
"Kak ..." Panggil Malikha di depan pintu kamar Nandita.
Waktu sudah menunjuk pukul 14.20. Sudah sore mengingat Nandita harus kembali ke kota hari itu juga.
"Kak, pesanannya udah dibawain Dimas ke sini." Lanjut gadis itu ketika pintu kamar Nandita terbuka.
"Makasih dek." Sahut Nandita dengan wajah kusut baru bangun
"Dimas mana? Masih di sini?"
"Udah balik barusan." Malikha mengikuti langkah sang kakak kembali masuk ke kamar.
"Ooh. Kakak siap-siap dulu ya. Kamu mau ikut ke rumah kakek?" Tanya Nandita sembari mengambil handuk yang tergantung di balik pintu
"Gak ah kak. Kan kakak langsung balik ke kota."
"Ya juga sih. Kalau gitu, minta tolong pisahin yang mau dikasi ke rumah kakek donk. Biar gak ribet di sana bongkar-bongkar."
"Sudah kak ... Semua udah pakai tempat masing-masing. Yang mau kakak bawa ke rumah pak Wahyu juga sudah dipisah tempatnya." Sahut Malikha
"Terimakasih adik comelkuu." Nandita menarik kedua pipi sang adik, sebelum melenggang masuk ke kamar mandi. Membuat sang empunya meringis kesal.
Setelah selesai bersiap, Nandita keluar kamar. Di ruang tamu sudah menunggu ayah yang sudah datang ketika Nandita beristirahat.
"Yah ..." Sapa Nandita, dibalas senyum tulus oleh ayahnya.
"Mau balik sekarang?"
"Ya yah, biar gak terlalu malam sampe kost."
"Hati-hati di jalannya. Jangan ngebut." Ucap ayah Darma sambil memperhatikan sang putri yang kini duduk di sampingnya.
"Ya yah." Sahut Nandita singkat, dengan matanya masih fokus pada layar ponselnya. Ia sedang berbalas pesan dengan Candra.
"Ta, kamu gak ada rencana sewa tempat yang lebih besar gitu untuk produksi? Rumah Dimas terlalu kecil untuk dijadikan tempat produksi."
Nandita segera menyimpan ponselnya ke dalam tas Selempang yang dikenakannya. Mengalihkan pandangan ke arah sang ayah sebelum menjawab.
"Dita belum kepikiran yah. Masih riweh sama banyak hal. Belum bisa fokus."
"Ya mangkanya itu. Pikirkan satu-satu. Biar gak bingung dan bikin stress."
"Ya yah, ternyata banyak yang harus dipikirkan dalam berbisnis ya" Keluh Nandita yang tidak menyangka, apa yang dilakukan akan berkembang seperti saat ini.
__ADS_1
"Ya memang begitu.Kamu masih muda, masih banyak waktu untuk menggali potensi diri. Tapi ingat menjalani sesuatu jangan setengah-setengah."
"Ya Yah. Sebenarnya Dita udah pikirkan itu. Nantilah kalau sudah senggang, Dita pulang untuk ngobrol lagi sama ayah." Ayah Darma mengangguk.
Waktunya lebih banyak di peternakan, sangat jarang bisa bicara dengan anak-anaknya. Namun melihat perkembangan usaha yang dirintis sang anak, membuat ia merasa harus membicarakan hal ini pada Nandita.
Tidak semua orang beruntung dalam usaha. Banyak yang harus mengalami masa jatuh bangun sebelum usahanya berdiri kokoh. Nandita termasuk beruntung karena usahanya tidak mengalami masa itu.
Namun bila tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin akan mengalami penurunan.
Sementara itu Nandita memiliki rencana yang berbeda. Rencana yang belum ia beritahukan pada siapapun.
"Yah ... Rencananya, Dita mau liburan ke Eropa saat libur kenaikan kelas ini. Itu sebabnya masih mengumpulkan uang untuk bisa ke sana."
Ayah Darma menarik nafas. Sebagai orang tua, tentu mimpi sang anak itu adalah sesuatu yang kurang penting menurutnya. Namun, ia sudah melihat kesungguhan Nandita untuk menggapai impian masa kecilnya itu.
"Ayah tidak melarang kamu untuk bermimpi. Hanya saja apa gak sayang uang sebanyak itu habis dalam waktu sekejap hanya untuk jalan-jalan?"
"Itu penyemangat aku dalam bekerja yah. Kalau gak punya mimpi, aku gak akan punya ambisi."
" Uang yang dikasih kakek kan bisa untuk itu. Sedangkan keuntungan kamu, kamu pakai untuk memperluas usaha." Akhirnya ayah mencetuskan ide.
"Mana cukup." Gumamnya namun dapat didengar oleh Nandita.
"Kamu udah dapat cek belum berapa isi saldo tabungan yang dikasih kakek?" Nandita menggelengkan kepala. Ia tidak pernah mengeceknya.
Sang ayah tersenyum.
"Cobalah kamu cek. Sekali-sekali kamu pakai pemberian kakek. Dia pasti akan senang." Ucap sang ayah.
"Ya yah, nanti Dita cek. Dita jalan sekarang ya yah. Takut keburu malem."
"Hati-hati nak. Panggil bunda dulu. Tadi bunda ke belakang."
Nandita tidak menjawab, hanya mengangguk kemudian berlalu ke tempat yang dimaksud sang ayah.
"Bun ... Aku balik sekarang. Bunda jaga kesehatan ya." Pesannya sambil memeluk sang ibu
"Hati-hati Ta. Jadi mampir ke rumah kakek?"
"Jadi Bun, sama ke rumah pak Wahyu juga."
"Ya sudah sana. Sudah sore ini, nanti keburu malam."
__ADS_1
Nandita melajukan motor maticnya ke rumah sang kakek terlebih dahulu. Sedikit ngebut, sebab masih ada tempat lain yang akan ia tuju.
"Kok sepi kek?" Tanya gadis itu ketika ia sudah duduk di sofa ruang tamu. Matanya berkeliling meneliti bangunan yang tampak sepi itu.
"Ya Tante-tante kamu lagi kondangan. Si Tasya katanya ada urusan ke kota. Yang lain kakek gak tau pada kemana." Nandita tersenyum. Tidak menanggapi ucapan kakek yang pada kalimat terakhirnya menampakkan kekesalan.
"Kamu pulang sendirian? Si Gunadh gak ikut?"
Nandita tersenyum kikuk mendengar pertanyaan kakeknya.
"Aku pulang cuman sebentar kok kek, ambil pesanan aja. Ini juga mau balik. Mas Gunadh lagi sibuk sama kerjaannya."
Kakek menganggukkan kepalanya. Menatap sang cucu lebih intens. Dalam hatinya, kakek Cakra merasa bangga pada sang cucu. Diusia yang masih terbilang muda, sudah mandiri dalam hal keuangan. Memiliki pekerjaan tetap dan memiliki usaha sampingan sebagai sumber penghasilan. Terlebih, cucunya ini juga punya rasa empati yang tinggi. Membuat laki-laki itu tidak berhenti bersyukur di usia senjanya.
"Kek ..." Nandita memanggil dengan ragu. Kakek Cakra masih diam menunggu kelanjutan kalimat Nandita. Sementara gadis itu terlihat ragu.
"Kenapa?" Tanya kakek setelah beberapa saat menunggu namun Nandita tetap diam.
"Kek ... Boleh aku pakai uang yang kakek kasih untuk liburan ke luar?"
Laki-laki tua itu tersenyum.
"Uang itu milik kamu. Kenapa harus minta ijin? Pakailah. Kakek akan sangat senang kamu mau memakainya. Kalau merasa kurang, nanti kakek kirimkan lagi."
"Oh gak usah kek. Itu udah cukup kok." Meski belum tahu berapa jumlahnya, ia tidak ingin berbuat curang. Jangan sampai kakek berlaku tidak adil dengan memberinya bagian lebih dari saudaranya yang lain.
Setelah berbincang beberapa saat, Nandita pun pamit pada kakek dan art di rumah itu.
"Tolong jagain kakek ya Bik. Atur pola makannya. Itu, di dus itu juga ada susu untuk diabetes tolong bibik buatkan setiap pagi. Nanti abon yang kemasan lebih kecil, bisa bibik bawa pulang. Sisanya tolong simpan untuk di rumah sini ya bik" Pesannya pada art yang mengantarnya ke tempat dimana motornya terparkir.
Setelah dari rumah sang kakek, barulah ia ke rumah pak Wahyu. Ia di sana tidak lama. Setelah lebih kurang 20 menit, ia pun pamit karena hari sudah sore.
Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, Nandita tiba di kostannya lebih cepat dari biasanya. Namun begitu tubuhnya terasa remuk karena perjalanan jauh yang dilaluinya.
Ia pun tertidur setelah membersihkan diri. Tanpa sempat keluar mencari makanan, ia terlelap dengan perut yang meronta meminta diisi. Bersyukur ia tidak lupa mengunci pintu kamar kostnya.
Kesibukan yang sama antara Nandita dan sang kekasih, membuat mereka sama-sama lupa ada masalah yang harus mereka selesaikan sebelum semua menjadi bola salju yang semakin membesar.
Bahkan hingga kini, baik Nandita maupun Gunadh tidak ada yang saling berkirim pesan.
...-------------------------------...
Terima kasih untuk kalian yang udah meluangkan waktunya mampir di sini.
__ADS_1
Pelukan sayang dari emak tiga anak untuk kalian semua 🤗🤗😘😘