Nanditha

Nanditha
FLASHBACK


__ADS_3

PLAK


Tamparan keras mengenai pipi mulus Safira, hingga membuat wanita itu tersungkur.


"Mommy ...!"


"NANDITA ...!"


Selain teriakan Mira, suara laki-laki juga menggelegar dari belakang tubuh Nandita.


Gunadh mendekat ke arah mereka bertiga.


"Mas ... Sakit ..." Rintih Safira bagai manusia tidak berdaya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa membuat keributan di rumah saya?" Tanya Gunadh dengan suara rendah penuh penekanan. Sepertinya laki-laki itu benar-benar marah.


"Kenapa onty kasar banget sama mommynya Mira? Kan bisa ngomong baik-baik, gak harus nyakitin mommy kayak gini." Isak Namira di samping Safira.


Nandita tersenyum sinis melihat drama yang dimainkan ibu dan anak itu.


"Kamu boleh hina saya tapi jangan keluarga saya!" Tatapan setajam laser ia arahkan pada Safira.


" Dan kamu Mira! Katakan pada Daddy kamu kalau kamu ingin saya menjauh darinya." Ucap gadis itu dengan mata berkilat penuh amarah.


"Cukup! Kamu sudah membuat Mira ketakutan dengan kelakuan kamu. Jangan lagi mengatakan oming kosong yang akan membuatnya semakin terluka. Aku kecewa sama kamu Dita. Aku terima kalau kamu gak lagi perduli dengan dia. Aku gak maksa kamu untuk sayang sama Mira, seperti anak kandung kamu. Tapi jangan sekali pun kamu membuat dia terluka. Aku gak akan bisa memaafkan itu. Dengan perbuatan kamu seperti ini, kamu tahu? Ini akan menjadi trauma untuknya. Kamu menyakiti orang yang berarti dalam hidupnya, di depan matanya sendiri." Ucap Gunadh penuh emosi.


Hati Nandita bagai diremas oleh tangan tak kasat mata. Air matanya berlomba hendak menetes, namun sebisa mungkin ia tahan. Tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang yang memojokkannya. Bahkan Nandita sampai mencubit pahanya dengan keras untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya.


Nandita tersenyum miris.


"Kamu terluka dengan apa yang saya lakukan pada ibumu?" Tanya Nandita pada Mira.


"Bagaimana dengan SAYA? Kamu tahu bagaimana sakitnya saya melihat orang-orang yang saya cintai malu dan terluka karena ulah kalian berdua? Bahkan tamparan ini masih jauh dari kata cukup untuk membalas rasa sakit saya pada perbuatan kalian berdua!" Ucap Nandita dengan tubuh gemetar karena amarah.


"Dan kamu" Tunjuknya pada Gunadh.


"Jangan maafkan saya, karena saya tidak butuh maaf dari kamu. Apa yang saya lakukan, tidak sebanding dengan yang mereka lakukan terhadap saya. Kalau kamu merasa anak dan mantan istri kamu sangat berharga, begitu juga saya. Keluarga saya jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini termasuk kamu. Jangan pernah mencubit orang lain kalau kamu takut pada rasa sakit."


Nandita pergi tanpa permisi. Meninggalkan Gunadh yang masih berdiri dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Mas ..." Cicit Safira meminta simpati Gunadh. Namun laki-laki itu melenggang pergi tanpa perduli dengan keadaan Safira.


Melihat Nandita meninggalkan rumah itu dengan tatapan kecewa dan penuh amarah, membuat Gunadh berpikir apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat gadis itu semarah tadi.

__ADS_1


"Mom ..." Namira menyentuh pelan lengan sang mommy. Namun Safira menepis tangan sang anak.


"Ssshhh awas mommy mau pulang!" Ketusnya pada sang putri, kemudian bergegas pergi dari rumah itu.


Mira termenung sendiri. Tidak paham hatinya bagaimana. Ia bingung. Satu sisi, ia marah pada Nandita tapi di sisi lain ia muga merasa bersalah. Dan ia juga merasa kecewa pada Safira.


'Kenapa mommy berubah' keluhnya dalam hati.


Teringat kembali saat ia dibujuk oleh sang mommy untuk melancarkan aksi keduanya memisahkan Nandita dan Gunadh.


Flashback


"Sayang ... Nanti mommy gak ke sana ya, mommy mau ketemu teman." Ucap Safira.


Ketika itu Gunadh masih di Paris menemui Nandita.


"Yah mom. Mira sendirian donk ..." Rajuk Namira.


"Daddy kamu kemana?"


"Kan lagi perjalanan bisnis ke Paris Mom ..."


"Ooh ya sudah kalau gitu nanti malem mommy kesana ya. Mommy temani kamu sampe pagi." Bujuknya lagi.


Rupanya Safira memiliki janji temu dengan Tasya. Sepupu Nandita itu mengabarkan kalau ada berita penting yang ingin disampaikan.


"Tahu gak, si munafik itu lagi liburan keluar negeri." Curhat Tasya pada Safira.


Saat ini mereka sedang duduk di sebuah kafe.


"Ngapain kamu curhat soal dia? Gak penting sekali." Ketus Safira.


"Kata kamu, mau bantu saya untuk bikin dia gak punya muka depan kakek. Kapan kamu mau realisasikan? Mumpung orangnya lagi gak ada di sini." Desak Tasya.


"Sabaar, saya masih belum Nemu cara yang pas." Ucap Safira malas.


"Enak banget dia, jalan-jalan ke Singapura, Paris, pasti hasil nge l onte sama meras duit kakek." Sungut Tasya lagi.


"Si udik pergi ke Paris?" Tanya Safira memastikan.


"Iya, udah seminggu lebih kayanya." Sahut Tasya.


Mendengar hal itu, Safira jadi berpikir kalau Gunadh ke luar negeri bukan untuk urusan bisnis melainkan menemui Nandita.

__ADS_1


"Kapan kamu mau saya bantu?" Tanya wanita itu pada Tasya.


Tasya tersenyum, tidak sia-sia ia menemui Safira kali ini.


"Semakin cepat semakin baik. Aku bosan mendengar kakek yang selalu memuji dan membanggakan Nandita dan kakaknya." Sinis Tasya.


"Ok. Nanti saya kabari kalau saya sudah siap." Ucap Safira.


Safira membujuk Mira agar mau ikut permainannya. Meski sulit, akhirnya ia bisa meyakinkan anaknya itu, setelah beberapa hari tak patah semangat membujuk sang putri.


"Ini terakhir kalinya Mira bantu mommy soal onty Dita sama Daddy ya mom. Mira gak mau Daddy marah sama Mira, kalau tahu perbuatan kita." Ucap Mira.


Tentu Safira menyanggupi.


Mereka berangkat menuju rumah kakek Nandita. Tentu atas informasi dari Tasya, Safira mengetahui alamat rumah tersebut.


"Selamat siang." Ucap Safira ketika asisten rumah tangga di rumah kakek Cakra membukakan pintu.


Safira dan Mira di persilahkan duduk di sofa ruang tamu. Tidak berselang lama, kakek Cakra datang.


"Maaf pak saya menganggu istirahat Anda." Ucapnya dengan wajah sedih. Sungguh ia sangat berbakat untuk menjadi seorang aktris.


"Kalian siapa ya?" Tanya kakek Cakra, setelah beberapa menit berpikir dan yakin kalau dua orang di depannya bukanlah sanak keluarga jauhnya.


"Saya Safira, dan ini anak saya namanya Mira. Bapak gak kenal kami, tapi pasti kenal mantan suami saya. Gunadhyia Arjava." Safira memperkenalkan dirinya dan Mira.


"Ooh ada keperluan apa kamu kesini?" Tanya kakek Cakra.


Safira dan Mira saling tatap. Kemudian Safira menarik nafas dalam seolah beban yang ia pikuk begitu berat.


"Sebelumnya saya mohon maaf. Kedatangan saya kemari bukan membawa kabar bahagia tapi justru sebaliknya." Ucapnya sambil menundukkan kepala.


kakek Cakra tentu terkejut dan menerka apa yang terjadi.


"Awalnya saya tidak ingin kemari mengadukan masalah rumah tangga saya di sini. Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa lagi ----"


"Langsung saja, saya tidak suka bertele-tele." Potong kakek Cakra.


"Saya ingin minta tolong pada bapak juga keluarga di sini. Tolong, nasehati Nandita agar mau melepaskan mas Gunadh. sudah cukup dia merongrong hubungan kami. Menjadi orang ketiga diantara saya dan mas Gunadh. Ada anak tidak berdosa yang akan menjadi korban bila mereka terus bersama. Nandita merebut mas Gunadh dari kami. Saya tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa." Safira sungguh hebat, mengarang cerita hingga mampu meneteskan air mata buayanya.


"Apa maksud kamu!" kakek Cakra tentu sangat terkejut dengan cerita yang ia dengar itu.


"Pasti kalian tidak akan percaya, Nandita memang terlihat sangat baik. Wajahnya cantik dan pembawaannya tenang, membuat orang akan dengan mudah mempercayainya. Dan itu juga yang saya rasakan. Itu sebabnya saya percaya menyerahkan putri saya untuk dia jaga, ketika saya berada di luar negeri. Saya akui, saya salah karena memilih menenangkan diri begitu jauh ketika rumah tangga saya sedang tidak baik-baik saja. Tapi bukan berarti Nandita boleh masuk disaat hubungan saya dan mas Gunadh merenggang bukan?" Dengan berani Safira menantang kakek dengan tatapannya yang tidak ia tundukkan.

__ADS_1


Tubuh kakek Cakra terasa bergetar, namun sebisa mungkin ia tahan. Hatinya menyangkal sang cucu melakukan hal itu, namun kenyataan mungkin saja tidak sesuai dengan perasaannya.


__ADS_2