Nanditha

Nanditha
MERAJUK MANJA


__ADS_3

Gunadh berlutut di hadapan Nandita. Meraih tangan yang sejak tadi bertumpu dipangkuan wanita itu.


"Mas ...." Kepala Nandita terangkat, menatap sosok di depannya, dengan bingung.


"Jangan tutupi apapun dari mas. Mas nggak suka kamu selalu memendam masalah kamu sendiri. Sebentar lagi kita akan hidup bersama, jangan sampai kebiasaan ini, membuat kamu tersiksa, berada di samping mas." Ucap Gunadh lembut, menatap manik mata kekasihnya.


Nandita masih membisu. Ia tengah merangkai kata di dalam kepalanya. Bingung harus memulai dari mana pembicaraan ini?


"Mas tadi sempat telepon ayah, kata beliau kamu selalu di desak kakek untuk segera nikah. Benar?"


Nandita mengangguk.


"Terus kamu bilang apa?"


Nandita menggeleng, membuat alis Gunadh berkerut.


"Maksudnya?"


"Ya aku nggak tau, mas ... Aku harus jawab apa coba? Sementara diantara kita belum ada obrolan lagi soal itu! Bukan hanya kakek, om Putra, om Damar, om Alan, semua nanyain itu. Candra juga nanyain hal yang sama. Tapi aku nggak bisa kasih jawaban ke mereka." Ketus Nandita bangkit dari duduknya.


Beginilah, jika sesuatu dipendam terlalu lama, ujung-ujungnya pasti akan meledak. Dan acap kali, ledakan itu berakibat tidak baik bagi satu sama lain, sebab dibarengi dengan emosi yang tidak terkendali.


Ia berdiri membelakangi Gunadh, yang juga ikut bangkit dari tempatnya semula.


"Kenapa nggak bilang sama mas?" Tanya Gunadh dengan lembut. Tahu jika wanitanya tengah meluapkan kekesalannya.


"Gimana aku ngomongnya? Kalian masih berduka, etis nggak aku ngomongin ini ke mas? Lagian dia kan cinta pertama mas, mana tau mas masih mau mengenang dia lagi kan? Aku nggak berani ganggu." Sahut Nandita lagi masih dengan suara ketusnya

__ADS_1


"Kamu cemburu?" Tanya Gunadh menahan senyum. Ia sama sekali tidak marah dengan sikap Nandita saat ini.


"Nggak ... Ngapain cemburu sama orang yang udah nggak ada?"


"Tadi? Kamu bilang mas masih mengenang dia?" Ucap Gunadh masih menggodanya.


"Tau!" Ketus Nandita, semakin enggan menoleh ke arah Gunadh.


Wanita itu sangat jarang merajuk. Selalu menunjukkan sisi dewasa atau bar-barnya di hadapan siapapun. Namun kali ini, ia ingin Gunadh tahu, dirinya juga manusia biasa yang bisa kesal dan ingin Gunadh mengerti isi hatinya, tanpa harus ia beri tahu.


"Sayang ...." Panggil Gunadh, sembari membalikkan tubuh Nandita agar menghadap ke arahnya.


"Kita nggak usah ingat yang udah lewat ya ... Kita bahas rencana ke depannya seperti apa. Maaf kalau mas nggak peka sama perasaan kamu. Tapi bukan berarti mas abai sama hubungan ini. Belakangan ini, mas masih sibuk sama pekerjaan, kamu juga sama kan? Itu mangkanya kita belum punya waktu untuk ngobrol serius berdua. Soal pernikahan, mas udah bicara sama ayah, masih dicari hari baiknya. Niat awalnya, mas pengen kasih kamu kejutan, tapi keburu kamu merajuk, nggak jadi deh kejutannya." Ucap Gunadh menekan hidung mungil Nandita.


Wajah Nandita memerah, tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.


"Kenapa tiba-tiba ngobrolin ini? Dipaksa ayah?" Tuduh gadis itu lagi.


"Ya kan aku udah bilang, nggak enak ... Soalnya kalian masih berduka."


"Nggak juga. Mira mungkin iya, tapi kalau mas ...." Gunadh mengangkat bahunya, menyangkal ucapan Nandita. Ia ingin menegaskan, jika ia tidak merasakan hal yang sama dengan anaknya.


"Kalau sedih pasti, namanya juga orang meninggal. Tapi bukan yang sampai merasa kehilangan sampai berlarut-larut. Lagi pula, dia nggak sebaik itu hingga mas harus terus mengenangnya." Jelas Gunadh lagi.


"Tapi gimana dengan Mira, mas? Apa dia bisa terima jika kita nikah, sementara dia masih sedih begitu?"


"Sudah saatnya dia kembali ke dunia nyata, sayang. Sudah cukup mas kasih dia ruang, menyesali semua yang sudah terjadi."

__ADS_1


"Terserah mas ajalah ...." Ucap Nandita kembali mendaratkan pantatnya di kursi yang semula ia duduki.


"Kok ngambek sih?" Tanya Gunadh, mendekat ke arah Nandita


"Siapa yang ngambek?" Tanya Nandita bingung.


"Itu tadi bilang terserah ...."


"Lha trus aku mesti bilang apa?"


"Kamu nggak seneng kita mau nikah?"


"Iya seneng lah ...." Nandita seketika merona, setelah sadar akan ucapannya.


"Bener, seneng kita akan menikah?" Tanya Gunadh pelan, sembari membungkukkan badannya. Tangannya mengungkung tubuh mungil Nandita, membuat wanita itu tidak bisa bergerak.


"Apaan sih mas, udah ah ...." Ketus Nandita mendorong tubuh Gunadh, namun laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun.


"Kita jalan-jalan yuk ...." Bisik Gunadh, tepat di telingan Nandita, membuat sang kekasih berhenti berontak.


"Kemana?"


"Ke pantai?" Tanya Gunadh, yang tahu sang kekasih sangat menyukai suasana pantai di malam hari.


Senyum Nandita merekah, lupa sudah ia akan kekesalannya selama ini.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^

__ADS_1


Dikiiiit lagi menjelang tamat kisah GunTha yang berliku ya .... jangan lupa selalu kasih semangat komen n like nya. Kalau ada vote, boleh juga 😁😁😁



__ADS_2