
Hari Sabtu pagi, Nandita sudah sibuk di dapur kecilnya. Ia memasak makanan rumahan seperti biasa. Namun lebih banyak dari hari-hari sebelumnya, sebab Gunadh berencana mengajak mereka piknik bertiga.
Dan rencananya, Nandita membawa bekal kali ini.
Saat sedang asyik dengan kegiatan memasak, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
"Ya Kha,, kenapa?"
"Kak,, langganan daging yang biasa kasi kita bahan, dari kemarin gak motong. Katanya harganya naik, gimana donk?"
"Terus stok kita gimana?
"Dagingnya sampai minggu depan sih masih aman, dendeng sama urutan juga masih ada stoknya. Tapi kan kita harus mikirin solusi ke depan kak. Kakak bantu urus ya,, aku sama Dimas biar urus omset aja. Udah mau ujian juga kan ini."
Benar juga, sepertinya ia harus segera mencari pekerja yang bisa membantu usahanya itu.
"Ya sudah, nanti kakak pikirkan solusinya. Yang penting orderan orang gak sampai telat. Kalaupun ada orderan baru, kamu hitung dulu kira-kira memenuhi gak stok bahan kita."
"Baik kak,, tapi segera kabarin aku ya gimana hasilnya. Kata ayah sih dia punya teman yang ternak b*b*, coba kakak telepon ayah biar lebih jelas."
"Baiklah, nanti kakak telepon lagi ya,, masakan kakak gosong ini." Ucapnya baru sadar kalau kompor belum ia matikan. Kemudian ia mengakhiri sepihak panggilan bersama sang adik.
'Syukur aja gak gosong' gumamnya saat melihat ayamnya yang memang belum matang.
Niatnya ia ingin membuat ayam goreng asam manis kali ini.
Tok
Tok
Tok
Gunadh mengetuk pintu yang memang sudah terbuka. Setelah Nandita menoleh dan tersenyum padanya, barulah laki-laki itu masuk.
"Lagi masak apa?"
Gunadh menghampiri gadisnya ke dapur.
"Ini lagi bikin ayam goreng asam manis. Mas udah makan?"
"Udah tadi, bibi bikin nasi goreng. Tapi liat masakan kamu jadi pengen coba." Gunadh berniat mengambil potongan ayam yang sudah berpindah ke kotak makan. Namun tangannya disentil oleh Nandita.
"Cuci tangan dulu, kebiasaan begitu, nanti diikuti sama Mira." Gunadh yang kena omel, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Malu yang pasti.
"Mira mana mas?" Tanya Nandita yang sedari tadi tidak melihat gadis belia itu muncul.
Sementara Gunadh kembali mendekati kotak makan, setelah mencuci tangannya di tempat cuci piring.
"Tadi masih terima telepon dari temannya. Katanya mau ikut piknik." Wajah Gunadh mendadak berubah kesal, sambil mengunyah ayam goreng, ia melanjutkan kalimatnya.
"Gak ngerti sama anak itu, udah aku bilang mau kuality time, eeh malah ngundang teman-temannya. Katanya 'masa Mira aja yang diajak ke acara keluarga mereka, sedangkan Mira gak pernah ajak mereka' ". Mendengar penuturan Gunadh, hati Nandita merasa tercubit.
Gadis itu merindukan kebersamaan keluarga, ingin seperti teman-temannya yang memiliki keluarga yang utuh, dan ia hanya bisa memendam sendiri angan itu. Itu yang Nandita pikirkan.
Tidak seperti Gunadh yang kesal, Nandita sebaliknya, malah ingin Mira lebih sering mengajak teman-temannya dalam kegiatan yang mereka jalani saat liburan.
Membiarkan Mira merasa memiliki keluarga yang utuh, dan menunjukkan pada teman-temannya kalau ia sama seperti mereka.
Begitulah Nandita, sangat sensitif, namun ia juga sangat pintar menutupi kepekaannya itu.
"Onty,,." Mira masuk dan langsung menghampiri Nandita.
"Nanti teman-teman aku mau ikut gabung, boleh onty,,?" Ucapnya dengan wajah memohon.
__ADS_1
"Boleh,, kebetulan onty udah masak, jadi nanti bisa makan sama-sama."
Senyum cerah, Nandita perlihatkan.
"Waaah onty masak? Baru tadi maunya minta Daddy untuk pesankan makanan" Gadis itu bergumam di akhir kalimat.
"Mira gak suka ya sama masakan onty?" Tanya Nandita yang mendengar ucapan Mira.
"Suka kok onty, tapi kan aku ngajak teman-teman takutnya nanti kurang."
"Jam berapa nanti berangkatnya mas?"
Tidak menanggapi ucapan Mira, Nandita malah bertanya pada Gunadh.
"Nunggu teman-temannya Mira sampai sini" Gunadh menjawab masih dengan tatapan mata ke arah TV.
"Berapa orang temannya yang ikut?" Kini tatapannya beralih ke Namira.
"Ada tiga, tapi mereka baru siap-siap tadi." Namira menjelaskan.
Pasalnya gadis itu baru memberi tahu acaranya, saat teman-teman yang tergabung dalam geng, mengajak nonton di mall, sementara dia dan sang Daddy sudah dalam perjalanan menuju kostan Nandita.
Nandita menuju kulkas, mencari bahan makanan yang kiranya bisa dimasak dengan cepat. Syukur dia selalu menyimpan banyak bahan makanan, juga makanan yang bisa dibekukan.
Pilihannya jatuh pada sosis, dendeng, dan juga ada abon ayam yang tinggal seperempat toples.
"Onty goreng ini aja lagi ya,, biar nanti gak kekurangan makanan." Ucapnya cepat, dan langsung mengeksekusi apa yang dia ambil tadi.
Tidak sampai 30 menit, semua makanan sudah siap. Namira bertugas memasukkan semua ke dalam tas khusus, sementara Nandita membersihkan diri.
Gunadh yang melihat kesibukan mereka hanya tersenyum, bahagia melihat keakraban itu. Berharap suatu saat, semua itu ia rasakan di rumahnya.
🌟🌟🌟
"Ya,, kalau kita gak ngajakin dia nonton, pasti dia gak ajak kita pergi sekarang." Gadis yang berambut panjang ikut berkomentar.
"Ya sorry,, yang penting kan sekarang kalian udah ikut,,. Tapi om dan Tante gimana? Gak marah kan kalian ikut aku?"
"Ya gak lah,,." Kompak dua gadis itu menjawab. Sementara gadis satunya lagi yang menggunakan kaca mata hanya diam saja.
Nandita yang mendengar obrolan mereka tersenyum senang. Ternyata Namira memiliki sahabat yang begitu dekat.
Semoga saja mereka adalah orang-orang baik dan tulus pada calon anak sambungnya itu.
Mereka tiba di sebuah wisata air yang cukup terkenal. Terdapat beberapa kolam renang, dengan berbagai wahana yang bisa dinikmati. Istimewanya tempat itu adalah, karena air yang ada bersumber dari mata air di sana. Sehingga airnya terasa lebih sejuk dan yang pasti tanpa zat tertentu yang dicampur di dalamnya.
Pihak pengelola juga membuatkan taman yang asri dengan pohon-pohon besar sebagai tempat berteduh di sekitar kolam. Taman itu lah yang biasanya dijadikan tempat piknik oleh keluarga yang berkunjung ke sana.
"Di sini aja mas,,." Ucap Nandita, setelah dirasa menemukan tempat yang tepat untuk menggelar tikar.
"Boleh, daripada nanti ga dapat tempat." Sahut Gunadh menyetujui ucapan sang kekasih. Mengingat pengunjung sudah mulai ramai. Percayalah ia saat ini tak tampak seperti pemilik hotel berbintang.
Liburan receh, hanya dengan mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah untuk membeli tiket masuk, sungguh bukan gaya Gunadh selama ini.
Tapi ia senang melakukannya. Meletakkan segala kesibukan, tanggung jawab, serta ketegangan dalam pekerjaan. Dan menjadi manusia biasa pada umumnya. Dengan celana pendek, atasan kaos oblong, dan sandal jepit. Sungguh warna hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Onty ambilkan baju renang aku,,." Mira memanggil Nandita yang tengah sibuk menata barang bawaan mereka.
Nandita menoleh, dan menghela nafas.
Namira tidak sedang melakukan kegiatan apapun. Hanya sibuk bersenda gurau dengan teman-temannya, yang sudah siap menuju ruang ganti.
"Ini,,." Ucap Nandita pada gadis belia itu. Sembari mengulurkan baju renang yang diminta Namira.
__ADS_1
Gunadh membantu Nandita, memisahkan tempat tas pakaian dengan tas makanan yang dibawa dari kostan.
"Baru kali ini lho yank, aku yang namanya piknik." Ucap Gunadh.
Tatapannya ke depan mengawasi sang putri dan teman-temannya berenang di kolam khusus anak-anak.
"Ohya,,? Lalu dulu ngapain aja kegiatan mas sama mommynya Namira?"
Gunadh melirik Nandita yang tengah santai merebahkan diri di atas tikar, berbantalkan tas pakaian miliknya.
"Kamu nanyain masa lalu aku, yakin gak bakal cemburu?" Gunadh terkekeh, membayangkan wajah cemburu Nandita.
"Iihh,, kapan aku pernah cemburu mas? Buat aku masa lalu ya masa lalu. Asal jangan mas meminta aku agar sama kaya masa lalu kamu aja."
Nandita merasa kesal dikatakan cemburu, meski kalau boleh jujur, ia merasa cemas bila Gunadh menceritakan kebahagiaannya dengan Safira dulu.
"Yakin mau dengar kisah masa lalu aku?"
Nandita hanya diam.
"Dulu mommynya Namira gak pernah punya keinginan untuk liburan singkat begini. Hari-harinya ia habiskan untuk shoping, ke salon dan arisan sosialita. Biasanya kalau liburan, dia mau ke luar negeri. Makanya aku jarang ada waktu untuk santai, karena biaya hidup kami itu tinggi."
"Ooww,,." Nandita tidak tau harus merespon seperti apa, hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Onty,,,, ayoo siniii,,,." Kembali suara Namira terdengar.
"Onty di sini aja,,. Lagi malas berenang." Jawabnya. Toh Namira tidak sendirian, sudah ada teman-teman yang menemaninya.
"Onty gak asyik,,."
Nandita tersenyum menanggapi rajukan Mira.
"Mas,, kamu gak pernah main ke kampung halaman orang tua kamu ya?"
Tanya Nandita setelah lama mereka hanya saling diam.
"Jarang sih,, soalnya kan sama-sama sibuk. Kami punya dunia masing-masing."
Kembali, Nandita hanya menganggukkan kepalanya.
"Gimana kegiatan silatnya?" Gunadh kini bertanya.
"Lumayan sih mas, sekarang ada beberapa anak SD sama SMP yang baru bergabung. Rencananya aku mau cari pelatih lain, kalau aku sendiri kayanya gak bakalan sanggup."
"Boleh juga, nanti biar kamu sebagai pengawas aja. Udah ada calonnya?"
"Udah, tapi belum sempat aku ajak ngobrol. Semoga aja dia mau."
"Siapa?"
"Satya,,"
Alis Gunadh berkerut. Sepertinya nama itu tidak asing.
"Kaya aku kenal,,." Gumamnya tapi masih didengar oleh Nandita.
"Ya kenallah,, calon suaminya Candra."
"Oohh yang dulu suka sama kamu,,."
Wajah Gunadh berubah datar, sementara mata Nandita melotot kaget.
Darimana laki-laki itu tahu soal itu?
__ADS_1