
Tiga hari setelah berlangsungnya acara pertunangan antara Gunadh dan Nandita, mereka dipisahkan kembali oleh keadaan.
Bila beberapa hari lalu, laki-laki itu datang seorang diri ke kota unik itu, kali ini ia meninggalkan kota tersebut bersama kedua orang tua Nandita.
Banyak warna rasa menghiasi hatinya saat ini. Bahagia, sedih, dan yang pasti lega, sebab bisa meraih apa yang menjadi tujuannya datang ke negeri kebab itu.
Diantar oleh Nandita beserta kedua orang tua angkatnya, serta Aslan, Gunadh tidak pernah melepas genggaman tangan Nandita sejak mereka baru bertemu di bandara.
Perpisahan beberapa bulan yang mereka lalui dengan kesepian dan penyesalan, membuat pria itu belajar untuk menunjukkan perasaannya.
"Yank ... Jangan terlalu dekat dengan Aslan ya ...." Bisik Gunadh ditelinga kekasihnya.
Nandita menoleh, ia yang tingginya hanya sebatas bahu pria itu, harus sedikit mendongak demi melihat ekspresi wajah Gunadh.
"Maksudnya?"
Gadis itu tidak mengerti dengan maksud ucapan Gunadh.
Apa pria itu masih meragukan dirinya?
"Huuuhh sebenarnya aku nggak ikhlas, dia bisa lebih sering ketemu kamu dibanding aku. Dia punya banyak kesempatan untuk merayu kamu di sini." Gunadh memperlihatkan mimik kesal dan manjanya, membuat Nandita tersenyum. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain dari duda beranak satu itu.
Rupanya dia juga bisa bersikap manja, selayaknya remaja yang baru mengenal cinta.
Dengan wajah merengut masam, Gunadh menatap kekasihnya. Tidak perduli menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang.
Nandita melipat bibirnya ke dalam, demi menutupi senyum lebarnya. Ia baru tahu kalau Gunadh bisa begitu manja seperti saat ini.
"Memangnya kenapa kalau dia merayu aku mas?"
Seketika raut wajah Gunadh berubah.
Buru-buru Nandita melanjutkan kalimatnya.
"Yang penting kan aku nggak menanggapi rayuan dia." Tuturnya dengan tatapan lembut.
Nandita tentu tidak ingin ada kesalah pahaman lagi diantara mereka berdua. Terlebih saat ini, pria itu akan terbang meninggalkan dirinya, kembali ke tanah air. Ia tidak mau membebani sang kekasih dengan perasaan was-was yang berlebih.
Gunadh masih menatapnya dalam.
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya mas, itu akan membebani diri kamu sendiri. Belajar percaya sama pasangan itu penting. Memberi kebebasan aku untuk bergaul, berinteraksi dengan orang lain, adalah salah satu bukti, kamu percaya sama aku. Dan aku pasti akan menjaga kepercayaan kamu itu. Selama kita menjalin hubungan, apa pernah aku nggak terbuka sama kamu?"
Gunadh menunduk, membenarkan setiap ucapan Nandita dalam hati, namun gengsi untuk mengakui.
__ADS_1
"Lagi pada ngobrolin apa sih? Asyik banget kalian berdua." Tepukan pelan di bahu Gunadh, mengalihkan keduanya.
"Nggak ada," sahut Gunadh yang kembali dengan mode wajah datarnya.
"Mmm mas, aku ke ayah sama bunda dulu ya ...." Nandita bermaksud melepas genggaman tangannya dengan Gunadh.
"Aku ikut," tanpa perduli dengan kedatangan Aslan, Gunadh hendak mengikuti langkah Nandita dan mengeratkan kembali genggaman tangannya di jari gadis itu.
"Mas ngobrol aja dulu sama Aslan di sini."
Gadis itu membalas remasan tangan Gunadh sedikit lebih keras, seakan memberi kode dirinya tidak ingin dibantah.
"Ya udaah ...."
Terpaksa ia melepaskan tautan tangannya.
"Beri dia kebebasan bro ... Jangan diikat terlalu kuat seperti itu. Dia akan tersiksa,"
Gunadh menatap Aslan dengan tatapan tidak suka. Merasa kesal sebab pria yang usianya lebih muda darinya itu, seakan menggurui dirinya.
Tau apa Aslan tentang sebuah hubungan? Ia yang bahkan sudah pernah menikah, merasa jauh lebih banyak punya pengalaman hidup di banding anak bau kencur di depannya.
Gunadh mendengus kesal, namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jins yang dikenakannya. Menatap keriuhan orang yang sedang berlalu lalang di sekitarnya.
Tatapan sendu serta isak tangis, mewarnai suasana haru di terminal keberangkatan internasional bandar udara Ataturk, ketika operator bandara mengumumkan waktu keberangkatan pesawat yang akan membawa Gunadh beserta kedua orang tua Nandita, akan dilakukan satu jam lagi.
"Yah ...." Nandita menatap laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu dengan mata yang berkaca.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, ayah Darma meraih tubuh Nandita, dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Kamu jaga diri baik-baik di sini Ta," bunda Santi, yang tiba-tiba sudah ikut bergabung membentangkan tangan diantara ayah dan anak itu pun, tidak kuasa menahan tangisnya.
"Bunda ...." Nandita semakin tidak mampu menahan gemuruh di dadanya.
Meski kali ini perpisahan mereka, bisa dikatakan perpisahan bahagia, namun tetap saja kesedihan karena akan terhalang jarak membuat mereka tidak kuasa untuk menahan tangis.
"Hati-hati di jalan. Nanti kabari Dita kalau udah sampe."
"Kamu juga di sini jaga diri nak, ingat sekarang tanggung jawab kamu sudah bertambah satu. Tidak bisa lagi main-main dengan hubungan ini." Pesan ayah Darma saat pelukan ketiganya sudah terlepas.
Nandita hanya bisa mengangguk.
"Keluarga onty Eby sangat menyayangi kamu, jaga nama baik mereka di sini. Jangan lupakan pengorbanan mereka untuk kebahagiaan yang meraka usahakan untuk kamu."
__ADS_1
"Iya yah ...."
"Oma dan opa juga begitu. Manfaatkan waktu kamu yang tinggal beberapa bulan lagi, untuk memberi perhatian pada mereka. Sangat sulit menemukan orang-orang tulus seperti ini, di jaman sekarang." Ucap ayah Darma lagi.
"Dan hubungan kamu dengan Aslan ..." Ayah Darma menjeda sejenak ucapannya, mencoba mencari kata yang tepat untuk ia ucapkan pada sang putri.
"Dia laki-laki yang baik. Meski terlihat selengean, tapi dia memiliki kedewasaan berpikir yang patut dibanggakan. Jaga batasan kamu dengannya, sebab kamu sudah menentukan pilihan. Dia sangat mencintai kamu, dan dengan segala kelebihan yang dia miliki, akan sangat sulit seorang wanita menolak pesonanya."
Nandita terkejut dengan pemikiran sang ayah.
Bagaimana laki-laki itu tahu apa yang acap kali terlintas di benaknya?
"Yah ...."
Ayah Darma menganggukkan kepala samar, seolah memberi isyarat kalau dirinya tahu namun tidak ingin membahas masalah itu saat ini.
Nandita kembali memeluk pria paruh baya itu.
"Sssttt jangan nangis lagi ... Malu dilihat banyak orang ...."
Ayah Darma terkekeh, melerai pelukan mereka dan menatap putri keduanya itu.
"Ayah berangkat ya ... Ingat semua yang ayah pesankan sama kamu. Ayah tahu kamu sudah dewasa, pasti bisa berpikir secara dewasa juga."
Pria itu kemudian mendekati uncle Murat dan onty Eby yang memang sedikit menjaga jarak.
Pasangan suami istri itu begitu pengertian, memberikan waktu untuk Nandita melepas kesedihan pada kedua orang tuanya.
"Murat, Eby, makasih banyak untuk semuanya. Rasanya seribu ucapan terimakasih pun tidak akan cukup untuk semua yang kamu berikan untuk putriku."
"Jangan katakan itu ... Nandita sudah seperti anak bagiku. Wajar kalau aku ingin yang terbaik untuknya."
Sahut uncle Murat, lalu memeluk ayah Darma sembari menepuk punggungnya beberapa kali.
Dan yang paling mengharukan adalah ketika melihat dua sahabat masa SMA, yang kini sudah seperti saudara itu saling memeluk erat. Tangisan mereka yang tertahan, seolah mewakili perasaan keduanya.
"Bahagia selalu Eby ...
Semoga semua kebaikan, Tuhan anugerahkan untuk kamu dan keluarga kamu."
"Doa yang sama untuk kamu juga San ... Terimakasih sudah menjadi teman disaat orang lain tidak ingin mengenalku. Terimakasih sudah menjadi pendengar, saat semua orang menutup telinganya untukku. Terimakasih sudah mengulurkan tangan, saat orang lain justru mendorong aku ke dalam kesendirian. Aku saat ini, adalah karena kamu, karena dukunganmu."
"Bukan karena aku, tapi itu karena ketangguhanmu By ...."
__ADS_1