
Di sebuah restauran cepat saji yang menyediakan ayam goreng crispy.
Candra, Satya, Kiara, dan Dinda duduk saling berhadapan.
Tadi setelah aksi berebut tas, Satya memutuskan mengajak Candra dan adiknya untuk berbincang sebentar. Ia merasa tidak enak karena Dinda sudah berlaku tidak sopan.
Walaupun akhirnya mereka mendapatkan tas yang sama meski berbeda warna. Dinda warna hitam, sedangkan Kiara mengalah dan memilih tas berwarna dark brown.
" kamu apa kabar Sat?"
"kamu apa kabar Can?"
Mereka berucap bersamaan
"aku baik,," kembali mereka kompak menjawab
Hal itu membuat Kiara dan Dinda saling menatap dengan senyum misterius. Dua orang yang tadinya seperti tikus dan kucing entah mengapa mendadak menjadi kompak dengan seringai khas anak kecil.
Sementara Satya dan Candra tersenyum canggung. Karena mereka menyadari tatapan dua pasang mata melihat mereka dengan berbeda.
"Gimana keadaan kaki kamu,,? Udah bisa beraktifitas seperti biasa kan?" Satya mencoba menormalkan suaranya.
"Udah sembuh kok, cuman ya gitu aku ga bisa latihan silat seperti dulu. Takut juga kalau nanti kejadian lagi kaya dulu."
"Terus kuliahnya gimana?"
"Aku masih ambil cuti untuk setahun ke depan, biar sante dulu"
"Lho lama dong lulusnya, ga bisa barengan sama Nandita dong ya,,. Eeeh sorry Can, aku kelepasan" Satya merasa tidak enak karena membahas soal Nandita di depan Candra.
"Ga apa lagi Sat,, Dita juga kan teman kita. Aku juga seneng kalau dia lulus dengan cepat. Oya trus kamu sama dia gimana??"
Alis Satya berkerut melihat sikap Candra yang seolah bukan Candra yang dulu.
Kini ia melihat Candra lebih ceria, lebih banyak bicara, dan itu membuat Satya bertanya-tanya di dalam hati.
'ada apa dengan Candra?'
Namun ia juga melihat ketulusan di mata Candra. Satya tidak mau berprasangka. Lebih baik pelan-pelan ia mencari tahu tentang candra.
"Gimana apanya? Orang aku sama dia ga ada apa-apa kok" Jawab Satya
"Kak Satya ditolak kak" Dinda ikut bicara, membuat Satya kesal.
TAK
"Aauuch,,, kakak ni kenapa aku dipukul?" Dinda kesal, sambil mengusap keningnya yang mengalami kekerasan.
"Ga bisa diem kamu,,." Satya mengeram kesal.
Suasana mendadak canggung. Tidak ada satupun yang bicara.
"Aduduuuuh aku kebelet lagi,,,," Dinda kembali bersuara.
__ADS_1
"Issh kamu tuh dek,, kelihatan banget borosnya. Baru diisi udah dikeluarin lagi, ga bisa apa tahan gitu sebentar biar diproses dulu"
"Yeee emang aku bisa atur perut aku gimana? Aneh deh kakak ni, masa orang kebelet diomelin. Itu tandanya pencernaan aku lancar,, lagian yang mau keluar sekarang kan bukan yang dimakan barusan"
Dinda malah tambah nyolot. Dia tidak malu membicarakan soal pertoiletan di depan umum.
Satya malu sendiri jadinya. Percakapan yang unfaedah sekali, dan disaksikan oleh orang lain. Sungguh luar biasa
"Ya udah sana,,, buruan. Nanti malah keluar di sini lagi" Kesal sekali Satya pada kelakuan adiknya itu.
Dinda pun berlalu menuju toilet di dalam restauran tersebut.
"Tunggu dek,,,, kita barengan" Candra pun beranjak.
"Kakak juga kebelet" Mata Kiara melotot melihat sang kakak
"Ya mau pipis " Jawabnya singkat kemudian berlalu
Akhirnya hanya Satya dan Kiara yang duduk di kursi tempat makanan dihidangkan
"Mmm kak,,, makasiii ya kak Satya masih mau berteman dengan kakak ku" Kiara membuka suara setelah beberapa lama mereka hanya diam dalam kecanggungan.
"Kenapa aku harus musuhi dia?" Satya tidak mengerti. Meski memang awalnya, ia merasa kesal dan enggan bertemu Candra lagi.
"Ya kan kak Andra udah bikin masalah sama kak Dita,, sedangkan kak Satya suka sama kak Dita. Memangnya kak Satya ga marah atas perlakuan kakak ku terhadap orang yang kak Satya cinta?"
"Kalau boleh jujur ada sih rasa itu. Bukan marah atau benci, tapi lebih ke rasa kecewa aja. Gak nyangka gitu,, pertemanan yang udah berjalan lama jadi hancur karena perbuatan Candra"
"Sebenarnya selama ini kak Andra gak baik-baik aja kak. Dia mengalami depresi dan harus didampingi psikolog untuk mengobati masalah mentalnya" Kiara menundukkan kepala saat bercerita. Masih merasa sedih bila mengingat apa yang terjadi pada kakak kesayangannya itu.
"Haaaa kok bisa?!" Tentu saja Satya terkejut dengan berita itu
"Ya kak,, kak Candra mengalami depresi, yang membuat perubahan suasana hati serta sikapnya berubah ubah, dan kadang ga terkendali. Beberapa kali kak Andra mengamuk, bahkan saat kejadian di rumah sakit, sebenarnya dia sengaja menabrakkan mobilnya ke pohon besar itu."
Dan mengalirlah semua cerita tentang keadaan Candra yang Satya tidak ketahui.
Sedih? Tentu saja. Sebagai teman ternyata ia tidak sebaik itu mengenal sosok Candra.
Dan ada rasa iba juga yang muncul, saat tau bahwa begitu banyak tekanan dalam hidup Candra hingga membuat ia menyerah lalu depresi.
"Lalu apa sekarang ia masih sering mengamuk dan masih didampingi psikolog?"
"sekarang udah ga kak.... Satu setengah bulan ini ia cukup banyak kemajuan. Apalagi mama udah ga kerja dan fokus pada kami anak-anaknya. Papa juga lebih sering ada di rumah kalau akhir pekan. Jadi suasana hatinya bagus. Soalnya kata psikolog, kak Andra itu merasa kurang diperhatikan. Merasa ga ada yang sayang dan ga ada yang peduli sama dia. Itu sebabnya dia merasa iri sama kak Dita, karena kak Dita dianggap memiliki segala yang ia ga punya. Cuman dia masih suka diem, bengong sendiri kaya punya beban yang ga bisa diungkapkan. Kalo aku nanya, dia pasti jawabnya ga ada apa-apa. Mungkin ia belum nyaman cerita sama aku ato mama papa, dia lebih nyaman cerita sama psikolog. Tapi kata psikolog, ia harus perlahan dilepas, biar bisa belajar ngendaliin emosi dan bisa terbuka sama kami. Biar ga ketergantungan sama psikolog terus" Jelas Kiara panjang lebar
Baru saja Satya hendak bertanya lebih jauh, suara tawa Candra dan Dinda menghentikan niat hatinya.
"Kalian pada kenapa sih? Muka pada tegang begitu?" Candra menatap Satya dan Kiara bergantian.
"Ga ada kok kak, biasa aja. Kak Satya cuman nanyain sekolah aku aja,,,. Udah yok udah pada selesai kan makannya" Kiara memutuskan segera beranjak.
Karena hari sudah sore, Satya pun mengajak Dinda untuk segera pulang.
"Sampe ketemu lagi nanti yaaaaa,,,, seneng deh ketemu kak Andra, tapi ga suka ketemu kak Ara" suara cempreng Dinda kembali membuat Kiara kesal.
__ADS_1
"Eeeehh merica bubuk,,, badan kecil, suara cempreng, pedes lagi, emang kamu pikir aku suka ketemu kamu? Sorry ya mimpi anda ketinggian" Julid Kiara kumat, karena kesal.
"Lagian nama aku Kiara dipanggilnya Kia bukan Ara, ga usah ganti-ganti nama orang deh" Ia bersungut tak suka
"Aduuuh kepala kakak pusing,, udah dek pulang aja yuk...." Candra menarik tangan Kiara membawanya masuk ke kursi kemudi. Lho kak..... Ia tak paham maksud sang kakak.
"Kamu yang nyetir, kakak cape. Tenaga kamu kan masih banyak tuh, daripada dipake berantem mending dipake nyetir"
Sahut Candra, sambil mengatur kursi samping kemudi, agar ia nyaman tidur.
Di sisi lain hal yang sama juga terjadi. Satya memarahi sang adik karena sudah membuat ulah di depan umum.
"Tau gini kakak ga mau temenin kamu tadi. Udahlah belanjanya banyak banget, pake acara berantem lagi,,,." Satya melirik belanjaan sang adik. Dinda hanya diam saja. Baginya tidak masalah kakaknya marah, yang penting ditraktir belanja oleh sang kakak.
🌟🌟🌟
Hubungan Satya dan Candra semakin dekat. Satya juga menjadi teman curhat yang nyaman bagi Candra.
Mereka sering pergi berdua, atau kalau pas libur Dinda dan Kiara juga akan ikut.
Candra juga sering menemaninya latihan pencak silat. Karena kesibukannya yang mulai padat, Satya sudah tidak pernah lagi ikut kejuaraan.
Namun kini ya lebih sering mendampingi pak Wahyu melatih anak-anak yang masih berusia remaja.
Selain itu ia juga baru merintis usaha kecil-kecilan di bidang konveksi.
Ia dan sang ibu lebih tepatnya. Karena disain dan pengerjaannya dilakukan oleh ibunya dan beberapa pekerja yang lain. Sedangkan ia bertugas mencari bahan dan pemasaran.
"Kamu jadi mau nemuin Dita? Mau aku temenin gak??" Satya menanyakan kembali niat Candra yang pernah diutarakannya tempo hari.
"Rencananya sih gitu,, cuman belom tau kapan. Aku juga masih belom benar-benar siap ketemu dia"
"Kalau dipikirin terus ya ga bakal bisa siap. Coba kalau kamu jalan,, temuin dia trus obrolin niat kamu apa. Pasti dengan senang hati dia maafin kamu" Tidak pernah lelah, Satya memberi semangat gadis itu.
"Nanti deh nunggu momen yang pas dulu" Kata Candra lagi.
"Oke.... Kalau kamu butuh teman aku siap kok"
"Ciiieeeee yang katanya udah ga berharap" Goda Candra. Meski hatinya masih merasa sedih, tapi sebisa mungkin ia belajar ikhlas.
"Apaan sih kamu,, ga jelas" Satya melempar kulit kacang ke wajah Candra, dan dibalas tawa lebar oleh gadis itu.
"canda doang..... Elah,,, suka baperan deh kamu,,,,. Nanti ga aku ajak ketemu Dita lho...." Candra masih saja menggodanya.
"Terus dah ledekin aku,,,,, aku pergi ini"
"Ya jangan gitu dong.... Kan aku cuman becanda" Wajah Candra berubah suram.
Tidak bisa dipungkiri rasa cinta pada Satya masih ada. Namun ia bisa menyembunyikan semua itu dengan baik. Sebab kini ia memiliki orang-orang di sekitar yang perduli padanya. Ia tidak mau membuat mereka sedih atau khawatir lagi.
Dan saat wisudanya Nandita menjadi momen yang tepat untuk Candra memulai semua dari awal lagi. Jika permintaan maafnya diterima, ia ingin momen ini menjadi awal hubungan baiknya bersama Nandita.
Flashback off
__ADS_1