
Nandita membiarkan Aslan memeluk tubuhnya. Ia meyakinkan hatinya ini adalah yang terakhir.
'maaf mas, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Tapi rasa nyaman ini sudah aku coba untuk hindari.' bisik hati Nandita lirih.
Setelah beberapa saat, Aslan yang sudah bisa mengendalikan dirinya melepas pelukan dari tubuh Nandita.
"Maaf, aku nggak bermaksud lancang Nan ..."
"I iya ... Nggak apa-apa" mereka kembali merasa canggung.
Nandita melanjutkan langkah kakinya, berharap Aslan tidak mengikutinya lagi, namun untuk melarang laki-laki itu, bibirnya terasa kaku.
"Nan ... Mau menemaniku hari ini?"
Nandita menoleh, benar saja Aslan mengikutinya.
"Aku mau pulang, Aslan ... Onty melarang ku untuk pulang terlambat.
"Aku akan meminta ijin pada onty ...."
Laki-laki itu mengambil ponsel dari saku jaketnya.
"Aslan aku ...."
Ucapan Nandita terpotong, saat Aslan memberi kode dirinya untuk berhenti bicara.
Gadis itu melanjutkan langkah kakinya, tanpa menghiraukan Aslan yang masih sibuk dengan ponselnya.
Samar, terdengar pria tampan itu tengah berbincang menggunakan bahasa Turki. Namun Nandita tidak memperdulikannya. Ia tetap mengayunkan langkahnya, tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Nan ... Onty mau bicara ...." Aslan mengejar dan meraih bahunya.
Nandita meraih ponsel milik Aslan, dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
__ADS_1
"Iya onty,"
"Sayang ... Nanti pulangnya hati-hati ya ... Minta Aslan antar kamu."
"Mmm onty, aku lagi nggak pengen kemana-mana ...."
Onty Eby menghela nafasnya berat.
"Dita ... Aslan minta waktu hari ini aja sama kamu, beberapa hari lagi dia akan berangkat ke Amerika."
Mendengar itu jantung Nandita bergetar cepat. Namun otot-ototnya terasa lemas tak bertenaga.
Sudah pasti ia terkejut mendengar berita itu.
"Hallo nak ...." Suara lembut itu menyapa telinganya lagi.
"Ah i iy ya onty," Nandita yang sempat melamun, tergagap menjawab panggilan onty Eby.
"Iya onty, Dita temani Aslan hari ini." Ucapnya pelan, sembari lirik objek yang dibicarakan.
Setelah sambungan terputus, wanita itu bersiap hendak mengeluarkan kekesalannya.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau akan pergi ke Amerika? Apa aku bukan ...."
"Sssttt jangan lanjutkan omelanmu itu ...."
Aslan mencoba menghentikan pembahasan soal kepergiannya.
"Saatnya kita bermain seharian, oke ... Kamu harus menemaniku dan juga mentraktir ku." Ia meraih pergelangan tangan Nandita, namun gadis itu menghempasnya.
Tatapan nanar penuh kecewa jelas nampak di wajahnya.
Wajah sayu itu seolah bertanya, "kenapa harus pergi?"
__ADS_1
Tanpa terasa air mata menetes membasahi pipi pucat Nandita. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Namun Aslan paham, gadis itu menginginkan penjelasan darinya.
"Nan ...."
"Apa aku melukaimu sedalam itu, hingga kamu memilih pergi?"
Belum selesai Aslan dengan kalimatnya, Nandita sudah lebih dulu memotongnya.
"Kenapa melakukan banyak hal untuk gadis ini? Kenapa membuat aku semakin sulit untuk melangkah dan melupakan semua ini? Kamu tau, kamu menyiksa ku!"
Aslan mengerutkan alisnya.
"Kenapa kamu selalu menanyakan apapun yang aku lakukan? Sudah aku katakan, aku ingin kamu bahagia ...."
"Tahu apa kamu tentang bahagiaku? Tahu apa kamu tentang hatiku? Kamu manusia biasa Aslan ... Kamu tidak sehebat itu untuk memastikan aku selalu bahagia, dan tertawa."
Nandita merasa putus asa.
'semua yang kamu lakukan, semakin membuat aku mengagumi kamu, dan aku benci itu' rutuk Nandita dalam hati.
Ia melabeli perasaan yang tumbuh sebagai rasa kagum, yang ia sadar akan berubah menjadi cinta bila tidak segera diakhiri.
Namun sikap Aslan justru menunjukkan kebalikannya.
Aslan selalu ada, menemaninya sejak ia menginjakkan kaki di negara itu.
Menjadi badut untuk membuatnya tertawa, menjadi orang yang paling menyebalkan yang selalu mengganggunya, menjadi sahabat yang setia mendengar keluh kesahnya, juga musuh bebuyutan di setiap kesempatan yang selalu mendebatnya.
Kebersamaan mereka membuat Nandita merasa terbiasa akan kehadiran sosok laki-laki itu. Lalu, salahkah Nandita bila ia 'mengagumi' Aslan?
Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan yang selalu mengerti, yang rela berkorban apapun demi kebahagiaan kita. Bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri, asal bisa melihat kita tertawa lepas.
"Maaf ... Itu sebabnya aku pergi. Aku tidak ingin menciptakan kebimbangan di hatimu. Aku tidak ingin menyiksa kamu dengan membiarkan rasa itu bersemi. Aku tahu kamu setia, tapi aku tidak bisa menyalahkan hati, bila ada yang membuatnya kembali jatuh cinta. Dan aku tahu, kamu tidak nyaman dengan kemelut rasa di hatimu."
__ADS_1