
"Terimakasih." Dengan wajah lelah yang tidak dapat disembunyikan, Gunadh menatap sang asisten dan menerima kopi pemberian pria tampan itu.
"Sama-sama tuan." Arya menyahut, dan kemudian duduk di samping Gunadh.
Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesungguhnya Arya merasa iba pada tuannya. Pria di sampingnya ini hanya memiliki Mira dalam hidupnya. Dan kini ia harus dihadapkan pada kondisi dimana ia bisa kehilangan satu-satunya keluarga yang dimiliki.
Arya takut membayangkan, bila Mira berhasil melakukan aksinya, akan seperti apa Gunadh akhirnya?
Sementara Gunadh, pikiran laki-laki itu berkelana jauh.
Ulasan memori ketika Mira baru lahir hingga saat ini menari silih berganti.
Gadis kecilnya kini tidak baik-baik saja. Ada luka yang tak dapat ia raba, yang kini menyakiti gadis itu dengan teramat sangat. Hingga berpikir mengakhiri hidup adalah jalan terbaik yang dapat ia lakukan.
Tidakkah Mira menyayanginya? Tidakkah Mira memikirkannya? Kenapa semudah itu gadis kecilnya memutuskan langkah besar dalam hidupnya?
Bunuh diri
Dua kata yang bahkan tak pernah Gunadh sangka akan dipilih oleh Mira.
"Tuan," Suara seorang wanita paruh baya menyadarkan lamunan keduanya. Gunadh dan Arya kompak menoleh ke sumber suara.
"Ini ... Bibik bawain baju ganti sama makan malam untuk tuan" Bi Asih ragu-ragu mendekat ke arah Gunadh.
Wanita paruh baya itu merasa bersalah, sebab ia memberi ijin pada nona kecilnya untuk keluar tanpa sopir.
"Terimakasih bik ... Letakkan saja di sini." Gunadh menunjuk kursi sisi kirinya, sebab di samping kanannya, ada Arya.
Bi Asih berjalan pelan. Meletakkan barang bawaannya dengan hati-hati.
Kemudian tanpa di sangka wanita itu berlutut di hadapan Gunadh sembari menangis tersedu.
Air mata yang coba ditahannya sejak dari rumah, kini menganak sungai tanpa bisa dikendalikan.
__ADS_1
"Maaf tuan, ini kesalahan bibik ... Bibik yang sudah kasih ijin ke non Mira untuk keluar tanpa ditemani sopir." Ucapnya sambil membungkukkan tubuh dengan posisi masih berlutut.
Gunadh tentu sangat terkejut. Diraihnya tubuh wanita tua itu dengan lembut. Namun bik Asih seakan enggan berdiri.
"Semua sudah terjadi bik. Kita doakan saja agar Mira segera pulih." Ucap Gunadh.
Bik Asih bangkit dengan dibantu Gunadh. Wanita itu sadar, Gunadh belum memaafkannya. Namun dirinya merasa lega, sebab Gunadh masih mau bicara padanya.
"Tuan, sebaiknya tuan membersihkan diri terlebih dahulu. Agar nanti bisa menemani non Mira dengan nyaman."
Ucap Arya, setelah lama dalam keheningan.
"Iya tuan, bibik juga sudah buatkan makan malam untuk tuan dan pak Arya." Bi Asih mendekatkan bag yang berisi makanan, ke arah pakaian Gunadh.
"Saya nggak lapar Bik." Sahut Gunadh. Menatap pintu kamar operasi dengan tatapan kosong.
"Tuan, tuan harus sehat untuk bisa menjaga non kecil ... Kalau tuan tidak makan, lalu ikut sakit, siapa yang akan menjaga putri tuan?"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Bu Asih menundukkan kepala. Takut melihat tatapan majikannya yang begitu tajam ke arahnya.
Baru saja ia lega karena Gunadh tidak murka terhadap kelalaian dirinya, tapi kini ia membuat kesalahan lagi. Pikirnya.
"Terimakasih bik ... Saya ke ruangan Mira dulu." Ucap pria itu
Ya, Gunadh sudah memesan kamar perawatan untuk putrinya. Sehingga ia bisa membersihkan diri di ruangan itu.
🌟🌟🌟
Satu Minggu sudah Mira dirawat di rumah sakit. Kondisinya semakin membaik, meski masih dalam pengawasan psikolog anak.
Atas saran dokter, Gunadh yang kesulitan menenangkan dan berkomunikasi dengan putrinya akhirnya meminta seorang psikolog untuk anaknya.
Menurut penjelasan sang ahli, Mira mengalami shock dan trauma. Serta tekanan yang selama ini gadis itu alami, membuat gadis itu putus asa.
Namun Namira masih belum bisa mengungkap alasan dirinya melakukan aksi bunuh diri. Setiap kali dibahas soal apartemen Safira gadis itu akan mengalami mual hebat hingga muntah.
__ADS_1
Gunadh masih mencari tahu apa yang terjadi di tempat tinggal mantan istrinya itu.
"Sudah kamu dapatkan fakta yang terjadi di sana?" Tanya Gunadh pada Arya.
Saat ini ia sedang berada di luar, di sebuah restaurant Jepang untuk bertemu klien.
"Yang terjadi di dalam, saya belum tahu tuan. Orang-orang kita masih mencari dua pria yang di duga masih berada di dalam apartemen Safira ketika non Mira tiba di sana."
Alis Gunadh berkerut bertanda ia belum paham dengan apa yang diucapkan sang asisten.
"Sebelum non Mira, Safira sudah terlebih dahulu kedatangan dua teman prianya. Dua orang ini belum keluar saat non Mira masuk ke apartemen. Itu semua terekam di cctv sehingga kita bisa dengan mudah mengetahuinya. Hanya saja, untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam, kita harus menemukan salah satu atau kedua pria ini. Dan itu sedang dilakukan oleh orang-orang kita."
Gunadh menyimak dengan baik penjelasan Arya. Lama ia berpikir, hingga akhirnya ia teringat dengan Anton.
Ia berniat meminta tolong pria itu, untuk membantu mencari tahu siapa dua orang pria itu.
Gunadh yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres di apartemen Safira, hingga membuat Mira sampai trauma seperti saat ini.
^_________^^_________^^_________^
Makasih yang masih setia 😘😘😘
big hug untuk kalian dari GunTha.
oh ya temenku punya kisah tentang seorang gadis yang diminta untuk dijadikan mesin pembuat anak sama majikannya. kira-kira dia marah nggak ya? atau malah mau?
yuk intip
***
Cinta tak bisa di paksa dimana dia akan berlabuh. Seperti yang di rasakan gadis manis yang terkadang ikut bekerja bersama Ibunya di rumah besar keluarga terpandang.
Hingga suatu hari majikan dari Ibunya datang menemuinya dan mengatakan hal yang membuatnya terkejut.
"Menikahlah denganku dan lahirkan anak untukku"
__ADS_1
Sepenggal kalimat yang membuat hidup Ayra tidak sama lagi sejak hari itu.