
Akan ada malaikat yang senantiasa menjagamu, bila kamu ada dalam kebaikan.
Akan ada iblis yang senantiasa menjatuhkan, bila kamu terkurung dalam kedengkian.
"Kamu!!"
Dewi dan Sari kaget melihat dua wanita di belakangnya sedang berkacak pinggang.
"Kalian kenapa??" Malikha bertanya dengan wajah heran.
"Ngapain kalian ke sini?? Di rumah sakit kan ga boleh banyak orang." Tante Sari menjawab
Malikha dan sang bunda saling pandang, lalu sang bunda menjawab.
"Malikha mau jagain kakeknya,, gantiin Nandita. Biar ada anak-anaknya mas Darma yang giliran temani kalian di sini. Biar enak gituuu, besok minta warisan sama kakeknya" Sang bunda terpancing untuk memanasi dua iparnya itu.
Dua wanita di depannya hanya diam saja. Kalau biasanya mereka akan berkata pedas,, mulai saat ini sepertinya mereka harus mulai berhati-hati dengan istri dan anak dari pak Darma.
"Ya udah yuk Kha, kita ke ruangan kakek mu."
Tanpa permisi ibu dan anak itu melenggang ke dalam kamar perawatan.
Mereka akan menjaga pak Cakra berdua, sebab Nandita harus pulang dan beristirahat. .
Sebenarnya nandita berencana untuk bermalam di rumah sakit malam ini. Namun berhubung Malikha dan sang bunda datang, ia pun pulang.
Besok sebelum kembali ke kota tempat nya bekerja, Nandita berniat kembali ke rumah sakit untuk berpamitan.
"Yang bener jaga kakek,,,, jangan main hape aja,,!" Perintah Nandita pada sang adik.
"Yaaaa ihh cerewet,,,!!" Sungut si bungsu dengan mata masih menatap layar ponsel
"Ya,, ya,, itu mata kenapa masih di sana??" Nandita semakin kesal sebab sang adik tidak mendengar perkataan nya.
"Trus mata aku harus di mana kak?? Kan emang di sini tempat nya,," Malikha menoleh dan menunjuk kedua matanya pada sang kakak.
"Iiisssh anak ini,, maksud nya arah pandangan mata kamu jangan di ponsel teruuusss,,, taruh itu ponsel, temenin kakek dengan benar,. Bukan bola mata kamu yang di pindah,,,,." Nandita yang kesal menjitak kepala sang adik agak keras
"Aaauuuccch,,, kakak iiihh,,, kasar banget sih.... Dia yang ngomong nya ga jelas juga. Guru kok gitu,,,." Malikha tidak terima, namun tidak berani berbicara lebih keras. Sebab ia tau sang kakak sedang kesal.
Adegan itu menjadi perhatian sang kakek. Keakraban itu sudah lama tidak pernah ia lihat lagi di dalam rumah besarnya.
Dulu Niar dan Darma sering seperti itu. Saling menjahili, tapi saling sayang. Sebentar marahan, sebentar lagi baikan. Tidak pernah memperebutkan hal-hal materi, bahkan mereka saling berbagi.
Namun semenjak kehadiran istri ke dua beserta anak-anaknya, perlahan kebiasaan-kebiasaan dalam rumah itu mulai berubah.
Pak Cakra hanya bisa tersenyum getir. Baru ia menyadari ada yang salah dengan kehidupan nya juga anak-anak selama ini.
Perhatian Dewi dan juga Sari yang selama ini ia banggakan, bahkan ia pernah merasa kalau Niar dan Darma telah melupakan nya.
Kini ia kembali berpikir, apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Bila kata-kata Dewi juga Sari benar, bahwa anak-anak dari istri pertama nya tidak perduli, lalu kenapa selama ia sakit Darma beserta istri dan anak nya sering sekali menjaga nya di rumah sakit. Kalau Niar, ia sudah menikah dan tinggal jauh dari nya. Jadi wajar bila hanya sekali saja anaknya itu datang menengok.
"Eehh kalian ini,,!! kebiasaan sekali kalau ketemu selalu ribut!" Mata bunda sudah melotot tajam.
__ADS_1
Teguran sang menantu pada cucunya itu membuyarkan lamunan pak Cakra.
"Biarkan saja Santi,,, bapak malah senang melihat kelakuan mereka. Mengingatkan bapak akan masa remaja Niar dan Darma dulu." Pak Cakra kembali tersenyum tipis.
Namun senyum itu menghilang seiring kalimat lanjutan yang ia ucapkan.
"Tapi itu sebelum ibu mertua kamu sakit dan akhirnya meninggal. Apalagi setelah kehadiran dua saudara tirinya. Semua berubah tanpa bapak sadari." Pak Cakra mengungkapkan keresahan hatinya pada sang menantu.
Hati ketiga wanita yang ada di ruangan itu ikut terenyuh. Ternyata laki-laki yang kini sudah tidak muda lagi itu memendam kerinduan akan masa lalunya.
Sementara dua wanita di luar ruangan sangat kesal karena tidak bisa mendengar pembicaraan orang di dalam sana. Sebab Bu Santi menutup pintu ruangan dengan rapat.
"Kakek jangan bicara begitu,,,,." Malikha yang cengeng sudah menjatuhkan air matanya.
"Jangan bikin kakek tambah sedih,,, kamu iih!!" Nandita memarahi adiknya namun dengan suara yang kecil.
"Sudah Dita,,, kakek ga apa-apa, jangan dimarahi terus. Kasihan dia." Rupanya kakek mendengar bisikan Nandita pada sang adik.
Sang bunda hanya bisa menunduk tanpa mampu bereaksi atas kelakuan anaknya. Hatinya masih merasa sedih, sebab ternyata selama ini bukan hanya sang suami yang merasakan kerinduan itu tapi juga ayah mertuanya.
Mungkinkah ini akan menjadi titik balik hubungan yang selama ini terasa kaku??
'semoga semua kembali baik-baik saja' doa nya dalam hati.
🌟🌟🌟
Hari berlalu dengan cepat,, aktivitas Nandita kembali seperti biasa. Mengajar dan menemani Mira.
Minggu lalu sebelum ia kembali ke kota, ia menemui sang kakek yang masih di rumah sakit. Hatinya merasa hangat, saat sang kakek memeluknya dengan erat dan memberinya banyak nasehat. Ia merasa sangat bahagia. Dahaga nya telah terobati.
"Ya Miss,,,."
"Itu ada yang cari, katanya penting. Miss Dita di tunggu di ruang guru."
"Oohh baik Miss terimakasih ya,,,,." Nandita tersenyum rama sebelum rekan nya itu meninggalkan kelas nya.
"Kalian lanjutkan tugas nya di rumah saja ya,,,, Miss akhiri pertemuannya sampai di sini dulu. Ingat belajar yang baik, dan jangan lupa tugas akan Miss periksa Minggu depan."
"Siap Miss,, selamat siang,,," jawaban kompak para siswa.
Nandita berjalan tergesa menuju ruang guru, sesampainya di sana ia sedikit terkejut pasalnya di sana ada ayah juga bunda nya.
"Ayah,,, bunda,,, kenapa tiba-tiba ke sini? Semua baik-baik aja kan??"
Katanya sembari memeluk satu persatu orang tuanya.
"Kami cuman mampir aja kebetulan lewat, mau istirahat sebentar di kost kamu." Jawab sang ayah.
Nandita mengerti ada hal yang penting ingin di bicarakan, ia meminta ijin untuk pulang cepat hari ini.
"Baiklah,,,, tapi aku urus ijin dulu ya yah,,, tunggu sebentar."
Setelah urusan perijinan selesai, mereka pun pulang ke kostan Nandita bersama-sama dengan motor yang berbeda.
Setibanya di kostan, Nandita membuatkan minuman hangat untuk sang ayah, serta jus kemasan ia ambilkan untuk sang bunda.
__ADS_1
"Tunggu ya,,, Dita ganti baju dulu." Nandita meninggalkan ke dua orang tuanya menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelahnya ia kembali menemui kedua orang yang sangat disayangi nya itu.
"Tumben bunda ke sini,, kangen sama Dita ya??" Nandita bertanya sembari bergelayut manja pada sang bunda.
"Ngapain kangen sama kamu?? Kayak ga ada kerjaan aja." Sang bunda menjawab namun bukan jawaban yang diinginkan Nandita.
Ia cemberut, melepas pelukan nya dari bunda lalu beralih ke arah ayahnya.
"Ayah juga ga kangen sama aku??" Wajah Dita menunjukkan wajah kecewa, meskipun ia tahu sang ibu hanya bercanda.
"Siapa bilang?? Jangan berburuk sangka,,,, ayah kangeeen bangeet sama kamu. Mangkanya ayah ke sini. Sama kak Byan juga ayah kangen, tapi dia jauh tinggalnya." Sang ayah menghibur hati anaknya.
"Kirain,,,," Nandita tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya memeluk sang ayah lebih erat di Bandung pelukan nya pada bunda.
Setelah puas melepas rindu, bercengkrama beberapa saat, akhirnya pak Darma mengutarakan tujuan ia datang menemui sang anak.
"Dita,, sebenarnya selain kangen sama kamu,, ayah juga ingin bilang sesuatu."
Ia mengeluarkan sebuah kartu debit Bank pemerintah dan menyodorkan nya pada sang anak.
"Itu dari kakek. Kemarin setelah beliau pulang dari rumah sakit, beliau mengumpulkan kami anak dan menantu nya. Dia bilang umur nya sudah tua, tidak memerlukan banyak hal lagi dalam hidup nya. Aset nya sudah di bagi, namun sementara masih kakek yang memegang. Hanya hasilnya akan di bagi rata untuk anak cucunya.
Nah masing-masing mendapatkan kartu ATM, dimana setiap bulan hasil usaha kakek akan di kirim sama rata ke cucu nya juga ke anak nya."
Nandita hendak menyanggah ucapan sang ayah, namun tangan nya diremas oleh sang bunda
"Biarkan ayah selesaikan ceritanya dulu" bisik nya pada Nandita.
Akhirnya hanya anggukan yang mampu gadis itu berikan.
"Tadinya ayah menolak.Kita sedang tidak perlu itu bukan?? Ayah masih sanggup membiayai kebutuhan rumah. Apalagi kamu juga kak Bian sudah bekerja. Otomatis pengeluaran ayah tidak seperti dulu. Namun kakek memaksa, beliau sampai memohon agar ayah mau menerima semua ini. Bahkan Tante Niar juga kemarin di datangkan dan kami rapat keluarga. Tante Niar mau menerima, lalu apa alasan ayah tidak mau?? Ayah juga ingin melihat kakek kamu ada di antara kita lebih lama lagi. Tanpa rasa bersalah dan kesedihan yang pasti menggerogoti kesehatan nya." Pak Darma menjelaskan dengan rinci apa yang terjadi.
"Lalu kak Bian gimana yah?? Dia mau??"
Tanya Dita lagi.
"Kemarin ayah hanya sempat ngobrol sebentar sama dia, intinya dia serahin semua ke ayah sama bunda. Kakek juga sempat bicara namun ayah ga tau apa yang mereka bicarakan."
"Kalo yang lain?? Maksudnya adik tiri ayah sama anak-anak nya??"
"Itu ayah ga tau,, yang pasti semua keputusan ada di tangan kakek. Ayah juga malas sebenar nya ngurusin ini, pikir ayah ikhlasin untuk mereka aja semua. Tapi setelah ayah renungkan, orang-orang seperti mereka ga akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah mereka dapatkan. Pasti mereka akan mencari cara untuk bisa menggagalkan niatan kakek kamu. Jadi biarkan saja lah. Kalaupun nanti semua hanya sementara, ayah harap kamu ga marah pada kakek. Itu berarti kita harus ikhlas dengan apa yang kita dapat selama ini." Kata Pak Darma lagi.
Nandita hanya bisa mengangguk mendengar penuturan ayah nya.
Sementara itu di rumah besar sang kakek,, suasana menjadi sangat panas, setelah keputusan pak Cakra membagi semua hasil usaha yang dimiliki kepada anak dan cucu nya, dengan merata.
"Bener kan mba apa yang aku bilang,,?? Si Santi sama anak nya itu sengaja deketin bapak, agar dia dapet harta nya bapak."
Tante Sari sangat kesal, namun ia hanya bisa berkeluh kesah dengan sang kakak.
"Aduuuuhh sari,,,!!! Kamu bisa diem ga sih?? Mba juga lagi pusing ini,,. Bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan jauh lebih banyak dari mereka?? Mba juga ga terima,, kita yang capek urus bapak sama urus keperluan rumah ini,, eeh hasilnya malah di bagi-bagi. Enak saja mereka,,!!"
Nafas kedua bersaudara itu memburu, emosi mereka sampai ke ubun-ubun setiap kali membahas masalah harta sang bapak.
Itulah manusia,, bila keserakahan sedang menguasai,, sebanyak apapun yang kita miliki, yang kita nikmati,, akan merasa kurang. Dan ingin mengambil milik orang lain.
__ADS_1