Nanditha

Nanditha
ULANG TAHUN SAFIRA (masih flashback)


__ADS_3

Sejak obrolannya dengan sang Daddy, Mira tidak pernah sekalipun membahas soal mommynya di hadapan Gunadh. Seolah mereka sama-sama tahu, kalau nama Safira tabu untuk dibicarakan.


Namun, diam-diam gadis belia itu masih tetap berhubungan dengan mommynya. Menggunakan ponsel berbeda, ia sering mengirim kabar pada Safira.


Bahkan wanita yang awalnya cuek pada sang anak, akhir-akhir ini begitu perhatian membuat Mira yakin kalau mommynya sudah berubah.


Gunadh yang masih sibuk dengan pekerjaan, dan mengejar maaf Nandita tidak bisa sepenuhnya memberi perhatian pada Mira. Membuat anak itu semakin leluasa berkomumikasi dengan sang mommy.


"Sayang ... Kita bisa ketemu nggak? Mommy kan sebentar lagi ulang tahun, mommy pengen banget rayain bareng kamu." Pinta Safira saat melakukan sambungan telepon.


"Mmm Mira usahakan ya mom, semoga dadday kasih ijin." Sahut gadis itu.


"Tapi kalau Daddy nggak ijinkan, jangan memaksa ya nak ... Nggak apa-apa kita rayain lewat video call, anggap mommy lagi di luar negeri." Kekeh Safira namun dengan wajah sedih.


Hati Namira pun sedih mendengarnya. Ia bertekad akan mewujudkan keinginan wanita yang sangat ia sayangi itu.


Tanpa gadis lugu itu tahu, semua hanyalah trik Safira untuk memecah hubungan anak dan daddynya.


"Dad ..." Mira ragu-ragu mendatangi sang Daddy di ruang kerjanya.


"Ya sayang ..." Gunadh menghentikan aktifitasnya, dan fokus pada sang putri.


"Dad, lima hari lagi kan mommy ulang tahun ---" Belum pun Mira menyelesaikan ucapannya, wajah Gunadh sudah berubah.


Kilat kemarahan tergambar jelas di wajah pria yang hampir menginjak kepala empat itu.


"Dad ... Kali ini aja." Mohon Mira.


"Sudah Daddy katakan, jangan kecewakan Daddy. Tapi sepertinya ucapan Daddy tidak berarti apa-apa untukmu." Gunadh berlalu meninggalkan Mira yang menangis di ruang kerjanya.


Lebih baik ia segera pergi, daripada melakukan hal yang tidak diinginkan terhadap Mira.


Setelah kejadian itu, baik Gunadh maupun Mira tidak saling menyapa. Keduanya sama-sama diam. Sama-sama marah dan kecewa.


Tanpa Mira tahu, sang daddy kembali menggunakan pengawal bayangan untuk menjaga dirinya. Itu Gunadh lakukan untuk memberi rasa tenang, sebab ia tidak bisa mengawasi Mira 24jam dalam sehari.


Hingga tibalah hari ulang tahun Safira yang bertepatan dengan keberangkatan Nandita.


Gunadh hendak berangkat menemui klien sekitar pukul 09.00.


Namira datang menghampinya di ruang tamu.


"Dad ... Nanti aku mau ke tempat mommy." Bukan meminta ijin, Mira hanya memberi tahukan keinginannya pada Gunadh.


Rahang Gunadh mengeras. Ia benar-benar merasa tidak dihargai oleh anaknya.


"Kamu bisa mengerti bahasa manusia? Sekali Daddy bilang jangan ya jangan!" Bentak Gunadh yang membuat Mira terkejut sekaligus takut.

__ADS_1


Namun bukan Mira bila bukan keras kepala. Ketakutan yangvtadi sempat singgah, menguap oleh tekad dan kerinduan pada wanita yang melahirkannya.


"Kenapa sih Daddy egois banget? Daddy hanya ingin didengarkan tanpa mau mendengar apa yang aku mau! Aku bukan robot yang bisa Daddy perintahkan sesukanya!"


"Mira!" Gunadh kehabisan kata. Ingin rasanya ia memukul gadis belia yang sudah lancang meninggikan suara di hadapannya.


"Maaf tuan, bisa kita berangkat sekarang?" Arya sang asisten tengah berdiri tidak jauh dari ruang makan.


Pria tampan itu harus segera menghentikan perdebatan, sebelum pertemuan penting atasannya menjadi korban pertengkaran ayah dan anak itu.


Tanpa mengucap sepatah kata pun, Gunadh kembali meninggalkan putrinya sendirian.


Melihat mobil sang Daddy berangkat, Mira pun bergegas bersiap diri. Tidak lupa ia menghubungi sahabatnya agar menemaninya membeli kado untuk sang mommy.


"Non Mira mau kemana?" Bik Asih heran nona kecilnya telah rapi. Biasanya kalau hari libur, Mira akan puas bermalas-malasan tanpa memikirkan mandi pagi dan sejenisnya.


"Ini bik, Aya minta ditemenin ke toko buku." Jawab Mira asal.


"Diantar mamang kan non?" Sesuai perintah Gunadh, kemanapun Mira pergi harus ditemani oleh sopir.


"Aya diantar sopir bik ... Nanti aku dijemput di depan." Sahut gadis itu.


"Tapi non ..."


"Bik ... Ayolah ... Aku cuman pergi sama Aya. Kenapa sih kalian semua nggak ada yang mau ngertiin aku?" Wajah Mira sudah memerah, bersiap mengeluarkan tangisnya.


"Ngg-ak gitu non ... Mmm ya sudah, non Mira boleh pergi, tapi hati-hati ya non ... Nanti biar bibik bantu ngomong sama tuan, kalau non perginya sama non Aya." Bik Asih panik, takut nona kecilnya merajuk dan membuatnya melakukan hal-hal aneh.


"Mira berangkat dulu ya bik. Cup." Ia mengecup pipi bik Asih.


Wanita paruh baya itu hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah anak majikannya.


Bi Asih sangat menyayangi nona kecilnya itu. Ia prihatin dengan hidup yang dilalui oleh Mira. Bukan kekurangan ekonomi, yang membuat gadis belia itu menderita, melainkan kasih sayang dan perhatian yang tulus dari kedua orang tua. Terutama mommynya.


🌟🌟🌟


Setelah membeli kado berupa kalung couple untuk dirinya dan sang mommy, Mira singgah ke toko bakery untuk membeli sebuah kue mungil yang dia rasa pas untuk perayaan kecil-kecilan ulang tahun mommynya.


"Aku balik apa ikut kamu ke tempat mommy kamu Ra?" Tanya Gayatri setelah mereka berhasil mendapatkan apa yang dicari.


"Mmm kamu balik aja nggak apa kok ... Makasih ya udah temenin aku." Gadis yang baru kelas 1 SMP itu akhirnya berpisah di depan toko kue.


Dengan riang Mira menghentikan taksi dan meminta diantar ke apartemen Safira.


Gadis itu tidak tahu kalau dirinya tengah diawasi.


Di dalam taksi, ia mengucapkan selamat ulang tahun pada mommynya. Tak lupa meminta maaf karena ia benar-benar tidak bisa datang untuk merayakan bersama.

__ADS_1


Mira berniat memberi sang mommy kejutan di hari ulang tahunnya.


'mungkin ini adalah perayaan terkahir kita berdua mom ... Semoga mommy kelak bahagia. Suatu saat, kalau mira udah besar, udah punya uang sendiri, Mira akan cari mommy. Kita akan bareng-bareng meski Daddy nggak kasih ijin.' mira mengusap air matanya. Hari ini ia tidak boleh menangis. Ia harus bahagia, agar mommynya juga bahagia.


Setibanya di gedung apartemen Safira, Mira bergegas membayar ongkos taksi. Setelahnya ia dengan semangat memasuki gedung tinggi tersebut, menuju lift yang akan mengantar ke unit mommya.


Gadis itu memencet kode pintu apartemen dengan pelan. Berharap suaranya tidak akan terdengar oleh sang mommy yang ia tahu tengah berada di dalam.


Mira masuk dengan pelan, setelah pintu terbuka. Suasana sepi menyambut gadis itu. Mira hendak menuju lantai atas di mana kamar sang mommy berada. Namun tanpa sengaja ia melihat dua pasang sepatu pria teronggok di sudut ruangan dekat pintu.


Mira meletakkan kue dan kado yang ia bawa, di atas meja. Lalu mendekati benda yang menggelitik rasa penasaran.


Alisnya berkerut, ia yakin itu bukan milik daddynya apalagi sang mommy.


'Siapa yang punya sepatu ini?' ia bermonolog.


^_________^^_________^^_________^


Kira-kira itu sepatu siapa ya?


Dua pasang lagi.


komen ya ... Jawaban pertama yang benar, aku kasih pulsa 10rbu 😁😁🤭🤭🤭. Hanya untuk 1 orang lho ini .... Berlaku hari ini hingga aku up besok.


jangan lupa sedekah ya ....


like,


komen,


vote,


gift


untuk othor receh ini.


btw, ada lagi nih novel bagus yang bisa kamu baca di waktu senggang.


***


Menginjak usia 32 tahun, Zayyan Alexander belum juga memiliki


keinginan untuk menikah. Berbagai cara sudah dilakukan kedua orang tuanya, namun hasilnya tetap saja nihil. Tanpa mereka ketahui jika pria itu justru mencintai adiknya sendiri, Azoya Roseva. Sejak Azoya masuk ke dalam keluarga besar Alexander, Zayyan adalah kakak paling peduli meski caranya menunjukkan kasih sayang sedikit berbeda.


Hingga ketika menjelang dewasa, Azoya menyadari jika ada yang berbeda dari cara Zayyan memperlakukannya. Over posesif bahkan melebihi sang papa, usianya sudah genap 21 tahun tapi masih terkekang kekuasaan Zayyan dengan alasan kasih sayang sebagai kakak. Dia menuntut kebebasan dan menginginkan hidup sebagaimana manusia normal lainnya, sayangnya yang Azoya dapat justru sebaliknya.


“Kebebasan apa yang ingin kamu rasakan? Lakukan bersamaku karena kamu hanya milikku, Azoya.” – Zayyan Alexander

__ADS_1


“Kita saudara, Kakak jangan lupakan itu … atau Kakak mau orangtua kita murka?” -  Azoya Roseva.



__ADS_2