
Di belahan bumi berbeda, sosok Nandita menatap foto yang dikirim sahabatnya dengan hati bergetar.
"Mas ...." Ucapnya lirih sambil terus mengusap layar ponsel, seolah gambar itu adalah nyata.
Gadis itu menitikkan air mata, menyadari kenyataan, ia dan Gunadh bagai dua orang asing yang tidak saling mengenal.
Tidak pernah bertegur sapa, meski hanya lewat suara atau pesan singkat.
"Semoga kamu selalu sehat dan bahagia mas ...."
'Meski aku nggak ada di sana, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, untuk kita.' bisik hatinya.
Delapan bulan sudah ia meninggalkan tanah air. Mengikuti kata hati, berharap apa yang ia lakukan adalah pilihan terbaik untuk hidupnya.
"Hingga kini aku masih menunggu kamu datang menjemput ku mas ... Berharap kamu tidak pernah lupa dengan janjimu kala itu." Dipeluknya benda pipih itu dengan penuh haru. Seakan wujud yang ia rindukan nyata, ada di depan mata.
Gadis itu memejamkan mata, menikmati kilasan bayangan yang menari silih berganti.
Kala ia menerima cinta Gunadh, kala laki-laki itu melamarnya di depan Pintu Surga, saat-saat indah liburan mereka di Paris, hingga saat pertemuan terakhir mereka di bandara.
Semua itu seperti sebuah film yang terus berputar. Nandita menikmati tiap tawa dan air mata yang pernah singgah menghampirinya, menyapa jiwa rapuhnya, menghadirkan kembali getar rindu yang semakin membuat hatinya beku.
Ketukan pintu membuyarkan khayalan yang sesaat tadi menghangatkan hatinya.
"Masuk ...." Ucapnya sembari menghapus sisa air mata di pipinya.
"Dita ... Jadi ikut onty ke rumah Oma Opa?" Tanya Onty Eby sahabat sang bunda.
Wanita sabar yang selama ini menjaganya, memberinya tempat berteduh dari hujan dan terik matahari, juga menjadi rumah bagi setiap keluh kesahnya itu datang menghampiri.
__ADS_1
"Eeh kok mukanya merah begitu? Kamu habis nangis lagi?" Wanita cantik yang kini berhijab itu menatap lembut manik Nandita.
"Nggak kok onty, tadi habis menguap tiba-tiba keluar air mata." Kilahnya.
"Apa kemarin kamu begadang?" Tanya wanita itu lagi.
Nandita menggelengkan kepala. Menunduk malu karena telah berbohong.
Onty Eby tersenyum. Wanita bernama lengkap Ebelina Karleen itu, membelai lembut punggung Nandita.
"Kalau kamu lagi nggak mau kemana-mana, nggak usah ikut biar onty sama uncle aja yang pergi." Ucapnya.
"Maaf ya onty, titip salam sama opa dan Oma." Ucap Nandita pelan.
Onty Eby hanya membalas dengan senyuman, kemudian keluar meninggalkan Nandita di kamarnya.
Ia menatap sekeliling ruangan bernuansa putih bersih itu dengan perasaan tidak menentu.
Gadis yang kulitnya menjadi lebih putih pucat itu, melangkah ke dekat jendela besar di kamarnya. Menatap deretan bangunan yang berjejer rapi di depan sana.
Sudah delapan bulan ia berada di tempat ini. Namun masih ada rasa terasing yang acap kali merayap di ruang hatinya.
Awal Nandita datang, sebenarnya ia ingin menyewa apartemen sendiri. Namun dengan tegas onty Eby menolaknya. Di rumah wanita paruh baya itu masih ada kamar kosong yang bisa ia tinggali. Selama ini wanita itu sering tinggal sendiri, sebab sang suami sering bekerja keluar daerah. Sementara kedua putranya, memilih tinggal di apartemennya masing-masing.
Dengan bujuk rayu pasangan suami istri itu, juga atas permintaan orang tuanya, Nandita akhirnya mau tinggal di rumah onty Eby.
Satu bulan pertama ia di sana, acap kali ia menangis sebab merindukan orang-orang terdekatnya. Namun tekad yang kuat dan dukungan onty Eby membuat ia tetap bertahan.
"Jalani saja sayang, nanti juga kamu terbiasa. Home sick itu hal yang wajar saat kita tinggal jauh dari rumah. Itu tandanya, kamu memiliki keluarga hangat yang selalu mendukung kamu. Itu sebabnya kamu merindukan mereka." Hibur wanita itu dulu.
__ADS_1
"Apa onty nggak pernah kangen rumah dan keluarga di Indo?" Ia balik bertanya.
"Pasti. Siapapun pasti merindukan keluarganya. Kami sering melakukan panggilan video, dan onty tetap menjaga komunikasi dengan mereka. Lagi pula, lama-lama akan terbiasa tinggal berjauhan. Mungkin karena di sini onty juga punya keluarga sekarang, jadi fokusnya udah berbeda." Terang wanita itu.
"Gitu ya onty." Mira tersenyum getir.
Selain keluarga yang memang ia hindari untuk berkomunikasi saat itu, ia juga merindukan seseorang yang tidak mungkin ia ceritakan pada sahabat bundanya.
"Cara paling ampuh mengobati rindu ya dengan bertemu sayang ... Meski nggak bisa ketemu langsung, seenggaknya lewat video call. Biar mereka juga ngga khawatir di sana.
"Iya onty, nanti aku telepon ayah bunda. Makasi udah jagain aku di sini." Ucapnya tulus.
Dari obrolan-obrolan itu, Nandita mulai nyaman dengan Eby. Ia tidak malu lagi bermanja, seperti saat bersama sang bunda.
Hingga ketika sang ayah menghubunginya melalui panggilan biasa, Nandita kembali menangis di pelukan onty Eby.
Ia menceritakan apa yang tengah terjadi pada kekasihnya di Indonesia.
Kasus video po**o Safira yang tersebar di dunia maya, pasti membuat Gunadh menjadi incaran para pencari berita. Ia juga memikirkan perasaan Mira, bila tahu apa yang terjadi.
"Hubungi saja dia kalau kamu khawatir. Beri dia dukungan, meski hanya melalui pesan singkat." Nasihat onty Eby.
"Tapi aku nggak bisa onty ... Bukan aku yang mestinya menghubungi dia. Sejak aku tiba, tidak sekalipun ia menanyakan keadaanku di sini. Mungkin dia sudah punya sosok yang bisa memberinya dukungan. Mungkin kehadiranku bukan sesuatu yang berarti lagi bagi dia."
Nandita takut, apa yang dikhawatirkan bunda Santi terjadi. Gunadh sudah tidak lagi mengharapkannya. Di samping itu, ada sosok Mira yang masih belum bisa ia gapai hatinya.
Tidakkah gadis belia itu akan berpikir kalau Nandita kini sedang menertawakannya?
Pikir gadis itu.
__ADS_1