Nanditha

Nanditha
INGIN KERJA KE LUAR NEGERI


__ADS_3

Ada kalanya dalam hidup kita merasa lelah dengan apa yang kita jalani. Memasrahkan garis nasib pada takdir yang penuh misteri.


Mungkin rasa lelah itu yang membuat Nandita enggan mencari kebenaran, pun Gunadh yang seakan menyerah pasrah menggapai kisah yang perlahan musnah.


Kemarin adalah kenangan, tak akan mampu terulang meski sesal merayu meminta kembali.


Bagi Nandita, bila sudah tak ada lagi percaya, untuk apa cinta dijaga? Ucapan Gunadh membuatnya sadar, cintanya tak berarti apa-apa dibanding seorang Namira apapun kenyataannya.


Selama satu hari satu malam ia berdiam diri di kostannya, akhirnya ia memutuskan menghadapi semua seorang diri.


"Kek maaf Dita gak bisa ajak mas Gunadh kemari tengokin kakek." Ucapnya ketika sampai di rumah sakit.


Kakek Cakra hanya diam, tak menanggapi ucapan sang cucu. Tatapan matanya lurus ke langit-langit kamar rumah sakit.


"Dita tumbuh besar dengan kasih sayang ayah bunda, tidak sekalipun mereka meragukan Dita dalam setiap langkah yang Dita ambil. Mungkin kakek tidak tahu, rasa sayang Dita pada keluarga ini jauuh melebihi rasa sayang Dita pada diri sendiri. Apapun akan Dita lakukan agar ayah sama bunda bahagia, dan merasa bangga sama Dita." Nandita menjeda kalimatnya. Menatap kakek yang masih bergeming, meski bola matanya menari kesana kemari.


" Tapi Dita tetaplah seorang manusia biasa. Ada kalanya Dita tak sadar jalan yang Dita lewati ada lubang, kerikil, atau bahkan duri. Yang membuat Dita jatuh, tersandung, atau mungkin terluka. Membuat kalian khawatir. Tapi Dita yakin, Dita tidak pernah salah jalan. Tidak akan Dita biarkan diri ini tersesat hingga membuat orang tua Dita kecewa." Lanjutnya dengan menyentuh lengan sang kakek.


"Silahkan kakek percaya dengan apa yang kakek dengar dari mulut orang lain. Itu hak kakek. Yang ingin Dita sampaikan, Dita tidak pernah menjadi seorang pelakor kek ... Dita gak sekejam itu memisahkan anak dari ayahnya, merebut kebahagiaan yang bukan hak Dita. Cukup ayah saja yang merasakan hal itu. Seperti cerita yang biasa Dita dengar sejak kecil. Dita gak mau orang lain juga merasakan apa yang ayah Dita rasakan." Ucap Dita lembut namun menusuk hati kakek Cakra. Laki-laki tua itu merasa tertampar dengan ucapan cucunya.


"Dita pamit kek, maaf kalau udah bikin kakek kecewa." Ucapnya kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Ruangan kakek Cakra terlihat sepi, mungkin karena masih pagi.


Saat di lorong, ia bertemu dengan Tasya dan Tante Sari. Terlihat mereka membawa beberapa plastik berisi yang Nandita yakini adalah makanan. Bersyukur mereka tidak berkata apapun, hanya saling tatap sekilas kemudian masing-masing melanjutkan langkah seperti orang asing.


Setelah dari rumah sakit, gadis itu kemudian menuju rumah orang tuanya.


Suasana rumah terlihat sepi. Gadis itu tahu, di jam segini sang ayah biasanya ke peternakan. Mungkin kali ini sang bunda juga ikut.


"Lho kakak kapan pulang?" Tanya Malikha yang baru datang dari membawa pesanan.


"Baru aja sampai dek. Kamu dari mana?"


"Tadi habis bawain pesanan reseller kak. Uuh jauh ternyata tempatnya, di pelosok kak. Mana Ikha sendiri lagi ke sananya." Keluh gadis itu.


" Semangaaat dek ... Jangan ngeluh aja. Yang penting kan bayarannya sesuai." Ucap Nandita tanpa beranjak dari sofa ruang tamu.


"Ya sih ... Oh ya kak sekali-sekali datang kek ke Dapur Kita, pantau karyawannya biar semangat kerja mereka. Waktu ini pas Ikha bawain oleh-oleh dari kakak, semua pada nanyain bosnya." Ucap Malikha sembari merebahkan tubuhnya di samping Nandita.


"Kan kamu bosnya. Kamu udah tiap hari ke sana, ngapain kakak kesana lagi? Yang penting kan semuanya berjalan lancar." Sahut Nandita


Kesal, Malikha berniat menggoda sang kakak.


"Aku ambil alih aja kali ya, perusahaan kakak itu." Celetuk Malikha.

__ADS_1


"Lah kan memang udah kamu ambil alih dek ... Keuntungan juga lebih banyak kamu yang dapet banding kakak." Cibir Nandita.


"Ya kan aku kerjanya lebih banyak daripada kakak ..." Sahut Malikha membela diri.


"Nah mangkanya itu ... Anggap aja kakak investornya, kamu yang jadi CEO di perusahaan itu. Semua tanggung jawab ada ditangan kamu. Kakak Terim beres aja." Nandita mengerlingkan sebelah matanya menggoda sang adik.


Sementara Malikha mendengus mendengar ucapan sang kakak. Gaya pakai CEO segala, omset baru jutaan bukan milyaran. Pikir Mikha.


Nandita tersenyum melihat wajah Malikha yang seolah tidak terima. Disaat hatinya gundah seperti ini, ia bersyukur punya adik yang selalu bisa memberi hiburan.


Sore hari bunda Santi dibantu Malikha menyiapkan makan malam. Sementara Nandita masih betah di kamarnya sedari tadi. Sibuk dengan ponsel yang tak pernah lepas dari tangannya.


"Dek ... Kamu inget teman bunda Tante Eby gak?" Tanya bunda Santi sembari mengulek bumbu lalapan.


"Yang suaminya dari Turki ya bund?"


Bunda Santi menganggukkan kepalanya.


"Keren banget dia, buka usaha sendiri tau di sana. Dia bikin kaya rumah makan gitu di sana, makanan khas Indonesia." Ucap bunda Santi bangga.


"Emang orang sana bisa makan makanan sini Bun?"


"Kan di sana banyak orang Asia dek ... Target pasarnya dia tuh adalah orang-orang kita yang tinggal di sana."


"Bun ... Dia gak cari karyawan gitu? Ikha mau donk ... Siapa tahu dapet cowo bule." ucap gadis itu.


Tuk


Kening Malikha kena lemparan kerupuk mentah yang hendak digoreng oleh sang bunda.


"Bundah iih ..."


"Kamu, aneh-aneh aja."


"Kok aneh Bund? Siapa yang gak mau nikah sama bule coba? Ganteng, putih, terus yang pasti mata uangnya bukan rupiah bund ..."


"Memangnya kalau bukan rupiah kenapa? Kamu malu belanja pake rupiah?" Bunda Santi mulai kesal.


"Bukan malu atau gak bunda ... Tapi lebih ke mata uang asing itu lebih mahal kalau di Indonesia."


Mereka asyik ngobrol sejak tadi. Obrolan random dari Tante Eby ke harga uang asing di Indonesia.


"Sudah panggil kakakmu sana. Kita makan malam." Titah bunda Santi.

__ADS_1


Malikha pun bergegas menuju kamar sang kakak yang jarang dikunci bila si empunya ada Di rumah.


Tok


Tok


Tok


"Kak ... Dipanggil bunda. Makan malam katanya."


"Sebentar dek ..." Sahutnya dari dalam.


Tak lama ia muncul dengan wajah lesunya.


Mereka makan dalam diam. Ayah, bunda, dan Malikha melihat Nandita dengan penuh tanda tanya. Kenapa gadis itu masih diam saja? Terlalu berat kah beban Nandita mengahadapi masalah ini?


"Ta ..." Bunda Santi memanggil anaknya. Namun ayah Darma mencegahnya lewat tatapan mata.


"Ya bunda?" Tanya Nandita.


"Aah nanti aja." Sahut bunda Santi gelagapan.


Kemudian mereka melanjutkan makan dengan suasana hening.


Setelah selesai makan malam, seperti biasa mereka akan meluangkan waktu bercengkrama di depan tv.


"Mmm Yah, Bun, boleh gak kalau misalkan Dita nyari kerja di luar?" Tanya gadis itu ragu.


Sontak saja ayah Darma dan bunda Santi terkejut dengan ucapan anaknya.


"Untuk apa? Kamu mau mengindari masalah?" Tanya ayah Darma emosi.


Ini bukan anaknya, Nandita tidak akan pergi sebelum perang usai.


Sejak SMP, gadis itu terbiasa menyelesaikan masalah sendiri. Itu yang membuat ayah Darma percaya padanya.


Nandita tidak akan bercerita bila ada yang membully, tidak pernah mengadu saat anak lain menganggu, Nandita menghadapi dengan berani meski ia seorang perempuan.


Tapi kini, putrinya yang berani itu seakan pergi. Yang ada hanya Nandita yang putus asa, yang takut menatap dunia, hanya karena fitnah dirinya disebut orang ketiga.


Itu yang ayah Darma lihat kini.


"Ayah salah sangka ... Dita gak lari dari masalah."

__ADS_1


__ADS_2