Nanditha

Nanditha
BANTUAN UNTUK SAFIRA


__ADS_3

"Mas, ada apa ini?" Tanya Nandita yang terlihat bingung saat Mira memeluknya erat.


Gadis itu terus bergumam, meminta Nandita untuk jangan pergi.


Gunadh hanya bisa menggelengkan kepala, sambil perlahan mendekati Namira yang masih betah dalam dekapan Nandita.


Ia menatap putrinya dengan sedih. Beberapa kali ia menarik nafas berat, merasa bersalah dan juga bingung harus bersikap bagaimana.


"Mira, Daddy bisa jelaskan semua ... Dengarkan dulu sayang ...." Pinta Gunadh, mencoba meraih tubuh Mira agar menghadap ke arahnya. Namun Namira masih bergeming. Bahkan sentuhan tangan dari Daddy-nya, ia tepis. Gadis itu menolak mendengar apapun yang ingin Daddy-nya sampaikan.


"Sayang ... Nggak boleh gitu, itu namanya nggak sopan. Denger dulu apa yang mau Daddy kamu jelaskan ya ...." Dengan lembut Nandita berbicara pada gadis yang masih memeluknya itu.


"Aku udah tau kok, Daddy pasti bakal paksa aku buat ketemu sama wanita itu. Aku nggak mau! Nggak akan pernah mau!" Sahutnya menjawab ucapan Nandita.


"Wanita?" Nandita menoleh ke arah Gunadh dengan tatapan bingung dan bertanya-tanya.


"Nggak gitu sayang ... Mangkanya kamu denger dulu Daddy ngomong apa," desak Gunadh lagi.


"Dia udah jahat sama kita, wanita itu jahat. Dia penipu! Dia udah bohong sama aku. Aku nggak mau ketemu di lagi. Dia menjijikkan!" Tubuh dan suara Namira bergetar dalam pelukan Nandita, membuat wanita itu terkejut dan panik.


"Mira! Kamu kenapa sayang? Mas, Mira kenapa ini?" Tanya Nandita takut.


"Dia juga udah pisahin aku sama onty, dia fitnah semua orang, dia jahat!" Mira masih terus meracau.


"Mira ...." Gunadh segera meraih tubuh Namira yang bergetar hebat. Namira menekuk lututnya seolah melindungi diri.


Gunadh menggantikan Nandita untuk memeluk putrinya.


"Aku nggak mau ketemu dia Daddy ...." Lirihnya lagi, menatap sang ayah.


"Iya, iya" hanya itu jawaban yang Gunadh berikan.


"Ajak ke kamar mas," usul Nandita. Gunadh pun membopong tubuh putrinya menuju kamar milik Nandita. Sementara wanita itu berlari ke dapur mengambil air hangat, untuk ia berikan pada Mira.


Meski ia masih bingung dengan semua yang terjadi, namun ia pendam rasa penasarannya itu untuk saat ini.


"Ssssttt udaaah ... Daddy nggak akan maksa kamu, sayang. Daddy minta maaf ... Kamu tenang ya ... Tarik nafas ...." Suara Gunadh begitu lembut terdengar dari luar. Nandita melangkah perlahan memasuki kamarnya, dengan membawa gelas berisi air hangat.


"Mas ...." Bisik wanita itu. Gunadh hanya mengangguk, tidak memberi jawaban apapun.

__ADS_1


Lama mereka menunggu emosi Namira kembali stabil. Nandita dengan setia menemani Gunadh, duduk di belakang laki-laki itu.


Hingga nafas Namira sedikit lebih teratur, meski kadang masih sesenggukan, Nandita mengambilkan gelas berisi air hangat yang ia bawa ke arah Gunadh, agar laki-laki itu membantu putrinya.


"Minum dulu sayang ...." Ucap Nandita lembut,


Mira mengangkat kepala yang semula bersandar di bahu ayahnya. Wajah gadis belia itu terlihat sayu.


Gunadh membantu putrinya yang terlihat lemas itu, untuk meminum air yang Nandita berikan.


"Sudah Dad ...." Ucap Mira lemah, saat setengah isi gelas sudah berpindah ke dalam perut gadis itu.


"Kamu mau istirahat dulu?" Tanya Gunadh.


Mira diam, tidak memberi respon apapun atas pertanyaan Daddy-nya.


"Onty temani Mira di sini ya ... Kita bobo siang bareng, mau?" Tanya Nandita dengan lembut, mencoba menawarkan diri untuk menemani gadis belia itu.


Namira mengangguk setuju.


Gunadh, tanpa diminta, meninggalkan kamar tunangannya itu. Membiarkan dua orang yang dicintainya itu menghabiskan waktu berdua.


🌟🌟🌟


"Mira tidur, sayang?" Tanya Gunadh, saat Nandita menemuinya di rumah tamu, dan duduk di sampingnya. Gadis itu mengangguk, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.


"Mas, apa yang terjadi?" Tanyanya setelah beberapa saat terdiam.


Gunadh mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Merasa frustasi dengan keadaan rumit yang saat ini ia hadapi.


Ia meraih ponselnya, mencari sesuatu yang baru saja ia terima dari sang asisten.


Nandita mengamati semua gerak gerik laki-laki itu, namun ia tidak menyela sedikit pun.


Ia menunggu Gunadh memberinya penjelasan.


"Ini, siapa mas?" Tanya Nandita, saat Gunadh menyodorkan sebuah foto yang tersimpan di ponselnya.


Foto yang beberapa menit lalu, Arya kirim untuknya, setelah asisten itu melaksanakan tugas darinya.

__ADS_1


"Itu mommy-nya Mira," ucap Gunadh lirih.


"Haaah? Yang benar mas?" Nandita tidak percaya dengan apa yang dikatakan Gunadh. Sementara laki-laki itu hanya mengangguk, mengiyakan ucapannya.


"Kenapa bisa begini, mas? Astagaaa,"


Nandita tentu sangat terkejut melihat sosok dalam gambar itu, adalah wanita anggun yang dulu pernah ditemuinya.


Tubuhnya kurus, tinggal tulang berbalut kulit. Tulang pipinya terlihat jelas, begitu juga lehernya yang terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Baju pasien yang digunakan terlihat kebesaran di tubuh wanita itu.


"Mas juga belum tahu pastinya seperti apa. Tadi perawat yang menghubungi mas hanya mengatakan jika kondisinya saat ini sedang kritis. Dia ... Baru saja menjalani operasi untuk mengeluarkan janin yang sudah dalam keadaan membusuk." Terang Gunadh.


Nandita membekap mulutnya mendengar cerita itu.


"Ya Tuhan ... Trus siapa yang bertanggung jawab saat ini sama dia mas?"


"Itu lah, dia dibawa ke rumah sakit oleh tetangganya yang merasa iba dengan kondisinya. Tapi untuk biaya rumah sakit, mereka tidak bisa membantu. Ada dari dinas sosial yang mendampingi saat ini, tapi ...." Gunadh menggantung ucapannya.


"Sayang, apa kamu marah jika mas membantunya?" Tanya Gunadh, membuat Nandita yang sejak tadi mengamati dengan lekat foto itu, menoleh ke arahnya.


"Maksudnya gimana?" Tanya Nandita.


"Mas ingin memberikan perawatan maksimal untuknya. Biar bagaimana pun, dia wanita yang sudah melahirkan Namira, seburuk apapun perbuatannya, dia tetap memiliki jasa karena sudah membawa Mira lahir ke dunia ini." Terang Gunadh.


Sementara Nandita masih diam, mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang tunangannya itu ucapkan.


"Kamu nggak usah khawatir, bukan mas yang datang langsung menemuinya. Mas meminta Arya mencarikan seseorang yang bisa menjaga dan mengurusnya di rumah sakit. Mas hanya memberikan biaya untuk itu." Lanjut Gunadh, melihat keraguan di mata Nandita.


"Nggak masalah, mas. Niat baik mas nggak mungkin aku tentang. Aku justru semakin bangga sama mas Gunadh, mas menunjukkan keperdulian pada orang lain." Sahut Nandita akhirnya.


Gunadh merasa lega, kekhawatirannya tidak terbukti. Ia mengira Nandita akan marah saat tahu rencananya menolong Safira. Tapi rupanya wanita yang kini terlihat semakin dewasa itu, benar-benar membuktikan kedewasaannya.


Ia menautkan jari tangannya di jari milik Nandita, lalu meremassnya erat.


"Makasih, sayang. Mas lega sekarang. Hanya saja, ada satu pr lagi yang sedang mas pikirkan," ucapnya, membuat kening Nandita mengkerut.


"Ada apa lagi, mas?"


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^

__ADS_1



__ADS_2