Nanditha

Nanditha
OLEH-OLEH


__ADS_3

"Dek nanti sampai rumah jangan bahas masalah ini sama kakak kamu ya. Biar besok ayah sama bunda ngomong pelan-pelan sama dia." Pinta ayah Darma pada Malikha.


"Iya ... Tapi jangan tunda-tunda ya yah. Biar adek juga tenang kerjanya. Bukan gak percaya sama kak Dita, hanya saja kalau kita udah tahu yang sebenarnya kita lebih enak belainnya." Ucap Malikha, yang duduk sendiri di kursi belakang.


"Gak nyangka ya yah, ternyata fitnah itu efeknya luar biasa. Bahkan orang-orang yang gak terlibat pun ikut campur, sampai mempengaruhi penjualan di Dapur Kita." Keluh bunda Santi.


Beberapa hari belakangan omset penjualan berkurang dari pelanggan sekitar. Meski tidak berpengaruh besar, karena pelanggan dari luar daerah yang biasa beli dalam jumlah banyak masih tetap memenuhi daftar orderan. Namun bila ini dibiarkan, bukan tidak mungkin lambat Laun akan berpengaruh juga.


"Ya mangkanya itu ada istilah fitnah lebih kejam dari membunuh. Sebab fitnah bukan membunuh raga seseorang, tapi harga diri, nama baik, kehidupan orang tersebut, juga menciptakan sejarah yang tidak baik meski orangnya sudah tidak ada di dunia." Tutur ayah bijak.


Setibanya di rumah, suasana gelap menyapa mereka.


"Si Dita kemana ya? Kok lampu pada mati gini?" Gumam bunda Santi.


Ayah Darma mencoba membuka pintu, tapi pintu terkunci dari dalam.


"Bun telepon Dita, ini pintunya dikunci dari dalam."


Tanpa banyak bertanya, wanita tiga anak itu menghubungi sang putri.


"Ya Bun ..." Suara Dita terdengar serak khas orang baru bangun.


"Ta ... Kamu tidur? Kami di depan rumah. Tolong buka pintunya dulu." Sambung wanita itu lagi.


"Sebentar bunda ..."


Nandita melangkah dengan malas. Baru ia sadar hari sudah malam, ketika ia membuka pintu kamar dan ruangan sekitar dalam keadaan gelap.


Cklek


Pintu dibuka. Mata Nandita masih terasa perih, akibat cahaya yang mendadak masuk ketika ia menyalakan semua lampu ruangan.


Dengan mata terpicing, wanita itu berjalan menuju sofa ruang tamu. Mengikuti sang ayah yang berjalan mendahuluinya.


"Kak ... Mana oleh-oleh untukku?" Tanya Malikha, duduk di samping sang kakak.


"Dek, mandi dulu. Nanti gangguin kakakmu." Sela sang bunda


"Ayah sama bunda ke kamar dulu ya, nanti kita ngobrol." Pamit sang bunda.


Nandita mengangguk. Masih memejamkan matanya. Baru sekarang terasa capek dan remuk tubuhnya.


Tidak menunggu lama, Malikha muncul dengan rambut yang masih berantakan.


"Kak ... Mana oleh-olehnya ..." Gadis itu duduk di samping Nandita, dan menggoyangkan tubuh sang kakak.


"Di kamar." Jawab Nandita masih dengan tubuh bersandar di sofa.


"Ambilin kak ... Iih kakak ..." Rengek Malikha dengan suara manja.


"Aduuh dek ... Ambil aja ... Kakak cape banget. Badan ngilu semua." Kata Nandita yang terpaksa membuka mata, dan memperbaiki posisi duduknya.


Dia sangat enggan bergerak. Tapi sang adik tidak mengerti dan terus mengganggunya.


"Nanti Ikha pijitin deh."

__ADS_1


"Kopernya belum kakak buka, yang warna biru itu oleh-oleh semua. Bawa aja kesini. Nanti kakak kasih tau kodenya."


"Ok." Dengan semangat Malikha bangkit menuju kamar sang kakak.


Ayah ikut bergabung bersama Nandita. Kemudian bunda muncul dengan minuman hangat serta martabak manis dan martabak telur yang dibelinya di jalan tadi.


"Minum ini dulu Ta biar badan kamu enakan." Sang bunda mengulurkan wedang jahe yang di beri madu untuk sang anak.


"Makasih Bun ..." Nandita menerima gelas dengan minuman hangat itu. Menyeruputnya penuh nikmat.


"Kak ... Ini." Malikha datang dengan koper di tangannya.


"Siniin dek." Pinta Nandita


Malikha kembali menarik koper yang berisi oleh-oleh dari Paris.


"Waaah banyak bangeeet." Binar mata Malikha membuat Nandita tersenyum.


Ada beberapa gantungan kunci, pajangan berbentuk menara Eiffel, baju, tas, sepatu untuk Malikha, coklat, dan beberapa jenis barang yang Nandita beli khusus untuk sang ayah dan kakeknya.


"Makasih kak ..." Malikha memeluk sang kakak dengan erat, setelah menerima paling banyak isi koper tersebut.


Gadis yang baru saja menamatkan pendidikan SMA nya itu mengambil ponsel dan memotret barang-barang itu kemudian mempostingnya di akun media sosialnya.


Drt


Drt


Ponsel Malikha bergetar, pesan dari Om Damar yang meminta Nandita besok ke rumah mereka.


"Mana kakak pinjam hp kamu." Malikha menyerahkan ponselnya pada Nandita.


Tuut


Tuut


Tuut


Nandita menghubungi om yang paling sangar di keluarga.


"Halo ..." Sura tegas om Damar menggema.


"Halo om. Om lagi di rumah kakek?" Tanya gadis itu.


"Iya, om Putra juga besok mau pulang. Katanya sambil jemput tamu daerah sini."


"Ooh. Om, besok Dita ke sana ya. Ini ada oleh-oleh untuk om sama yang lain."


"Iya om tunggu. Sekalian ada yang mau om tanyakan sama kamu."


"Apa om? Tanyain sekarang aja biar gak penasaran." Kekeh Nandita.


Bunda Santi meraih ponsel dari tangan Nandita.


"Bunda lupa ada yang mau bunda obrolin sama om kamu." Kemudian bunda melenggang pergi, padahal Nandita belum selesai bicara dengan adik dari bundanya itu.

__ADS_1


🌟🌟🌟


Nandita bangun agak siang dari biasanya. Ingin menikmati bermalas-malasan sebelum kembali ke sekolah dua Minggu lagi.


Ia terpaksa bangun karena haus, sementara air di kamarnya sudah habis. Kemarin ia tidak sempat mengambil teko yang biasa ia bawa ke kamar.


"Mba percaya sama anak mba! Orang lain mungkin meragukan dia, tapi bukan kami orang tuanya." Terdengar suara tegas sang bunda yang sedang bicara.


"Boleh kamu tanya apapun sama dia. Tapi jangan menyudutkan dan dengar penjelasannya dengan baik. Mba tahu kamu emosian orangnya. Tapi jangan lupa, Nandita itu sensitif, dan dendaman."


Mendengar namanya disebut, Nandita yang semula hendak masuk ke dapur tempat ibunya menerima telepon, menarik kakinya kembali. Membiarkan obrolan itu terus mengalir, berharap ia tahu apa yang terjadi.


"Iya, Nandita kesana sendiri nanti. Malikha masih sibuk urus Dapur Kita."


"Iya biasalah, banyak yang gak suka lihat orang lain maju. Ada gosip sedikit aja, dipakai menjatuhkan usaha anak-anak. Padahal, kami tidak merugikan mereka."


"Makasih, kamu juga jaga kesehatan salam untuk Ayu." Bunda menutup teleponnya, kemudian melanjutkan pekerjaannya memotong-motong wortel untuk dijadikan campuran nasi goreng.


"Siapa yang telepon Bun?" Tanyaku dari belakang.


Bunda terkejut.


"Iih kamu tuh, suka banget ngagetin bunda!" Seru wanita paruh baya itu dengan pisau mengacung ke arah Nandita.


Gadis itu terkekeh geli melihat wajah kaget sang bunda.


"Tadi siapa yang telepon? Kok pake sebut nama aku?"


Bunda Santi diam sejenak.


"Nanti aja obrolin pas ayah udah pulang dari peternakan ya ..."


Nandita hanya bisa mengangguk pasrah.


Tidak berselang lama, ayah Darma datang dari peternakan. Pas sekali setelah bunda Santi selesai membuat sarapan.


Nandita membantu sang bunda menyiapkan semua di meja makan.


Mereka makan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


Meski ayah Darma tidak tahu apa yang dibicarakan dua wanita itu sebelum dirinya datang, namun melihat raut wajah bunda Santi juga Nandita yang tegang, sepertinya mereka tengah membahas hal serius.


"Bunda, ada masalah apa?" Tanya Nandita sesaat setelah gadis itu menyelesaikan sarapannya.


Nandita melihat tarikan nafas sang bunda begitu dalam. Seolah apa yang ia tanyakan adalah hal sangat serius.


"Yah," Bunda Santi memberi kode sang suami.


"Ta, sekitar seminggu yang lalu, Tante Sari sama Tante Dewi datang kemari dengan marah-marah. Memaki dan meneriaki kamu anak yang gak bener. Bahkan dia ke tetangga juga saat itu, karena pintu gerbang rumah kita tertutup." Ayah Darma menjeda ceritanya.


"Terus?" Pinta Nandita.


"Setelah ayah datang, Tante Dewi dengan lancang bilang kalau kamu adalah pelakor. Gara-gara kamu, kakek sampai terkena serangan jantung hingga dilarikan ke rumah sakit." Ucap ayah Darma.


^_________^^_________^^_________^

__ADS_1


Maaf aku gantung, lanjut besok ya 😘😘😘


__ADS_2