Nanditha

Nanditha
KABAR DARI SEBERANG


__ADS_3

Dering ponsel di atas meja kerjanya, mengalihkan perhatian Gunadh dari berkas yang tengah ia periksa.


"Halo," sapanya.


"Halo Gunadh, kamu udah tau belum kalau Nandita sebentar lagi akan di tunangkan dengan ponakan orang tua angkatnya di sana?" Tanpa basa-basi Satya memberondong Gunadh dengan pertanyaan yang hampir membuat duda tiga puluh enam tahun itu berhenti bernafas.


"Jangan bercanda kamu Satya!" Seru Gunadh, langsung berdiri dari kursi empuknya.


"Nggak percaya? Sebentar aku kirim foto-fotonya." Terdengar kesibukan Satya yang mengutak atik ponselnya.


Sembari melakukan panggilan, Satya mengirim foto yang ia terima dari nomor asing yang baru ia ketahui ternyata dari calon tunangan Nandita.


Gunadh segera membuka pesan yang dikirim Satya.


Foto-foto Nandita bersama seorang pria tampan, dengan jambang menghiasi wajah terpampang di layar pipih milik Gunadh.


Hati pria itu bergemuruh. Rasa sakit dan marah menyatu hampir melumpuhkan logikanya.


Nandita yang tengah dipeluk, jemari tangan mereka yang bertaut, senyum lebar pria itu, seakan mengejek dan mengatainya pecundang.


"Bagaimana?" Suara dari seberang, mengembalikan kesadaran pria malang itu.


"Bagaimana apanya?" Gunadh yang masih linglung tidak mengerti dengan maksud ucapan Satya.


"Ck, fotonya ... Gimana menurut kamu? Cocok nggak Nandita sama cowok itu? Kelihatannya dia lebih muda dari Nandita. Yaaa semoga cocoklah ya," Satya memanasi.


"Apa maksudmu? Apa aku terlalu tua sehingga tidak cocok untuk Dita? Apa sekarang kamu mendukung laki-laki yang belum kamu kenal itu untuk menjadi pendampingnya?" Suara Gunadh sarat emosi membuat Satya terkekeh.


"Kamu masih mau sama adikku itu? Kirain udah nggak perduli," sindir Satya. Ia selama ini merasa Gunadh tidak pernah berjuang untuk mendapatkan kembali Nandita.


Gunadh menarik nafas berat.

__ADS_1


"Kamu tau sendiri maksudku Satya. Aku hanya ingin memberi dia waktu untuk menenangkan diri dan berpikir jernih. Aku udah membuatnya terluka begitu dalam, aku hanya ingin ia mengobati luka hatinya itu." Terang Gunadh memberi alasan.


"Heh pengecut. Harusnya aku nggak mendukung hubungan kalian dari awal " Ejek Satya yang gemas dengan sikap Gunadh.


"Benar apa yang Candra katakan, Nandita berhak mendapat laki-laki yang lebih baik dibanding laki-laki sepertimu. Kamu sadar sudah membuat dia terluka, kenapa tidak mencoba mengobatinya? Dan justru membiarkan dia berjuang sendiri untuk pulih ...!"


"Bukan begitu maksud ku! Aku hanya memberi dia waktu agar bisa berdamai dengan semua yang terjadi ...."


"Hingga dia juga bisa berdamai dengan perasaannya padamu dan membuka hati untuk orang lain?" Potong Satya membungkam Gunadh.


"Terlalu lama Gunadh. Kamu seolah mengabaikannya. Membiarkan dia seorang diri di negeri orang, tanpa kepastian bukan solusi untuk masalah kalian. Harusnya kamu tetap mencarinya, memberinya perhatian dan wujud penyesalan atas apa yang telah terjadi diantara kalian." Satya merasa kecewa pada pria di seberang yang saat ini ia ajak bicara.


Bagi Satya, Nandita sudah seperti adiknya. Ia ingin gadis itu mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Merasakan kebahagiaan bersama orang yang benar-benar ia cintai, begitu pun sebaliknya yang benar-benar mencintainya.


"Aku hanya ingin mengatakan itu. Sebenarnya, tidak masalah bagiku Dita bersama siapa, asal bisa memberinya kebahagiaan." Ucap Satya sebelum menutup panggilnnya.


Sambungan telepon berakhir. Satya sudah melakukan tugasnya, setelah ini biarkan Gunadh sendiri yang membawa takdir cintanya kemana.


Perasaan Gunadh tidak menentu. Kembali ia menatap deretan foto yang dikirim Satya beberapa saat lalu.


Apa selama ini ia terlalu yakin kalau Nandita akan setia?


Apa ia terlalu lama memberi gadis itu waktu untuk menyembuhkan luka?


Keraguannya untuk mendekat, ternyata semakin memberi sekat pada hubungan mereka.


"Daddy kenapa?" Tanya Namira yang melihat keresahan di raut wajah Gunadh.


Gunadh menoleh lalu kembali fokus pada makanan di depannya.


Ia masih bingung, harus berkata yang sebenarnya atau menutupi masalah yang tengah di hadapinya.

__ADS_1


"Lihatlah," akhirnya ia memutuskan memberi tahu Namira, apa yang membuat dirinya gelisah.


"Ini kan ... Onty Dita Dad ...." Namira menatap bergantian antara ponsel dan wajah daddynya.


Gunadh mengangguk.


"Ini pacarnya ya dad,?" Tanya gadis itu lagi dengan raut tak terbaca.


Gunadh mengangkat kedua bahunya


"Entahlah," sahutnya.


Namira mengembalikan ponsel milik daddy-nya. Pikiran gadis itu pun berkelana tak tentu arah


Meja makan itu kembali hening.


Hanya sesekali denting sendok yang beradu dengan piring keramik, menjadi penanda di meja itu masih ada aktivitas.


"Dad, kenapa nggak Daddy susul aja onty Dita ke sana?" Namira memberi ide setelah diam beberapa saat.


"Kalau dia di sana deket sama cowok lain trus merek nikah gimana?" Gadis itu mengurai apa yang ada dipikirannya.


Gunadh menghentikan aktifitasnya. Menatap sang putri dengan tatapan penuh selidik.


"Kamu yakin bisa menerima onty Dita jadi ibu sambung untuk kamu?" Gunadh memastikan putrinya. Sebab ia tidak ingin kembali salah mengambil langkah.


Namira mengangguk.


"Aku minta maaf karena dulu udah buat kalian berpisah, tapi sekarang aku yakin ingin onty Dita yang jadi pendamping daddy." Sahut Namira pasti.


Kegelisahan Gunadh menguap perlahan. Ia kini bisa memupuk harap, mengejar kembali gadis yang selama ini mengusik ketenangan dirinya.

__ADS_1


'Nggak akan aku biarkan kamu menjadi milik orang lain sayang, Nandita Mentari hanya akan menjadi milik Gunadhyia Arjava.' pekik Gunadh dalam hati.


__ADS_2