Nanditha

Nanditha
CEMBURU bukan CURIGA


__ADS_3

"Udah bernostalgianya?" Ketus Gunadh, saat sang kekasih baru saja membuka pintu mobil.


Nandita tidak menjawab, ia hanya melipat bibir ke dalam mencoba menahan senyum yang terkembang.


Sebelum masuk mobil, bunda Santi sudah mengingatkan dirinya, bila Gunadh tengah cemburu.


"Tahan emosi, jangan bikin dia tambah kesal. Kalian baru ketemu, masa udah berantem?" ucap wanita paruh baya itu.


Nandita hanya mengangguk. Ia masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang, rasanya tidak ada tenaga lagi untuk berdebat bila Gunadh masih membahas masalah barusan.


Ia pikir, lebih baik dirinya menanggapi sikap Gunadh dengan candaan.


Duduk dengan tenang, sembari menatap Gunadh dengan tatapan menggoda.


"Nggak usah liatin kayak gitu, nggak mempan."


"Udah donk mas, jangan ngambek terus. Nggak malu sama ayah, sama bunda? Bentar lagi mereka masuk lho ...."


"Tau." Sahut Gunadh singkat.


"Mas ... Jangan kayak nak kecil, masa perkara aku ngobrol sama Satya aja jadi bahan berantem sih? Di depan kamu pula ngobrolnya."


Sebenarnya Nandita sudah menahan diri agar tidak marah pada kekasihnya itu, tapi sikap Gunadh yang kekanakan, terlebih disaat dirinya lelah, membuat Nandita hilang kesabaran.


"Tapi kamu lebih banyak ngobrol sama dia dibanding aku yank ... Aku nggak suka,"


"Kan Satya cuman sebentar mas ketemu akunya, dia nggak ikut pulang juga. Sementara kita kan masih ada waktu yang lebih panjang lagi ..." Suara Nandita sudah terdengar kesal.


"Lagian kamu udah janji nggak bakal cemburuan lagi. Janji akan selalu percaya sama aku, tapi sekarang buktinya apa? Baru juga ngobrol sama Satya, udah ngambek kayak gini."


Gunadh diam mendengar ucapan Nandita. Gadis itu melipat tangannya ke depan dada, menatap lurus ke depan dengan wajah tidak sedap dipandang.


Memang ia pernah berjanji akan percaya pada kekasihnya. Dan saat ini pun dia percaya, tapi untuk menghilangkan rasa cemburu itu sungguh sulit. Rasanya Gunadh tidak rela membiarkan laki-laki lain mengajak gadisnya bertegur sapa.


"Ada apa sih kalian? Baru juga ketemu udah berantem." Bunda Santi yang masuk ke dalam mobil menegur keduanya.


"Tau tuh Bun, suka sekali cari kesalahan orang." Nilam melirik malas ke arah Gunadh.


Laki-laki itu hanya diam, tidak menanggapi aduan Nandita pada ibunya.

__ADS_1


Obrolan mereka tidak berlanjut sebab tidak berselang lama, ayah Darma dan Malikha ikut masuk ke dalam mobil.


"Ayah belakang yah, aku nanti mual kalau di belakang." Pinta anak bungsu itu pada ayahnya.


"Alaaah alasan kamu ajan tuh dek ... Bilang aja biar deketan sama kakakmu kan?"


"Nggak ... Aku biar bisa tidur di pangkuan bunda." Bantah Malikha.


Perjalanan dari bandara menuju kota kelahiran Nandita memakan waktu lebih dari dua jam.


Di perjalanan, gadis itu tidak banyak bicara. Ia sibuk dengan pemandangan sekitar yang sudah setahun tidak ia jumpai, dari balik kaca mobil.


Gunadh pun sama, ia fokus dengan setir dan jalanan di depannya. Sesekali ia melirik gadis yang duduk di sampingnya, Nandita masih menoleh ke arah luar mobil. Tangannya pun masih terlipat di depan dada, dengan kepala bersandar, sesekali Nandita memejamkan matanya.


"Mau tidur yank?" Gunadh bertanya dengan lembut.


Nandita menoleh ke arah sumber suara,


"Kalau capek, istirahat aja. Turunin sandaran kursinya biar nyaman." Lanjut Gunadh lagi.


Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah belakang, dimana kedua orang tua dan adiknya juga sudah tertidur.


"Tadi mereka datang naik apa mas?"


"Ayah sewa mobil, cuman karena aku pengen antar kamu juga, jadi ayah bolehin supir itu balik duluan.


"Oohh ...." Nandita tidak melanjutkan obrolannya.


"Jadi mau turunin sandaran kursinya?" Tanya Gunadh lagi.


"Nggak ah mas, kasihan mas Gunadh melek sendirian."


"Nggak apa-apa, kamu pasti capek kan?"


"Nggak ah, nanti ngambek lagi. Bilang aku nggak peka, nggak pengertian, biarin mas nyetir sendiri." Sindir Nandita sembari melirik ke arah kekasihnya.


"Yank ... Nggak gitu juga ...." Gunadh menjeda kalimatnya, kembali fokus pada jalan di depannya yang banyak berlobang. Dengan hati-hati Gunadh melewati jalan rusak itu, agar tidak menimbulkan guncangan yang terlalu keras pada mobil.


"Maaf soal yang tadi. Mas hanya merasa iri aja sama Satya, dia punya waktu lebih banyak ngobrol sama kamu dibanding mas." Lanjut Gunadh setelah berhasil melewati jalanan yang rusak.

__ADS_1


Nandita menatap lekat laki-laki itu. Tersenyum manis sembari memiringkan kepalanya.


"Kita udah mau nikah lho mas ... Dua puluh empat jam, waktu yang aku miliki akan aku kasi ke kamu. Masa hanya perkara ngobrol sebentar sama Satya aja bikin kamu ngambek ...."


"Ya kan aku udah bilang, aku cemburu yank ...."


"Masih nggak percaya sama aku?"


"Bukan nggak percaya ... Beda lho orang cemburu sama curiga,"


"Apa bedanya?"


"Cemburu itu, rasa tidak terima akan sesuatu yang kita harapkan namun dinikmati orang lain. Sementara kalau curiga, rasa tidak percaya kita akan apa yang kita lihat dan kita dengar yang rasanya bertolak belakang dengan apa yang kita yakini."


Nandita mencebikkan bibirnya, mendengar penjelasan Gunadh.


"Yakin mas percaya sama aku?" Gunadh mengangguk.


"Nggak ada rasa curiga lagi sama aku?" Kembali laki-laki itu mengangguk.


"Ehm, bisa nanti lagi nggak lanjut romantis-romantisannya? Aku lapar, ajak aku makan dulu ...." Celetukan dari belakang punggung Nandita, mengejutkan gadis itu.


"Dek, kamu udah bangun?"


"Ck, emang kakak pikir yang bersuara ini siapa? Nggak liat mata aku udah melek gini?"


"Nggak usah ngegaaas! Biasa aja! Orang nanya baik-baik juga,"


"Aduuh kalian ini apa-apaan sih? Baru ketemu lho, nggak malu sama nak Gunadh?"


Nandita dan Malikha kompak terdiam, saat menyadari yang bicara itu adalah ayah Darma.


Gunadh hanya tersenyum menyaksikan perdebatan dua gadis, yang sejak dulu sudah biasa ia lihat.


"Jadi gimana? Mau cari tempat makan dulu, apa langsung lanjut pulang?" Tanya Gunadh akhirnya.


"Cari makan dulu mas, aku lapar ...." Sahut Malikha mendahului sang kakak, yang terlihat hendak menolak.


"Ok, kita cari tempat makan yang enak." Sahut Gunadh sembari melirik ke arah Nandita yang terlihat kesal.

__ADS_1


__ADS_2