
Tautan tangan pasangan kekasih yang baru bertemu itu, begitu erat. Gunadh seakan tidak pernah bosan menggenggam jemari, yang sudah lebih dari setahun tidak ia sentuh itu.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Masing-masing masih merasa canggung, setelah sekian lama tidak saling bertukar suara.
"Mas ...."
"Sayang ...."
Mereka kompak memanggil satu dengan yang lain diwaktu bersamaan, membuat rasa canggung semakin menjalar di tubuh keduanya.
"Kamu duluan. Mau bicara apa?" Ucap Gunadh, menatap Nandita dengan lembut.
Aslan memang tidak tanggung-tanggung memberi kejutan untuk mereka.
Setelah pesta pertunangan, laki-laki itu bahkan terpikir memberi waktu pada Nandita dan Gunadh untuk makan malam romantis berdua.
"Mas, dari mana mas tau kalau aku akan tunangan di tempat ini?" Tanya gadis itu dengan binar penuh rasa ingin tahu.
"Boleh kita nggak usah bahas itu dulu? Mereka kasih kita waktu cuman dua jam untu melepas rindu, mas mau memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin." Sahut laki-laki itu.
Nandita menghembuskan nafas kasar. Sedikit memajukan bibirnya, sebagai ungkapan kecewa karena gagal mencari tahu apa yang sejak tadi begitu mengusik hatinya.
Ia masih penasaran bagaimana Gunadh bisa tiba-tiba ada di sini, sementara ia sejak beberapa hari lalu gagal menghubungi laki-laki itu.
Namun keluarganya dan juga Gunadh begitu kompak, enggan menjawab apa yang ia tanyakan.
Menyadari gadis di hadapannya tengah menahan kesal, Gunadh kembali meraih tangan gadisnya, lalu mengecup punggung tangan itu.
"Mas nggak tahu pastinya, tapi mas yakin, mereka menyiapkan semua ini untuk kita. Sengaja mempermainkan kita sebelum mereka menyatukan dengan acara besar ini. Apa yang menjadi pertanyaan kamu, juga adalah hal yang sama yang mas ingin ketahui. Tapi kalau kita membahasnya saat ini, waktu kita akan habis tanpa bisa kita nikmati sayang ...." Jelas Gunadh, membuat Nandita akhirnya mengangguk paham.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan malam romantis yang dilakukan di rooftop hotel tempat acara pertunangan berlangsung, Gunadh menarik tangan Nandita, membawanya ke dekat pagar pembatas.
Dari tempat mereka berdiri, dapat dengan leluasa melihat pemandangan sungai Bosphorus di malam hari. Lalu-lalang kendaraan di atas jembatan, seperti kerlip bintang yang menakjubkan. Beberapa kapal yang berlayar, terlihat begitu kecil, Nandita terpaku melihat keindahan yang tersaji di depan matanya.
Ini kali pertama gadis itu menikmati keindahan malam di kota itu.
"Nggak nyangka kisah kita akan seberliku ini ya, mas kira semua akan berjalan seperti yang kita inginkan." Ucap Gunadh, memeluk gadisnya dari belakang.
Ia puaskan indera penciumannya, menikmati aroma tubuh gadis yang kini ada dalam dekapannya itu.
"Mas ...." Nandita menggelinjing, merasakan perasaan aneh saat Gunadh mengendus tulang selangkanya. Hembusan nafas laki-laki itu semakin terasa, sebab Nandita menggunakan gaun Sabrina yang mengekspose leher jenjang hingga bahunya.
"Harum ini masih sama seperti dulu, begitu lembut dan menenangkan, mas merindukannya. Mas juga merindukan bahu ini, sudah sangat lama, tubuh ini membutuhkan sandaran. Mas rindu tangan mungil ini, memberi kehangatan dengan sentuhan dan belaiannya," Gunadh sibuk memberi kecupan serta rem asan pada jemari tangan Nandita, mengacuhkan beberapa orang yang berlalu lalang disekitarnya.
Nandita memejamkan mata, mencoba melawan rasa geli yang menggelitiknya.
"Maaf, mas terlalu percaya diri, terlalu yakin kamu akan menunggu. Mas ingin menyelesaikan semua masa lalu sebelum datang menjemput kamu."
"Aku manusia biasa mas, aku butuh kepastian ...."
"Maaf ...."
Gunadh semakin mengeratkan dekapannya.
"Mas ...."
"Jangan pergi lagi sayang, jangan menjauh lagi, sudah cukup hukuman yang kamu berikan untuk laki-laki rapuh ini." Ucap Gunadh, menggerakkan bibirnya di atas area sensitif gadis itu.
"Iya mas ... Aku nggak akan pergi jauh lagi, tapi bisa tolong jangan bernafas di sana? Geliii ...." Ucap Nandita, dengan wajah menghangat karena malu.
__ADS_1
Gunadh tersenyum kecil, ia tau sekarang, area itu adalah titik sensitif kekasihnya.
Bukan menuruti keinginan tunangannya, Gunadh justru memberi kecupan-kecupan lembut di sana.
"Mmmhhh" lenguh gadis itu tanpa sadar.
Ia mengeratkan genggaman tangannya pada besi pembatas di depannya.
Gunadh terus merayunya dengan sentuhan-sentuhan kecil yang membuat tubuh gadis itu semakin terbakar. Tanpa sadar ia memiringkan kepalanya, seakan memberi akses lebih luas untuk Gunadh menjelajah di leher dan bahunya.
Gunadh membalik tubuh gadis bergaun cream itu, menatap mata Nandita yang mulai sayu, dengan tatapan yang sama.
Ia memberi kecupan lembut di bibir mungil nan padat itu. Begitu lembut hingga membuat Nandita terbuai, memasrahkan semua pada Gunadh.
Dari yang awalnya hanya kecupan, berubah menjadi lvmatan yang semakin lama semakin membuat keduanya terbakar gai rah.
Gunadh mengangkat tubuh Nandita, agar memudahkan gadis itu untuk membalas civmannya.
Mereka larut dalam kenikmatan yang tercipta, hingga lupa saat ini tengah berada di area terbuka, meski di sekitarnya tidak terlalu banyak orang.
Seakan tidak pernah puas mereka saling bertukar saliva.
Setelah menjeda beberapa saat untuk keduanya meraup oksigen, mereka kembali saling memagut, Mel umat, seakan itu adalah sebuah kompetisi yang harus mereka menangkan.
"E ehm belum halal" suara dari belakang tubuh Gunadh, mengejutkan keduanya.
Nandita spontan mendongak, dan betapa malunya dia saat banyak pasang mata menatap ke arah keduanya dengan ekspresi berbeda.
Seketika ia mendorong lengan Gunadh yang membelitnya, hingga tubuh pria itu sedikit limbung. Beruntung mereka berdua tidak sampai terjatuh.
__ADS_1