikah sama Daddy kamu, dia gak bakal perlakukan kamu dengan baik."


"Gak mom!!! Gak akan ada orang yang boleh dekat ataupun jadi istri Daddy selain mommy. Sampai kapanpun Mira gak akan setuju kalau Daddy sama orang lain. Daddy hanya untuk mommy dan Mira!!" Namira begitu emosi, dia tidak terima semua yang dilakukan Nandita pada dirinya dan juga sang mommy.


"makanya itu,, kamu harus janji sama mommy, bagaimanapun caranya jangan biarkan Nandita bersatu sama Daddy kamu. Ingat dia hanya pengasuh, orang yang menerima uang dari setiap apapun yang dia lakukan untuk kamu. Dia gak benar-benar tulus sayang sama kamu."


Namira mencerna semua ucapan sang mommy. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kamu harus buat dia sadar akan posisinya, diaaa hanyaaalah seorang pembantu untuk kamu!" Safira menunjuk dada anaknya, menekan setiap kata agar Namira mengerti.


"ya mom,, dia hanya pembantuku. Orang yang biasa aku suruh-suruh dan harus menuruti mau aku." Gadis manis itu tersenyum licik, persis seperti sang mommy.


"ya sudah sekarang mommy jangan sedih lagi, masa kita nangis-nangisan di sini.... keenakan dia jadinya, mending kita jalan-jalan yuk mom." ajak Namira


Sungguh dia anak yang baik dan pengertian. Tapi dia masih terlalu kecil, masih belum bisa membedakan mana baik dan mana buruk. Dia hanya bisa melihat, apa yang tidak sesuai maunya adalah salah, dan orang yang tidak sesuai keinginannya adalah jahat.


Mestinya sebagai orang dewasa, orang-orang disekitarnya mengajarinya tentang welas asih, tentang memaafkan, memberi tanpa pamrih dan pemahaman yang lain tentang kehidupan.


Anak kecil selayaknya kertas putih, bersih tanpa noda. Orang disekelilingnya yang akan menentukan kertas itu menjadi indah atau menjadi buruk. Berakhir menjadi karya dengan lukisan indah, atau sebaliknya menjadi sampah yang penuh noda dan bau busuk.


"Sayang kita shoping aja gimana??" Ide muncul di kepala Safira.


"Boleh mom,,,, aku lagi pengen kumpulin sepatu, tapi dulu Daddy jarang punya waktu. kalau sama onty Dita, pasti dia bakal nasehatin, aku kalau beli sesuatu itu sewajarnya, jangan berlebih. Apalagi benda itu bisa habis masa pakainya, biar gak buang uang katanya."


"Mulai sekarang, kamu gak usah dengerin omongannya dia. Daddy kerja untuk kamu, kamu anaknya. Wajar seorang Namira Arjava membeli sesuatu lebih dari orang lain. Kenapa dia yang hanya seorang pengasuh ngatur-ngatur kamu?"


Namira hanya mengangguk-anggukan kepala. Dia baru sadar, selama ini banyak sekali hal yang diatur dalam hidupnya oleh Nandita.


"Tapi kamu harus hati-hati sayang,, onty Dita jangan sampai tau kalau kamu udah tahu kebusukannya dia. Pelan-pelan kamu bongkar kelakuannya dia di hadapan Daddy kamu."


"Ya mom,,, aku akan buat dia pergi dari Daddy. Aku akan bikin dia dibenci sama Daddy.


'Liat aja onty, semua akan aku balas jauh lebih menyakitkan dari ini' gumamnya penuh dendam.


Mereka akhirnya berbelanja banyak hal, melupakan kesedihan, yang sengaja diciptakan oleh Safira.


Sementara Gunadh dan Nandita akhirnya keluar bersama sore itu. Berjalan beriringan, mencoba beberapa kuliner di Lau Pa Sat, salah satu pasar rakyat tertua di Singapura.


Gunadh berniat membicarakan masalah yang terjadi dan meminta maaf soal kemarin. Namun Nandita menolak.


"Gak usah bahas itu mas, aku lagi gak mau berdebat. Yang pasti, soal kemarin aku udah maafin kamu. Soal lain, biar nanti kita pikirkan . Aku kesini untuk liburan, gak mau merusak pengalaman pertama aku dengan hal-hal yang gak penting."


Gunadh bisa apa kalau Nandita sudah bicara??


Lagipula benar kata gadis itu. Jangan merusak kebahagiaan yang sudah sejak lama Nandita idamkan.

__ADS_1


Sekarang waktunya menikmati kebersamaan mereka, kebersamaan yang mungkin nanti tidak akan bisa mereka ulang kembali.


__ADS_2