Nanditha

Nanditha
MENANGIS BERSAMA


__ADS_3

Melihat waja Namira yang pucat, dan tubuhnya yang gemetar, Gunadh yakin Namira belum sanggup menghadapi kenyataan yang selama ini ditutupi.


"Pulanglah, Daddy masih banyak pekerjaan." Ucap Gunadh.


"Tapi dad ... Mira mau tahu semuanya!" Tegas gadis itu lagi.


"Belum saatnya kamu tahu apa yang terjadi Mira. Meski mungkin bi Asih sudah menceritakan sebagiannya. Anggap saja kamu gak pernah mendengar apapun tentang kisah masa lalu kami."


"Kalau Daddy gak mau cerita, aku akan cari tahu sendiri dengan cara aku." Ancam Mira.


"Jangan macam-macam kamu. Apa yang mau kamu lakukan? Jangan buat Daddy semakin marah." Tegas Gunadh yang merasa khawatir.


Namira adalah anak yang keras kepala. Apa yang ia mau harus terwujud apapun caranya. Gunadh tahu itu.


"Kalau begitu ceritakan dad ... Mira mohon. Mira bukan anak kecil lagi dad ... Mira berhak tahu kebenarannya. Kata Daddy Mira sudah dewasa ..." Rengek gadis itu lagi.


Gunadh menarik nafas dalam. Rasa kesal akan selalu muncul bila ia mengingat mantan istrinya. Dan kini sang putri memaksanya untuk mengingat hal menyakitkan yang terjadi beberapa tahun lalu.


Masih dalam posisi sama-sama berdiri. Gunadh menatap dalam manik mata sang putri.


"Kamu yang meminta Daddy untuk mengatakan ini. Jangan menyesal saat kamu tahu segalanya dari mulut Daddy." Ucap Gunadh mengawali ceritanya.


Mira mengangguk dengan cepat, sorot matanya membuat orang lain merasa kasihan melihatnya.

__ADS_1


"Mommy sama Daddy menikah saat usaha orang tua Daddy belum berkembang seperti sekarang. Kakek kamu baru memiliki hotel ini sama beberapa rumah makan. Tapi gaya hidup mommy yang tinggi, memaksa Daddy untuk bekerja lebih keras lagi. Itu sebabnya dulu Daddy jarang pulang. Hingga kakek nenek kamu mengalami kecelakaan, dan meninggal. Daddy menghadapi kenyataan kalau usaha kami hampir bangkrut. Kakek memiliki hutang yang tidak Daddy ketahui, dan itu jumlahnya sangat besar. Daddy semakin bekerja ekstra demi memulihkan keadaan ekonomi, juga agar bisa mengembangkan usaha. Daddy tidak tahu apa yang dilakukan mommy kamu di luar sana. Yang pasti setiap ia meminta sejumlah uang, Daddy akan berusaha memenuhinya. Karena cinta Daddy yang terlalu besar untuk mommy." Gunadh kembali menarik nafas panjang.


"Hingga kabar bahagia ia ternyata hamil, rasanya tidak ada yang melebihi kebahagiaan Daddy. Namun berbeda dengan mommy kamu. Ia terlihat kesal. Sebab ruang geraknya akan terbatas dengan keadaan dia yang berbadan dua. Daddy memenuhi apapun yang dia mau, agar dia tetap bahagia. Apapun ngidam mommy kamu, Daddy selalu berusaha untuk memenuhi. Mungkin rejeki kamu, hingga usaha yang Daddy rintis perlahan menunjukkan hasil. Perlahan Daddy bisa melunasi hutang-hutang peninggalan kakek. Juga bisa mengembangkan usaha dengan cepat. Hingga kamu lahir, mommy kamu tidak mau memberi asi nya untuk kamu." Gunadh menatap iba pada Mira. Tidak tega rasanya Gunadh mengatakan itu, namun ia harus menceritakan semuanya.


"Segala upaya Daddy lakukan, agar dia mau memberi kamu asi. Menjanjikan dia jalan-jalan ke luar negeri, memberi ia uang lebih untuk memanjakan diri ---"


"Terus dia mau kasih aku asi?" Sela Mira


Gunadh mengangguk.


"Hanya beberapa hari saja. Sebab sumber asi mommy kamu bengkak, dan katanya, dia tidak sanggup menahan sakitnya. Mommy kamu marah, karena Daddy memaksa mommy memberi kamu asi. Akhirnya dia meminta dokter memberi obat penghilang rasa sakit dan penghenti produksi asi itu."


Hati Namira sakit mendengarnya. Ternyata dirinya setidak berharga itu bagi mommynya.


"Hingga kejadian beberapa tahun lalu." Kenangan Gunadh menerawang jauh, ke masa dimana ia harus menghadapi kenyataan menyakitkan yakni dikhianati.


"Daddy menyewa seseorang untuk mengawasi aktifitas mommy kamu. Hingga suatu hari, orang suruhan Daddy mengatakan kalau mommy beberapa kali bertemu dengan seorang laki-laki dan melakukan cek in di beberapa hotel yang jaraknya jauh dari tempat tinggal kita. Dan kala itu, ia juga sedang membuntuti mommy kamu."


Jantung Mira mulai berdebar lebih cepat. Ini inti cerita yang coba ia sangkal. Dan sekarang dia akan mendengar kebenarannya. Langsung dari ayahnya sendiri.


"Daddy menyusul ke hotel yang dimaksud. Meminjam pakaian pegawai hotel, Daddy berpura-pura bertugas membawa makanan ke kamar mereka. Kamu tahu apa yang Daddy lihat?" Mata Gunadh menyiratkan perasaan yang tak dapat Mira mengerti.


"Ketika laki-laki itu membuka pintu, Daddy melihat mommy kamu masih berada di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya. Dan kamu tahu apa yang lebih menyakitkan? Laki-laki itu adalah saingan bisnis Daddy." Runtuh sudah air mata yang coba Gunadh tahan. Ia menangis. Menangisi harga dirinya yang dikoyak oleh Safira di depan matanya. Luka yang susah payah coba ia balut kini harus ia buka kembali di depan anaknya.

__ADS_1


"Bisa kamu bayangkan bagaimana sakitnya perasaan Daddy kala itu? Bila bukan karena kamu, sudah Daddy habisi mereka saat itu juga. Tapi Daddy gak mau melakukan itu. Sebab Daddy gak ingin kamu memiliki ayah seorang pembunuh."


Mira bersandar pada meja kerja daddynya. Ada rasa sakit, menyesal, marah, juga rasa jijik yang ia tidak mengerti dari mana datangnya.


"Dad ..." Gadis itu seakan tidak memiliki tenaga lagi untuk bicara.


"Kamu sudah tahu semua. Jadi Daddy mohon berhenti berharap hubungan kami akan kembali seperti dulu. Jangan ukur kasih sayang Daddy dengan meminta sesuatu yang mustahil untuk bisa Daddy kabulkan." Ucap Gunadh lembut.


Rasanya ada beban yang terangkat bebas dari pundaknya saat ini. Beban rahasia yang selama ini coba ia tutupi, demi nama baik Safira. Tapi justru malah berbalik menghancurkan orang lain.


Meski Gunadh harus membebankan kenyataan seberat ini pada sang putri, tapi itu lebih baik daripada menimbulkan lebih banyak lagi masalah dikemudian hari.


Rasa kesal dan kecewa Gunadh pada Mira pun lenyap. Berganti iba yang coba ia tepis pada putrinya. Mengingat gadis belia itu harus terlahir dari seorang wanita seperti Safira.


"Nak ..." Gunadh membelai rambut hitam Namira.


Mira mengahambur memeluk tubuh Gunadh dengan erat.


"Maafin Mira Dad ... Mira udah banyak nyusahin Daddy selama ini. Mira udah bikin Daddy kecewa. Berpikir buruk tentang Daddy, bahkan menilai Daddy jahat selama ini."


Tangis gadis itu pecah. Begitu pilu terdengar di telinga Gunadh.


Gunadh biarkan anaknya mencurahkan perasaannya lewat tangisan. Berharap setelah ini tidak ada lagi air mata, yang putrinya teteskan untuk Safira.

__ADS_1


"Mira jahat banget sama onty Dita dad, padahal dia begitu baik sama Mira." Ucap gadis itu setelah tangisnya reda.


Gunadh tidak bisa mengatakan apapun. Sebab ia pun masih belum tahu bagaimana caranya meminta maaf pada gadis yang sudah ia lukai perasaannya itu.


__ADS_2