Nanditha

Nanditha
SELAMAT TINGGAL


__ADS_3

Menatap bangunan besar nan megah itu, Gunadh membayangkan persiapan seperti apa yang sudah dilakukan oleh keluarga orang tua angkat Nandita, untuk acara pertunangan besok.


Hati kecilnya berbisik untuk jangan egois.


Seberapa besar rasa malu yang akan ditanggung kedua keluarga, bila sampai acara itu tidak terlaksana? Pantaskah ia melakukan hal ini? Mungkinkah Nandita akan menerima kehadirannya?


Tiba-tiba rasa rendah dirinya muncul, menyiram kobaran semangat yang ia nyalakan sejak berangkat dari Indonesia.


Keyakinannya untuk meraih tangan Nandita kembali, agar bisa ia genggam kini mulai goyah.


Tatapan pria itu kosong.


Sopir taksi yang setia menemaninya sejak sore, dapat melihat keputusasaan yang tergambar di raut wajah Gunadh.


"Ini tuan," sopir itu menyerahkan air mineral yang masih tersegel ke arah penumpangnya.


Gunadh menoleh, meraih air yang disodorkan untuknya itu, dengan tersenyum kaku.


"Terimakasih pak," ucapnya.


"Mmm pak,"


"Iya tuan?"


"Mmm menurut anda, apakah saya harus turun?" Dengan ragu Gunadh bertanya.


Terpaksa membagi keresahannya dengan orang lain, sebab ia benar-benar merasa bingung saat ini.


Sopir itu menatap Gunadh lebih dalam.


"Apa yang hati anda inginkan?" Tanyanya, membuat alis Gunadh mengkerut.


Bukankah ia bertanya pada sang sopir, karena dia merasa bingung akan keinginannya sendiri?

__ADS_1


"Bisikan hati, dan ego itu berbeda tuan. Acap kali kita bimbang, karena kita tidak bisa membedakan yang mana kemauan karena ego, dan yang mana keinginan hati nurani." Jelas sopir tersebut.


"Saya merasa tidak pantas untuknya saat ini pak. Melihat tempat diadakannya acara besok, saya yakin keluarga mereka pasti mengundang banyak orang dan bukan tamu sembarangan. Apa saya berhak mempermalukan keluarga itu? Dan lagi, apakah tunangan saya menerim kehadiran saya yang datang untuk merusak acara mereka?" Ucap Gunadh.


"Tapi sisi hati saya yang lain, ingin agar Nandita kembali dalam pelukan saya. Rasanya tidak rela membiarkan dia jatuh dalam pelukan laki-laki lain."


Gunadh si muka datar, kini memperlihatkan sisi lemahnya, justru pada orang asing yang baru ia kenal.


"Terkadang apa yang kita inginkan, belum tentu itu terbaik untuk kita tuan. Acap kali semua yang kita lakukan, hanya demi memenuhi dahaga ego kita."


"Pikirkan baik buruknya, setiap tindakan yang akan tuan ambil. Bila ini menyangkut dua manusia, tidak masalah tuan berjuang hingga menang. Tapi ini sudah melibatkan keluarga besar. Meskipun tuan berhasil, efek ke depannya akan seperti apa, itu juga harus dipikirkan." Nasihat pria berusia sekitar lima puluh tahun itu.


"Jadi saya harus mengalah pak?" Tanyanya.


Pria itu tersenyum.


"Itu semua kembali pada anda sendiri tuan, ingin mengalah silahkan, ingin berjuang juga itu hak anda. Saya hanya memberi pandangan dari sudut pandang saya."


"Tolong antarkan saya ke hotel xx pak." Ucap Gunadh lemah.


Pada akhirnya, ia harus mengalah. Meski sudah sejauh ini ia melangkah, namun keadaan dan kenyataan yang tersaji membuatnya menyerah.


'sayang, semoga kamu bahagia dengan jalan yang kamu pilih saat ini. Maaf, aku memberimu harapan dan janji yang baru bisa aku tepati saat kamu sudah lelah menunggu. Selamat merajut kisah dengan dia yang lebih pantas. Aku kalah sayang. Tidak lagi bisa meraih tangan yang terlalu lama aku lepaskan itu.' gumamnya dalam hati.


Gunadh memberi banyak tips pada sopir yang seti menemaninya dari sore hingga malam. Meminta sopir taksi itu bersedia mengantar dan menjemputnya selama dirinya berada di negeri dua benua tersebut.


"Terimakasih banyak tuan. Kapan pun anda membutuhkan saya, hubungi saja. Saya akan mengantar kemanapun tuan ingin." Senyum bahagia berbalut lelah, yang pria setengah abad itu perlihatkan, menularkan hal yang sama pada Gunadh.


"Sama-sama pak, terimakasih sudah mengantar dan mendengarkan cerita saya yang mengenaskan." Ucap gundah dengan senyum getir.


Sopir itu menggeleng.


"Semua sudah menjadi ketetapan yang di atas. Berdoa saja pada Tuhan, agar anda menemukan kembali sosok seperti tunangan anda. Kelak, ketika sudah menemukannya, jangan pernah dilepas lagi. Bila perlu segera bawa ke pelaminan agar tidak direbut pria lain." Ucap pria itu sembari terkekeh.

__ADS_1


Gunadh pun ikut tertawa ringan, melepas sedikit beban di hatinya.


"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu tuan." Sopir itu undur diri.


Gunadh kembali ke kamar hotelnya. Tanpa menyalakan lampu kamar, ia membiarkan gelap malam memeluk tubuh dan hatinya yang suram.


Dalam kegelapan ia merenungi apa saja yang sudah ia dan Nandita lalui.


Dan dirinya sadar, selama ini begitu banyak cinta dan pengertian yang gadis itu bagi untuknya, namun acap kali ia meragukan gadis itu. Banyak luka yang sudah ia torehkan, membuatnya sadar mungkin benar bukan dia yang terbaik untuk Nandita.


'andai waktu bisa diputar, tak akan aku biarkan keraguan menghampiriku, dan mempertanyakan setiap langkahmu. Tidak akan aku biarkan kamu berjuang sendiri, menghadapi kerikil dan rumput berduri dalam hubungan yang kita jalani berdua. Tapi semua sudah terjadi. Bukan hanya kakimu yang kubiarkan berdarah, tapi hatimu juga aku buat luka menganga. Semoga kamu bahagia sayang, dengan pilihanmu saat ini. Maaf telah lalai menjaga kepercayaanmu. Selamat tinggal. Entah kapan kita akan bertemu kembali.' Rintihnya dalam hati.


Rasa sesal dan kesedihan Gunadh bawa hingga ke alam mimpi.


Membiarkan cacing dalam perutnya meronta meminta diisi, namun rasa lapar tak kunjung datang.


Meski sejak pagi hingga malam, hanya kopi dan teh serta makanan kecil saja yang singgah dalam lambungnya.


🌟🌟🌟


Nandita pasrah ketika pagi-pagi buta, tim make up artist sudah menganggu tidurnya.


Mata sembabnya jelas menampakkan kesedihan yang masih bergelayut, enggan meninggalkan hari-harinya.


Namun kini ia tersenyum tulus, menyambut kehadiran orang-orang profesional yang akan mengubahnya menjadi Cinderella.


'mulai saat ini tidak akan ada lagi tangis, untuk masa lalu. Sudah ku habiskan air mata kesedihan, membiarkan malam kemarin menjadi akhir dari segala drama yang kita perankan. Aku bukan lagi wanita mu. Hari ini, akan aku raih tangan kokoh yang lain sebagai tempatku bersandar. Menjadikan pria itu satu-satunya yang berhak atas rasa sayangku, cinta yang belum tumbuh, juga atas kerinduanku kelak. Kamu dan kenangan lalu, hanya akan menjadi pelengkap kisah masa depanku.' batin Nandita berucap penuh tekad.


Tidak ingin ia membiarkan tangis kembali menyapa kedua manik bunda, yang kemarin memeluknya erat dan meminta dirinya melepaskan segala kepedihan masa lalu.


"Besok, kamu adalah Nandita yang baru sayang. Jangan lagi kamu bawa kenangan menyakitkan itu dalam benakmu. Cukup, letakkan itu di sudut hati terdalam mu. Semua luka, air mata, kecewa, yang pernah hadir dalam hidupmu, simpan. Kunci rapat, jangan diingat lagi." Wanita sebaya onty Eby, yang telah melahirkannya itu sengaja datang menghadiri pertunangannya dengan Aslan.


Bunda Santi dan ayah Darma dijemput kak Bian dan Louis, ke kotanya. Terbang melintasi benua, demi melihatnya bertunangan dengan Aslan.

__ADS_1


__ADS_2