
Mata yang tertutup butiran debu, tidak akan mampu melihat indahnya warna pelangi.
Nandita masih asyik bercengkrama dengan sang kakek. Sampai tidak sadar tante-tantenya sudah datang, dan mencuri dengar apa yang di ceritakan Nandita pada kakeknya.
"Mba,,, pasti anak itu sekarang lagi merayu kakeknya biar mau kasi uang untuk dia jalan-jalan ke luar negeri. Dasar licik, dia sengaja itu deketin bapak biar kelihatan baik."
"Kamu benar Sari,, ini ga boleh didiemin. Kita harus bikin, gimana caranya anak sok hebat itu jauh dari bapak." Kata Dewi.
"Kamu juga sih,,,, punya anak kok ga pernah mau nengok kakeknya di rumah sakit. Giliran dapet hasil panen, paling awal minta beli ini itu." Kata Tante Dewi
"Jangan salahkan aku dong mba,,, kan Sintya meniru sepupu yang lain, emangnya anak mba ada yang nengok kakek nya kesini??" Sanggah Tante Sari.
Mereka memang kompak, kompak ga ada akhlak juga rakus.
Flashback
Dewi dan Sari adalah dua bersaudara dari istri ke dua pak Cakra, bapak dari pak Darma. Sedangkan pak Darma dan Bu Niar mereka adalah anak dari istri pertama pak Cakra. Karakter mereka memang sangat berbeda. Dewi dan Sari dibesarkan dalam keterbatasan. Sebab menjadi istri simpanan adalah aib bagi keluarga. Sehingga mereka dari kecil diperlakukan berbeda. Rasa iri dan dengki juga membuat perilaku mereka semakin buruk, dan semakin buruk pula citra mereka di hadapan keluarga besar.
Berbeda dengan pak Darma dan Bu Niar, yang sedari kecil diajarkan welas asih. Diberi kasih sayang dan perlakuan yang baik oleh keluarga besar. Di samping sifat mereka juga baik dan sesuai aturan.
Hingga suatu hari, ibu kandung pak Darma sakit kemudian meninggal. Si ibu tiri lah yang diminta mengasuh mereka. Tapi syarat si ibu tiri, anak-anaknya harus di anggap sama.
Karena pada dasarnya Bu Niar dan pak Darma adalah anak yang baik dan penurut, mereka memperlakukan saudara tirinya selayaknya saudara kandung.
Pak Darma sebagai anak pertama dan anak laki-laki satu-satunya, diberi pendidikan yang terbaik. Sekolah mahal dan fasilitas yang lengkap. Sang adik Niar, Dewi, dan Sari di sekolahkan di sekolah negeri biasa.
Niar yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata berhasil mendapat beasiswa full sehingga ia melanjutkan kuliah di ibu kota. Dewi dan Sari tidak bisa melanjutkan kuliah, sebab sang ayah sudah memutuskan bahwa anak perempuan cukup hanya sampai lulus SMA saja.
Semakin berkarat lah hati mereka berdua. Bersama sang ibu, mereka membuat rencana agar bisa menguasai semua tanpa menyisakan untuk saudara yang lain nya.
"Kalian harus bisa menjadi penguasa rumah dan harta ayah kalian. Cari suami yang tunduk pada kalian agar mudah mengatur mereka. Ingat,,, ini hak yang harusnya kalian dapatkan sedari kecil. Mereka sudah merampas itu,, saatnya kalian merebut apa yang menjadi milik kalian." Pesan penuh racun yang diberikan sang ibu, semakin mengakar di hati mereka.
Perlahan mereka bisa menyingkirkan satu persatu keluarga mereka.
"Ayah,,,, maaf bukan Dewi ikut campur, tapi bolehkah Dewi berpendapat yah??" Dengan wajah lembut Dewi bicara pada ayahnya kala itu
"Apa Wi,, bicara aja" Pak Cakra menanggapi
"Mas Darma kan sudah dewasa,, sebagai laki-laki tanggung jawab dia sangat besar. Apalagi dia adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Selain tanggung jawabnya kepada istrinya kelak, dia juga memiliki tanggung jawab terhadap aku, Niar juga Sari. Apaa,,, ga sebaiknya dia diajarkan hidup mandiri dari sekarang Yah??" Takut-takut ia mengeluarkan isi hatinya.
Pak Cakra tidak bisa melihat sorot dengki di mata anak perempuannya. Ia percaya anaknya memberi masukan yang benar. Itulah sebab nya pak Darma dilepas sendiri setelah lulus kuliah.
Pernah beberapa kali anak laki-lakinya meminta bantuan, namun pak Cakra hanya membantu seperlunya saja.
"Pak,,,, jangan selalu memenuhi apa maunya mas Darma,,, ingat dia laki-laki harus bisa berdiri di atas kaki sendiri." Selalu itu senjata andalan Dewi kala masih sendiri. Dan bodohnya pak Cakra percaya dan menurut saja dengan ucapan anak nya.
Pernah suatu hari, Tante Niar yang kala itu sedang memerlukan uang untuk kursus bahasa asing, meminta pada sang bapak. Namun jawaban yang diberikan sungguh membuat hatinya terluka.
"Maaf Niar,, bapak sedang tidak pegang uang,. Saat ini semua tanggung jawab rumah diurus oleh Dewi, dia yang pintar mengatur keuangan. Coba kamu tanyakan pada adik kamu itu."
"Gitu ya pak?? Dewi sekarang dimana? Boleh aku ngomong sama dia sekarang??"
__ADS_1
"Dewi sedang di kebun, ngawasin orang panen kelapa" sahut sang ayah
"Ya udah nanti aku coba hubungi Dewi. Bapak sehat kan??"
"Sehat Niar,, kamu tidak usah khawatir, Dewi dan Sari menjaga bapak dengan baik di rumah. Kamu fokus saja sama kuliah kamu ya,,,"
"Ya pak,,,, ya sudah Niar tutup dulu pak" Niar memutuskan sambungan telepon nya.
Banyak yang berkecamuk di dalam hatinya. Kenapa perlahan seakan semua berubah?? Otak cerdasnya mencoba menganalisa semua.
'Mas Darma di usir secara halus dari rumah, tanpa bantuan yang berarti. Aku juga dilepas begitu saja oleh ayah. Bahkan hanya untuk uang kursus harus minta sama Dewi? Sebegitu berpengaruhnya dua orang itu hingga ayah tunduk padanya. Bahkan ibu saja dulu tidak berani mengatur keuangan di rumah' Niar berbicara sendiri.
'aku hubungi mas Darma sajalah,,,.' Gumamnya lagi.
Kemudian ia menghubungi sang kakak
"Halo Niar,, ada apa??" Mas Darma berbicara di antara kebisingan suara mesin.
"Mas lagi di mana ini?? Berisik bangeeet??" Niar harus sedikit berteriak agar suaranya didengar sang kakak
Sementara Darma berjalan menjauh ke tempat yang lebih sepi.
"Sekarang udah ga bising lagi dek,,," Darma berkata lembut pada adiknya
"Kamu ada apa tumben telepon mas?" Lanjutnya lagi
"Mas,,, gimana keadaan di rumah??" Tanya Niar langsung pada tujuan.
Alis Darma berkerut, sebab merasa aneh dengan pertanyaan adiknya.
Ia balik bertanya
"Baik apanya mas?? Mas,,,, tadi Niar telepon bapak, Niar mau kursus bahasa asing mas. Tapi itu diluar kampus, jadi Niar harus bayar. Niar bilang sama bapak, minta tambahan uang. Kata bapak,, keuangan sekarang yang pegang si Dewi. Niar disuruh minta sama Dewi coba mas. Mas merasa aneh ga sih??"
Mendengar penuturan sang adik, Darma pun merasakan hal yang sama. Namun ia mencoba berpikir positif.
"Mungkin dia hanya membantu bapak dek,, kan bapak sibuk di kebun. Jadi biar bapak ga terlalu banyak beban pikiran, dia bantu meringankan dengan mengambil alih sebagian tanggung jawab itu." Terang Darma lagi.
"Iiissshh mas ini terlalu polos jadi orang. Sadar ga sih mas,, kita ini sengaja di jauhkan dari rumah dan dari bapak. Aku sih memang karena keputusan sendiri untuk ambil beasiswa ini. Nah mas Darma?? Emang mas sengaja keluar dari rumah? Paling juga itu hasutan si Dewi biar mas di usir dengan halus sama bapak." Niar menggunakan kata 'aku' tandanya dia sudah mulai kesal. Dan Darma menyadari itu.
Darma juga merasa bahwa dirinya sedang mendapat ketidak adilan, namun hatinya yang lembut serta kecerdasan berfikir nya membuat ia selalu melihat sesuatu dari dua sudut yang berbeda.
Mungkin benar ia 'terusir', namun berkat itu ia memiliki pengalaman baru dalam hidup. Bekerja dengan orang lain, menjadi buruh yang di perintah bukan yang memerintah, membuat nya menyadari bagaimana pentingnya menghargai orang lain.
"Kamu ga usah pikirkan itu dek,,, fokus sama sekolah kamu. Nanti kalau udah lulus, cari kerja yang bener. Yang di rumah biarkan saja lah. Toh bapak kan yang memutuskan untuk mempercayai Dewi, jadi biarkan saja. Lagipula kita bisa apa?? Kita tidak bisa mengontrol yang di rumah sementara kita ada jauh dari jangkauan. Ambil sisi baiknya. Anggap kita sedang menggaji pengasuh untuk bapak, sementara kita sedang berpetualang." Kata Darma sedikit bercanda
"Tapi mas,,,, aku tidak rela mereka menguasai semua yang menjadi hak kita.... Aku tau mereka saudara kita juga, tapi kalau begini caranya, bisa-bisa seluruh aset yang bapak sama ibuk punya, habis oleh mereka." Niar menangis akhirnya
"Hheeeyyy adiknya mas yang paling comel ini kenapa menangis?? Jangan begitu dek,,,. Harta itu titipan Tuhan, jangan rakus dengan harta. Kalau kita turuti,, hawa nafsu kita akan menang.
Ingat kita sudah menikmati semua fasilitas dari bapak sejak kita kecil. Sedangkan mereka baru menikmatinya beberapa tahun saja kan. Biarkanlah,,,, mereka juga anak-anaknya bapak bukan?"
__ADS_1
"Kita sudah diberi harta yang jaauuuuh lebih berharga dari yang terlihat dek,, kita diberi kasih sayang, perhatian, ajaran agama, tata Krama, kecerdasan, dan banyak harta lain nya yang mereka tidak dapat menemukannya. Bahkan mas yakin meski harta bapak jatuh seluruhnya ke tangan mereka pun, kita tidak akan kelaparan sebab bekal kita dari kecil sudah cukup untuk kita mengembangkan diri." Darma menasehati sang adik dengan lembut.
"Tapi mas,,,, aku ga siap dengan perubahan ini" Niar masih menangis di seberang telepon sana.
"Yang namanya kehilangan, kita memang tidak akan pernah siap dek,,, namun kita harus belajar ikhlas. Sudaaah jangan nangis lagi,, nanti cantiknya luntur. Mas masih harus kerja ini, nanti mas kirim uang untuk les kamu ya,,,,. Ga usah dipikirkan soal di rumah. Semua akan baik-baik aja."
"Ya mas Niar ga akan pikirkan itu. Makasiii ya mas,,." Obrolan mereka pun berakhir.
Namun Niar masih penasaran. Ia mencoba menghubungi Dewi, ingin melihat reaksi saudara tirinya itu bila ia meminta uang.
"Halo Niar,,, apa kabar??" Suara ceria dari seberang mengalun di telinga Niar.
"Aku baik Wik... Kamu apa kabar??"
"Aku juga baik,,,,. Tumben kamu hubungi aku, gak mungkin kangen kan??" Dewi masih dengan suara ramah nya.
"Kangen ya,,, trus aku juga mau minta tolong sama kamu. Bisa Wik??"
"Minta tolong apa?? Kalau aku bisa, pasti aku bantu"
"Aku butuh tambahan uang untuk les di luar kampus Wik, dirumah masih ada uang gak?? Kata bapak suruh minta nya ke kamu soalnya." Niar berkata dengan ragu
"Oohhh soal uang, pantesan kamu telepon aku. Biasanya ga pernah heeee" Suara bernada sindiran itu keluar dari mulut Dewi.
"Begini ya Niar,, bukannya aku ga mau ngasi uang sama kamu, tapi memang dana untuk kamu ga ada. Kemarin ada uang lebih hasil panen, trus Sari minta kursus salon ya aku biayain itu. Belum lagi beli perlengkapan nya. Mana semua mahal-mahal lagi, jadi terpaksa uang kontrakan juga aku pake untuk urusin si sari itu." Jawab Dewi
"Nanti deh aku coba sisihkan uang untuk kamu. Semoga bisa, bulan depan aku kirim ya...." Dewi memberi solusi.
"Ya sudah kalo begitu,, aku tutup dulu ya... Makasih Dewi, tolong jaga bapak di rumah ya" Niar menutup sambungan telepon.
Hatinya sakit, tapi ia berusaha menahan nya. Ingat dengan nasehat sang kakak, semua pasti baik-baik saja.
🌟🌟🌟
Hari-hari Niar dijalani dengan semestinya. Uang les sudah dikirimkan oleh Darma, sementara yang di janjikan Dewi tidak pernah muncul hingga ia lulus.
Bahkan hingga saat ini.
Aset milik orang tua mereka benar-benar dikuasai oleh kedua adik tirinya. Niar dan Darma berjuang sendiri, membangun hidup mereka sendiri, bantuan yang diberi sang bapak tidak lah begitu berarti dibanding kekayaan yang dimiliki.
Setelah lulus kuliah, Niar bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar di kota sebelah. Sengaja dia mencari tempat yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, agar sewaktu-waktu bisa pulang Melihat sang bapak. Namun tidak di satu kota juga agar punya alasan untuk bisa hidup sendiri. Ia malas bila setiap hari bertemu dengan dua saudara tirinya.
Hingga akhirnya ia menikah melangkahi sang kakak dan benar-benar lepas dari tanggung jawab keluarganya.
Begitupun Darma, ia berjuang sendiri, menikah dengan biaya sendiri. Berjuang memulai berbagai usaha berdua dengan sang istri. Gagal usaha satu mencoba yang lain. Begitu terus hingga kini kehidupannya sudah mulai stabil.
Jarang ia meminta pada pak Cakra, sebab sering kali dirinya kecewa.
Flashback off
"Lagi ngobrolin apa??" Tiba-tiba suara seorang wanita mengagetkan duo serigala yang sedang menyusun rencana untuk memisahkan Nandita dan sang kakek.
__ADS_1
"Kamu!!"
Kompak dua wanita itu menunjuk ke arah seorang gadis di depan nya