Nanditha

Nanditha
CURHAT DENGAN ONTY EBY


__ADS_3

Onty Eby dengan sabar menunggu gadis yang tengah menikmati teh buatannya itu untuk bercerita.


"Apa yang saat ini membuat kamu bingung?" Desak onty Eby.


"Kemarin temen aku telepon,ngomongin soal dia." Ucap Nandita ragu


"Lalu?"


"Aku ragu sama ucapan temenku. Bener nggak sih dia masih ingat aku onty? Kalau iya, kenapa hingga kini dia nggak pernah menghubungiku?"


Onty Eby tersenyum.


"Kenapa nggak kamu yang duluan menghubunginya?"


Nandita mendongak hendak protes.


"Dalam sebuah hubungan, nggak ada keharusan laki-laki duluan atau perempuan duluan dalam memulai sesuatu. Jangan terlalu baku dan kaku."


"Tapi dari awal aku berangkat, dia bilang bakal hubungi aku. Nyatanya hingga sekarang dia nggak melakukannya onty. Aku takut di sana dia sudah menemukan orang lain yang bisa menggantikan aku."


"Kalau kenyataannya sebaliknya gimana? Dia yang berpikir kalau kamu yang sudah menemukan orang lain di sini, hingga tidak pernah berkabar padanya."


"Nggak mungkin onty." Elak Nandita.


"Kenapa enggak? Apa yang kamu pikirkan, bisa saja dia memikirkan hal yang sama. Itu yang mengakibatkan terjadi kesalah pahaman." Ucap wanita itu


"Yang terpenting dalam kita menjalin suatu hubungan, adalah komunikasi. Apapun jenis hubungannya, Dita. Dan kesadaran untuk berkomunikasi itu tidak harus dari partner kita saja, melainkan harus dari kedua belah pihak." Nasihat onty Eby.


Nandita diam mencerna apa yang wanita itu katakan.


"Harusnya saat kemarin ayah kamu mengabarkan masalah yang sedang menimpa dia, kamu sudah menghubunginya. Memberi dukungan untuk dia dan putrinya. Jadi dia masih merasakan kehadiran kamu dalam hidupnya, meski fisik kamu tidak ada di sana."


Nandita menggeleng.


"Saat itu aku memang tidak ingin ikut campur onty. Itu urusan masa lalunya dia. Salah satu alasan aku pergi sejauh ini, karena wanita itu." Nandita menerawang ke beberapa bulan lalu.


"Berita itu, pasti sangat melukai Mira. Jika saat itu aku muncul, bukan tidak mungkin anak itu akan semakin membenciku." Lanjutnya.

__ADS_1


Onty Eby mengerti maksud ucapan Nandita. Ia sangat paham ketakutan gadis itu. Sebab hal biasa, ketika seseorang mendapat musibah, maka akan mencari orang lain untuk dijadikan 'penyebab' musibah itu terjadi.


"Jadi kamu takut dituduh menjadi penyebab kasus itu, atau dikira mensyukuri musibah itu terjadi?" Tanya Onty Eby memastikan.


Nandita menganggukkan kepalanya.


"Iya onty. Aku juga nggak mau memberi makan ego ku saat itu. Berpura-pura empati, padahal hanya ingin menunjukkan kalau aku lebih baik dari dia. Aku nggak mau."


Wanita berhijab itu mengangguk paham. Kininia mengerti seperti apa gadis di hadapannya ini. Sangat berhati-hati dalam bersikap.


"Lalu sekarang apa masalahnya? Bukankah kamu bisa menghubunginya saat ini? Kasus itu sudah lama berlalu bukan?" Desaknya lagi.


Nandita diam.


"Aku takut onty. Takut saat aku menghubunginya, rupanya disana dia sudah punya pengganti ku. Aku nggak tau apakah dia masih mengharapkan ku? Apakah Mira sudah bisa menerimaku? Aku nggak tau." Nandita menumpahkan segala keresahan hatinya.


"Benar hanya itu, atau masih ada rasa sakit hati dan kecewa yang kamu rasakan?"


Nandita menggeleng.


"Saran onty, ada baiknya kamu menghubungi dia. Sekadar untuk bertanya kabar. Semoga saja dia belum menemukan pengganti kamu. Kalau sudah, yaaa setidaknya kamu tau lebih awal. Siapa tau berkat itu kamu mau menerima Aslan, ya kan?" Goda onty Eby memecah ketegangan. Tidak ingin obrolan mereka membuat gadis itu jadi terbeban.


Teringat akan Aslan, Nandita meraup wajahnya dengan kedua tangan.


"Aaaahh anak itu, aku jadi tambah pusing sekarang." Keluh Nandita.


"Lho kenapa?"


"Masa dia bilang akan ikut aku ke Indo, kalau sampai mas Gunadh nggak datang menemui ku di sini? Pakai bilang mau pindah keyakinan lagi, aku kan jadi takut ...." Cicit Nandita dengan wajah memerah menahan malu.


"Masa sih dia sampe ngomong gitu Ta? Waaah anak itu kalau sudah maunya, susah banget dikasih tau ...." Onty Eby bicara dengan mimik serius.


"Aduuuh onty jangan nakut-nakutin aku donk ... Aku harus gimana sekarang?" Nandita menjadi panik mendengar ucapan wanita dua anak itu.


"Memangnya kapan kamu ketemu dia? Kemarin pas onty ke rumah Oma Opa, dia belum ada obrolan soal mau ke Indo."


"Baru tadi. Selepas pulang kerja aku ketemu dia onty. Niatnya pengen ngomong baik-baik sama dia, biar dia kasih tau Oma sama opa, tapi dia malah ngotot. Nggak percaya kalau aku punya tunangan, malah bilang aku lagi menghayal. Terus yang bikin aku pusing, masa untuk ngebuktiin ke dia kalau aku serius sudah bertunangan, dia minta aku untuk bawa Gunadh kemari." Nandita bercerita penuh dengan kekesalan, membuat onty Eby harus menahan tawa.

__ADS_1


"Aku nggak nyangka kalau Aslan bisa se keras kepala itu onty. Sekarang aku harus gimana?" Nandita mengeluarkan semua yang menjadi beban di kepalanya saat ini.


"Seandainya ucapan Aslan benar, apa yang akan kamu lakukan" onty Eby justru menakuti gadis di hadapannya itu.


"Onty ... Jangan gitu donk ... Onty bujuk lah dia, bilang kalau Indonesia nggak se indah yang dia bayangkan." Ucap Nandita memelas.


"Ih kok kamu gitu sih, malah jelek-jelekin negara kita. Sebagai anak muda, harusnya kamu mempromosikan negara kita, biar banyak wisatawan yang datang berkunjung."


"Itu bukan bidang ku onty. Sudah ada ahlinya yang mengerti masalah promosi. Lagian aku rasa negara nggak akan rugi hanya karena satu WNA yang batal berkunjung ke Indonesia." Sahut Nandita membuat onty Eby tidak bisa menahan tawa.


"Nggak usah sepanik itu sayang, cukup buktikan aja sama dia kalau ucapan kamu benar. Hubungi tunanganmu itu, minta ia datang kemari. Katakan kalau ada pangeran tampan yang ingin melamarmu di sini." Usulnya membuat mata Nandita membola.


"Onty yang benar saja ..." Nandita melemas. Namun onty Eby justru acuh dan meninggalkan gadis itu sendiri.


Hidup memang seperti pelangi. Warna berbeda membuatnya menjadi indah.


Tawamu hari ini, mungkin karena air mata hari kemarin. Atau kegagalanmu hari ini adalah jalan untuk kesuksesanmu esok.


Tidak ada yang tau bagaimana takdir membawa langkahmu berkelana


Yang pasti sebagai manusia yang dikaruniai akal budi, manusia harus mengusahakan yang terbaik yang ia mampu dalam menjalani hidupnya.


Onty Eby tersenyum saat langkahnya sudah menjauhi tubuh Nandita. Wanita berhijab itu akhirnya bisa menjadi teman curhat gadis yang ia anggap seperti anak sendiri itu.


Menjadi teman adalah pilihannya agar bisa mendekatkan diri dengan Nandita. Gadis yang sulit terbuka masalah pribadinya dengan orang lain.


Ia ingin Nandita bahagia, menjalani hidup tanpa ada penyesalan di kemudian hari.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


jangan lupa vote, like, komen, n gift nya sahabat GunTha


promo novel bagus lagi 😍😍😍


Seorang suster cantik yang bernama Dina Permata Devindra, diam-diam telah jatuh hati pada sahabat di masa kecilnya yang bernama Exsel Wiratama yang sudah mempunyai kekasih yang juga merupakan sahabatnya sendiri. Hingga akhirnya Dina memilih mengalah dengan sahabatnya. Namun seiring berjalannya waktu hubungan antara Exsel dan kekasihnya kandas di tengah jalan karena sebuah perjodohan. Lalu apakah Dina akan berusaha merebut hati Exsel kembali? Ataukah Dina justru lebih memilih orang pilihan keluarganya untuk dijadikan pendamping hidupnya, daripada Exsel yang juga telah dijodohkan oleh keluarganya?


__ADS_1


__ADS_2