Nanditha

Nanditha
KEDATANGAN SAFIRA


__ADS_3

Penerimaan atas segala jalan yang Tuhan gariskan, serta dukungan dari orang sekitar adalah obat terbaik untuk luka yang tidak mudah sembuh.


Meski awalnya merasa takut dan malu atas video viral sang mommy, Mira mencoba menerima itu sebagai bagian dari takdir hidupnya.


Gadis yang dipaksa dewasa oleh nasib itu, kini tengah belajar memaafkan apa yang sudah terjadi.


"Kamu yakin mau melanjutkan sekolah formal? Nggak home schooling aja?" Tanya Gunadh yang khawatir putrinya mengalami depresi lagi.


"Nggak Dad ... Aku mau bersosialisasi. Bosen juga kalau di rumah aja." Gadis itu menggerakkan kakinya yang sudah bebas dari tongkat.


"Baiklah ... Tapi kamu harus janji sama Daddy, akan selalu baik-baik saja. Ingat, apapun yang orang lain katakan, jangan masukkan ke dalam hati." Nasihat Gunadh lagi.


"Iya Dad ... Nggak usah khawatir soal itu." Sahut Mira dengan senyum cerah menghiasi wajahnya.


Waktu berlalu dengan cepat. Saat-saat terberat dalam hidup, sudah Mira lalui. Luka tak berdarah, trauma, hingga depresi menjadi bagian dari kisah hidup yang gadis belia itu lewati. Menjadi halaman-halaman dalam bab kehidupan, yang penuh warna.


Siapa yang menginginkan kecewa? Tentu tidak ada.


Namun, setiap manusia yang memiliki harapan harus siap dengan kekecewaan.


Siapa yang mau perpisahan? Pasti juga tidak ada.


Namun perpisahan mengajarkan kita arti dari sebuah keberadaan.


Mira sudah melalui semua itu.


Bukan lagi kehilangan mainan, gadis belia itu sudah belajar kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kehilangan sentuhan seorang mommy, yang sejatinya masih dan akan selalu ia butuhkan.


Bukan lagi memendam kecewa karena tidak mendapat juara, namun ia harus berdamai dengan rasa kecewa, bahwa ia bukanlah sesuatu yang berharga untuk wanita yang melahirkannya.


Meski di sudut hati terdalamnya, pasti masih ada sisa luka yang meronta, Mira sebisa mungkin menahan perasaan itu.


Ia ingin bangkit demi sosok yang tidak pernah pergi darinya. Untuk sosok dingin yang terus belajar menjadi hangat demi dia. Untuk pemilik bahu kokoh yang tidak pernah lelah menjadi sandaran hidupnya. Yang tidak sempurna, tapi selalu memberi yang terbaik untuknya.

__ADS_1


'Aku janji Dad, tidak akan ada lagi air mata untuk dia. Biarlah akan aku simpan dia di sudut terdalam dan tergelap hatiku.' ucap Mira dalam hati.


Meski tidak mudah, namun gadis itu mampu melewati hari-harinya dengan baik. Kejadian itu juga membuka mata Mira, seberapa tulus orang-orang disekitar yang selalu ada disaat tersulit dalam hidupnya.


🌟🌟🌟


Enam bulan sudah berlalu. Mira yang ceria sudah kembali, bahkan gadis itu kini jauh lebih tangguh dari sebelumnya. Dengan tiga sahabat yang selalu setia menemaninya.


Sementara Gunadh, ia menjadi ayah yang hebat untuk putrinya. Meski hatinya tercabik mendapati kenyataan yang menimpa Namira, namun sebisa mungkin ia menjauhkan raut sedih dan kecewanya di hadapan sang buah hati.


Tentang kisahnya dan Nandita, Gunadh belum sekalipun menghubungi gadis itu.


Baginya kesembuhan Mira paling utama saat ini. Siksaan rindunya pada gadis itu, ia jadikan hukuman karena telah lalai menjadi laki-laki tegas selama ini.


Namun begitu, ia tetap berhubungan baik dengan orang-orang disekitar Nandita, pun sebaliknya orang tua Nandita masih sering berkabar pada Gunadh.


Dan salah satu orang yang memberi dukungan saat kasus Safira berhembus, adalah orang tua Nandita.


"Tuan, ada tamu ingin bertemu." Arya memberi kabar setelah sebelumnya diijinkan memasuki ruangan atasannya.


"Seorang wanita tuan. Dia bilang sudah ada janji temu dengan anda." Ucap Arya yang juga bingung, sebab tidak biasanya Gunadh memiliki jadwal selain yang ia atur.


Gunadh berpikir sejenak.


"Saya tidak ada janji temu dengan siapapun selain yang kamu jadwalkan." Ucap Gunadh tegas.


"M-mas Gunadh ..." Tiba-tiba seorang wanita masuk menerobos ke ruang kerja Gunadh.


Dua pria di dalam ruangan itu sangat terkejut, mendapati wanita yang berdiri di hadapan mereka, sangat jauh berbeda dengan yang selama ini mereka kenal.


"Nona Safira," gumam Arya setelah memastikan orang yang berdiri itu adalah mantan istri atasannya.


"B-bo-boleh a-aku ngom-ong sama mas Gunadh se-bbentar?" Wanita dengan tub uh kurus dan perut membuncit itu bicara terbata. Tangannya saling mer emas satu dengan yang lain. Menyiratkan kegugupan si pemilik raga.

__ADS_1


"Ada perlu apa anda kemari?" Tanya Arya dengan tidak ramah.


"A-ada yang mmauu aku bicarakan mas. B-bi-sa kami b-bi-cara b-berdua?" Sangking gugupnya, Safira bicara dengan terbata.


Rahang Gunadh mengeras. Wanita di depannya ini sungguh tidak punya malu.


"Saya tidak punya urusan denganmu. Pergi, sebelum keamanan menyeret tubuhmu dari tempat ini."


"Aku mohon maaf ..." Safira menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh dengan tangan ia cakupkan di depan dada.


Sungguh wanita itu benar-benar menguji kesabaran Gunadh.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Kirain Safira udah metong ... eeehh muncul lagi ...


sabar ya kesayangan GunTha 😁😁😁


eeh hampir lupa, temen aku punya karya bagus yang bisa kalian intip lho.


aku kasih blurb-nya yaaa


Seorang gadis bernama Elia Tiara Dewi harus menjalani kehidupannya yang menjadi begitu suram akibat kecelakaan beberapa tahun lalu yang merenggut keceriaan dan juga warna dalam hidupnya.


Akibat kecelakaan yang merenggut penglihatannya dan lebih menyakitkannya lagi kecelakaan itu, dilakukan oleh kakak tirinya. karena merasa iri dengan kehidupan yang dijalani oleh Elia.


Hingga pada akhirnya, Elia bertemu dengan seorang laki-laki tampan bernama Gavin Harsono. yang merasa jatuh cinta, pada Gadis itu saat pandangan pertama.


Hingga Gavin memutuskan untuk menikahi Elia. namun, hal itu sepertinya ditentang oleh keluarga besar Harsono terutama sang ibu.


Namun, entah apa yang terjadi hingga membuat ibu Gavin menyetujui pernikahan putranya itu.


Mampukah Elia bertahan dengan keluarga yang tidak menyukainya dari awal? dan Mampukah Elia Bertahan saat sang suami diperintahkan untuk menikahi sang kakak tiri?

__ADS_1


kita simak saja yuk



__ADS_2