
Bukan hanya bahagia, acap kali cinta juga membawa air mata.
Sudah tiga bulan kegiatan belajar mengajar dimulai.
Nandita pun kini memiliki kegiatan baru, yakni melatih silat yang dilakukan seminggu sekali di sekolah.
Siswa yang merasa kurang puas, mendesak gadis itu, meminta agar bersedia melatih diluar jadwal sekolah. Jadilah Nandita menyewa sebuah gedung untuk dijadikan tempat latihan.
Kegiatan yang cukup padat, membuat gadis itu jarang memiliki waktu santai.
Jadwal mengajar meskipun hanya delapan jam dalam seminggu, namun ia tidak enak meninggalkan sekolah sebelum siswa dipulangkan.
Dan selalu hadir setiap hari ke sekolah, meskipun tidak ada jamnya hari itu. Sebab mungkin saja ada guru yang berhalangan hadir, dan memerlukan dirinya untuk menjadi pengganti sementara. Karena memang begitulah sistem di sekolah tersebut. Guru diharapkan saling membantu satu dengan yang lain, agar proses belajar tidak terganggu meskipun pengajar yang bertugas berhalangan hadir.
Apalagi kini dirinya dipercaya memegang salah satu kegiatan ekskul, Nandita merasa sangat berterimakasih. Itu sebabnya ia benar-benar ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah tempatnya mengajar.
Kegiatan melatih pencak silat di luar lingkungan sekolah, juga mengawasi usaha yang baru ia rintis bersama pak Brata, membuat waktunya bersama Gunadh jadi berkurang.
Mereka hanya bertemu dua atau tiga kali seminggu. Membuat Gunadh sering merasa cemburu, karena Nandita tidak seperti dulu lagi meluangkan waktu untuknya.
"Mas,,,, dulu aku kan kamu bayar untuk jagain Mira,, itu sebabnya aku selalu di rumah kamu atau kamu kekost aku untuk jemput Mira. Tapi sekarang, aku punya kegiatan lain, bukan lagi menjadi bodyguardnya Mira. Masa aku harus melatih anak-anak di rumah kamu? Yang benar saja,,."
Sudah berapa kali Nandita menjelaskan tentang kegiatannya.
Gunadh mencoba mengerti. Waktu bertemu, meski tidak setiap hari, setidaknya dalam seminggu mereka punya waktu melepas rindu.
Namun kini sudah satu bulan, Nandita dan Gunadh tidak pernah bertemu.
Gunadh yang sibuk di kantor, dan Nandita sibuk dengan kegiatan barunya.
Beberapa kali Gunadh mengatur jadwal untuk bisa makan malam dengan Nandita. Tapi selalu gagal, karena gadis itu selalu berhalangan datang. Entah itu ketiduran karena kelelahan, meski Gunadh sudah menunggu di restoran. Pernah tiba-tiba ada acara pulang kampung mendadak yang entah ada urusan apa. Bahkan tidak jarang Nandita menolak bertemu sebab sudah terlalu lelah dengan kegiatannya yang begitu padat.
Dan kali ini, saat Gunadh sengaja pulang lebih awal, dan langsung menuju kostan gadisnya. Tidak ia dapati gadis itu maupun motor maticnya, membuat ia yakin bahwa Nandita belum pulang.
__ADS_1
Setengah jam menunggu, belum juga muncul pucuk kepala gadis itu. Gunadh sudah tampak kesal, ia coba hubungi ponsel Nandita namun hanya suara operator yang terdengar nyaring di seberang. Ingin ia pergi meninggalkan tempat itu, namun rasa khawatir lebih kuat menahan kakinya agar tidak bergerak. Dengan hati yang panas, ia akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal.
Baru setelah lewat satu jam, ia bisa bernafas lega sebab melihat motor Nandita memasuki pintu gerbang Kostan
"Kemana saja kamu hingga jam segini baru pulang??" Sorot mata tajam Gunadh terasa menembus jantung Nandita.
"Mas,,, aku,,," Belum selesai gadis itu berkata, Gunadh kembali menuntutnya dengan pertanyaan.
"Apa hal yang begitu penting hingga kamu mengabaikan aku? Bahkan hanya sekadar berkabar pun kamu tidak sanggup?" Tatapan curiga yang dilihat Nandita membuat gadis itu jengah.
"Mas,,, aku ingin kamu percaya sama aku. Seperti yang aku katakan dulu, saat pertama kali kita dekat, jangan samakan aku dengan masa lalu kamu. Kami berbeda, dengan latar belakang dan cara hidup yang berbeda pula. Kalau mas sayang sama aku, sayangi aku sebagai Nandita yang seperti ini. Jangan halangi mimpi-mimpi yang ingin aku gapai, jangan Bebani aku dengan tuntutan harus ini, harus itu." Nandita yang lelah setelah mengajar di sekolah dan melatih silat, sialnya lagi ban motornya kempes hingga ia harus mendorong beberapa meter untuk menemukan tukang tambal ban. Tiba dikost dengan perut lapar, tapi langsung disuguhi tatapan tajam dari Gunadh yang menunggunya sejak satu jam lalu.
Ponsel Nandita kehabisan daya, sehingga tidak bisa dihubungi.
Dan kini waktu sudah menunjukkan angka setengah sembilan, dan Nandita baru pulang. Kemana gadis itu selama satu jam lebih?
Gunadh yang rindu, ingin mengajak gadisnya makan malam bersama. Namun ia harus menelan kecewa.
"Jadi kamu merasa terbebani dengan hubungan ini? Kamu merasa gak nyaman sama aku? Aku jadi penghalang kamu untuk menggapai cita-cita kamu, begitu?" Sakit hati Gunadh mendengar keluhan Nandita, tanpa laki-laki itu sadari sikapnya juga membuat Nandita merasa tidak nyaman.
Ada rasa bersalah di sudut hati Nandita, mendengar ucapan Gunadh yang begitu tulus ingin berbagi waktu dengannya.
"Apa hanya aku yang selalu ingin bersamamu Ta? Apa hanya aku yang terlalu berharap dengan hubungan ini? Apa hanya aku yang ingin kamu selamanya menemaniku?" Ucapan Gunadh begitu lirih, terasa putus asa. Hilang sudah panggilan sayang yang ditujukan untuk gadisnya.
Rasanya ia ingin mengehempaskan emosi yang sedari tadi ia pendam. Memukul, menendang atau apapun yang bisa dilakukan untuk menyalurkan emosi. Berapa kali dirinya kecewa, sebab Nandita tiba-tiba membatalkan acara kencan karena kesibukannya?
"Mas,,,,." Gadis tangguh itu tak kuasa menahan air matanya. Rasa bersalah, juga lelah yang mendera, membuatnya lemah. Bolehkan dirinya menangis? Mungkin air mata yang mengalir, bisa meluruhkan segala emosi yang terpendam dalam hatinya.
"Maaf,,,." Hanya itu yang ia sanggup katakan. Bukan, bukan dia tak ingin berjuang, bukan ia terlalu menyepelekan hubungan ini, ia hanya belum mampu menyeimbangkan antara pekerjaan dan jalinan cintanya. Ia masih ingin berkembang, memantaskan diri agar layak berdiri di samping Gunadh.
"Mungkin kita perlu waktu untuk masing-masing, kamu dengan dunia kamu dan aku dengan duniaku. Maaf sudah membuat kamu tidak nyaman dengan kehadiranku selama ini." Ucap Gunadh lemah. Rasanya lelah harus berjuang seorang diri. Selalu mengalah, padahal itu bukan karakternya.
Laki-laki itu melangkah, meninggalkan teras kostan tempat ia berdebat dengan gadisnya. Bersyukur tetangga kost di sana bukan jenis orang yang suka ikut campur urusan orang.
__ADS_1
Greb
"Hiks hiks maaf, aku gak bermaksud buat kamu marah. Maaf kalau kata-kataku melukai kamu. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Tangan mungil milik Nandita memeluk erat pinggang Gunadh dari belakang. Semakin keras suara tangisnya, semakin erat pelukan itu terasa.
"Ajarkan aku untuk bisa mengerti kamu, ajarkan aku mencintai, selayaknya yang kamu mau, dan aku mampu. Kamu yang pertama mengenalkan aku dengan rasa ini mas, aku yang bodoh ini. Huhuuuuuu. Jangan pernah berpikir untuk pergi, aku gak bisa." Tangis Nandita begitu pilu terdengar.
Berlebihan kah dia, bila rasa takut begitu kuat menguasai hati dan pikirannya kini? Untuk pertama kalinya ia merasa amat takut bila tak bertemu dengan laki-laki itu lagi. Inikah yang dinamakan patah hati?
Tarikan nafas kasar dari Gunadh terdengar di telinga Nandita. Ia tau, Gunadh berusaha keras menahan emosi agar tak berlaku di luar batas.
Gunadh membalikkan badan,mengecup ubun-ubun gadis yang masih tersedu itu.
"Kita masih sama-sama emosi, sebaiknya gak usah dulu bahas soal ini. Lagian udah malam, gak enak sama tetangga kost." Gunadh menuntun Nandita menuju kostnya.
"Kamu istirahat dulu, besok kalau sudah tenang baru kita obrolin lagi." Ucapnya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Tapi aku gak mau jalan masing-masing. Jangan ngomong gitu lagi, hati aku sakit dengernya." Rengek Nandita dengan sedu yang tertahan.
Kali ini senyum Gunadh lebih lebar, meski masih terkesan datar. Ada rasa bahagia yang menjalar di hatinya, mendengar ungkapan hati Nandita.
Kenapa gadis tangguhnya jadi secengeng ini? Gadis biji ketumbar, yang mampu mengalahkan dua preman bertubuh besar itu, kini tengah merayunya. Meminta agar ia jangan pergi.
Cup
Cup
Cup
Dikecupnya kening, pipi, dan bibir Nandita sekilas. Gemas dengan wajah basah dan mata sembab gadis itu.
"Mas,,, kamu cium bibir aku?" Nandita yang tadinya terhanyut oleh suasana romantis setelah pertengkaran, reflek menyentuh bibirnya saat benda kenyal menempel sekilas di tempat itu.
"Itu ciuman pertama aku lho...." Masih dengan wajah terkejut, gadis itu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Gunadh menutup mata, menyembunyikan rasa malu pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya gadis dihadapannya itu, membahas soal kecupan disaat seperti ini.