Nanditha

Nanditha
RASA YANG TERPENDAM


__ADS_3

Sebentar lagi liburan semester akan berakhir.


Nandita masih dipusingkan dengan tempat PPL, yang belum juga ia dapat.


Saat ini ia sedang keluar bersama Satya. Tapi dari Satya jemput di rumahnya hingga mereka sampai di tempat tujuan, Nandita hanya diam saja tidak seperti biasanya.


Saat ditanya pun ia hanya menjawab seperlunya.


"Kamu kenapa sih Ta? dari tadi aku udah kaya penyiar radio aja, ngomong sendiri ga ditimpali. Kamu ga suka ya jalan sama aku?" Satya merasa sedikit kesal karena sikap Nandita yang tidak seperti biasanya.


"Apaan sih kamu Sat, baperan banget jadi orang. Aku tuh lagi pusing tau. Bentar lagi aku udah harus PPL, tapi sampai sekarang aku masih bingung nyari tempat yang cocok di mana?" Terang Nandita


"Aku pengennya tempat aku PPL itu dekat-dekat sini aja, tapi ga satu daerah sama rumah ku" Imbuh nya lagi.


"Kenapa ga coba di tempat aku aja? Pas banget kan, dekat tapi juga ga satu daerah sama rumah Kamu. Jurusan kamu bahasa Inggris kan? Nanti aku bantuin ngomong sama kepala sekolah."


Satya sangat antusias begitu tahu, kalau Nandita lagi bingung mencari tempat PPL.


Ia akan mengusahakan sebisa mungkin, agar Nandita bisa PPL di sekolah tempat dia mengajar.


'Semoga ini jadi awal yang baik untuk aku bisa mendekatinya' Bisiknya dalam hati.


🌟🌟🌟


Hari sudah sore saat Satya, tiba di depan rumah orang tua Nandita, untuk mengantarkan anak gadis mereka.


Satya turun dari sepeda motornya, lalu ikut masuk ke halaman rumah pak Darma ayah Nandita.


"Sore om,, maaf ya saya ngajak Nandita keluar, lumayan lama" Ucap nya merasa tidak enak.


Pasalnya mereka pergi dari jam 09.00 pagi, hingga kini waktu sudah menunjuk angka 16.30


"Ooh tidak apa nak, Nandita tadi sudah ijin sama om, kalau dia akan pulang sore. Tidak masalah bagi om, asal kalian perginya bukan untuk yang aneh-aneh" Jawab pak Darma ramah.


"Ayo masuk dulu nak, kita ngobrol sambil ngopi" Tawar nya lagi.


"Aah terima kasih banyak om. Tapi maaf sekali lagi, saat ini saya belum bisa mampir. Nanti masih harus ngurus sesuatu dulu habis ini,,." Tolaknya halus.


Karena ia ingin buru-buru sampai di rumah, dan menyiapkan segala sesuatu agar Nandita bisa melakukan PPL di sekolahnya.


"Mari om, saya pamit dulu. Lain kali saya mampir kesini, semoga om masih mau menerima saya" Jawabnya di balas tawa renyah oleh pak Darma.


"Tentu saja boleh nak..... Om senang kalau ada yang mau bermain ke rumah sederhana om ini. Sering-sering kesini ya,,,." Ucap pak Darma lagi sambil menepuk bahu Satya.


Satya sangat senang. Ia merasa ayah Nandita menerima kehadirannya dengan baik. Itu artinya, usahanya untuk mendekati Nandita akan lebih mudah.


🌟🌟🌟


Hari yang ditunggu tunggu oleh Satya pun tiba. Kemarin malam ia menerima wa dari Nandita, yang mengatakan bahwa gadis manis itu akan memulai praktiknya hari ini.

__ADS_1


Ia mempersiapkan dirinya dengan baik. Mandi lebih pagi, dan memilih baju yang akan ia pakai dengan begitu lama. Sudah seperti ABG saja dia.


"Kak di panggil ibu tuh, dari tadi subuh dandan sampe sekarang belom juga kelar. Wajah juga ga berubah gitu-Hitu aja. Kenapa sih, kaya mau ketemu presiden aja" Dinda sang adik mengganggu kesenangannya merias diri.


"Ya bentar lagi selesai, bilang sama ibu. Bawel banget sih kamu. Udah sana... Jangan ganggu kakak!!" Seru nya pada sang adik.


Ya Satya memiliki seorang adik perempuan yang sedikit bawel, yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Jauh memang jarak usia mereka berdua.


Satya saat ini bekerja sebagai guru kontrak jurusan matematika pada salah satu sekolah SMPN di daerahnya.


Selain sebagai guru, ia juga masih aktif sebagai atlet pencak silat yang sering mewakili kabupatennya untuk bertanding tingkat provinsi bahkan pernah ia mewakili di tingkat nasional.


"Udah siap Ta?" Sapanya saat menjemput Nandita di depan rumah gadis itu.


"Huuuh udah kok, yuk jalan" Sahut Nandita setelah menarik napas dalam.


Dalam hati ia berdoa semoga semua berjalan lancar


"Udah ga usah gerogi, sante aja ada aku yang nemenin kamu" Hibur Satya.


Hari pertama PPL berjalan lancar, begitu pun hari-hari selanjutnya.


Meskipun pasti ada saja masalah kecil yang timbul. Namanya juga menghadapi banyak orang.


Apalagi yang ia ajar adalah anak anak SMP yang sudah memasuki masa puber.


Hubungannya dengan Satya pun semakin dekat. Walau Nandita menganggap Satya hanya sebatas teman, tapi berbeda dengan Satya, laki-laki itu merasa kalau Nandita juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


Itu sebabnya ia dengan percaya diri, membiarkan hubungan mereka selayaknya teman.


Karena ia berpikir suatu saat nanti ia akan langsung melamar Nandita.


Ia tidak ingin berpacaran, yang menurutnya itu adalah hal yang kurang sehat.


Pacaran hanya akan mengekang pasangan. Memiliki tanggung jawab pada seseorang, harus meminta ijin untuk melakukan segala sesuatu, dan ia tidak suka itu.


Berbeda halnya kalau hubungan yang lebih serius, seperti pernikahan.


Saat seseorang sudah sah sebagai pasangan suami istri, maka wajar menurutnya untuk saling menghormati pasangan. Dengan cara saling terbuka dalam segala hal.


Ia membiarkan hubungannya dengan Nandita mengalir apa adanya. Pun saat ia tahu ada siswa siswa SMP di sekolahnya yang menggoda Nandita, ia tidak terlalu ikut campur. Karena ia yakin, Nandita bisa mengatasi semua itu sendiri.


🌟🌟🌟


Terik matahari menyengat kulit membuat perih. Candra berjalan dengan riang memasuki halaman sebuah sekolah SMPN yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Hari itu ia ingin mengajak Satya makan siang bersama. Ia tidak sabar ingin mengungkapkan isi hatinya pada Satya. Kemarin malam ia memberanikan diri, mengajak laki laki yang selama ini ia sukai itu untuk makan siang bersama yang disanggupi oleh Satya.


Satya pikir tidak ada salahnya ia memenuhi keinginan temannya itu. Meskipun dulu ia merasa kesal juga pada Candra, karena gadis itu tega mengatakan kebohongan tentang Nandita gadis pujaannya.

__ADS_1


Tapi itu sudah berlalu lama. Setiap manusia pernah punya salah, tidak ada yang sempurna pikirnya.


" Satya...." Pekik gadis itu girang, saat melihat punggung Satya yang baru keluar dari ruang salah satu kelas.


"Hai Can,," Sapa lelaki gagah itu saat melihat temannya sudah berlari mendekatinya.


"Gila,,,, lama ga ketemu, tambah cakep aja kamu ya,,," Puji sang gadis yang ditanggapi biasa saja oleh Satya.


Tak sengaja mata Candra melirik sebuah kelas, ia sangat terkejut begitu melihat sosok gadis yang di bencinya sedang berdiri di depan kelas, selayaknya seorang guru. Matanya menatap tidak suka, namun hanya sekilas karena ia segera mengembalikan wajah ceria nya.


Ia tidak ingin Satya tahu, bahwa ada kebencian yang ia pendam untuk temannya itu.


"Eh Sat,, itu Nandita ya? Dia magang di sini? Kok bisa sih?" Tanyanya penuh rasa ingin tahu.


"Ya bisa lah,,, emangnya kenapa dia ga bisa magang di sini??" Satya merasa tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Candra.


"Ya ga papa sih,,, nanya doang emang ga boleh?" Candra berusaha menutupi kekecewaannya.


"Aku yang saranin dia untuk magang di sini. Udah ayok keburu jam makan siang habis ini. Apa kita ajak sekalian Nandita untuk gabung aja ya?" Tiba-tiba ide itu muncul di kepala Satya.


"Eehh ga usah.... Kamu ga liat dia masih sibuk. Udah ayooo katanya buru-buru" Candra segera menarik tangan Satya, agar meninggalkan tempat itu.


Dia tidak ingin rencana untuk dekat dengan Satya, terganggu karena kehadiran Nandita.


Candra semakin sering menemui Satya di sekolah. Ia tidak ingin memberi celah untuk Nandita dekat dengan Satya.


Selalu saja ia menemukan cara agar Satya mau pergi dengannya. Dan Satya tidak tahu niat Candra adalah untuk menjauhkan dirinya dengan Nandita.


🌟🌟🌟


" Nandita....!!!" Satya berlari saat ia melihat gadis itu tiba-tiba terkulai di depan kelas, saat baru saja keluar usai mengajar.


Satya yang kebetulan juga baru keluar dari kelas tempatnya mengajar, menjadi begitu panik.


Ia segera menggendong tubuh gadis itu ala bridal style, lalu membawanya ke UKS.


Tak jauh dari tempat itu, sepasang mata menatap nanar adegan yang terlihat romantis itu.


Tangannya mengepal keras, menandakan amarah yang tertahan. Rasa bencinya semakin mengakar kuat, pada gadis yang tengah tak sadarkan diri itu.


Dengan hati yang terasa diremas, napasnya sesak melihat orang yang dicintainya begitu menghawatirkan orang lain.


Rasanya tidak ada yang menghawatirkan dirinya seperti itu. Baginya Nandita terlalu beruntung mendapatkan semua yang ia inginkan di dunia ini.


^_________^^_________^^_________^


Feelnya belum dapat ya man teman?? Maafkan penulis receh ini ya..... Masih belajar menyuguhkan cerita, agar lebih baik lagi.


Ditunggu sarannya di kolom komentar ya,,,, jangan lupa dukungannya juga😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2