
Nandita tengah membantu mengemas dendeng dan urutan pesanan pelanggan, ketika ponsel di tas kecilnya berdering. Ia tidak curiga sama sekali saat nama sang tunangan muncul di layar pipihnya.
"Halo mas,"
"Sayang, kamu bisa kemari sekarang nggak?" Tanya Gunadh dengan suara kecil.
"Kok mendadak? Ini udah sore lho, memangnya ada apa?"
"Safira udah nggak ada,"
"Oh, ya ampun ...." Refleks Nandita menutup mulutnya, terkejut dengan berita yang dikabarkan Gunadh.
"Mira sejak tadi nangis histeris nggak terima kalau mommy-nya dinyatakan meninggal. Mas nggak tau gimana nenangin dia, takut nanti dia nekat nyakitin dirinya sendiri. Apalagi mas juga harus ngurus jenazah Safira, soalnya nggak ada keluarganya di sini.
"Iya mas ... Sebentar aku siap-siap ke sana. Tapi Mira baik-baik aja kan mas?"
"Dia tadi sempat ngamuk marahin perawat, karena bilang mommy-nya udah nggak ada. Sekarang sih udah tenang, temen-temennya masih di sini temani dia. Tapi nanti, mas nggak berani biarin dia sendirian. Mas takut ...."
Nandita menarik nafas berat mendengar penuturan Gunadh.
Mau tidak mau, dia harus ke tempat tunangannya malam ini juga.
Malikha yang sejak tadi memerhatikan kakaknya, akhirnya mendekati Nandita yang masih termenung.
"Kak, ada apa?" Tanya gadis itu penasaran.
"Mas Gunadh ... Tadi dia telepon, minta kakak ke sana temani Mira ...."
"Ck, baru juga beberapa hari di rumah, udah balik lagi. Kayanya mereka lebih penting ya daripada keluarga?" Ketus sang adik, dan langsung pergi begitu saja, tanpa mau mendengar penjelasannya.
Kepala Nandita semakin berdenyut sakit dibuatnya.
Ia tidak ingin berdebat dengan sang adik, ia hanya pasrah dan membiarkan Malikha merajuk padanya. Kali ini dirinya memang harus pergi.
__ADS_1
Bukan soal siapa yang lebih dia utamakan. Bagi Nandita keluarga tetap yang paling utama. Namun saat ini keadaan memaksanya untuk lebih sering menemani Gunadh dan Namira.
Ia memutuskan untuk tetap diam selama perjalanan pulang. Biarlah nanti saat sudah tiba di rumah dan berkumpul dengan ayah bundanya, ia menceritakan semua.
Malikha tidak mengucap sepatah kata pun, saat dalam perjalanan pulang. Wajah cemberutnya membuat Nandita juga enggan memulai obrolan dengan adik bungsunya itu.
"Adik kamu kenapa, Ta?" Tanya bunda Santi, saat keduanya baru tiba, dan Malikha langsung masuk ke kamarnya, masih dengan wajah ditekuk.
Nandita hanya mengangkat bahunya acuh. Suasana hatinya juga sedang tidak baik saat ini. Lelah dan pusing, datang secara bersamaan.
Ia memilih menghempaskan tubuhnya di sofa, sembari memijat pelan keningnya.
"Ayah mana, Bun?" Tanyanya saat ia tidak menemukan sosok yang dicarinya.
"Masih mandi, baru aja pulang. Kenapa?"
"Ada yang mau aku omongin. Tapi nanti aja, pas ayah udah ada." Sahutnya memejamkan mata.
Bunda Santi tidak lagi bertanya, ia membiarkan putrinya beristirahat, sembari menunggu sang suami selesai membersihkan diri.
"Dita kenapa Bun? Sakit?" Tanyanya pada sang istri, yang tengah asik memainkan ponsel di dekat putrinya.
"Kecapean paling, atau berantem sama adeknya. Tadi mukanya si Ika cemberut juga pas baru datang, mulutnya monyong, pengen bunda iket pake karet unyil." Adunya pada sang suami.
Ayah Darma tidak menanggapi keluhan istrinya, ia malah mendekati Nandita untuk membangunkan wanita itu.
"Ta ... Bangun ... Ngapain tidur di sini? Lagian ini udah mau jam enam, nggak baik tidur pas *sandya kala."
"Palingan pura-pura itu yah ... Orang dia baru datang sama adeknya." Gerutu bunda Santi di hadapan sang suami.
"Ta ... Eeh bangun!" Wanita yang memang lebih bar-bar dibanding sang suami, membangunkan anaknya dengan suara keras.
"Bunda. Pelan-pelan banguninnya ...." Ucap ayah, menatap kesal ke arah sang istri.
__ADS_1
Nandita membuka matanya dengan malas. Ia benar-benar terlelap beberapa saat lalu.
"Yah ...." Ucapnya saat melihat sosok sang ayah di depannya.
"Kamu lagi sakit? Kenapa tidur di sini?" Tanya ayah lagi, memastikan kepada sang anak.
Nandita hanya menggeleng, sembari memperbaiki posisi duduknya.
Mereka duduk bertiga di sofa, tempat Nandita tidur beberapa saat lalu.
"Yah ... Bun ... Mas Gunadh tadi telepon, dia bilang Safira meninggal, aku diminta kesana temenin Mira." Ucap Nandita langsung, kepada kedua orang tuanya.
"Astaga ... Kapan meninggalnya?" Bukan ayah yang menjawab, melainkan bunda Santi.
"Tadi Bun, mas Gunadh telepon pas aku lagi di Dapur Kita sama Malikha."
"Trus kapan kamu mau ke sana?" Kali ini ayah yang bertanya.
"Niatnya hari ini. Aku khawatir sama keadaannya Mira, Yah. Dia histeris pas tau mommy-nya meninggal, bahkan sampai ngebentak petugas medis. Aku takut anak itu nekat lagi, sementara mas Gunadh nggak bisa fokus sama dia, soalnya dia harus urus jenazah Safira."
"Tapi ini udh sore, Ta ...." Bunda Santi menyahut.
"Ya tau, Bun ... Tapi gimana donk, aku udah bilang iya sama mas Gunadh ...."
Nandita tentu tidak enak hati pada Gunadh, sebab sebelumnya ia sudah menyanggupi akan datang secepatnya hari itu juga.
"Ajak adek kamu aja Ta, biar ada yang diajak giliran kendarai motornya." Usul sing ayah akhirnya.
"Iya yah ...." Sahut Nandita pelan, merasa lega diberikan ijin untuk menemui calon anak sambungnya itu.
^_________^^_________^^_________^
haiii kesayangan GunTha 😍😍😍
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya ...