
Ketika Nandita, Gunadh, Candra, dan Satya menikmati kebersamaan mereka dengan bahagia di negeri yang terkenal dengan menara Eiffel dan sungai Seine nya, di negara asal mereka kedua orang tua Nandita tengah mengalami hal tidak mengenakkan.
"Yah, Bun, apa gak sebaiknya kita kasih tau kak Dita soal ini? Aku gak bisa liat semua jadi kacau seperti ini. Bahkan sampai berpengaruh ke usaha lho." Malikha memulai percakapan ketika mereka selesai makan malam.
"Jangan dek, biarkan kakak mu menikmati liburannya. Ini mimpi dia dari dulu. Ayah masih bisa atasi masalah ini. Sekarang kita fokus sama kesembuhan kakek saja dulu iya." Ucap ayah Darma lembut menatap putri bungsunya.
"Tapi ini soal Dapur Kita gimana yah? Gosip itu sudah menyebar dari mulut ke mulut. Syukur gak semua orang tahu kalau pemilik usaha ini kak Dita. Kalau mereka tahu, ayah tahu sendiri gimana orang-orang sini." Sungut Malikha dengan wajah kesal.
"Tetap jalan seperti biasa aja dek. Cukup hubungi kakak mu, bahas soal reseller aja. Jangan omongin yang lain." Ucap ayah Darma setelah berpikir beberapa saat.
"Ya udah, Ikha ke kamar dulu kalau gitu." Malika bangkit dari kursinya kemudian melenggang menuju kamar.
Setelah kepergian Malikha, bunda Santi yang sejak tadi diam akhirnya mengungkapkan keresahannya.
"Kenapa bisa jadi gini ya Yah? Perasaan anak kita gak pernah merugikan orang lain, tapi kok ada orang yang tega ingin menghancurkan dia?" Keluh bunda Santi.
"Sabar Bun ... Ini proses pendewasaan untuk Dita. Resiko dia memiliki hubungan dengan orang yang cukup berpengaruh, dan dengan status duda pula."
"Tapi ayah percaya kan, Dita bukan seperti yang mereka tuduhkan?"
"Ya lah Bun! Memangnya bunda percaya apa yang mereka katakan? Jangan pernah bunda terpengaruh ucapan mereka. Kita yang mengenal anak kita, jauh lebih dalam dari orang lain. Dita gak akan mungkin mencoreng kita dengan hal-hal memalukan." Ayah Darma yang dikenal orang berkepribadian tenang, kini menunjukkan emosi.
"Iya bunda tau Yah ... Bunda hanya ingin memastikan, kalau ayah percaya dengan Dita." Jawab bunda Santi.
"Jangan sampai ia merasa, kita tidak mempercayainya. Jangan sampai kita menanyakan sesuatu seakan kita meragukannya. Anak itu sangat sensitif hatinya. Meski ia pintar menutupi dengan ketenangan dan keceriaan." Ayah Darma menatap lurus ke depan, pikirannya melayang jauh membayangkan sang putri yang masih menikmati liburan di negara orang, tanpa tahu masalah yang menunggu di depan mata.
Bunda Santi menganggukkan kepala beberapa kali, tanda setuju dengan apa yang dikatakan sang suami.
πππ
Malikha mengirim pesan pada sang kakak.
M : "Kak ... Aku buka reseller untuk memperluas usaha kita. Soalnya banyak yang minta harga khusus karena mau dijual lagi."
Pesan Malikha to the poin.
__ADS_1
Mengingat hari masih pagi, Malikha yakin Nandita tidak akan membaca pesannya. Karena perbedaan waktu yang cukup jauh, itu berarti di sana masih malam.
Setelah mengirim pesan, gadis manis itu bersiap untuk ke rumah sakit, menemani sang kakek yang di rawat sejak kemarin.
"Bun Ikha ke rumah sakit ya. Ayah mana?"
"Ayah lagi ke peternakan, sebentar lagi pulang. Tadi ada yang harus di cek sama ayah."
Malikha melihat jam di ponselnya. Masih bisa menunggu ayah, pikirnya.
"Dita tunggu di depan aja deh." Ucap gadis itu kemudian berlalu dari hadapan sang bunda.
Bunda Santi melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruang tamu.
Tidak berselang lama, ayah Darma datang. Karena memang sudah bersiap sejak tadi, ia pulang hanya menjemput sang putri.
"Bun ... Ayah berangkat ya ..." Teriaknya dari teras rumah.
"Ya Yah ... Hati-hati" Sahut sang istri dari dalam.
Akhirnya mereka pun berangkat ke rumah sakit dengan Malikha dibonceng sang ayah.
Namun mereka hanya berani menatap tanpa mengucapkan sepatah katapun. Masih trauma dengan kemarahan ayah Darma kemarin, saat dua perempuan itu datang ke rumah sang kakak dan mengatakan hal-hal kotor tentang keponakannya.
Hanya Malikha saja yang tersenyum tipis tanda sopan pada kedua Tante tirinya itu.
Begitu memasuki kamar perawatan, ayah Darma menatap sedih laki-laki tua yang selama ini mulai sakit-sakitan itu.
"Pak, gimana keadaannya?" Tanya ayah Darma.
"Dimana Dita? Kapan dia pulang?" Bukan menjawab, kakek Cakra malah balik bertanya pada sang anak.
"Palingan lagi dua atau tiga hari lagi dia tiba pak. Perjalanan dari Paris ke sini lebih dari satu hari." Jelas sang anak.
"Bapak gak habis pikir, kenapa Dita melakukan hal itu. Kenapa dia tega sekali?" Ucap orang tua itu penuh sesal.
__ADS_1
Sudut hatinya merasa kecewa, sebab Nandita adalah salah satu cucu kebanggaannya.
"Pak ... Jangan pikirkan hal yang bukan-bukan. Jangan mudah percaya sebelum mendengar dari kedua belah pihak. Sekarang fokus dengan kesehatan bapak dulu ya ..." Bujuk ayah Darma dengan sabar.
Meski ia percaya dengan sang putri, namun ia tidak bisa memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama. Begitu pula dengan ayahnya.
Ayah Darma berharap, Nandita tidak menodai kepercayaannya dan membuat dirinya kecewa.
Disisi lain, Tante Sari dan Tante Dewi merasa puas melihat kegaduhan yang terjadi. Dia merasa menang, sebab mampu menunjukkan cela sang keponakan pada ayah mereka. Tanpa tahu kebenarannya, dua wanita itu terus memanasi sang ayah agar membenci dan memberi hukuman pada Nandita.
Siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini? Bila saja mereka tahu, sumber masalah justru adalah orang yang mereka sayangi, akan diapakan orang itu nanti?
Sekalipun Nandita bersalah, sebagai orang terdekat harusnya mereka menjadi penasihat bukan penghujat.
πππ
Nandita baru saja membuka mata. Perasaannya dari kemarin tidak enak. Segera ia mencari benda pipih yang ia letakkan di meja samping tempat tidurnya.
Hanya ada satu pesan dari sang adik. Segera ia membalas pesan tersebut.
"Iya dek ... Kamu aja yang atur gimana baiknya. Belajar dari sekarang, siapa tau nanti kamu punya bisnis, biar bisa kelola πππ" Tulis Nandita bermuatan candaan sekaligus doa dari kakak terhadap adiknya.
Setelah membalas pesan dari sang adik, Nandita memainkan ponselnya. Iseng ia membuka story' wa, hal yang jarang ia lakukan selama ini.
Nam-Namira : *maaf Tuhanπππ*, *Aku sudah melakukan yang benarπͺπͺπͺ*, dan terakhir gadis belia itu memposting foto bersama sang mommy dengan caption *selamanya hanya mommyπππ*
Nandita tersenyum miris membaca caption terakhir story' itu. Seolah menegaskan keputusan gadis belia itu akan pilihannya.
Ada lagi dari Candra, yang memposting banyak foto liburan mereka. Ada foto bersamanya namun lebih banyak foto dia bersama Satya
Tasya sepupu : *selamat menikmati surga sesaat *****,* tulisan itu dikirim kemarin. Ada lagi sebuah video dari tiktok yang ia post tentang seorang pelakor dengan caption *baru tahu, alim itu topeng trend masa kini.*
Nandita tidak ambil pusing dengan story' itu. Dan postingan dari sang adik lah yang paling membuat dia terkejut.
Malikha cengeng : *cepat sembuh kakek* dan beberapa foto dirinya bersama sang kakek yang terbaring di rumah sakit. Ada tiga foto yang adiknya unggah. Dan terakhir sebuah quote Malikha tulis beberapa saat lalu. *untuk menjadi kuat, pohon tidak hanya perlu pupuk dan lahan subur. Tapi juga hujan, yang tak jarang membuat pohon itu tumbang.*
__ADS_1
Membaca itu Nandita tersenyum tipis. Kemudian menulis komentar untuk postingan itu
"Siapa yang bertahan dengan hujan dan angin kencang, dia lah yang akan tegak menjulang gagah perkasa."