Nanditha

Nanditha
NAMIRA MULAI KESEPIAN


__ADS_3

Meninggalkan sebentar perjalanan liburan Nandita dan Candra di kota romantis Paris.


^_________^^_________^^_________^


Hari-hari Gunadh dipenuhi jadwal yang semua ia majukan sesuka hati.


Arya sang asisten benar-benar dibuat pusing oleh duda beranak satu itu.


"Saya gak mau tahu, pokoknya semua urusan yang berhubungan dengan saya bulan ini, harus beres Minggu ini juga atau tunggu hingga akhir bulan. Jangan lupa siapkan tiket keberangkatan untuk saya ke Paris Minggu depan." Titahnya pagi tadi.


Arya tentu hanya bisa menganggukkan kepala dengan mengucapkan


"Baik tuan." Pada sang majikan.


Meskipun dalam hati ingin mengumpat atau bahkan mengutuk Gunadh yang sesuka hati merubah jadwal.


Setiap hari Gunadh lembur, menyelesaikan pekerjaan yang sedianya ia selesaikan dengan santai. Bahkan tidak jarang Gunadh membawa pekerjaannya pulang ke rumah. Melupakan Namira yang kini mulai merasa kesepian lagi.


"Dad, temani Mira donk ... Masa liburan di rumah aja?"


"Daddy gak bisa sayang, pekerjaan Daddy masih banyak. Nanti deh kalau semua sudah beres Daddy akan ajak kamu jalan-jalan seperti waktu ini." Gunadh menatap wajah Mira dengan perasaan tidak enak.


"Beneran Dad? Kalau gitu boleh gak aku ikut sama teman-teman liburan ke villa?"


"Teman yang mana?" Kini laki-laki itu meletakkan bolpoin yang tadi ia gunakan untuk menandatangani sebuah berkas.


"Gayatri dan yang lain lah. Memang Mira punya teman yang mana lagi? Mereka berencana liburan bersama. Di sana juga ada orang tua teman aku sama kakak-kakak mereka." Jelas Mira


"Cuman aku aja nanti yang Dateng sendiri, gak ajak orang tua." Lanjutnya lagi dengan suara lirih.


Gunadh berpikir sejenak. Memang teman-teman Mira sering diajak liburan oleh masing-masing orang tuanya. Tidak jarang mereka liburan bersama. Dan memang benar hanya Mira yang tidak pernah menyertakan orang tuanya dalam kegiatan tersebut.


"Kenapa gak coba ajak mommy aja sayang?" Gunadh memberi solusi


"Mommy kan kerja Dad, Mira takut ganggu."


" Memangnya kapan kalian mau berangkat?"


"Rencananya lusa." Mira berkata dengan lesu


"Ya udah, nanti Daddy coba hubungi mommy kamu ya. Siapa tahu dia bisa temenin."


"Ya Dad, kalau gitu Mira ke kamar lagi ya dad."


"Ya sayang."


Gunadh membelai lembut rambut sang putri sebelum Mira beranjak dari sampingnya.


Di dalam kamar, Mira menghubungi sang mommy. Berharap wanita yang melahirkannya itu bersedia menemaninya liburan.


Tuut


Tuut

__ADS_1


Tuut


Seperti biasa, Safira sangat sulit di hubungi. Namira yang merasa kesal sejak tadi, membanting ponselnya ke atas kasur.


'Aaahh kenapa sih mereka kembali lagi seperti ini? Sibuk dengan dunia mereka sendiri, gak pernah ada waktu untuk aku.' Mira mengacak rambutnya dengan kasar. Setetes air mata jatuh tanpa permisi di pipinya.


Berusaha membohongi diri sendiri, namun ia tidak bisa. Disaat seperti ini ia merindukan kehadiran Nandita. Merindukan perhatian dan kasih sayang wanita yang ia permalukan tempo lalu.


'Gak. Mommy lebih baik dari dia. Setidaknya mommy bukan perebut kebahagiaan orang lain, seperti yang dia lakukan terhadap mommy.' Ucapnya meyakinkan diri.


Kembali Mira mengambil ponselnya. Sekali lagi menekan nomor yang sama yang beberapa saat lalu ia coba hubungi.


Kali ini, nomor tersebut malah tidak aktif. Membuat Namira semakin merasa sendiri dengan rasa sakit yang tidak dapat orang lain mengerti.


Akhirnya ia memutuskan menghubungi teman-temannya lewat grup wa


Tidak menunggu lama, empat gadis yang baru menginjak remaja itu muncul di layar ponsel masing-masing.


"Ngapain Ra nelepon malem-malem?" Tanya Gayatri


"Aku lagi suntuk nih ..." Keluh Mira


"Kayanya kamu gak pernah gak suntuk deh Ra." Gadis dengan mata sipit bernama Meilin kini berkomentar.


Namira masih diam. Dikomentari seperti itu membuat gadis itu menjadi murung.


"Becanda Ra ..." Ucap sahabatnya lagi.


"Eh kalian jadi gak liburan bareng?" Namira mengganti topik obrolan.


"Mmm tapi aku pergi sendiri gak apa ya? Ortu aku pada sibuk, gak bisa temenin."


"Ya gak apa. Kan juga kamu udah sering sama kita liburannya. Besok aku kasih tahu ayah kalau gitu." Dengan semangat Melilin menjawab.


Sejenak Namira lupa akan kesedihannya. Bercakap bersama tiga temannya lewat sambungan video, membuat suasana hatinya kembali baik.


Asik membahas apa saja yang harus dibawa, mulai dari camilan, pakaian, serta kegiatan apa saja yang akan dilakukan di tempat liburan, hingga tak terasa waktu telah merangkak menuju tengah malam.


"Ya udah ya besok kita lanjut ngobrol lagi. Jangan lupa bilangin om sama Tante, aku ikut kalian liburan.


"Yaaa" Kompak tiga temannya menjawab.


"Ya udah ya bye semua ..."


"Bye ..." Namira mengakhiri sambungan video tersebut.


Namira menatap layar ponselnya sejenak. Tertera nama sang mommy yang menghubunginya beberapa kali, namun ia abaikan karena masih seru bercakap dengan teman-temannya.


Ia juga tidak membalas pesan dari Safira. Namira ingin agar mommynya tahu, bahwa dirinya juga bisa marah bila sering diacuhkan.


🌟🌟🌟


'Kenapa lagi sih anak itu? Tadi nelepon berkali-kali, sekarang malah gak angkat telepon dari mommynya.' gerutu Safira sambil memandang layar pipih yang masih menyala.

__ADS_1


Menunggu jawaban dari sang putri, yang akhir-akhir ini jarang ia temani karena kesibukannya dengan sang sugar Daddy.


"Om, besok aku mau ketemu anakku. Besok kita jangan dulu ketemu ya. Jangan telepon juga, takutnya nanti dia curiga" Ucap Safira manja dengan duduk di pangkuan Bram.


Bram menunjukkan wajah tidak suka. Namun Safira yang sudah mulai hafal dengan tabiat laki-laki itu, segera mel umat bibir yang sering memanjakannya itu.


"Jangan marah honey, kalau aku udah bisa bujuk dia biar gak merajuk lagi, aku pasti hubungi om."


"Tapi kamu ke rumah mantan suamimu."


"Lalu kenapa? Yang pasti kan aku tidak melakukan apapun dengan dia. Aku hanya milikmu, jadi jangan khawatir."


Safira berbisik di telingan Bram.


Gerakannya yang sensual, membangkitkan ga ira h laki-laki yang mungkin tengah memasuki masa pubernya kembali.


Bramantyo yang sempat memperlakukan Safira dengan buruk, kini perlahan mulai bersikap manis dan posesif pada wanita itu.


Entah rayuan apa yang digunakan janda dari Gunadhyia tersebut hingga laki-laki seperti Bram bisa tunduk padanya.


Kini, jangankan untuk mengg ilir Safira dengan orang lain, bahkan ketika wanita itu digoda oleh pria lain pun ia akan sangat kesal.


"Rasanya aku tidak rela, tapi harus aku akui kamu berhasil memerangkap ku dengan sentuhanmu ini sayang." Bram menggenggam tangan Safira yang sedari tadi bergerak liar ke area terlarangnya.


"Sebelum besok aku harus menahan segala prasangka burukku, puaskan aku malam ini. Baru aku ijinkan kamu menemui anakmu." Titahnya dengan mengambil posisi ternyaman di atas ranjang empuk apartemen milik Safira.


"Tapi jangan lupa, besok aku harus membelikan putriku hadiah yang mahal, untuk membujuknya."


"Sebelum matamu terbuka, apa yang kamu mau sudah ada di depan matamu sayang. Sekarang cepat naik ke tubuh ku." Bram sudah tidak sabar


"Biarkan aku memuaskanmu dengan caraku om" Safira mengedipkan sebelah matanya, menggoda laki-laki yang seluruh tubuhnya sudah memanas karena menahan sesuatu.


Dan apa yang diinginkan laki-laki itu terwujud, dengan Safira yang kini mulai berkeringat dan melenguh panjang untuk kesekian kali.


Kegiatan yang tidak pernah bosan mereka lakukan.


Bahkan tadi mereka baru keluar dari kamar mandi ketika Safira melihat banyaknya panggilan telepon dari sang anak.


Mandi berdua selayaknya pasangan suami istri, yang baru selesai melakukan ritual wajib menjaga keharmonisan keluarga. Namun mereka melakukannya tentu tanpa ikatan sakral pernikahan.


"Oom a ku le laaah ..." Nafas Safira terputus ketika mengucapkan kalimat itu, namun tubuhnya masih terus bergerak naik turun di atas perut Bram.


"Sedikit lagi sayang ... Sudah di ujuuung." Bramantyo pun sudah ingin meledak.


pinggang ramping Safira menjadi sasaran rem asan tangan Bram yang tidak sabar dengan gerakan Safira yang melamban.


Bram memilih mengangkat dan menurunkan pingg ul Safira dengan kedua tangannya.


Jeritan wanita itu tidak ia perdulikan, ini lebih dari sekadar nikmat yang dirasa. Tubuh molek di depannya sudah menjadi candu yang sulit ia tepis keberadaannya.


"Aaaaahhh ..." Akhirnya lenguhan panjang itu keluar juga dari bibir Bram.


Sebelum peny atu an mereka terlepas, dengan kuat ia menekan tu b uh Safira sekali lagi.

__ADS_1


"Oom sudaaah." Bisik Safira tanpa suara.


__ADS_2