
Gunadh bersikap acuh pada Mira. Bahkan ia berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya.
Tidak pernah sarapan bersama dengan sang putri, membuat Namira semakin merasa sedih dan tersisihkan.
"Kamu tahu apa yang paling membuat orang tua kecewa? Ketika anak yang ia banggakan, ia percaya, ia jaga melebihi nyawanya, tega membodohi dirinya. Kamu juga sudah mencemarkan nama baik seseorang, dan itu membuat Daddy sangat kecewa. Renungkan kesalahanmu. Karena Daddy yakin, permintaan maafmu saat ini hanya di mulut saja." Ucap Gunadh ketika Namira memberanikan diri datang ke kamarnya, esok pagi setelah kejadian di mall tersebut.
"Mom ... Kapan ke sini?" Tanya Mira pada sang mommy lewat sambungan telepon.
Semenjak keributan itu terjadi, Safira sangat jarang menemui Mira. bahkan tidak pernah lagi mengajak sang putri jalan berdua.
"Mommy sibuk Mira ... Kalau ada waktu mommy pasti ke sana."
"Mira kesepian mom ... Daddy marah sama Mira."
"Marah kenapa?"
"Daddy tahu semua yang kita lakuin ke onty Dita. Terus Daddy gak ajak Mira ngomong sampe sekarang." Mira mengadu
"Kapan Daddy kamu tahu?"
"Semingguan." Sahut Mira pelan.
Safira diam sejenak.
"Sayang ... Untuk saat ini mommy gak bisa temuin kamu dulu. Mommy takut Daddy kamu semakin marah kalau liat mommy."
"Terus Mira gimana mom?"
"Ya kamu minta maaf lah sama Daddy kamu. Masa gitu mesti mommy ajarin sih? Kamu udah besar Mira, belajar menghadapi masalah sendiri." Safira merasa kesal sebab Mira mengganggu aktifitasnya.
"Udah ya mommy masih sibuk." Tanpa mendengar sahutan sang putri, Safira memutus sambungan telepon.
Namira semakin merasa terasing. Merasa sendiri di dunia yang besar ini.
Ia hanya bisa menangis, meluapkan kesedihan hatinya. Tidak ada yang perduli dengan dirinya. Semua hanya memikirkan dirinya sendiri. Pikir Mira.
"Non Mira kenapa bengong di sini?" Bi Asih datang mendekati Mira yang termenung dipinggir kolam.
"Ini bibik bikin pisang goreng, mau bibik buatkan susu?" Tawar wanita paruh baya itu lagi.
Namira hanya menggelengkan kepalanya.
"Mau teh aja bik ..." Pintanya.
Bi Asih kembali ke dapur, membuatkan teh permintaan Namira.
"Non Mira kenapa? Kok akhir-akhir ini bibik liat seringan bengong?"
Tanya bi Asih sambil meletakkan gelas berisi teh hangat di samping Mira.
__ADS_1
Namira menoleh ke arah wanita yang mengasuhnya sejak kecil tersebut.
"Bik ... Kok semua orang jahat ya sama Mira? Gak ada yang perduli sama Mira."
"Kok ngomong gitu sih neng? Gak baik bicara begitu ... Nanti kalau daddynya dengar, sedih loh dia."
"Kan memang bener bik ... Daddy udah gak sayang lagi sama Mira. Buktinya Daddy masih diemin Mira sampe saat ini." Mira mulai menangis.
"Tuan Gunadh sangat sayang sama non Mira ... Mungkin non Mira berbuat kesalahan hingga non Mira dihukum seperti saat ini. Semua itu tuan Gunadh lakukan agar non tidak lagi melakukan kesalahan tersebut. Tuan Gunadh ingin non Mira menjadi anak yang baik." Bu Asih menebak alasan kenapa sang tuan begitu acuh pada putrinya.
"Kalau sayang masa dihukum bik?"
"Non ... Sering kali anak tidak mengerti dengan bahasa kasih sayang orang tuanya. Menjadi orang tua itu berat non, tidak semua orang bisa menjadi orang tua yang baik. Sayang gak harus menuruti setiap keinginan anak, gak harus memaklumi setiap perbuatan anak. Sayang itu mengarahkan agar anak menjadi lebih baik."
"Bibik gak usah belain Daddy." Ketus Mira. menghapus air mata di pipinya dengan kasar.
Bik Asih tersenyum, membenarkan posisi duduknya di samping Mira.
"Non mau dengar cerita gak? Tentang masa kecil non."
"Aku udah tahu."
"Berarti non tahu kan kalau Daddy nya non selalu jagain non saat masih bayi. Kalau non nangis, tuan yang gendong non, bikinin susu, gantiin popok, bahkan rela begadang saat non sakit. Meski paginya tuan harus kerja."
Namira menoleh ke arah Bi Asih. Merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu.
"Bibik bohong kan? Bukannya mommy ya yang lakuin itu?"
"Tapi kok aku merasa lebih dekat sama mommy dibanding sama Daddy?"
"Ikatan anak sama ibu kandung memang berbeda non. Mungkin itu yang membuat non Mira merasa lebih dekat dengan mommy, meski Daddy non lebih memberi kasih sayang untuk non." Jelas bi Asih.
"Jarang lho non, ada laki-laki yang sanggup menjadi orang tua tunggal dalam waktu lama seperti yang tuan Gunadh lakukan. Non harusnya bersyukur, memiliki ayah yang menyayangi non dengan cara yang benar." Mira mencibir ucapan asisten rumah tangga tersebut.
Asik bercerita, membuat Namira lupa akan kesedihannya. Apalagi pisang goreng buatan bi Asih yang nikmat, membuat obrolan mereka semakin seru.
Tidak terasa hari beranjak sore. Bi Asih kembali harus melanjutkan aktifitasnya.
"Non, bibik ke dalam dulu ya, kerjaan bibi belum beres." Ucap bi asih meringis, menyadari sudah banyak waktu ia lewatkan bersama anak majikannya. Sementara pekerjaannya masih menanti untuk diselesaikan.
"Ya bik. Ini bawa masuk lagi ya, Mira udah makannya." Mira menyodorkan piring dan gelas kosong pada bi Asih.
"Orang ini udah habis ..." Sahut bi Asih dengan wajah lucunya.
Mira tertawa
"Mangkanya itu Mira bilang udah selesai makannya."
Bi Asih menggelengkan kepala. Tanpa berkata lagi, ia berlalu dengan membawa piring dan gelas kosong ke dalam rumah.
__ADS_1
🌟🌟🌟
Safira benar-benar manusia tak berhati. Setelah berhasil memisahkan Gunadh dan Nandita, wanita itu kini seolah lepas tangan dengan apa yang dihadapi putrinya.
Jangankan untuk datang menjadi pelindung bagi Mira, sekadar rasa khawatir saja ia tidak punya untuk anaknya.
Wanita itu sibuk dengan dirinya sendiri. Berkelana mencari kepuasan dan harta dunia.
Setelah Bramantyo tidak lagi bisa memenuhi keinginannya, ia berpaling pada pengusaha lain. Melayani segala kegilaan dan penyimpangan yang dimiliki pasangannya. Tidak jarang ia melakukannya dengan lebih dari satu laki-laki diwaktu bersamaan.
Tidak perduli dengan penyakit yang bisa saja menjangkitinya.
"Saya tidak akan melepas kamu semudah ini Safira." Ucap Bram ketika wanita itu menolak melayaninya, dan mengatakan sudah tidak membutuhkan Bram lagi.
"Om mau apa? Menyebarkan tentang hubungan kita selama ini? Silahkan saja. Jangan lupa posisi om saat ini, menjadi incaran banyak orang. Tahu kan apa yang akan terjadi bila skandal kita terbongkar?" Safira tersenyum mengejek.
"Lagi pula om sudah berumur. Tidak lagi bisa memuaskan aku dengan baik seperti dulu. Wajar kan kalau aku ingin mendapatkan yang lebih baik?"
Merasa terhina dengan ucapan Safira, Bram marah dan langsung menyeret wanita itu ke dalam kamar apartemen.
"Om, lepas!" Meski Safira mengatakan laki-laki itu tidak kuat lagi, bukan berarti dia tak memiliki tenaga.
Itu hanya alibi Safira, sebab Bram akhir-akhir ini begitu pelit padanya.
"Kamu bilang saya tidak bisa memuaskanmu lagi kan? Mari kita buktikan, siapa diantara kita yang akan mer in tih meminta berhenti." Ucap Bram dengan tatapan buas menakutkan.
Dengan kasar ia merobek dress yang dikenakan Safira.
"Om! Aaauu" Safira merasakan sakit ketika tanpa permisi Bram menggigit daging coklat berbentuk bulat di area dadanya. Sementara saudara kembar benda tersebut dir emas dengan kasar oleh tangan kekar Bram.
"Om stop ... Sakiiit" Teriak Safira.
Namun Bramantyo tidak perduli.
Puas dengan si kembar, Bram mengambil robekan dress tersebut dan ia gunakan untuk mengikat kedua tangan Safira. Meski awalnya berontak, namun anehnya semakin lama Safira semakin menikmati kebrutalan Bram.
Bram membuka pakaiannya dengan tak kalah kasar. Tanpa banyak kata memasuki tubuh Safira tanpa aba-aba.
"Aaaa ooomm" Safira hanya mampu berteriak, sementara tangannya masih terikat di atas kepala.
"Laki-laki seperti apa yang kamu inginkan untuk memuaskan na fsu bintangmu hah? Kamu ingin ini?" Tanya Bram sembari membalik tubuh Safira. Mencambuknya dengan ikat pinggang dan kembali memasukinya setelah puas mendengar jerit kesakitan Safira.
"Oom sudaaahh ... Ampuun ... " Bisik Safira yang tak lagi bisa berkata-kata.
Bram menghentak hentak tubuhnya dengan kencang, di detik-detik pelepasannya.
"Om jahat ..." Isak Safira menangis setelah penyatuan paksa itu terjadi.
"Heh wanita sepertimu tidak pantas mengatakan itu pada saya. Ingat saya akan tetap datang kapanpun saya mau. Terserah kamu mau melakukan apapun. Tapi saat saya mau kamu, saya tidak perduli kamu harus siap melayani saya. *** *** akan tetap menjadi *** ***." Ucapnya sambil berlalu membersihkan diri di kamar mandi.
__ADS_1
Sejak saat itu, Safira tidak lagi sembunyi-sembunyi berhubungan dengan laki-laki lain. Baginya siapapun yang memberinya uang dan kepuasan, ia akan tetap melayaninya.