Nanditha

Nanditha
NIAT TASYA


__ADS_3

Lihat aku dengan hatimu


Bukan dengan matamu. Maka kau akan tau siapa aku. Karena mata bisa menipu, mulut bahkan sering berkata kebohongan, tapi hati punya ketulusan yang bisa merasakan kejujuran.


Sepasang mata menatap tajam ke arah Nandita dan Mira. Sedari awal gadis itu memasuki mall, mata itu tak pernah berhenti mengikuti kemana langkah mereka.


Tasya mendekat seolah-olah tanpa sengaja melihat mereka di tempat makan tersebut.


"Kak Dita,,,,." Panggilnya dengan wajah sumringah.


"Lho,,, Tasya,?? Kamu sama siapa ke sini?" Nandita mencari sosok lain yang mungkin dikenalnya sedang bersama Tasya.


"Aku sendiri kak,,."


"Lagi ada acara apa?? Eehh duduk dulu yuk sini,,,." Nandita baru sadar kalau Tasya sedari tadi masih berdiri.


"Oya mas,, kenalin ini Tasya sepupu aku." Nandita mengenalkan mereka.


Gunadh mengulurkan tangan nya, sembari tersenyum ramah.


"Saya Gunadh." katanya singkat.


Akhirnya mereka makan berempat. Makanan yang sedia nya sudah habis tadi, kini bertambah lagi sebab Nandita memesan beberapa camilan dan makanan berat untuk Tasya.


Saat hari menjelang sore, mereka memutuskan untuk keluar dari mall tersebut.


"Tasya,, kamu mau kemana sekarang??" Nandita bertanya pada adik sepupu nya itu.


"Mmmm sebenar nya aku ke sini sama teman kak, tapi pas tadi aku di mall liat kakak, aku langsung samperin kakak kan. Nah aku di tinggal pulang sama temen ku." terang Tasya.


"Sekarang aku gak tau mau pulang sama siapa kak,,. Kakak bisa anterin aku ga??" lanjutnya lagi. Tuh kan,, Nandita sudah curiga dengan maksud Tasya. Namun ia masih belum mengerti tujuan gadis itu apa.


Gunadh yang sedari tadi hanya diam, kini ikut berkomentar.


"Ini sudah sore, kenapa ga besok aja pulang nya? Lagian rencana nya kan besok kamu mau pulang??" Tanya Gunadh di samping Dita.


"Terus aku tidur nya di mana donk kak?? Aku ga mungkin sewa hotel, soalnya uang aku udah habis aku pake belanja tadi." Ia mengangkat beberapa kantung belanja yang dari tadi di bawa nya.


"Kamu nginep di kost aku aja, besok kita pulang pagi-pagi biar ga macet trus ga terlalu panas."


"Ta,,, kasur kamu kan kecik, mana cukup tidur berdua??" Bisik Gunadh di telinga Nandita. Ia kasihan bila Nandita harus berbagi tempat tidur, sementara kasur itu hanya cukup untuk tubuh nya seorang.


"Ga apa mas,, nanti aku gelar selimut tebal aja di bawah pake alas tidur ku. Kasihan juga Tasya kan, masa dia lagi kesusahan aku tinggal?" Jawab nya.


Mata tasya terus memandang adegan bisik-bisik di samping nya itu. Ia yakin kalau Nandita memiliki hubungan khusus dengan laki-laki beranak satu itu.


'semurahan ini rupanya kamu Dita!! Dasar manusia sok suci!! Munafik kamu!' umpat nya dalam hati.


Gunadh mengantarkan Nandita dan Tasya sampai depan kost. Mira ngotot ingin bermain di kost Nandita namun Gunadh melarang nya.


"Ini sudah sore,, onty udah cape temenin kita dari pagi. Besok juga onty mau pulang, mau ketemu orang tuanya, jadi biarkan onty istirahat dulu. Lagian kan nanti juga Mira bakal ketemu lagi sama onty,,." Bujuk nya pada sang anak.


"Baiklah,,,, tapi nanti pas onty ga ada, Mira boleh ya ketemu mommy,,?" Ucap gadis itu. Gunadh tidak tahu harus menjawab apa, sebab ia masih belum yakin bila menjawab ya. Namun anggukan kepala Nandita membuat Gunadh juga akhir nya setuju.


Tasya melihat interaksi ke tiga nya. Ia semakin yakin kalau Nandita adalah seorang pelakor.


"Ya udah onty,, aku sama daddy pulang dulu ya,,,. Onty jangan lama-lama di rumah nya, biar Mira ada temen main lagi."

__ADS_1


"Ya cantik,,,,. Kamu merajuk terus dari tadi pagi, udah kayak anak TK tau,. Jangan suka gitu ya,,, apalagi pas onty ga ada nanti, kamu jangan suka bikin Daddy kamu pusing. Jangan menghilang lagi, ok,,." Nasehat nya pada gadis kecil itu.


"Heeee ya deeeh,,,." Jawab Mira.


"Dita aku pulang dulu ya,,,,. Besok jam berapa mau pulang?? Biar aku antar aja sekalian." Kata Gunadh.


"Gak usah lah mas,,, kan kerjaan mas banyak, nanti semua terganggu lagi. Aku ga mau transferan aku jadi terlambat lho..." Canda Nandita agar suasana tak terasa sedih. Sebab entah kenapa, ia juga merasa berat untuk berpisah dengan Gunadh.


"Itu ga akan pernah aku lupakan, kewajiban yang paling aku suka ya itu, kirim uang ke rekening kamu." Gunadh berkata serius namun dengan mimik bercanda, yang membuat Nandita tertawa.


"Ada gitu orang keluarin uang malah suka,. Aneh deh kamu mas,,. Aku malah paling males kalau harus keluarin duit." Nandita tidak mengerti dengan jalan pikiran Gunadh.


"Ada lah,,, aku contoh nya. Udaaah sana masuk,, nanti aku peluk kamu di sini." Gunadh berbisik di akhir kalimat nya. Namun Nandita masih mendengar dengan jelas.


"Apa mas?? Jangan macam-macam kamu." Ancam Nandita dengan mata melotot.


"Makanya masuk sana,,. Besok aku jemput, tidak ada penolakan. Ok,,." Gunadh mendorong punggung Nandita agar segera masuk ke kamar nya. Lantas ia segera kembali ke dalam mobilnya dimana Mira sudah menunggu sejak tadi.


Di dala kamar kost yang tidak terlalu luas itu, Nandita mempersilahkan Tasya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ia memang tidak terlalu dekat dengan sepupunya itu, namun sebagai tuan rumah ia harus bersikap ramah bukan??


"Kamu ada Daleman?? Kalo ga, mau pakai punya ku??" Nandita menawarkan barang pribadi milik nya pada Tasya.


"Ga usah, aku ga mandi kok. Mau cuci muka aja." Jawab sepupu nya itu lalu segera ke kamar mandi yang tadi sudah di tunjukkan oleh Nandita.


Di dalam ruangan yang sempit itu, tasya melihat sekeliling. Ruang kamar mandi yang sempit, hanya ada ember besar dan gayung. Di samping nya terdapat toilet jongkok, yang berdampingan dengan keranjang kecil tempat alat perang Nandita setiap hari.


'betah banget dia tinggal di tempat sempit begini. Kamar nya kecil, kamar mandi juga kecil, dapur juga darurat banget. Pantesan aja dia ngincer laki-laki kaya. Mau memperbaiki nasib kaya nya.' Tasya bermonolog.


Saking asyik nya melamun, ia sampai lupa tadi mengatakan pada Nandita kalau dirinya hanya ingin ke kamar mandi untuk cuci muka saja.


"Tasya,,,, masih lama gak?? Aku kebelet ini..." Nandita menggedor pintu kamar mandi, karena tidak sabar ingin masuk.


Setelah beberapa saat, muncul Tasya yang sedikit kesal karena lamunan nya terganggu.


"Kenapa sih kak,,, aku baru mau cuci muka tadi." Sungut nya


"Astaga kamu baru mau cuci muka?? Dari tadi ngapain aja di kamar mandi??" Nandita yang kebelet ingin buang air kecil langsung menarik tangan Tasya yang tak kunjung keluar dari bilik kecil itu.


"Kakak iiihhhh kenapa pake tarik-tarik sih." Tasya protes namun pintu sudah tertutup.


"Sorry sya,,, aku kebelet banget. Kalau masih belom selesai cuci muka, lanjutin nanti atau di wastafel cuci muka nya."


Mendengar ucapan Nandita, mulut Tasya bergerak menyebalkan mengikuti ucapan Nandita.


Kalau bukan karena tujuan tertentu, mana sudi ia tinggal bersama sepupu nya, di tempat yang bagi nya tidak layak.


Kembali ia mengedarkan pandangan di sekitar kamar tidur itu.


'kasur nya kecil banget lagi. Dasar orang susah, dari dulu udah hidup susah, jadi kebiasaan selera nya standar ke bawah begini. Padahal kakek udah kasih uang yang cukup banyak sama dia kan. Ngapain ga nyari tempat yang sedikit lebih mewah dari ini??' ucapnya lagi. Badan nya ia rebahkan di kasur kecil milik Nandita. Ia segera tidur tanpa perduli nanti Nandita akan beristirahat di mana.


Ke selokan harinya, saat Nandita sudah siap dengan pakaian lengkap dengan jaket dan sepatu, Tasya masih asyik meringkuk dengan selimut tipis di tubuh nya.


Kemarin Nandita terpaksa tidur di bawah dengan hanya beralaskan karpet kecil dan bedcover tebal saja, pasalnya kemarin setelah buang air ia sekalian mandi dan keramas. Begitu membuka pintu, dilihatnya Tasya sudah tidur pulas. Meskipun sedikit kesal, namun Nandita masih mencoba bersabar. Kasur ukuran 120x200 mestinya cukup untuk mereka berdua, sebab badan Tasya tidak lebih besar dari Nandita. Namun sepupu tiri Nandita itu seolah sengaja tidur dengan posisi mengangkang, dengan kepala juga tida berada tepat di tempat bantal. Posisi tidur yang agak menyerong, menyulitkan Nandita memperbaikinya, agar bisa ia ikut tidur juga di sampingnya. Jadilah Nandita tidur di bawah. Namun begitu, dirinya masih bisa tidur dengan nyenyak.


"Tasya,,,, banguun,,,, ini udah jam tujuh. Nanti kalau siang kepanasan naik motor nya." Tidak ada respon dari Tasya.


Sudah 30 menit Nandita menunggu, namun Tasya belum juga bangun.

__ADS_1


"Tasyaaa bangun ada gempa di Tokyo,,, CEPETAAAAN..!!!"


Tasya langsung meloncat dari atas tempat tidur dan berlari keluar hanya dengan celana pendek dan tank top tanpa menggunakan bra. Nandita antara lucu dan kesal melihat tingkah gadis itu. Namun ia berusaha menjaga ekpresi wajah nya tetap datar, agar Tasya tahu kalau dia juga bisa kesal.


"Kak Dita,,, kenapa sih bangunin nya gitu banget, kan bisa bangunin dengan baik-baik." Kata Tasya seolah menjadi korban.


Gunadh yang baru turun dari mobil mengerut kan kening saat mendengar keributan di dalam kamar gadis pujaan nya.


"Kamu itu dibangunin nya susah, dari tadi kakak udah sabar nungguin kamu. Buruan mandi, ini udah siang. Mau sampe jam berapa kamu ngerem di kost kakak??" Suara Nandita tegas, terdengar sangat kesal pada Tasya.


Semua itu di dengar oleh Gunadh, namun laki-laki itu tidak masuk ke kamar sebab ia tahu batasan.


Nandita hendak keluar membuang kotak Styrofoam bekas sarapan, sebab tadi ia tidak memasak. Niat nya habis mandi dan bersiap, ia membangunkan Tasya dan mengajak gadis itu keluar barengan. Namun kenyataan nya hingga ia datang dari membeli bubur ayam, gadis itu masih tidur. Sampai Nandita menghabiskan satu porsi bagian nya, Tasya masih belum bergerak juga.


"Lho mas Gunadh,,,." Nandita terkejut tapi juga ada rasa senang yang coba ia tutupi. Laki-laki itu serius ingin mengantar nya.


"Kenapa sih pagi-pagi ribut? Ga malu apa sama tetangga??" Gunadh menegur Nandita atas sikap nya.


Karena masih kesal, Nandita hanya menggedikkan bahu nya.


"Mas beneran mau anterin aku??" Nandita tidak menanggapi protes Gunadh, malah bertanya hal yang lain.


"Ya lah beneran. Kenapa??"


"Kirain becanda kemarin, baru aku mau bawa motor pulang. Tunggu sebentar ya mas,, Tasya masih mandi." Nandita mengambil kursi dari dalam kamar nya dan menempat kan di depan kamar nya. Gundah paham kursi itu untuk nya.


"Makasih ya calon istri." Ucapnya dengan nada menggoda.


"Apaan sih,,,." Nandita malu memukul bahu Gunadh sedikit keras.


"Sakit Ta,,,, belum jadi istri udah kdrt kamu ya,,,." Goda Gunadh lagi.


"Isssh ga usah becanda deh,,, aku ga suka." Nandita memasang wajah jutek.


"Kalau serius suka berarti ya,,,." Gunadh menarik turun kan alis nya.


"Pacaran aja gak, malah bilang calon istri." Nandita bersungut lagi.


"Berarti mau ya ... Ya udah kita pacaran sekarang "


"Ga gitu maksud nya,,,,. Iiissh mas ahh, gak lucu tau." Antara malu dan mau Nandita jadinya.Dia yang belum pernah pacaran, tidak tau harus bersikap bagaimana.


Sedangkan Gunadh, memang tidak ingin pacaran. Dia ingin mengenal Nandita dan keluarga nya lebih dekat. Setelah itu baru ia akan putuskan mau melamar Nandita segera atau harus berpikir ulang tentang perasaan nya pada gadis itu.


Setelah menunggu Tasya lebih kurang tiga puluh menit, mereka akhirnya berangkat menuju kampung halaman Nandita. Tapi sebelum itu, mereka akan mengantarkan Tasya terlebih dahulu. Sekalian Nandita menengok sang kakek.


Baru satu jam perjalanan, Tasya meminta berhenti di pinggir jalan. Katanya ia mual karena belum makan apapun. Meski kesal, Nandita akhirnya meminta Gunadh untuk mencarikan warung makan yang ada di dekat daerah tersebut. Setelah melihat nya, Nandita memutuskan menyebrang jalan sendiri untuk membelikan Tasya nasi campur dan air mineral.


"Maaf ya mas aku jadi ngerepotin." Ucap Tasya pada Gunadh.


Saat ini mereka hanya berdua saja di dalam mobil.


Sebenar nya Gunadh ingin ikut turun, namun Nandita melarang. Karena tidak ingin terlalu mencolok akhir nya Gunadh mengikuti mau Nandita.


"Santai saja, ga usah dipikirkan." Jawab Gunadh seadanya.


"Aku gak enak sebenarnya merepotkan kak Dita, tapi mau bagaimana lagi,,. Kemarin aku tidur di bawah, jadi susah tidur nyenyak kak. Menjelang subuh baru aku bisa tidur, jadi kesiangan deh bangun nya. Belum lagi tadi gak ada sarapan di kostan nya kak Dita. Akhir nya ya gini,,, asam lambung aku naik." Terang Tasya.

__ADS_1


Gunadh hanya menyimak apa yang dikatakan Tasya tanpa mau menanggapi. Baginya itu bukan urusan dia.


Sementara itu, senyum menyeringai Tasya perlihatkan walau hanya sekilas. Sengaja ia memfitnah Nandita, karena sesungguhnya ia sangat benci pada anak ke dua pak Darma tersebut. Sebab karena Nandita dan keluarga nya, jatah dia dan ibu nya berkurang. Selama ini ia bebas meminta apa saja pada sang kakek, namun sekarang demi yang nama nya keadilan ia harus rela pengeluaran nya dibatasi.


__ADS_2