Nanditha

Nanditha
LDR SEMENTARA


__ADS_3

Hari pertama di kota yang dijuluki the city of love, Nandita dan Candra sudah bersiap sejak pagi. Sebab tidak ingin membuat orang kepercayaan Louis menunggu mereka lebih lama.


Pukul 06.30 mereka berdua sudah turun menuju restaurant hotel dimana Ahmed berjanji untuk datang setengah jam berikutnya.


"Mewah banget tempatnya ya Ta." Komentar Candra.


"Mhm," jawab Nandita dengan mata masih berkeliling melihat tiap sudut yang mereka lalui.


Kemarin ketika baru tiba, Nandita dan Candra tidak terlalu fokus dengan sekitar, sebab rasa lelah yang menyerang.


Louis memilihkan The Peninsula Paris sebagai tempat menginap pertama ketika mereka baru tiba di kota romantis tersebut.


Terletak ideal di tengah kota, hotel bintang 5 ini merupakan penginapan yang tepat selama berada di Paris. Di hotel ini tersedia sauna, kolam renang dalam ruangan dan jacuzzi.


Hotel The Peninsula Paris juga memiliki gym dan kolam renang. Staf multi bahasa yang memudahkan membantu urusan reservasi atau merekomendasikan tempat makan, serta sarana check-in/check-out ekspres disediakan untuk menambah kenyamanan para tamu.


"Selamat pagi nona" suara Ahmed mengejutkan mereka yang sejak tadi mengagumi keindahan yang tersaji, hingga mereka tidak sadar ada yang sudah menunggu mereka di depan sana.


"Eh ya Ahmed. Selamat pagi." Ucap Nandita dengan kedua tangan dicakupkan di depan dada.


"Silahkan nona." Ucap pria asal Turki itu lagi.


Bertugas sebagai tuan rumah yang memandu liburan dua wanita Indonesia itu, Ahmed yang kaku berusaha untuk bersikap lebih ramah lagi.


Mereka kemudian berjalan beriringan menuju restaurant yang ada di dalam hotel tersebut.


"Apa saja yang kalian ingin kunjungi hari ini?" Tanya Ahmed ketika melihat dua wanita Indonesia itu sudah selesai sarapan.


"Yang dekat-dekat sini aja dulu." Ucap Nandita yang diangguki oleh Candra.


Meski tidak selelah kemarin, namun mereka rasanya belum sanggup melakukan perjalanan ke tempat yang jauh untuk saat ini.


"Baiklah, saya akan mengajak kalian berkeliling sambil berjalan kaki saja. Bagaimana?" Ahmed menanyakan pendapatnya.


"Gimana Ta? Aku sih ok ok aja."


"Boleh deh, biar dapat gerak juga."


Akhirnya mereka sepakat hanya berkeliling di sekitar hotel dengan berjalan kaki.


Hotel The Peninsula Paris berada dekat dengan tempat terkenal di Paris. Yakni Avenue Victor-Hugo, Place Charles de Gaulle dan Arc De Triomphe dapat dicapai dengan 10 menit berjalan kaki. Theatre des Champs-Elysees, Musee d'Art Moderne de la Ville de Paris dan Seine terletak sekitar 20 menit dengan berjalan kaki.


Ahmed dengan sabar menjelaskan nama dan hal-hal menarik tiap tempat yang mereka datangi.

__ADS_1


"Arc De Triomphe adalah salah satu monumen paling terkenal di Paris, Prancis. Berdiri di ujung barat Champs-Élysées di pusat Place Charles de Gaulle.


Sebelumnya monumen ini bernama Place de l'Étoile. Etoile atau "bintang" dari persimpangan yang dibentuk oleh dua belas jalan yang memancar membentuk sebuah bintang. Arc de Triomphe ini dibangun untuk menghormati mereka yang berjuang dan mati untuk Prancis dalam Revolusi Prancis dan Perang Napoleon. Semua nama pahlawan kemenangan dan jenderal Prancis tertulis di monumen ini. Dan di dalamnya terdapat Makam Prajurit dari Perang Dunia I." Terang Ahmed begitu mereka berdada di depan sebuah bangunan kokoh yang penuh sejarah tersebut.


Nandita dan Candra mengangguk paham. Meskipun bukan termasuk orang-orang yang mencintai sejarah dunia, namun mereka cukup kagum dengan bangunan-bangunan yang di lalui serta sejarah yang terkandung di dalamnya.


Hal yang paling menyenangkan bagi dua gadis ini adalah ketika Ahmed menawarkan mereka mengelilingi sungai Seine yang membelah kota Paris.


"Pengen deh Ta suatu saat nanti ajak Satya kesini." Ucap Candra ketika kapal mulai menyusuri sungai tersebut.


"Ajak aja ke sini pas kalian bulan madu."


Candra cemberut.


"Aku gak enak sama ibunya, kesannya kaya maksain banget gak sih kalau nanti aku ajak dia ke sini?"


Nandita menoleh dengan alis berkerut.


"Memangnya kenapa? Satya kan punya penghasilan sendiri. Usaha konveksinya juga kan semakin maju sekarang?"


"Ya sih ... Tapi selama ini kan mereka hidup biasa-biasa aja Ta. Bukannya aku bermaksud merendahkan atau gimana, tapi selama ini ibunya Satya kan memang hidup sederhana meskipun asetnya udah banyak. Terus kalau aku tiba-tiba ajak Satya ke sini apa gak akan mikir macem-macem mertuaku nanti? Dikiranya aku habis-habiskan uang suami aja nanti."


"Ya kan diobrolin dulu Ndra. Siapa tahu nanti ibunya Satya malah dukung kamu."


"Ya demi kelancaran proses cucu mungkin?" Goda Nandita dengan alis naik turun


Candra yang digoda sahabatnya pun menjadi salah tingkah.


"Apaan sih Ta, gak mungkin lah."


"Yee siapa tahu kan. Kita gak akan pernah tahu isi hati seseorang Ndra. Ya semoga aja ibunya Satya bukan tipe orang tua kolot yang mendewakan uang, ya kan. Sebab cara membahagiakan diri setiap orang itu beda-beda. Ada yang bahagia ketika bisa membeli banyak aset meskipun kehidupan yang dijalani biasa saja. Ada juga yang suka judi, yang kalah ratusan juta sekali main. Ada yang suka belanja, ada yang suka makan. Nah kebetulan kaya kita ini suka traveling. Jadi duit kita habis untuk hal begini." Terang Nandita.


"Ya kalau dia paham, nah kalau gak?"


"Kamu ih, gak boleh berprasangka buruk. Coba aja dulu kan? Liat reaksinya nanti kaya gimana. Kalau kamu rasa akan sulit, jelaskan jika perjalanan ini kamu yang tanggung. Murni pakai duit kamu sendiri."


Lama Candra terdiam mencerna ucapan Nandita.


"Ya juga sih. Meski Satya gak kasih duit, aku sanggup kok pake duit sendiri."


"Nah gitu donk ..."


🌟🌟🌟

__ADS_1


Hari pertama berada di Paris, mereka begitu menikmatinya. Lelah berkeliling mereka kembali ke hotel. Rencananya sore nanti Ahmed akan mengajak mereka berpindah ke hotel yang lebih dekat dengan objek wisata yang akan dikunjungi selanjutnya.


Tidak lupa, setelah kembali ke kamar hotel, Nandita dan Candra memberi laporan pada kekasih masing-masing lewat sambungan video.


Nandita duduk di sofa, sementara Candra rebahan di atas kasur dengan ponsel masing-masing.


Sementara itu di Indonesia, Gunadh yang mendapat telepon dari sang kekasih merasa senang.


"Gimana? Udah dapat ke mana aja sayang?"


"Baru dekat-dekat sini aja mas. Tadi sempat naik kapal gitu ngelewatin sungai, liat pemandangan kota."


Gunadh tersenyum.


"Terus mau kemana lagi?" Tanyanya sambil sesekali melirik berkas yang dipegangnya.


Perbedaan waktu yang cukup jauh. Ketika di Paris sudah pukul 16.00 itu artinya di Indonesia sudah pukul 22.00 namun Gunadh masih bekerja.


"Mas lembur?" Tanpa menjawab pertanyaan Gunadh, Nandita malah balik bertanya begitu sadar akan kesibukan laki-laki itu.


"Eh iya ini nyelesaiin lagi dikit." Ucapnya jujur.


"Maas udah malam lho ini. Jangan dipaksain. Udah makan belum?" Nandita merasa khawatir.


"Ya mas gak maksain kok. Tadi udah dibuatkan ayam saus mentega sama bi Asih."


"Ya udah, aku mau mandi dulu ya mas. Ingat jaga kesehatan."


"Ya sayang. Kamu juga ya."


"Ya mas. Daa"


"Daa sayang."


Panggilan jarak jauh terputus. Gunadh menarik nafas agak dalam. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Kenapa akhir-akhir ini Nandita tidak pernah menanyakan kabar sang putri? Seolah tidak lagi perduli pada gadis yang dulu ia sangat sayangi.


Lama Gunadh termenung, hingga tanpa sadar ponsel yang ia pegang dengan kedua tangan di bawah dagu terjatuh ke pangkuannya.


Gunadh terkejut, dan baru sadar dari lamunannya.


Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengabaikan rasa aneh yang tadi menghampiri benaknya.

__ADS_1


__ADS_2