Nanditha

Nanditha
OBJEK KEGABUTAN


__ADS_3

Hari memang telah berganti, namun bumi masih harus menunggu cahaya matahari beberapa jam lagi.


Suasana di luar masih sepi, suara burung atau binatang lainnya belum terdengar sama sekali.


Gunadh masih menatap langit-langit kamarnya, yang berwarna putih bersih. Belum sekalipun matanya terpejam sejak ia baru tiba dari rumah Nandita, beberapa jam yang lalu. Ada banyak masalah yang berkeliaran memenuhi kepalanya.


Ada banyak keresahan yang ingin ia bagi, namun tidak ada tempat untuk berbagi. Terlahir sebagai anak tunggal, sejak kecil ia biasa sendiri. Tidak memiliki saudara yang bisa dimintai pendapat.


Namun ada saat dimana ia merasa lelah, ingin berkeluh, ingin berbagi resah dengan orang lain.


Bersyukur kini ada Nandita di sisinya. Wanita luar biasa, yang mau menerima dia dengan segala konsekuensi. Wanita yang tidak pernah menuntut apapun darinya, yang selalu ada untuknya dan juga Mira.


Gunadh meraih ponsel yang sempat ia letakkan di atas nakas. Mencari foto-foto yang ia simpan dalam folder khusus. Ada puluhan, bahkan ratusan foto Nandita dalam berbagai gaya, ia simpan dalam folder itu.


"Banyak sekali hal baik yang kamu berikan untukku dan juga Mira. Bahkan meski berulang kali aku membuat kamu kecewa dan terluka, kamu masih tetap mau menerima aku kembali. Apa yang bisa aku lakukan untuk bahagiakan kamu, sayang? Kehampaan hati ini, perlahan terisi oleh kamu. Maaf, aku terlalu kaku untuk bisa mencurahkan semua rasa sayangku padamu."


Ucap Gunadh, sembari terus mengusap salah satu foto yang menampilkan Nandita, dimana wanita itu tengah tersenyum lebar.


Rasanya Gunadh tidak sabar ingin segera menjadikan Nandita, pemilik dirinya seutuhnya. Ia akan membicarakan semua itu pada ayah Darma.


Itu tekadnya.


Niat yang menggebu itu pula yang mengantar laki-laki itu kembali ke rumah tunangannya, saat itu juga. Meski matanya belum terpejam sama sekali, namun rasa kantuk berbaik hati tidak menyapanya saat ini.


Jalanan yang sepi semakin memuluskan laju kendaraannya, hingga tidak sampai dua jam, ia sudah tiba di rumah kekasihnya lagi.


Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 saat ia dengan ragu mengetuk pintu rumah Ayah Darma.


Bersyukur bunda Santi sudah bangun, dan bersiap beraktifitas di dapur.


Wanita paruh baya itu, terkejut menatap sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya di pagi buta.


"Nak Gunadh ...."


"Bun ...." Gunadh tersenyum canggung pada calon mertuanya itu.


"Kamu dari mana? Kemarin nggak jadi pulang?" Tanya bunda Santi, terlihat bingung. Setahunya, kemarin Gunadh berpamitan hendak kembali ke kota di mana ia tinggal, tapi kenapa hari ini laki-laki itu sudah ada di rumahnya? Bahkan sebelum matahari muncul di ufuk timur.


"Mmm iya Bun ... Kemarin saya balik ke rumah, ini sekarang baru sampai di sini lagi. Eee boleh saya masuk, Bun?"


"Eeh, ii iya, masuk nak. Masuk." Bunda Santi tergagap. Sangking terkejutnya, wanita itu sampai menahan Gunadh berdiri di luar rumah.


"Makasih, Bun."


Gunadh melangkah menuju ruang tamu, saat bunda Santi sudah mempersilahkannya masuk. Wanita itu segera ke dapur untuk membuatkan calon menantunya minuman hangat.


Meski banyak tanya dan dugaan menggelitik hatinya, namun bunda Santi berusaha menahannya.


Tiba-tiba senyumnya terkembang, saat menyadari sesuatu. Ia menggelengkan kepala sembari menyeduh kopi panas yang akan ia hidangkan untuk Gunadh.

__ADS_1


🌟🌟🌟


Nandita bangun sedikit kesiangan hari ini. Selain masih merasakan lelah, dan belum terbiasa dengan perubahan waktu yang dialaminya, kemarin wanita itu tidur terlalu larut.


Bahkan usahanya membujuk Mira belum berhasil ia lakukan, sebab gadis itu telah tertidur sebelum ia selesai membereskan barang-barangnya.


"Kak Dita, bangun ...." Malikha menggoyangkan tubuh sang kakak, yang masih betah terbungkus selimut.


"Kak Ditaaa, iih. Banguuuun ...!"


Malikha menaikkan nada suaranya, berharap sang kakak segera membuka mata.


"Apa sih, dek ... Ntar ... Kakak masih ngantuk banget, ini ...."


"Kata bunda, kakak disuruh bangun sekarang. Udah ditungguin tuh, sama mas Gunadh." Suara Malikha masih terdengar ketus.


Ya, gadis itu merasa kesal terhadap sang kakak, yang baru saja tiba dan harus pergi lagi. Bahkan ia yang berencana akan pergi liburan bersama Nandita, terpaksa mengurungkan niatnya, karena masalah Mira.


Namun kekesalan itu tidak bisa ia ungkapkan, sebab ia tahu masalah Mira dengan Mommy-nya lebih penting diselesaikan saat ini.


"Kak Ditaaa!" Kesal Malikha.


"Ck, bentar lagi, dek. Suruh dia tunggu. Kakak masih ngantuk banget."


"Terserah." Malikha keluar kamar Nandita dengan menghentakkan kakinya.


"Katanya suruh mas Gunadh nunggu, Bunda. Dia masih tidur." Malikha tidak bisa menutupi kekesalannya.


"Muka kamu kenapa begitu?" Tanya sang bunda lagi. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu hanya mengangkat bahunya, tanpa menjawab sepatah kata pun.


Gunadh yang mendengar interaksi antara anak dan ibu itu, hanya bisa tersenyum.


Ia sudah membayangkan, mungkin akan seperti ini rumahnya kelak, ketika ia dan Nandita memiliki banyak anak.


Hari-harinya pasti akan dilewati dengan bahagia dan penuh warna.


"Daddy ...." Namira keluar dengan wajah segar. Gadis itu sudah rapi dengan pakaian santai, milik Malikha.


Gunadh bangkit menyambut putrinya.


"Udah mandi?" Tanyanya sembari mengusap rambut Malikha.


"Udah, Dad ...." Sahut gadis itu bergelayut manja di pinggang Daddy-nya.


"Onty Dita mana?" Tanya Gunadh lagi.


"Belum bangun, kemarin onty begadang kayanya. Dia beresin koper-koper sampe malem. Katanya, biar semua rapi pas ditinggal nanti."


Gunadh menganggukkan kepalanya. Ia paham sekarang kenapa gadis itu belum juga bangun, padahal saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.

__ADS_1


🌟🌟🌟


Nandita mencuri-curi pandang ke arah Gunadh yang tengah menyetir. Wajahnya kembali merona setiap kali ia mengingat kejadian saat di rumahnya.


Ia yang mengira tengah bermimpi, saat Gunadh membangunkannya. Bahkan dengan lancang ia mencium bibir Gunadh, membuat wanita itu kini malu setengah mati.


"Tatap langsung aja nggak apa-apa, nggak usah curi-curi pandang begitu." Goda Gunadh, sembari menatap lurus jalan di depannya.


"Siapa yang liatin? Nggak ada." Ketus Nandita memalingkan wajahnya.


Gunadh terkekeh menanggapi sikap Nandita.


"Kenapa nggak bilang sih kemarin, kalau mas mau datang? Aku kira mimpi lho tadi."


"Kan mas udah bilang, mau jemput ...."


"Aku kira boong. Lagian kalau mau jemput lagi, kenapa harus balik? Jauh lho jarak yang mas tempuh."


"Kirain bakal bisa tidur nyenyak, ternyata nggak. Mangkanya mas jemput kalian."


"Jadi dari kemarin mas nggak sempat tidur?" Nandita terkejut dengan pengakuan Gunadh. Laki-laki itu hanya mengangguk samar.


"Ya ampun mas ... Bahaya lho begitu ... Mas nggak mikirin kesehatan? Mana nyetir lagi bolak-balik. Kenapa nggak suruh Mamang aja sih buat supirin?"


"Sssttt ... Jangan marah, mas udah bias kok. Kalau lagi ada kerjaan, atau lagi ada masalah mas memang jarang bisa tidur. Biasanya kalau begitu mas bakal lembur, tapi kali ini ada objek yang mas sukai, yaaa mas datangi."


"Jadi aku objek kegabutan mas, begitu?"


"Ya kan memang objek. Objek pelipur lara."


"Iissh, apaan sih." Nandita menatap sinis ke arah Gunadh. Setelahnya ia melirik ke belakang, dimana Namira duduk sendiri di kursi penumpang.


Sepertinya gadis itu tidak mendengar obrolan mereka. Sibuk dengan headphone yang menempel di telinganya.


Gunadh pun ikut menoleh ke arah putrinya.


"Udah sempet ngomong sama Mira?" Tanya Gunadh pelan.


Nandita hanya menggeleng.


"Kemarin nggak sempet mas, dia keburu tidur sebelum aku selesai beresin koper."


Gunadh menarik nafas pelan. Merasa bingung harus bagaimana menghadapi putrinya nanti.


"Nanti aku ajak dia ngobrol, pasti dia mau mengerti kok." Nandita mengusap lengan Gunadh dengan lembut, mencoba meyakinkan kekasihnya itu.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


__ADS_1


__ADS_2