
Gunadh mengajak Nandita berjalan mengelilingi menara Eiffel dimalam hari, selepas mengantar Bianca ke bandara untuk melakukan pekerjaannya.
Louis memilih pulang ke kediamannya, sementara Satya dan Candra memiliki acara sendiri ditemani Ahmed sebagai pemandunya.
"Kenapa diam aja dari tadi?" Tanya Gunadh yang menyadari sikap Nandita agak berubah menjadi lebih pendiam.
"Enggak kok, biasa aja." Ucap Nandita dengan pandangan mata jauh ke depan, menatap kelap kelip menara yang terjadi tiap satu jam sekali.
Gunadh tahu sang kekasih sedang memikirkan sesuatu. Namun ia yang memang jarang mengungkapkan perasaan, menjadi bingung mau bertanya seperti apa.
"Yank, Mira kemarin pengen ikut ke sini lho ..." Ucap Gunadh memecah kesunyian diantara keduanya.
"Oh ya? Kenapa gak mas ajak?" Tanya Nandita dengan menoleh ke samping di mana Gunadh berjalan di sampingnya.
"Aku bilang kesini untuk kerja."
Nandita menghentikan langkahnya.
"Terus?" Tanyanya kemudian.
"Dia ngerti dan mau nerima. Tapi aku janjikan ke dia, kalau nanti dia diterima di sekolah favorit, dia bakal aku ajak jalan-jalan kesini." Terang Gunadh.
"Oohh" Hanya itu reaksi yang Nandita berikan.
Nandita melanjutkan langkahnya tanpa memberi komentar apapun.
"Mas seru kali ya kalau kita keliling pakai skuter seperti mereka? Sayang ya kita gak ada alat itu di sini." Nandita mengalihkan topik pembicaraan.
Gunadh sedikit merasa kesal, namun ia tahan.
Meskipun benar kata Nandita, banyak warga yang mereka temui menggunakan alat tersebut di area menara, namun Gunadh merasa tidak seharusnya Nandita membelokkan percakapan mereka.
Sementara Nandita, gadis itu merasa enggan membahas soal Namira. Tiap kali nama itu disebut, rasa kecewa di hatinya kembali muncul.
Sibuk dengan pikiran masing-masing hingga tak menyadari seseorang membuntuti langkah mereka dari belakang.
Set
Tas kecil yang di bawa Nandita berpindah tangan pada orang tak dikenal.
"Aaa" Sontak Nandita berteriak dan refleks mengejar.
Gunadh pun ikut berlari mengejar Nandita.
"Yank, udah ... Gak usah dikejar. Bahaya." Ucap laki-laki itu ketika berhasil menggapai bahu Nandita.
"Tapi tas aku mas ..." Nandita tidak terima begitu saja.
"Udaah, gak ada yang penting kan di tas itu?"
"Uang sama kartu ku di sana." Ucap Nandita dengan ekspresi kesal, marah, dan kecewa menjadi satu.
__ADS_1
Kenapa dia begitu ceroboh hingga bisa mengalami hal tersebut.
Gunadh berusaha menenangkannya dengan mengusap bahu sang kekasih.
"Gak apa-apa. Kita blokir saja kartu itu. Soal uang, nanti aku kasih ke kamu. Ok?" Ucap Gunadh.
Nandita tidak mengiyakan ataupun menolak. Ia masih shock dengan kejadian barusan.
Gunadh mengajaknya menuju kafe terdekat agar bisa menenangkan diri sambil membeli minuman.
"Udah yank ... Jangan terus dipikirkan, toh kita gak bakal bisa dapatkan tas itu lagi. Minum dulu ya." Ucapnya lembut sambil menyodorkan minuman yang ia pesan tadi.
Nandita meraihnya tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.
"Permisi" Tiba-tiba seorang laki-laki dengan tubuh tinggi datang menghampiri keduanya
Nandita enggan menanggapi. Ia masih fokus mengaduk minuman yang Gunadh berikan. Hanya Gunadh saja yang menganggukkan kepalanya.
"Maaf, ini tas yang tadi dicopet." Laki-laki itu, menyerahkan sebuah paper bag pada Nandita
Sontak saja Nandita menoleh dan mengambil benda tersebut. Dan benar saja, tas miliknya ada di dalam sana.
Nandita mengangkat kepalanya, menatap laki-laki asing yang berdiri di depannya.
"Dari mana kamu mendapatkan tas ini? Siapa kamu?" Gunadh menatap penuh curiga.
"Saya orang suruhan tuan Louis. Beliau meminta saya dan beberapa teman untuk menjaga nona dan teman nona selama berlibur di sini." Terang laki-laki itu.
"Ini untukmu" Ucapnya dengan binar bahagia.
"Maaf nona, terimakasih. Tapi saya melakukan karena tugas. Maaf karena saya lalai menjaga anda, sehingga hal ini bisa terjadi."
"Oh bukan, ini bukan salah anda. Ini murni keteledoran saya. Ambillah." Bujuk Nandita lagi.
"Maaf nona, saya sudah digaji oleh tuan Louis."
"Oh." Nandita perlahan menarik tangannya yang menggenggam banyak uang. Ada rasa tidak enak ketika pemberiannya ditolak.
"Kalau begitu, terimakasih banyak ya, maaf saya merepotkan Anda."
"Tidak apa-apa nona, kalau begitu saya permisi dulu."
"Ya." Ucap Nandita dengan senyum lebar.
Selepas kepergian laki-laki asing suruhan Louis, Nandita dan Gunadh kembali diam.
Entahlah, sebenarnya ada banyak hal yang harusnya mereka bahas, namun mulut seakan kaku untuk bersuara.
Kejadian tadi, membuat Gunadh melupakan pembahasan soal Mira. Kini mereka tengah menikmati suasana malam di sebuah kafe di kota Paris.
Melupakan niat awal mereka ke kafe itu karena Nandita yang shock, kini mereka malah asyik bercerita hal-hal ringan selama Nandita liburan dan tentu perdebatan kecil karena kecemburuan Gunadh yang berlebihan.
__ADS_1
Hari semakin larut ketika Nandita dan Gunadh kembali ke hotel untuk beristirahat.
🌟🌟🌟
"Ta Gimana? Udah sempat ngobrol belum sama Gunadh?" Tanya Candra ketika mereka bersiap hendak keluar. Rencananya mereka ingin pergi ke Disney Paris.
Nandita hanya menggelengkan kepala lemah.
"Kamu gimana sih Ta? Bukannya kemarin pesannya kak Bian udah jelas banget ya?" Candra gemas sendiri dengan sikap Nandita.
"Kamu itu pemberani lho Ta. Masa ngobrolin itu aja kamu gak berani?"
"Bukan gak berani Ndra, tapi aku mesti cari waktu yang tepat. Kemarin mas Gunadh sempat bahas soal Mira, aku rencananya mau obrolin itu. Saat baru mau bicara, tiba-tiba dari belakang ada yang jambret tas aku. Aku panik donk ... Mas Gunadh juga gitu. Sampai aku diajak ke kafe buat nenangin diri."
Mata Candra langsung melebar
"Kamu kena copet? Terus ada yang luka gak? Pasti kamu kejar kan orangnya."
"Dengerin dulu aku cerita ..."
"Ya sorry. Terus-terus?"
"Ya gitu, aku diajak ke kafe, gak berapa lama ada laki-laki yang datang ke meja kami bawa paper bag, yang ternyata isinya tas aku. Rupanya dia itu orang suruhan Louis, yang memang diminta untuk jagain kita tanpa kita tahu."
"Ih keren ya Luis, kaya mafia-mafia di novel gitu, punya banyak bodyguard." Candra tak ingat lagi dengan bahasan sebelumnya.
Nandita hanya menganggukkan kepalanya.
"Nah mangkanya itu, pas orang itu pergi, Gunadh komplain sama aku. Dia bilang aku senyum lebar banget sama orang asing. Belum lagi dia kaya merasa minder gitu sebab dia gak bisa melindungi aku dari kejahatan orang lain katanya. Malah Luis yang gak ada di dekat aku mampu menjagaku dengan baik." Nandita menjeda kalimatnya sejenak.
"Yaaa jadi obrolan soal aku dan Mira gak berlanjut lagi. Semoga aja nanti aku dapet waktu yang pas buat omongin ini. Aku juga gak mau, hubungan aku sama mas Gunadh berjalan di atas masalah antara aku dan anaknya."
"Huuh ribet banget sih Ta, hubungan kamu itu. Kamu kebanyakan mikirin orang lain sih ..." Komentar Candra.
"Bukan kebanyakan mikir Ndra, aku hanya mencoba memposisikan diri di tempat yang semestinya. Aku gak mau hanya karena aku, hubungan ayah dan anak jadi renggang. Atau hanya karena Mira salah paham, hubungan antara aku sama mas Gunadh yang jadi renggang. Kamu bayangin coba, seandainya aku bilang sama mas Gunadh. 'Mas Mira gak setuju kita melanjutkan hubungan ini. Dia datengin aku ke sekolah dan bikin aku malu depan banyak orang.' Menurut kamu gimana reaksinya?"
Candra juga bingung menjawabnya. Ia menggedikkan bahunya tanda tak tahu.
"Ada dua Ndra yang aku pikirkan reaksi mas Gunadh. Pertama dia akan menyangkal kalau anaknya bisa sampai melakukan itu. Dan kami pasti akan bertengkar dengan hal itu. Aku, yang gak akan terima dianggap berbohong pasti bakal emosi. Dan yang kedua. Dia percaya sama aku, percaya kalau Mira melakukan itu. Dan pasti anak itu akan dimarahi oleh mas Gunadh. Kedua-duanya gak ada yang menguntungkan hubungan kami Ndra. Sedangkan untuk putus, aku yakin mas Gunadh gak akan semudah itu untuk terima."
Panjang lebar Nandita menjelaskan apa yang ada dipikirannya. Dan Candra tidak bisa menyangkal, hal itu benar.
Dia hanya berharap, semoga sahabatnya itu bisa mendapat jalan keluar yang terbaik.
^_________^^_________^^_________^
Ditunggu like, komen dan vote nya manteman ...
Biar emak-emak ini makin semangat nulisnya.
Bentar lagi bakal konflik gede yang bikin Gunadh sama Nandita terpisah.
__ADS_1
Uuhh apa sih masalahnya??