Nanditha

Nanditha
BERTUKAR PASANGAN


__ADS_3

Kepergian Nandita dan Candra membuat suasana kembali riuh.


Namira bangkit dengan perlahan, menghapus air matanya lalu pergi begitu saja.


Di sebuah sudut, senyum licik tersungging dari bibir Safira. Ia merekam dari awal hingga akhir kejadian barusan.


'Gak sia-sia aku ancam Mira, hasilnya sangat menakjubkan.' Ucapnya dengan bangga.


Sebab tidak mudah meminta Mira melakukan semua itu. Ia butuh waktu hampir satu Minggu hingga rencana mempermalukan Nandita terwujud.


Sebenarnya dendamnya pada Nandita bukan hanya karena ia merasa posisinya direbut, lebih daripada itu karena Nandita pernah mempermalukannya ketika di Singapura dulu.


"Udah mom, sekarang apa lagi?" Ucap gadis itu dengan wajah muram.


Ada rasa bersalah yang bergelayut di relung hati terdalam gadis belia itu. Namun ia segera menyingkirkan perasaan itu karena rasa sayangnya pada sang mommy.


Safira menoleh ke arah sang anak. Melihat wajah sedih sang anak, membuat Safira merasa kesal.


"Kamu menyesal melakukan ini sayang?" Tanya Safira dengan wajah sendu. Seakan merasa tersakiti oleh cara Namira bertanya.


Safira mengalihkan tatapan matanya ke arah jalan yang di lalui. Saat ini mereka berada di dalam taksi hendak kembali ke rumah Gunadh.


Namira menarik nafas dalam. Takut menyakiti hati sang mommy lebih dalam lagi, Namira menjelaskan perasaannya.


"Bukan begitu mom, hanya saja aku merasa kasihan sama onty Dita. Banyak pasti yang akan menghujatnya."


Meski ia menyadari itu, namun demi sang mommy ia rela melakukan hal menyakitkan pada wanita yang selama ini begitu dekat dengannya.


Namira sungguh belum paham, bahwa ada kesalahan yang tidak akan mudah untuk dimaafkan. Dan kini ia melakukan itu.


"Kamu kasihan sama orang asing yang belum lama kamu kenal. Sedangkan mommy, dipisahkan sama kamu bertahun-tahun karena ulah seseorang, kamu gak kasihan?"


"Maaf mom, bukan gitu maksud aku." Namira memilih diam. Berhenti mengungkapkan isi hatinya. Toh, sang mommy tidak akan bisa menerima apa yang diucapkannya.


Tidak ada percakapan lagi dalam perjalanan mereka. Ibu dan anak itu sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hingga taksi yang mengantar mereka tiba di depan rumah Gunadh pun, tidak ada yang memulai obrolan.


Mira langsung menuju kamarnya. Bahkan sapaan hangat bik Asih pun tidak ditanggapi oleh nona muda rumah itu.


Sementara Safira, wanita itu datang bukan untuk menemani sang putri, melainkan hanya berpesan pada art yang setia menemani Namira sejak kecil itu, untuk menjaga sang putri sebab dirinya akan kembali ke apartemennya


"Ingat ya bik, jaga Namira dengan baik. Saya harus kembali. Nanti kalau dia sudah keluar dari kamarnya, katakan kalau saya sedang ada pekerjaan."


"Baik mba Safira, akan saya sampaikan nanti." Ucap bik Asih sopan.


Safira meninggalkan rumah milik mantan suaminya itu. Memasuki taksi yang sedari tadi menunggunya.

__ADS_1


"Jalan pak. Kita ke hotel ***" Safira menyebut nama sebuah hotel mewah yang cukup jauh dari tempatnya saat ini.


"Baik Bu."


Taksi itu melaju dengan kecepatan sedang. Safira sibuk dengan ponsel ditangannya. Berbalas pesan entah dengan siapa, membuat wanita diatas 30 tahun itu kadang tersenyum dan tertawa kecil.


Setelah hampir 45 menit membelah jalan, taksi itu tiba di hotel yang dituju. Safira segera membayar sejumlah nominal yang disebut sang sopir.


Tanpa mengucapkan terimakasih, Safira melenggang pergi memasuki lobby hotel mewah tersebut.


Safira langsung menuju sebuah kamar, dimana seorang laki-laki sudah menunggunya sedari tadi.


"Om aku udah di depan." Ucap Safira begitu keluar dari pintu lift. Ia tidak mau menunggu di depan pintu kamar, ia mau laki-laki yang dihubunginya sudah membuka pintu begitu ia tiba.


Benar saja, Bramantyo sudah menunggu dan menyambut janda Gunadhyia tersebut dengan pelukan dan kec upan mesra.


"Om ..." Langkah Safira terhenti begitu kakinya baru memasuki pintu kamar hotel tersebut. Di sana ada sepasang pria dan wanita asing yang tidak ia kenal.


Bramantyo tersenyum penuh makna. Menarik lembut tangan Safira, agar mendekati pasangan yang duduk di atas ranjang.


"Dia rekan bisnis om, kamu gak usah takut gitu."


Dengan ragu Safira melangkah.


"Hai kenalin aku Luna." Si perempuan terlebih dahulu menyapa. Sementara Safira hanya tersenyum canggung menganggukkan kepala.


Cup


Bramantyo mengejutkan Safira dengan kecupan singkat di lehernya.


"Om." Tegur Safira merasa tidak enak dengan tamu yang ada di kamar tersebut.


"Gak usah khawatir sayang ... Mereka itu partner bersenang-senang kita kali ini." Ucap laki-laki setengah baya namun masih gagah tersebut.


"Partner?" Alis Safira berkerut tanda tidak paham.


"Ya ... Kita akan bersenang-senang tapi bukan hanya berdua. Tapi ..." Laki-laki itu memberi kode dengan kepalanya menunjuk dua orang tamu tersebut.


"Mereka ikut gabung sama kita. Kamu pasti suka." Tanpa meminta pendapat Safira terlebih dahulu, Bramantyo memutuskan sendiri apa yang akan mereka lakukan.


Tapi, untuk apa Bramantyo meminta pendapat Safira? Bukankah dia sudah membeli dengan harga mahal t ubu h Safira?


"Om a aku gak ..."


"Ssst gak ada bantahan honey, ingat kamu milikku." Bramantyo me njil ati area belakang telinga Safira.


"Aku yang memutuskan, kamu hanya menuruti. Di sini aku yang berkuasa." Bisik laki-laki itu tepat di telinga Safira.

__ADS_1


Safira tidak mampu berkata-kata, sekujur tubuhnya meremang. Aura berbeda ia rasakan saat ini. Tidak mungkin ia bisa melarikan diri dari tempat ini.


"Minum dulu," Luna membawakan minuman untuk Safira.


Safira menoleh ke arah Bram, dan laki-laki itu mengangguk. Meski ragu, Safira menenggak minuman tersebut.


Tidak menunggu waktu lama, wanita itu merasakan ada yang berbeda dari tubuhnya.


"Om ..." Safira hanya mampu mengucapkan kata itu. Menatap sayu lawan bicaranya yang kini menampilkan senyum penuh arti.


"Apa sayang ..." Meski Bramantyo tahu, namun laki-laki itu masih berniat menggoda Safira.


Bramantyo meng ec up bibir wanita itu. Dan Safira membalasnya dengan rakus.


Rasa takutnya menguap entah kemana. Kini yang ada, hanya has**t untuk dip uas kan.


"Om ..." De**hanya manja. Rasanya tidak tahan ingin segera ditel anj angi. Bramantyo memberi kode pada pasangan yang sejak tadi menjadi penonton live, adegan panas mereka.


Akhirnya mereka berempat melakukan hubungan layaknya suami istri tanpa rasa malu. Saling bertukar pasangan, menikmati kesesatan yang mereka anggap surga dunia.


🌟🌟🌟


Gunadh dan Arya begitu sibuk satu Minggu belakangan ini. Waktu satu bulan yang diberikan, seakan memaksa mereka berdua untuk melakukan kerja romusa.


Sebab bukan hanya masalah proyek ini yang harus mereka tangani, mereka tidak bisa meninggalkan kantor utama dalam waktu yang lama. Sehingga baik Gunadh maupun Arya harus bisa mengatur waktu dengan baik.


Bersyukur detektif yang di sewa melakukan pekerjaannya dengan cepat. Rupanya benar, bukan hanya satu penghianat dalam tubuh perusahaan Gunadh, melainkan ada beberapa dan memegang jabatan penting.


Dan mereka sudah diadili dengan cara Gunadh.


Selesai mengurus para penghianat, Gunadh dan Arya juga harus mengurus ulang ijin bangunan. Dan ini akan memakan waktu cukup lama. Sebab untuk memastikan semua baik-baik saja, Gunadh dan Arya harus memulai semua dari awal. Agar tidak lagi terulang kejadian sebelumnya, kali ini mereka harus lebih hati-hati dan teliti.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita menginap di sini sana? Ini sudah malam. Kondisi kesehatan Anda juga sedang tidak baik."


Saran Arya.


"Ya. Besok pagi saja kita kembali." Ucap Gunadh dengan lemas.


Bekerja tak kenal waktu selama satu Minggu, membuat tubuh Gunadh begitu lelah.


Mungkin setelah ini ia akan istirahat total di rumahnya beberapa hari.


Paginya baik Gunadh maupun Arya sudah siap meninggalkan penginapan yang selama ini mereka tempati.


"Kita lanjut ke kantor saja Arya." Baik tuan.


Arya tidak berani membantah. Meski dalam hati ia ingin mengingatkan sang majikan akan kondisinya, namun ia tahu betul bila Gunadh sudah gila kerja seperti ini, berarti ada masalah yang membebani pikiran Gunadh.

__ADS_1


__ADS_2