
Tiap pagi Nandita membawakan sarapan untuk Gunadh ke rumah sakit. Ia sengaja memasak lebih banyak, agar bisa di baginya dengan sang kekasih. Tidak lupa gadis itu pun menyiapkan untuk Safira juga. Meski tiap kali bertemu wajah mantan istri Gunadh itu, tidak pernah bersahabat terhadapnya.
Siangnya, ia akan memesankan makanan untuk laki-laki cinta pertamanya itu, melalui aplikasi.
Setelah dia pulang mengajar, barulah ia akan menyusul ke rumah sakit. Semua itu ia lakukan sebagai bentuk dukungan untuk kekasihnya. Dan tidak bisa dipungkiri, ia juga mengkhawatirkan keadaan Namira yang hingga kini belum sadarkan diri.
Hal itu yang dilakukan Nandita selama tiga hari belakangan ini. Hari ini untuk pertama kalinya ia tidak bisa datang berkunjung. Kemarin malam, Satya mengabarkan berita kurang baik. Pak Wahyu, guru silat mereka mengalami musibah. Terjatuh di kamar mandi, dan hingga kini belum sadar juga. Mereka sepakat untuk datang menjenguk, setelah pulang mengajar nanti.
N : "Mas, maaf hari ini aku gak bisa ke sana. Guru silat aku lagi dirawat di RS juga, rencananya aku sama yang lain mau ke sana nanti habis pulang sekolah."
Pesan yang dikirim gadis itu pagi tadi untuk sang kekasih.
N : "Mas, mau aku pesankan makanan untuk sarapan?" Tanyanya lagi setelah siap untuk berangkat mengajar.
Ponsel gadis itu berdering. Setelah membaca dua pesan dari Nandita, laki-laki itu langsung menghubungi gadisnya.
"Ya mas,"
"Maaf yank, aku baru bangun. Kamu nanti hati-hati ya. Maaf aku gak bisa anter."
"Ya mas. Nanti aku berangkatnya mungkin habis jam ke dua. Biar sampe sana gak terlalu siang. Mas udah beli sarapan? Mau aku pesankan?"
"Gak usah yank, nanti aku bisa suruh Arya untuk belikan. Sekalian ada berkas yang harus aku periksa."
"Ya sudah kalau gitu, mas jaga kesehatan ya, jangan sampai mas ikutan sakit. Oya gimana Namira? Udah ada perkembangan?"
Gunadh mend esah pelan.
"Masih sama seperti kemarin yank, belum berniat untuk buka mata. Meski saat mommynya bicara, kadang keluar air mata di sudut matanya. Kata dokter, dia bisa mendengar, hanya saja ototnya belum mampu bergerak."
Nandita pun ikut sedih mendengarnya. Gadis ceria itu, terlalu kecil untuk mampu bertahan dengan segala tekanan dalam hidupnya. Mungkin hatinya yang lelah memaksa matanya untuk tetap tertutup.
"Semoga segera ada kabar baik ya mas, jangan lupa selalu berdoa." Ucap Nandita
"Ya sayang. Kamu hati-hati, jangan lupa makan. Nanti kalau ada apa-apa aku pasti kabari kamu."
"Ya mas. Daa"
Sambungan telepon ditutup.
Nandita melanjutkan aktivitasnya. Setelah memastikan semua aman, ia bergegas mengunci kamar kost dan segera pergi ke tempat ia mencari rejeki.
🌟🌟🌟
Pukul 10.25 Candra menghubungi Nandita yang sudah menunggu sejak beberapa menit lalu.
Rencananya mereka berangkat bersama menggunakan mobil Candra.
"Ta, kamu di mana? Aku udah di depan gerbang sekolahmu ini?"
"Tunggu sebentar, aku keluar sekarang." Kemudian Nandita bergegas meninggalkan ruangannya, menyusul orang yang barusan menghubunginya.
Dari jauh sudah ia lihat gadis cantik dengan balutan kulot dan atasan crop warna hijau lumut. Terlihat cantik dengan warna kulit putih yang kontras dengan warna bajunya.
"Ndra,"
__ADS_1
Candra menoleh, melihat Nandita masih dengan pakaian kerjanya.
"Kamu mau pakai baju itu, atau mampir ke kost dulu?"
Lanjut aja, aku bawa baju ganti kok. Nanti di jalan cari tempat buat ganti"
"Ya sudah, kita jemput Satya dulu di sekolahnya. Baru habis itu kita berangkat."
"Ok. Yuk." Nandita setuju saja.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Setelah tadi menjemput Satya, dan mengisi bensin, mereka melanjutkan perjalanan. Nandita pun kini sudah menggunakan pakaian yang lebih santai, celana jins 7/8 dan baju over size warna putih membuatnya terlihat semakin kecil namun tetap cantik.
"Gimana kabar calon anak tirimu Ta?" Candra membuka obrolan
"Masih belum sadar." Ucap Nandita lemah.
"Sabar ya, ini cobaan namanya. Semoga dengan ini, hubungan kamu dan anak itu jadi lebih baik." Candra turut prihatin dengan kisah teman baiknya itu.
'Semoga saja' Nandita bergumam dalam hati.
"Terus sekarang siapa yang jagain di sana Ta?" Kini Satya yang bertanya
"Mas Gunadh sama mantan istrinya. Kan mereka di sini gak ada keluarga."
Dua orang yang duduk di kursi depan itu saling lirik.
"Ta, kamu gak apa? Tau mas Gunadh sering ketemu mantan istrinya, kamu gak cemburu gitu?" Candra bertanya dengan hati-hati.
Nandita yang duduk di belakang dengan pandangan mata sibuk melihat sekitar, kini fokusnya ke depan. Dimana Candra dan Satya duduk berdampingan.
"Ya ... Kamu gak takut gitu mereka akan CLBK."
Tawa Nandita pecah mendengar ucapan Satya.
"Hahaha kamu lucu Sat, gak mungkin mereka begitu. Aku percaya mas Gunadh orang yang setia." Ucapnya dengan yakin.
"Ya, Gunadh setia. Tapi yang perempuan? Apa gak ambil kesempatan dalam kesempitan nanti?"
Nandita diam sejenak. Dia tidak berpikir sejauh itu. Apa mungkin, disaat seperti ini ada ibu yang sempat berpikir untuk kepentingannya sendiri? Memanfaatkan keadaan sang anak untuk menggapai sesuatu yang dia inginkan.
Melihat Nandita diam tanpa reaksi, Candra menoleh ke belakang. Rupanya gadis itu tengah melamun.
"Gak usah dipikirkan Ta. Satya ini kan memang suka jahil. Gak mungkin mereka ada apa-apa." Candra mencoba menghibur.
Nandita hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Perjalanan mereka masih lumayan jauh. Mereka memutuskan untuk beristirahat, sekalian makan siang di salah satu rumah makan yang di lewati.
"Sat, gimana anak-anak?" Tanya Nandita
"Lumayan, ada yang cepat bisa ada juga yang masih takut-takut." Jawab laki-laki itu.
"Syukurlah. Maaf ya aku malah repotin kamu terus."
"Santai aja, aku suka kok. Senang malah, ada kegiatan yang menambah penghasilan aku. Hitung-hitung nambahin tabungan untuk resepsi." Ucapnya setengah bercanda.
__ADS_1
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Ucapan Satya membuat Nandita tersedak minuman yang baru saja diminumnya.
"Iish kamu tuh yank, bikin anak orang kaget aja." Ucap Candra malu sembari menepuk pelan pundak Nandita.
"Kalian serius akan segera menikah?" Nandita bertanya setelah merasa lebih baik.
"Siapa sih yang menjalani hubungan, tapi gak ada niat untuk itu Ta?" Kini Satya menampakkan wajah seriusnya.
" Mangkanya itu aku senang kamu kasih aku kerjaan, jadi dananya cepat terkumpul." Lanjutnya lagi.
Nandita menatap dua teman baiknya itu bergantian.
"Baiklah semoga segera terwujud niat baik kalian ya." Nandita turut bahagia atas berita tersebut.
Mereka melanjutkan perjalanan kembali. Pukul 13.00 mereka tiba di Rumah Sakit tempat pak Wahyu dirawat.
Keadaan pria yang sangat berjasa untuk Satya dan Nandita itu sangat memprihatinkan. Dirawat di ruangan biasa, dengan fasilitas seadanya. Tinggal dalam ruangan di mana satu kamar dihuni Pat pasien sekaligus.
Meski beliau adalah seorang pelatih silat, namun keadaan ekonominya tidak bisa dibilang berada.
Ada rasa miris di hati Nandita melihat sang guru seperti itu. Apalagi kini, beliau tidak lagi bisa mengajar. Sebab terkena stroke, yang mengakibatkan sebagian anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Bagaimana nanti beliau akan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya?
Selain buah tangan yang mereka siapkan sejak awal, Nandita, Candra, dan Satya juga memberikan sedikit rejeki yang mereka miliki. Berharap dengan itu bisa meringankan beban keluarga yang terkena musibah.
"Terimakasih nak," Hanya itu yang bisa diucapkan oleh istri pak Wahyu. Melirik sebentar sang suami yang baru saja sadar. Wanita dengan penampilan sederhana itu sangat terharu. Begitu besar perhatian murid-murid suaminya. Sejak kemarin, kunjungan tidak henti dari mereka yang perduli. Bahkan yang sudah bekerja jauh seperti ketiga orang di sampingnya ini, masih menyempatkan diri menjenguk sang suami.
"Semoga pak Wahyu cepat sembuh ya Bu. Biar bisa beraktifitas lagi. Beliau orang baik, pasti akan selalu ada orang baik yang membantunya." Ucap Satya memberi semangat.
"Ya nak. Semoga Tuhan mendengar doa-doa kami. Dia laki-laki yang baik, bertanggung jawab, dan sangat menjunjung tinggi kejujuran. Bapak selalu berkata, tidak ada yang bisa kita banggakan di dunia ini selain kemurahan hati dan ketulusan pada sesama. Kejujuran adalah pondasi, dan keikhlasan adalah ladang yang harus selalu dirawat. Membersihkan hama berupa angkuh, sombong, munafik dan rasa iri dengki itu harus setiap hari. Karena jika dibiarkan, semua hal buruk itu akan menguasai ladang kita. Dan menjadikan kita orang yang merugi." Wanita itu mengenang nasihat yang selalu suaminya ucapkan pada dirinya juga anak-anak mereka.
"Ya Bu, dan terbukti beliau bisa melakukan itu hingga kini." Nandita sangat setuju dengan apa yang diucapkan wanita itu.
Hingga sore mereka bercengkrama. Bercerita dengan orang yang memiliki aura positif, memang selalu membuat waktu terasa cepat berlalu.
Bahkan pesan dari Gunadh, tidak sempat Nandita lihat, sangking asyiknya obrolan mereka.
Barulah setelah perawat datang untuk mengganti infus pak Wahyu, mereka menghentikan obrolannya.
"Bu, maaf kami harus pamit. Gak terasa udah sore. Semoga ibu tetap sehat dan kuat. Semoga bapak lekas pulih. Nanti kalau ada waktu, kami akan berkunjung lagi. Tapi semoga kunjungan kami bukan di sini ya Bu, melainkan di rumah dalam keadaan bapak sudah sehat." Candra bicara panjang lebar, melantunkan doa tulus untuk laki-laki yang baru saja membuka matanya.
"Pak, kami pamit dulu ya. Semoga bapak cepat sembuh, cepat pulih seperti sedia kala." Nandita menghampiri pak Wahyu diikuti Satya dan Candra.
"Hati-hati ya, terima kasih banyak sudah memberi kami banyak bantuan dan dukungan."
"Ya Bu, sebisa mungkin kami akan bantu. Jangan sungkan menghubungi kami ya." Kini Candra yang bersuara.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan doa dan harapan yang sama. Memohon pada sang pemberi nafas, agar segera menyehatkan orang yang mereka hormati.
"Astaga, aku lupa tadi mas Gunadh kirim pesan." Ucap Nandita saat sudah duduk di dalam mobil.
__ADS_1
Segera ia mengambil ponsel yang sedari tadi ia abaikan.