Nanditha

Nanditha
KE RUMAH OMA


__ADS_3

Semburat jingga matahari yang baru terbit mengiringi perjalanan Nandita menuju rumah mertua onty Eby.


Menggunakan celana jins hitam, dengan sweater coklat susu, gadis yang tidak suka menggerai rambutnya itu hanya mencepol asal mahkota berwarna dark brown-nya.


Turun dari angkutan umum, ia harus berjalan beberapa menit untuk mencapai rumah klasik yang cukup besar itu.


Nandita menekan bel beberapa kali, kemudian menunggu penghuni rumah membukakan pintu untuknya.


Senyum manis ia hadirkan ketika wajah opa muncul dari balik pintu.


"Opa," sapanya sembari meraih tangan pria pendiam itu untuk diciumnya.


"Nak, dengan siapa kamu kemari?" Opa melihat sekeliling, namun tidak menemukan siapapun.


"Aku sendiri opa. Pakai bus tadi." Terangnya.


"Masuk nak, kamu mau bertemu Aslan?" Tanya Opa sembari menuntunnya memasuki rumah.


"Mmm apa Oma sudah bangun, Opa?" Nandita menoleh ke arah pria jangkung dengan jambang di seluruh wajahnya itu.


"Ooh kamu mau bertemu dengan Oma? Baiklah, tunggu sebentar. Duduklah dulu."


"Canem ..." Opa memanggil istrinya dengan suara sedikit keras, namun tetap terdengar lembut di telinga.


Nandita tersenyum mendengarnya. Ia bisa merasakan keromantisan pasangan yang mungkin sudah bersama selama lebih dari setengah abad itu.


Oma keluar dari dapur, masih dengan apron yang menggantung di lehernya


"Ada apa? Tanyanya


"Ada yang mencari kamu. Temui lah, biar aku yang melanjutkannya."


Mereka kemudian bertukar haluan. Oma menuju ruang tamu di mana Nandita tengah menunggunya, sementara opa menuju dapur menyelesaikan pekerjaan istrinya.


"Nandita," wanita itu cukup terkejut melihat gadis yang kemarin hanya sesaat ia temui itu.


Segera ia mengambil sisi lain dari sofa tempat Nandita duduk.


"Oma," sapa Nandita tersenyum canggung.


"Oma, maaf kemarin aku nggak sempat menemui Oma lagi. Aku ...."

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa. Oma tau, kamu pasti sangat lelah sehingga ketiduran, bukan?" Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu, mengelus lembut lengan gadis yang duduk di sampingnya itu.


Hati Nandita meringis, merasa berdosa bila dirinya mengiyakan ucapan Oma.


"Kamu datang kemari untuk mencari Aslan? Aah anak itu, sangat malas sekali bangun pagi. Tunggu sebentar ia, Oma panggilkan dia dulu." Wanita yang tidak lagi muda itu, bangkit hendak menemui cucunya yang masih merajut mimpi. Ia merasa antusias, sebab gadis yang ia harapkan menjadi cucu menantunya itu, kini datang ke rumahnya.


"Ee Oma, tidak perlu. Aku datang untuk menemui Oma," Nandita mengutarakan niatnya datang bertamu, bukan untuk bertemu Aslan.


Sedikit bingung, wanita itu kembali ke tempatnya semula. Duduk, sembari menatap Nandita yang terlihat sedikit gelisah.


"Ada apa?" Tanya Oma


"Mmm Oma, sebelumnya aku mau bilang terimakasih. Oma sama keluarga di sini sudah begitu baik menerima aku dan menganggap sebagai keluarga sendiri." Oma mengangguk tanda menyimak.


"Dan aku juga minta maaf, bila ada sikap dan tindakanku yang kurang berkenan di hati Oma."


Nandita tidak tau harus memulai dari mana untuk mengawali ceritanya.


Kali ini alis Oma menyatu, mencoba mencerna maksud ucapan gadis itu.


"Oma, kedatanganku kali ini juga pasti akan membuat Oma kecewa, tapi percayalah aku nggak bermaksud melakukannya ...."


"Nandita, kamu bicara apa? Oma tidak mengerti. Jangan berbelit-belit, Oma tidak suka." Potong Oma cepat.


Nandita diam, mengumpulkan keberanian untuk mengucap apa yang sudah ia rapalkan sejak dari rumah onty Eby.


"Oma, aku nggak bisa menerima lamaran Oma untuk Aslan." Ucap gadis itu akhirnya. Sedikit takut ia berucap sembari menundukkan kepala.


Tidak ada reaksi apapun dari wanita di hadapannya.


Suasana hening, menambah perasaan takut yang sudah sejak tadi terselip di hati Nandita.


Ini bukan negaranya, dan orang yang duduk di depannya bukan orang sembarangan. Meski bukan orang yang punya kuasa, namun keluarga itu cukup punya pengaruh di kotanya.


Walaupun sejauh yang ia tahu, keluarga itu keluarga yang baik, namun siapa yang berani menjamin hati seseorang ketika merasa direndahkan?


Dan ia tahu pasti, lamaran yang ditolak adalah sesuatu yang sangat memalukan dalam keluarga itu.


"Apa maksudmu dengan menolak lamaran kami?" Suara lembut itu tidak lagi terdengar, berganti nada datar penuh penekanan.


Seperti yang sudah Nandita duga, Oma pasti akan tersinggung dengan penolakannya.

__ADS_1


"Aku merasa, aku bukan orang yang tepat untuk Aslan, Oma. Dia berhak mendapat orang yang lebih baik dariku."


Nandita memberanikan diri menatap wajah yang penuh dengan kerutan itu.


Oma tersenyum miring.


"Apa selama ini kamu bermaksud mempermainkan cucuku?" Nandita menggeleng cepat.


"Tidak sama sekali Oma, itu tidak benar."


"Lalu?"


"Aku tidak pernah bermaksud mempermainkan siapapun di sini. Selama ini, aku dan Aslan tidak punya hubungan apapun selain berteman,"


"Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan Nandita."


Sanggah Oma cepat.


Nandita kembali menunduk.


"Kalau kalian tidak memiliki hubungan apapun, kenapa kamu mau diantar jemput olehnya selama ini? Kenapa kamu tidak menolak tiap kali cucuku mengajakmu datang ke rumah ini, mengenalkan kamu sebagai teman istimewanya?"


Cecar wanita itu lagi.


"Oma, itu semua ...."


"Apa sekarang kamu sudah menemukan laki-laki yang lebih baik dari Aslan, sehingga kamu bisa membuang cucuku dengan begitu mudah?" Ucapan Oma sudah jauh dari jalur yang ingin Nandita bahas.


Kembali gadis itu menggeleng.


"Oma salah paham. Sedikit pun aku nggak pernah berniat memanfaatkan Aslan. Dari awal aku hanya menganggap dia sebagai teman ku, seperti halnya temanku yang lain di negaraku." Nandita mencoba meyakinkan wanita tua itu dengan tatapannya yang begitu sayu.


"Sejak dia mengutarakan perasaannya, aku sudah menolak. Itu sebabnya beberapa waktu lalu aku jarang kemari, karena saat itu aku sengaja ingin menjaga jarak dengannya."


Oma tersenyum sinis, seolah meragukan ucapan Nandita.


Bagi wanita itu, alasan Nandita sungguh tidak masuk akal.


"Lalu selama beberapa waktu ini, apakah kamu menghindar juga dari Aslan?" Dengan tatapan tajam, wanita itu seakan ingin melemahkan hati Nandita.


Gadis itu nampak berpikir, apakah ia harus menceritakan semua detail kisah yang membawanya ke negeri asing ini?

__ADS_1


Mengapa dirinya harus bungkam ketika Aslan menyatakan kalau dirinya adalah kekasih pria itu?


"Dia memang kekasih ku Oma," suara seorang pemuda mengalihkan pandangan Oma yang penuh permusuhan pada Nandita.


__ADS_2