
"Sebenarnya masalah ini harus kamu sama Gunadh yang jelaskan. Tapi karena kami tahu kamu, tidak mungkin kamu berbohong, kami percaya kamu bukan seperti yang mereka tuduhkan." Ucap om Damar
"Tapi tetap saja orang yang tidak tahu kamu secara pribadi, akan mencap kamu seperti itu. Itu tantangan berat untukmu." Sambung om Alan.
"Dita gak ambil pusing omongan orang om. Terserah orang mau mikir gimana. Yang terpenting keluarga Dita percaya, kalau Dita gak melakukan itu." Sahut Nandita tegas.
"Tetap harus kamu pikirkan Ta, sebab bukan kamu secara pribadi yang dirugikan, melainkan usaha yang kamu jalankan."
Nandita diam, ia belum memikirkan sejauh itu.
"Ta, cewe ini beneran mantan istrinya si Gunadh?" Tanya om Putra yang masih betah memperhatikan foto-foto Safira.
"Iya om."
"Beberapa kali om lihat di beberapa hotel yang berbeda." Ucap om Putra dengan wajah datarnya.
"Ngapain kamu di hotel?" Tanya om Damar curiga.
"Aku beberapa kali ada urusan kerjaan sama orang dari luar, dan ketemunya di hotel. Dan kebetulan aku bertemu dengan cewe ini. Kalau gak salah ada tiga kali."
"Sampai kamu hafal mukanya." Om Damar masih curiga.
"Ya soalnya cewe ini pertama kali ketemu, dia memaki seorang Ballboy di loby hotel. Sampe jadi tontonan. Entah apa kesalahan petugas itu. Terus yang kedua, dia nabrak tamu ku yang dari Eropa. Katanya sih gak sengaja, tapi aku pikir dia memang cari mangsa. Soalnya pas pertama yang dia marah-marah itu, dia gandengan sama pria yang lumayan berumur lho, makanya aku kira dia cewe panggilan. Yang terakhir juga aku lihat dia gandeng cowo tapi yang lebih muda." Terang om Putra.
Nandita cukup kaget mendengar cerita om Putra. Tapi dia tidak berani berkomentar.
"Ooh berarti dia memang cewe gak bener kalau gitu. Palingan juga dia pengen balik sama si Gunadh biar dapat duit doank." Ucap om Damar.
Obrolan mereka sekarang malah beralih ke Safira. Membuat Nandita bingung harus bereaksi seperti apa.
"Yang jelas Ta, kamu harus hubungi Gunadh. Beritahukan masalah ini sama dia. Meskipun kami percaya sama kamu, tapi tetap ini bukan hanya menyangkut kamu secara pribadi. Selain usaha, kamu juga punya keluarga yang harus kamu perhatikan kenyamanannya. Luruskan masalah ini. Kasihan orang tua dan adik kamu yang tiap hari disindir sama tetangga." Kembali om Damar bicara.
"Ya om, Dita akan coba obrolin ini sama mas Gunadh."
Nandita diajak makan malam oleh om dan Tantenya, setelah itu gadis itu pamit pulang.
"Yah, Bund," Sapa Nandita ketika ia sudah memasuki rumah.
__ADS_1
"Kok malem baru pulang Ta?" Tanya sang bunda khawatir.
"Ya tadi diajak makan malam dulu sama om sama Tante."
"Jadi kamu udah makan?"
"Udah. Ayah sama bunda udah makan?"
"Udah. Itu makanan masih bunda taruh di atas meja, kirain kamu belum makan. Bunda pindah dulu kalau gitu" Bunda Santi bangkit menuju dapur. Menyimpan makanan ke tempat yang lebih tertutup.
"Yah, Dita ke kamar dulu ya. Capek banget." Ucap Nandita sambil memegang lehernya yang terasa kaku.
"Ya istirahat lah." Ucap sang ayah.
Ayah Darma tahu, Nandita cukup tertekan dengan berita yang beredar.
🌟🌟🌟
Pagi harinya, Nandita sudah siap dengan celana panjang dan jaket membalut tubuhnya.
"Kamu mau kemana Ta?" Tanya sang bunda heran dengan penampilan anaknya.
"Lho bukannya masih seminggu lagi liburannya?"
"Ya tapi Dita mesti urus sesuatu dulu Bun. Biar cepat selesai masalah ini. Nanti biar bisa fokus ngajarnya."
Bunda santi tidak bisa mencegah sang putri kali ini. Memang benar, masalah ini harus segera diselesaikan.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Ingat jangan terlalu terburu nafsu. Pelan-pelan selesaikan masalahnya."
"Ya Bun ..."
"Makan dulu, bunda ambilkan." Bunda Santi menyiapkan sarapan untuk sang putri. Hal yang sangat jarang wanita tiga anak itu melakukan hal seperti itu.
"Kamu yang sabar, harus kuat, jadikan ini pelajaran hidup yang berharga." Nasihatnya pada sang putri.
"Ya Bun. Bunda gak sarapan?"
__ADS_1
"Bunda tunggu ayah dulu, sebentar lagi palingan udah pulang. Kamu makan duluan aja, biar gak terlalu panas nanti di jalan."
"Ya Bun. Nanti Dita mau ke rumah sakit dulu, mau pamitan sama kakek." Ucap gadis itu sembari mengunyah nasi goreng buatan bundanya.
Sekitar 30 menit melajukan motornya, Nandita tiba di rumah sakit tempat sang kakek dirawat.
Suasana sepi menyapa ketika Nandita memasuki lorong VVIP rumah sakit itu.
'Tumben duo serigala gak berjaga' Batin gadis itu.
Baru saja Nandita hendak membuka pintu, suara kakek terdengar dari dalam.
"Mungkin ini karena dosa bapak nak, dulu bapak membuat ibu kamu menderita. Membawa wanita lain dalam rumah tangga kami, membuatnya mengalami tekanan batin dan meninggal. Kini Nandita malah yang menjadi orang ketiga. Membuat malu keluarga." Keluh kakek Cakra.
"Jangan berpikir terlalu jauh pak. Belum tentu apa yang diucapkan wanita itu benar adanya. Gak mungkin Dita melakukan itu." Sanggah Tante Niar.
"Bapak sangat membanggakan anak itu. Dia pintar, pekerja keras, punya prestasi, bapak selalu memujinya di hadapan Sari dan Dewi. Sekarang bapak merasa malu sama mereka. Nanti pasti bapak akan dicibir. Sebab bapak tahu, dari awal mereka tidak terlalu suka sama Nandita."
Kakek Cakra masih saja mencurahkan keluh kesahnya tanpa merespon ucapan Tante Niar.
"Gak akan ada yang mencibir bapak. Ini cobaan untuk keluarga kita. Mengalami fitnah seperti ini, agar anak-anak semakin mawas diri." Tante Niar menanggapi dengan sabar.
"Apa ini cara Nandita balas dendam ya nak? Sebab selama ini bapak tidak pernah memberi mereka kasih sayang. Jadi ia melakukan ini untuk membuat bapak merasa malu dan gak punya muka di hadapan masyarakat."
"Bapak bicara apa sih? Gak mungkin Dita begitu. Mungkin bapak gak terlalu dekat dengan dia, tapi Niar cukup tahu bagaimana anak itu pak. Kenapa bapak lebih percaya omongan orang daripada cucu sendiri?" Suar Tante Niar terdengar menahan kesal.
"Kalau dia benar, harusnya dia datang bersama laki-laki itu. Bersama-sama menjelaskan pada bapak apa yang terjadi. Buktinya sekarang? Laki-laki itu tidak ada di sini. Bagaimana bapak bisa percaya omongan Nandita?" Kakek Cakra tetap meragu.
Nandita tidak tahan mendengar semua itu. Ia mengurungkan niatnya masuk dan berpamitan dengan sang kakek.
Merasa bersalah, karena masalah ini kakek sampai berpikir kemana-mana menyalahkan diri sendiri.
Meski merasa kecewa sebab kakek tidak percaya padanya, tapi Nandita paham mereka baru dekat kurang lebih satu tahun, tentu kakek belum tahu bagaimana karakter cucunya.
Nandita melangkah tergesa menuju parkiran. Pikirannya semakin kacau sebab Gunadh masih belum juga memberinya kabar.
"Sedih banget mukanya, diusir kakek ya?" Ledek Tasya yang baru tiba, dan memarkirkan motornya di dekat motor Nandita.
__ADS_1
"Sampah kaya kamu sih emang sebaiknya gak usah deketin kakek lagi. Bikin malu keluarga aja." Sinis gadis yang usianya lebih muda dari Nandita itu. Tasya melenggang pergi meninggalkan Nandita yang masih membeku menahan amarah.