
Man-teman ... Maaf ya up nya molor jadi sore, ada pekerjaan di dunia nyata yang gak bisa ditunda-tunda.
Terimakasih yang sudah setia hingga di bab ini.
Jangan lupa
vote
komen
like
dan gift
Sehat-sehat kesayangan GunTha 😘😘😘
^_________^^_________^^_________^
Suasana kacau terlihat dari jauh. Tangis Tante Sari yang meraung, menarik perhatian Gunadh, Nandita, serta bunda Santi.
Bersyukur Tasya menempati ruang VIP, sehingga tidak banyak orang berlalu lalang di sana. Bila tidak, mungkin akan ada berita viral lagi di dunia Maya, tentang keluarga Nandita.
Bunda Santi bergegas, mendekati adik iparnya.
"Sari, kenapa ini?" Tanya bunda Santi sembari meraih tubuh iparnya yang terduduk di lantai.
Melihat sang kakak ipar dan keponakannya, Tante Sari bangkit lalu mendekati Nandita, melewati tubuh sang ipar yang tadi membantunya berdiri.
Nandita dan Gunadh, berdiri agak jauh dari sang bunda.
"Maafkan Tasya nak, maafkan semua kesalahannya." Tangis pilu Tante Sari yang kini bersimpuh di hadapan Nandita.
Gadis itu terkejut, refleks memundurkan tubuhnya. Ia tidak mampu menjawab apapun ucapan sang Tante.
"Apa dosaku mba ... Kenapa keluargaku jadi begini?" Masih dengan tangis pilu, Tante Sari mengungkapkan isi hatinya.
"Tenang dulu Sari, sabaar ... Ta, ambilkan air." Titah sang bunda.
Wanita itu kembali mengangkat tubuh iparnya dan memapahnya, agar duduk di sofa.
Nandita segera mengambilkan air yang ditata di atas meja.
__ADS_1
"Tante, minum dulu." Nandita menyodorkan air mineral kemasan gelas tersebut.
Belum selesai dengan tangis Tante Sari, terdengar suara jeritan dari dalam ruang rawat Tasya membuat Nandita seketika berlari diikuti yg lain.
Di dalam, terlihat Tasya tengah memegang pipinya. Gadis itu tengah duduk tertunduk di ranjang pasien, dengan jarum infus terpasang di tangan kirinya.
Sementara Tante Dewi tengah menatap bengis sang keponakan.
"Katakan siapa ayah anak haram itu! Kenapa kamu seliar ini Tasya?" Teriak Tante Dewi, membuat tubuh Nandita, Gunadh dan bunda Santi membeku.
Tasya menggeleng, membuat Tante Dewi kembali hendak melayangkan tamparan pada sang keponakan. Tubuh Tasya mengkerut, takut dengan kemarahan sang Tante.
"Cukup Tante." Tegas Nandita. Memisah jarak keduanya, Nandita berdiri di depan bed Tasya.
Gadis itu memegang dengan kuat tangan Tante Dewi yang siap melayangkan tamparan ke dua ke arah keponakannya.
"Jawab! Dengan siapa kamu tidur hingga bisa sampai begini?!" Masih mencoba melepaskan genggaman tangan Nandita.
Wanita paruh baya itu berontak, ingin meraih tubuh keponakannya.
"A-ku nggak ta-hu Tante ..." Tasya dengan isaknya menjawab pertanyaan sang Tante.
"Kamu lebih murah dari *** ***! Kamu tahu? Bisa-bisanya kamu mempermalukan keluarga seperti ini!" Tante Sari hendak menerjang sang keponakan kembali, namun segera di cegah oleh Nandita. Gadis itu kini memegang bahu Tante Dewi, mendorong tubuh wanita yang lebih tua darinya itu.
"Tante! Apa yang Tante lakukan?" Nandita menyentak Tante Dewi.
"Kamu jangan ikut campur!" Kini tatapan nyalang wanita itu beralih ke arah Nandita.
Nandita menarik nafas dalam. Tarikan di ujung baju belakangnya, menyadarkan gadis itu kalau Tasya tengah ketakutan.
"Gak gini caranya menyelesaikan masalah Tan ... Jangan membuat keadaan Tasya semakin buruk." Nandita bicara setenang mungkin, mencoba memberi pengertian pada Tante Dewi yang tengah emosi.
Tangan Tante Dewi ditarik oleh bunda Santi. Awalnya sang tante menolak, namun melihat tatapan bunda Santi yang lebih menakutkan dari dirinya, membuat Tante Dewi menurut.
Bunda Santi membawa adik iparnya keluar ruangan. Memberi ruang untuk Tasya menenangkan diri ditemani Nandita juga Gunadh.
Setelah kepergian Tante dan bundanya. Nandita duduk di kursi plastik samping bed Tasya.
"Sya ---" belum selesai Nandita menyelesaikan kalimatnya, Tasya yang semula sudah tenang kini memangis kembali.
Niat Nandita yang ingin menanyakan apa yang menjadi pertanyaan keluarganya, kini justru sibuk menenangkan kembali sepupunya tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku Ta, aku salah sama kamu. Aku udah jahat banget sama kamu ... Huuuu, aku menerima karma dengan begitu cepat." Tangis pilu Tasya. Dengan kedua tangan mengatup di depan, memohon ampunan pada Nandita.
"Sya, udah ... Tenangkan dulu diri kamu."
Nandita mengelus lembut bahu sepupunya itu.
"Ta ... Aku takut ... Gimana aku harus menjalani hidup ke depannya?" Tasya menatap sayu pada Nandita.
"Kalau kamu gak cerita kebenarannya, gimana aku bisa bantu kamu Sya?" Nandita mendesak, sebab ada sesuatu yang ia rasa mengganjal. Kenapa Tante Sari dan Tasya kompak meminta maaf padanya?
"A-ku yang u-dah pi-sahin ka-mu sa-ma mas Gunadh, ---" Dengan terbata Tasya menceritakan apa yang sudah ia lakukan bersama Safira. Bahkan gadis itu juga mengaku, kalau ia sengaja memberi alamat sang kakek, agar membuat keadaan semakin kacau. Membuat kakek semakin marah padanya.
"Dan saat itu, saat kamu datang menemui kakek terakhir kali, aku menelepon Safira, kami berjanji untuk ketemuan esok harinya. Dan saat kami bertemu, ia membujukku untuk ikut berpesta malamnya. Rupanya, pesta itu ia jadikan ajang untuk menghancurkan ku. Ia menjebak ku Ta ..." Kembali air mata Tasya mengalir di pipinya.
" Padahal aku gak minum alkohol, tapi aku gak tahu, tiba-tiba tubuhku terasa panas dan sensitif. Teman Safira mengajakku ke sebuah kamar, katanya ia ingin membantuku. Tapi rupanya ... Di-a me-rengg-ut ke-sucianku huuuu." Isak Tasya, mer emas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Tangis penyesalan yang tidak akan mengembalikkan keadaan seperti sebelumnya. Tangis ketidak berdayaan yang kini menghasilkan buah, yang tak diharapkan gadis itu.
"Sya ... Kenapa kamu harus dibutakan oleh rasa benci padaku? Apa yang ada di kepala kamu sebenarnya? Kalau sudah begini, apa kebencianmu bisa memberi kamu solusi?" Nandita marah, bukan karena ia dirugikan oleh Tasya, tapi karena kebodohan gadis itu yang begitu ceroboh, hingga kini harus menanggung semua.
Menjadi korban pemerkosaan, adalah hal menakutkan bagi setiap wanita. Dan Tasya mengalami itu karena kebodohannya.
"Jadi ini maksud kamu, kamu sudah mendapat karma buruk karena perbuatanmu pada Nandita?" Sela Gunadh yang sedari tadi hanya menyimak drama keluarga di depannya.
Tasya mengangguk.
"Kejam sekali wanita itu." Desis Gunadh.
"Itu sebabnya aku bilang, jauhkan Mira dari ibunya. Dia itu iblis berwujud Dewi. Dia gak akan segan mengorbankan siapapun demi ambisinya terwujud. Bahkan Mira sudah menolak untuk ikut menemui kakek. Tapi entah bagaimana, setelah beberapa hari, gadis itu akhirnya mau ikut kemari." Jelas Tasya.
Nandita menyadari kalau Tasya menyesal dengan perbuatannya.
Kenapa harus ada musibah, baru manusia mau berubah? Kenapa harus ada air mata, baru manusia belajar dewasa?
"Jadi Mira dipaksa oleh mommynya?" Tegas Gunadh.
"Setahu aku, Mira awalnya menolak. Namun akhirnya dia mau. Aku gak tahu seperti apa pastinya." Tasya
"Sudah, kamu gak usah banyak pikiran sekarang ya ... Jaga kesehatan, jangan melakukan hal bodoh lagi. Apa kamu gak kasihan pada dia?" Nandita menunjuk perut Tasya yang masih rata.
Tasya reflek mengelus perutnya dengan tangan yang bebas dari infus.
__ADS_1
Hati Nandita tersentuh. Seperti apapun keadaan Tasya, tanpa disadari gadis itu, naluri ibu yang melindungi anaknya sudah muncul pada dirinya.