
Hari yang melelahkan dilalui Nandita hari ini. Namun kabar baik yang di terima membuatnya bernafas lega.
Keadaan pak Wahyu yang mulai membaik, meski laki-laki itu belum bisa bicara, setidaknya sudah bisa merespon walau hanya dengan sedikit anggukan kepala dan tatapan mata.
Kabar dari Gunadh yang mengatakan Namira sudah sadar, juga membuat hatinya bahagia. Itu sebabnya dia memutuskan untuk kembali, meski Satya dan Candra mengajaknya menginap di rumah orang tuanya.
Memang jarak antara rumah Nandita dan rumah sakit tempat pak Wahyu dirawat lebih dekat dibanding kostannya.
"Aku udah telepon bunda, bilang gak mampir ke rumah sekarang. Kapan-kapan aja kalau kalian mau main ya." Ucapnya ketika Candra mengajaknya pulang.
"Tenang aja ... Nanti aku traktir deh" Rayunya lag
"Yang gak sabar ketemu yayang." Ledek Candra saat itu.
"Dia takut yank, nanti muncul judul TUNANGANKU DI REBUT MANTAN ISTRINYA." Kembali Satya memanasi.
"Gak jelas kalian." Hanya itu respon yang ia berikan pada dua temannya itu.
Akhirnya mereka kembali sesuai keinginan Nandita.
🌟🌟🌟
Baru saja Nandita merebahkan diri di kasur mungilnya, setelah selesai membersihkan diri. Ponsel yang sejak tadi ia letakkan di atas meja bergetar. Pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Bahagianya ... putri kami sudah sadar."
"Beginilah seharusnya sebuah keluarga. Berpelukan, penuh canda tawa tanpa ada orang ketiga."
Nomor itu mengirimkan beberapa foto yang memperlihatkan keakraban Gunadh, Namira, dan Safira. Dimana laki-laki yang berstatus sebagai kekasihnya memeluk sang putri dari sisi kanan, dan Safira di sisi kiri dengan sebelah tangan terangkat mengambil gambar.
Deg
Deg
Deg
Jantung Nandita berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa sakit yang tidak ia pahami bersumber dari mana. Namun sakitnya mampu membuat dadanya terasa sesak, hingga untuk bernafas pun rasanya begitu sulit. Tangannya gemetar, dengan mata yang tiba-tiba memanas.
Di foto itu seolah menjelaskan kebahagiaan sebuah keluarga.
Meski Gunadh terlihat seperti enggan, namun senyum Safira, terlebih Namira menjelaskan bahwa kebersamaan itu mampu menghadirkan kebahagiaan, yang tak mampu dibeli oleh apapun.
Benarkah apa yang dikatakan Satya? Mungkinkah mereka masih memendam rasa yang sama? Mampukah dirinya berdiri di samping Gunadh, dengan masa lalu yang masih membayangi laki-laki itu?
Dibukanya kembali pesan yang tadi ia baca dengan terburu itu.
'Bahagia tanpa orang ketiga? Apakah aku orang ketiga itu? Apa aku merenggut kebahagiaan mereka?' Hati Nandita menjadi resah. Kelegaan yang ia rasa tadi, menguap entah kemana. Berganti sesak yang membuatnya enggan bergerak.
Tubuhnya lemas, genggaman tangannya pada ponsel pun melemah. Mata Nandita menatap kosong bayangannya pada tembok kamar berukuran 3x4m itu.
__ADS_1
Sekali lagi, ini pertama kalinya ia menghadapi hal seperti ini. Selama ini ia tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kalau dulu ketika di Singapura ia mampu melawan, mungkin karena rasanya terhadap Gunadh tidak sebesar sekarang. Namun kini, gadis itu telah menyerahkan seluruh hatinya pada duda anak satu itu. Ada rasa dimana ia begitu takut kehilangan. Entah mengapa ia menjadi begitu lemah.
Drt
Drt
Ponselnya kembali berdering. Nama Gunadh terlihat di layar datar itu. Dengan cepat ia menguasai rasa terkejutnya.
Menarik nafas sebelum mengangkat panggilan itu. Ada rasa kesal yang tiba-tiba muncul mengingat kedekatan kekasihnya di foto tadi.
"Halo." Ucapnya singkat
"Sayang, udah sampai? Lagi apa?" Gunadh bertanya.
"Udah, baru aja mau tidur tapi keburu mas telepon." Sahutnya datar.
"Ya udah, kamu istirahat aja ya. Besok jangan lupa bawakan mas sarapan." Pinta laki-laki itu.
"Ya mas." Jawab Nandita
Setelah sambungan terputus, barulah Nandita merasa menyesal. Kenapa ia jadi kesal tidak jelas begini?
Merasa bingung, akhirnya ia menghubungi Candra. Ia ingin meminta solusi dengan masalah perasaannya ini.
Untuk pertama kalinya, ia melakukan hal itu.
"Gak kok ada apa?"
"Gimana ya Ndra ... Aku bingung mau bilangnya."
"Mau bilang apa? Memangnya ada apa?"
"Mmm tapi kamu jangan bilang sama yang lain ya. Pokoknya hanya kamu yang aku kasi tahu."
"Ya ... Udah ah cepetan ngomong." Gemas Candra karena Nandita tak kunjung mengatakan tujuannya.
"Apa mungkin yang diomongin si Satya itu benar ya Ndra? Mungkin gak sih ada yang namanya CLBK?"
Candra tersenyum menanggapi curhatan Nandita. Untuk pertama kali gadis di sambungan telepon itu mau berbagi dengan orang lain.
"Menurut kamu mungkin gak mas Gunadh mu itu akan melakukan itu?"
"Ya aku gak tahu, itu sebabnya aku tanya ke kamu."
"Lalu apa yang membuat kamu berpikir begitu? Apa kamu melihat gelagat aneh dari dia?"
"Gak sih, hanya saja aku kepikiran sama apa yang Satya ucapkan."
"Jangan meracuni pikiranmu dengan hal-hal yang akan membuat kamu tersiksa. Kecuali kamu melihat sesuatu yang mencurigakan, kamu patut mencari tahu." Nasihat Candra.
__ADS_1
"Ya juga ya. Tapi aku kesal sama dia Ndra. Tapi aku juga menyesal bersikap ketus sama dia. Aahh gak taulah, pikiran aku kacau sekarang."
"Kamu tuh aneh deh Ta. Tadi kan kamu baik-baik aja, bahkan saat Satya godain, kamu juga gak masalah. Sekarang kok tiba-tiba kesel, tiba-tiba nyesel." Candra tidak mengerti dengan jalan pikiran temannya itu.
Terpaksa Nandita menceritakan soal foto tersebut pada Candra. Demi sebuah solusi ke depan. Pikirnya.
"Barusan ada nomor gak dikenal yang kirim pesan dan foto ke aku. Foto mas Gunadh yang lagi peluk Mira, dan mantan istrinya juga di sebelah Mira. Orang itu bilang harusnya mereka bahagia bila gak ada orang ketiga di dalamnya."
"Pasti itu mantan istrinya Gunadh. Waah dia mulai nyerang kamu Ta. Benar kata Satya berarti." Tebak Candra yakin.
"Nah itu dia Ndra ... Aku harus gimana sekarang? Kesel liat foto itu sekaligus sakit hati sama kata-katanya."
"Kesal itu yang bikin kamu ketus sama Gunadh? Itu artinya kamu cemburu. Dan kamu gak terima dengan apa yang diucapkan wanita itu, itu sebabnya kamu merasa sakit hati."
Hening.
Nandita diam menyimak kalimat demi kalimat yang diucapkan Candra tanpa menyahut sedikitpun.
"Sekarang gini. Kalau kamu mau bertahan di samping Gunadh, kamu harus menguatkan hati menghadapi wanita itu. Tunjukkan kalau kamu tidak terpengaruh dengan apa yang dilakukannya. Bersikap seperti biasa. Kalau perlu, buat wanita itu yang terbakar cemburu. Masa seorang Nandita kalah sama ulat bulu sih? Yang penting kan kamu tahu, kamu bukan orang ke tiga. Dan kamu yakin Gunadh gak akan tergoda lagi sama dia." Candra memberi semangat.
"Ya juga ya. Kenapa aku malah marah sama mas Gunadh ya?" Ucapnya pelan.
"Karena kamu belum mengetahui perasaan kamu. Sakit hati ke wanita itu, kamu lampiaskan dengan merajuk ke Gunadh."
Benar kata Candra. Itulah yang sesungguhnya terjadi.
🌟🌟🌟
Sementara itu, Gunadh yang merasa aneh dengan sikap Nandita tidak dapat berbuat apa-apa. Mencoba berpikir positif, mungkin gadisnya merasa lelah.
Ya pun merebahkan tubuhnya di atas dipan yang sengaja ia minta kepada petugas rumah sakit.
Tubuhnya merasa pegal dan ngilu. Tapi ia bisa apa?
Syukur beberapa hari ini Nandita selalu memberinya semangat dan perhatian.
Namun ada hal yang membuat dirinya juga tidak nyaman.
Safira seolah sengaja mencari perhatian padanya. Meskipun ia selalu bisa menghindar dan bahkan berkata ketus.
"Jaga batasan, ingat kita hanya terikat oleh Namira. Selain itu, tidak ada lagi. Kamu adalah orang asing bagi saya." Ucapnya tadi pagi, ketika dengan lancang wanita itu membangunkannya. Dengan tubuh yang hampir menindih tubuh Gunadh, Safira berbisik dengan lembut di telinga laki-laki itu. Gunadh yang terkejut langsung mendorong tubuh semampai itu hingga hampir terjatuh. Namun Gunadh tetap tidak perduli.
Ia pikir, Safira akan kapok. Namun, saat Mira sadar kembali wanita itu mencuri kesempatan dengan mengajak Mira berfoto. Gadis kecil itu tentu saja senang.
"Dad ... Sini ... Daddy di samping Mira juga kita foto bertiga." Mana mungkin Gunadh tega membuat putrinya yang baru sadar itu merasa sedih? Akhirnya ia pun menurutinya meski dengan terpaksa.
Gunadh sama sekali tidak menyangka, kalau semua itu Safira lakukan karena ada niat terselubungnya.
Ia tentu tidak tahu, sikap ketus Nandita barusan adalah akibat dari foto dan kalimat sindiran dari Safira yang dengan sengaja mengambil gambar hanya untuk memanasi gadis itu.
__ADS_1