Nanditha

Nanditha
TANGIS PERPISAHAN


__ADS_3

Ketika hari yang kita lewati disibukkan dengan begitu banyak hal dan kejadian,rasanya waktu terasa cepat berlalu.


Sempat tertunda keberangkatannya karena kejadian yang menimpa Tasya, Nandita juga harus mengundur waktunya sebulan lagi karena pernikahan Candra dan Satya.


Selama itu, banyak hal yang coba Gunadh lakukan untuk meluluhkan hati gadisnya. Namun Nandita tetap bergeming.


Bahkan menghadiri pernikahan sahabatnya, Nandita memilih datang bersama Malikha. Meski akhirnya ia tetap bertemu dengan Gunadh di acara resepsi tersebut.


"Jangan terlalu keras kepala Ta, jangan sampai kamu menyesal nanti begitu dia benar-benar berhenti mencarimu." Nasihat sang bunda hanya diangguki olehnya.


"Kurang berkorban apa lagi sih dia Ta, untuk dapetin maaf dari kamu?" Omel Candra ketika Nandita datang membantu persiapan pernikahannya.


Nandita hanya tersenyum menanggapinya.


Tidak ada yang mengerti jalan pikiran gadis itu. Ia juga tahu, Gunadh bisa saja mencari wanita lain di luar sana. Ia juga mengerti Gunadh mungkin merasa tidak dihargai dengan sikapnya.


Namun Nandita selalu beralasan, sebentar lagi ia akan berangkat ke luar negeri. Itu mimpinya yang mungkin tidak akan Gunadh setujui bila ia menerima Gunadh kembali. Biarlah ia menggapai satu persatu mimpi dalam hidupnya agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.


Bila Tuhan mentakdirkan ia dan Gunadh bersama, pasti akan ada jalan mereka menggapai bahagia.


"Selama ini aku berusaha menjadi yang terbaik yang aku bisa, tapi akhirnya membuat hati kecewa. Sekarang, biarlah tangan Tuhan yang bekerja, kalau kata orang." Sahutnya kala Candra menegurnya.


Candra hanya bisa pasrah mendengar jawaban Nandita. Sulit memang memahami jalan pikiran gadis itu.


🌟🌟🌟


"Sudah siap semua?" Tanya ayah Darma ketika melihat sang putri keluar dari kamarnya.


Hari ini, adalah hari keberangkatan Nandita menuju Turki. Sesuai kontrak, gadis itu akan di sana selama satu tahun.


Nandita mengangguk. Sementara bunda dan Malikha hanya diam, duduk di sofa tanpa banyak bicara.


Keberangkatan Nandita juga diantar oleh Tasya dan suaminya serta Tante Sari. Mereka berangkat dengan dua mobil berbeda.


Sikap saudara tiri sang ayah, kini berubah menjadi jauh lebih baik sejak kejadian itu.


Mungkin ini hikmah di balik musibah.


"Aku bakal kangen banget sama kamu Ta." Candra memeluk erat sang sahabat. Dengan air mata yang tetap lolos meski sudah ia tahan.


"Aku juga Ndra. Tapi kan kita bisa vc kalau aku pas libur." Nandita membalas pelukan Candra dengan tak kalah erat.


"Kamu jaga diri baik-baik ya, jangan capek kerja biar cepet aku dapet ponakan." Lanjutnya dengan tersenyum. Namun tidak dapat menutup kesedihan di wajahnya.


Setelah Candra, giliran Satya yang memeluk Nandita


"Jaga diri baik-baik di sana Ta. Harus tetap semangat."


"Makasih Sat ... Kamu yang semangat juga ya. Jagain Candra baik-baik. Salam untuk ibu dan adik kamu." Ucap Nandita di balas anggukan oleh Satya.

__ADS_1


Setelah berpelukan dengan sahabat, ayah bunda, dak keluarganya yang lain, Nandita bersiap untuk melakukan cek in pesawat.


"Aku berangkat ya ... Yah ... Bun ..." Sekali lagi gadis itu berpamitan pada kedua orang tuanya.


Nandita tidak bisa menahan air matanya.


Kali ini ia pergi bukan untuk berlibur.


Dengan alasan untuk mengais rejeki, ia mencoba melarikan diri dari rasa sakit, dan terlukanya. Sepintar apapun ia menutupinya, kedua orang tuanya pasti tahu apa yang ia rasakan.


"Baik-baik di sana. Kalau nggak betah, kamu pulang aja. Meski nggak jadi guru, kamu kan bisa kembangin usaha Dapur Kita biar jadi lebih besar lagi." Bunda Santi membelai lembut rambut anaknya.


Nandita hanya tersenyum.


"Usaha itu biar jadi bekalnya Ikha Bun ..." Sahutnya.


"Yah ... Jaga kesehatan ya. Maaf kalau Dita udah bikin ayah khawatir selama ini."


Sang ayah hanya menatap lembut putrinya tanpa mengucap sepatah kata pun. Dibelainya rambut sang putri, lalu kedua bahu Nandita ditepuk lembut seakan memberi kekuatan untuk anaknya.


Cinta dan dukungan yang tak perlu diucapkan, namun mereka berdua sama-sama tahu, ayah adalah cinta pertama dan pelindung bagi seorang anak perempuannya.


Masih belum berakhir suasana haru tersebut. Seakan tak ada hari esok untuk mereka mengungkap rasa.


Bahkan Malikha yang biasanya selalu berdebat dengan sang kakak, hari ini begitu larut dalam kesedihan.


"Kenapa harus berangkat sih kak? Semua sudah baik-baik saja kan?" Sang adik masih tak terima dengan keputusan Nandita.


"Kan kakak udah bilang, mau liat salju di sana." Ucap gadis itu bergurau, membuat tangis Malikha semakin keras.


"Udaah jangan nangis lagi, tambah jelek tau. Kakak kan ke sana buat kerja, bukan perang. Nangisnya nggak usah kaya gituu." Sambungnya lagi. Masih memeluk tubuh sang adik dengan erat. Dan kini dibalas juga oleh Malikha.


"Kakak jangan banyak pikiran di sana. Sering-sering telepon." Pinta anak bungsu itu.


Nandita memejamkan mata, memohon maaf dalam hati untuk orang-orang disekitarnya.


'Yah ... Bun ... Maaf, rupanya aku tak sehebat itu menjadi anak kalian. Meski tanpa aku sengaja, aku telah menghadirkan begitu banyak kesedihan dan luka untuk kalian.'


Meski ia tersenyum, namun hatinya menangis.


Luka yang ia coba tutupi dari orang-orang disekitarnya.


'Maaf aku pergi. Mungkin dengan ini, kamu akan temukan orang yang lebih baik lagi. Katakanlah aku pecundang, aku tak sanggup lagi berperang.'


Nandita melambaikan tangannya. Berjalan seorang diri menuju terminal keberangkatan.


Sejenak ia menoleh, keluarganya sudah tak tampak lagi, tenggelam diantara ratusan orang yang berlalu lalang.


"Nggak bisakah nunggu mas sebentaaar saja Ta? Seikhlas itu kamu pergi ninggalin semuanya?" Suara laki-laki yang ingin ia hindari terdengar di telinga kirinya.

__ADS_1


Nandita menoleh.


Gunadh dengan pakaian kerja formal, menatapnya penuh rindu namun juga terselip rasa putus asa di sana.


"Mas ..." Nandita hanya bisa mengucap satu kata itu.


"Haruskah begini Ta? Harus sejauh itu kamu pergi?" Tanya Gunadh lagi.


Nandita memejamkan mata. Tak sanggup melawan tatap dengan pria di hadapannya itu.


"Maaf mas, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Maaf kalau selama ini aku belum bisa jadi seperti yang mas mau." Nandita mencoba bicara setenang mungkin.


Rahang Gunadh mengeras, bukan karena marah. Laki-laki itu sedang berusaha menekan perasaannya agar tidak meneteskan air mata di depan umum.


"Yang terbaik untuk kita adalah kita bersama Ta. Perpisahan ini bukan yang terbaik." Ucapnya penuh emosi.


" Tapi kalau dengan ini kamu bisa menyembuhkan luka hati kamu, mas akan menerimanya. Pergilah ... Maaf untuk luka yang tanpa sengaja mas torehkan." Air mata penyesalan akhirnya luruh juga di pipi laki-laki itu.


Nandita menggeleng. Tak urung air matanya juga mengalir tanpa permisi.


"Mas ... Ini bukan salah mas, aku yang masih terlalu mentah mengolah emosi. Aku yang masih sulit berdamai dengan diri sendiri. Aku pergi, bukan karena orang lain. Ini murni ---"


Grep


Tubuh Nandita tenggelam dalam pelukan Gunadh. Laki-laki itu tak akan menyiakan kesempatan singkat yang dirinya miliki.


"Pergilah sayang ... Selesaikan apa yang ingin kamu selesaikan di sana. Kejar apa yang ingin kamu raih. Suatu saat mas akan datang. Dan saat itu, nggak akan mas biarkan kamu pergi lagi." Meski berat dan menyakitkan, akhirnya Gunadh berhasil mengucapkan kalimat itu.


"I LOVE YOU Nandita Mentari."


Meski belum tuntas apa yang mengganjal di hati masing-masing, namun satu kelegaan mereka gapai. Hubungan mereka tidak berakhir dengan kegamangan.


^_________^^_________^^_________^


akhirnya GunTha pisah ya ...


sedih sih, tapi kadangkala takdir suka membuat sesuatu lebih indah setelah perpisahan. Entah apakah GunTha terpilih memiliki kebahagiaan itu atau tidak nanti.


Jangan bosen intip tiap aku up bab baru ya ...


selagi nunggu besok, kalian bisa lirik novel temen aku satu ini juga ⬇️


***


Elin selama ini dituduh oleh Lucas anak dari pelakor. Lucas yang terbawa dendam meminta temanya Lexi menghancurkan masa depan gadis itu. Elin diculik dan dijadikan pelampiasan duniawi oleh Lexi, dengan tujuan menghancurkan masa depanya, sehingga gadis itu menginginkan kematian menjemputnya. Tujuanya tentu membuat Elin depresi, sama seperti ibunya. Lalu ayahnya menderita dengan melihat anak kesayanganya bernasib na'as.


Namun, siapa sangka Elin yang telah Lucas buat hidupnya hina, mederita dan bahkan mengalami cacat fisik, karena percobaan pembunuhan dari dirinya. Ternyata ia adalah sodara kembarnya. Bagaimana bisa Lucas tidak tahu bahwa Elin adalah sudara kembarnya? Adakah maaf dari Elin untuk Lucas yang sudah menghancurkan masa depanya? Ada rahasia apa sehingga Lucas bisa termakan fitnah yang mengerikan itu?


__ADS_1


__ADS_2