Nanditha

Nanditha
KEJUTAN


__ADS_3

Nandita dan Candra sibuk merapikan belanjaan yang tadi mereka beli, ketika pintu kamar mereka diketuk dari luar.


Sudah enam hari mereka lewati di negara yang juga terkenal dengan gembok cintanya itu.


Tok


Tok


Tok


Mereka berdua saling menoleh. Melalui tatapan mata keduanya kompak bertanya "Siapa?"


"Aku liat dulu ya, kamu lanjut aja." Kata Candra.


"Barengan aja Ndra." Nandita ikut berdiri.


Tidak biasanya mereka kedatangan tamu yang tak diketahui. Bahkan Ahmed pun tidak pernah menemui mereka ke kamar langsung, kecuali saat Nandita sakit.


Tok


Tok


Tok


Kembali pintu diketuk.


Tergesa mereka mendekati pintu.


Candra hanya membuka sedikit pintu kamar mereka. Sehingga Nandita yang mengikuti dari belakang tidak melihat dengan jelas siapa yang bertamu ke kamar mereka. Terlihat sosok pria bule yang berdiri menjulang di depannya. Candra seperti pernah melihat, namun ia lupa di mana.


"Siapa Ndra?" Nandita penasaran dibuatnya.


Candra membuka pintu itu lebih lebar, membiarkan Nandita melihat sendiri siapa yang datang.


" Lho Louis?" Nandita terkejut, ternyata calon kakak iparnya yang berdiri di depan pintu kamar yang disewanya.


"Kejutaaan ..." Seorang wanita yang usianya lebih tua dari Nandita muncul di belakang tubuh tinggi Louis.


"Kak Bian ..." Sontak mata Nandita membulat, sementara Candra masih berdiri kikuk di samping Nandita.


Dua tamu itu pun masuk ke kamar Nandita. Bersyukur tempat yang dipilihkan Ahmed cukup mewah dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Sehingga mereka tidak bingung harus duduk dimana.


"Kenapa gak bilang kalau mau kesini?" Nandita terus menempel pada sang kakak.


Louis dan Candra yang melihat hanya bisa tersenyum tanpa mau mengganggu pertemuan dua bersaudara yang jarang bertemu itu.


"Kebetulan kakak dapat jatah libur dua hari. Dan keberangkatan pertama nanti, dari sini ke Jerman. Jadi ya kakak datang lebih awal aja biar bisa ketemu kamu." Bian yang juga merindukan sang adik, tidak protes dengan sikap manja Nandita yang jarang ia tunjukan pada orang lain.


"Ya, dan gak ada keluhan lelah, malas, juga sakit. Coba kalau aku yang minta ditemani saat kamu libur, banyak sekali alasanmu." Louis yang sedari tadi diam kini ikut bicara. Menggunakan bahasa Indonesia yang terasa kaku namun lucu didengar.


Bianca memutar bola matanya.


"Bedalah kamu sama Nandita. Kamu, kalaupun aku gak mau, kamu bakal gangguin aku terus." Ketus Bianca

__ADS_1


"Siapa suruh selalu nolak. Kalau aku kecantol sama cewe lain baru kamu nyesel."


"Coba aja. Berani kamu macem-macem, aku pastikan kamu gak bakal pernah ketemu aku lagi." Ancam Bianca


Kini giliran Nandita yang bengong mendengar perdebatan dua mahluk beda jenis itu.


Bianca yang dikenalnya adalah wanita judes yang tegas dan tak terbantahkan. Adalah orang yang luar biasa, yang mampu membuat wanita itu jatuh cinta. Dan Nandita yakin, sang kakak dan laki-laki yang baru pertama kali ditemuinya secara langsung itu, memiliki perasaan yang sama-sama kuat satu dengan yang lainnya. Bedanya, Bianca gengsinya tinggi untuk mengakui, sedangkan Louis kebalikannya.


"Kalian tiap kali ketemu berantem gini ya?" Tidak tahan, akhirnya Nandita mengutarakan apa yang ada di benaknya.


Bianca dan Louis saling lirik.


Kemudian Bianca tersenyum canggung, karena tanpa sadar telah mempertontonkan interaksi mereka yang tidak biasa.


Sementara Louis yang memang cuek, tidak terlalu perduli dengan penilaian orang lain.


Terserah orang melihat seperti apa hubungannya dengan gadis Indonesia itu. Yang ia tahu, ia ingin agar gadis itu tidak pernah jauh darinya.


"Iyaaa dia memang suka bikin kesel dek, tiap liat rasanya pengen nonjok aja." Bianca menatap Louis penuh permusuhan.


"Apa Babe? Nonjok? Sini aku tonjok." Louis meraih wajah Bianca dengan kedua tangannya dan mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu.


Tanpa sempat berkelit, bibir Bianca jadi sasaran laki-laki bule tersebut.


Bianca memukul dada dan bahu laki-laki mesum itu. Setelah tautan itu terlepas, Louis tersenyum bangga pada kekasihnya.


"Itu kan yang namanya nonjok?" Tanyanya tanpa dosa.


"Astagaaa kak Bian, calon suamimu lebih mesum dari Satya rupanya." Tanpa sadar Candra membongkar rahasianya.


Nandita kini menoleh ke arah temannya. Masih dengan tatapan tak biasa, Nandita seolah mengintrogasi Candra.


"Kenapa kalian mengotori mata dan telingaku dengan hal-hal seperti ini?" Tanya Nandita.


Jujur, melihat perlakuan Louis pada sang kakak membuat dirinya berkeringat dingin. Terlebih, Candra pun ikut berkomentar yang membuat pikirannya semakin liar kemana-mana.


"Gaya mu merasa terkotori. Bukannya Gunadh lebih hot dari ini ya?" Kini Candra menggoda Nandita.


"Yaaa gak seperti yang mereka lakukan. Paling cuman kecup aja." Ucapnya malu.


"Udah ah gak usah ngomongin itu. Gimana kalau kita video call ke Indonesia?" Usulnya sambil mengambil ponsel.


"Kamu lupa kalau di sana udah malam?" Tanya Bianca.


Nandita melihat jam di ponselnya dan menghitung kira-kira waktu Indonesia saat itu.


"Ya juga ya, kalau gitu besok pagi aja kita video call nya." Gadis itu kembali meletakkan ponsel yang tadi ia genggam.


" Kakak nanti mau tidur di mana?"


"Ya disinilah sama kamu."


"Gak. Kamu tidur sama aku aja." Louis menyela.

__ADS_1


"Enak aja. Gak. Aku mau di sini."


"Koper kamu udah aku amankan di kamar kita." Louis tersenyum mengejek.


"Besok aja aku ambil. Nanti aku tinggal pakai baju milik adikku." Senyum kemenangan tersungging di bibir Bianca.


Louis tak dapat berkata lagi.


"Udah, kamu balik ke kamar saja. Besok kita ketemu pas sarapan. Ok?"


"Ngg ..."


Cup


Belum sempat Louis menolak, Bianca sudah lebih dulu mengecup bibir laki-laki itu.


"Udah, sekarang kamu balik ke kamar ok."


"Ya sudah. One more kiss?" Bisik Louis di telinga Bianca, kemudian mel umat bibir gadis yang terlihat judes tersebut.


Nandita dan Candra memalingkan wajah, merasa malu dengan kegiatan yang dilakukan Louis pada Bianca.


Louis adalah orang yang sedari muda mengenal yang namanya pergaulan dan **** bebas. Jadi, berciuman di depan umum baginya hanyalah hal kecil yang tidak harus dipermasalahkan.


🌟🌟🌟


Pagi hari waktu Indonesia


Gunadh sudah siap dengan kopernya. Asisten Arya juga sudah datang menjemput.


"Dad ... Berapa lama Daddy di sana?" Dengan wajah bantalnya Mira bergelayut di pinggang sang Daddy.


Waktu baru menunjukkan pukul 05.25. Gunadh membangunkan sang putri yang baru tiba kemarin malam dari liburan bersama teman-temannya.


"Paling lama seminggu sayang. Kamu jangan nakal ya, kabarin Daddy kalau mau kemana-mana. Kamu sudah minta mommy untuk di sini sementara waktu kan?"


Mira hanya menganggukkan kepala, malas menjawab secara langsung.


"Ingat, jangan nakal. Nanti ajak teman-teman kamu ke sini menginap ya. Kalau mau beli apa-apa minta bik Asih sama mamang yang belikan."


"Ya Dad ..."


"Daddy berangkat dulu. Kamu tidur lagi aja ya."


Cup


Gunadh mengecup kening sang putri, mengantarkan gadis itu kembali ke kamarnya. Kemudian ia menarik koper dari kamarnya menuju ruang tamu dimana Arya sudah menunggu sejak tadi.


"Mari tuan" Ucap Arya yang langsung mengambil alih koper yang dibawa sang majikan.


Sekitar 45 menit, mereka tiba di bandara. Di sana, Satya sudah menunggu kedatangannya di sebuah ruang tunggu yang disediakan khusus untuk penumpang kelas bisnis.


Perjalanan panjang akan dilalui oleh Gunadh dan Satya yang kompak menyembunyikan keberangkatan mereka dari kekasih masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2