Nanditha

Nanditha
RENCANA LANJUTAN


__ADS_3

Gunadh bisa sedikit lebih tenang. Kabar dari Nandita tadi malam yang mengatakan bahwa dirinya sudah sehat dan bisa melanjutkan liburannya kembali, membuat Gunadh ikut bahagia.


"Benar kamu kuat buat jalan-jalan lagi?" Tanyanya ketika Nandita mengatakan akan pergi belanja bersama Candra.


"Kuat mas, gak usah khawatir gitu. Dua hari cukup kok untuk aku memulihkan tenaga. Lagian aku hanya kelelahan sama kaget dengan cuaca di sini. Bukan sakit keras yang harus mas khawatirkan dengan berlebihan begini." Omel Nandita ketika itu.


"Aku hanya gak mau kamu kenapa-kenapa di sana sayang ..."


"Sekarang aja begitu. Waktu ini pas mas masih ngira aku selingkuh sama Satya, mas gak ada tuh khawatir sama aku." Nandita mulai sensi.


"Ya kan aku lagi marah sama kamu. Meski aku khawatir, ya aku tahan. Kamu juga kuat banget gak cari aku. Memangnya kamu gak khawatir sama aku?"


"Aku percaya mas bisa jaga diri. Selama ini mana pernah aku protektif banget sama mas? Bukan karena aku gak cinta, tapi karena aku percaya mas tahu mana yang terbaik. Yaa meski pada kenyataannya mas gak sehebat itu rupanya."


Obrolan mereka menjadi lebih serius dari sekadar rasa khawatir Gunadh saja. Masalah yang tidak mereka bahas ketika sama-sama berada di Indonesia, justru mereka bicarakan lewat udara ketika samudra memisahkan jarak.


"Maaf kalau soal kemarin. Kan aku juga udah ceritain apa aja yang aku lakukan selama kita gak komunikasi." Ucap Gunadh lirih.


Obrolan yang panjang terus berlanjut.


Hal yang jarang mereka lakukan karena keterbatasan waktu masing-masing, kemarin mereka lakukan meski melalui panggilan video.


🌟🌟🌟


Hari ini, Gunadh memilih untuk pulang lebih cepat. Selain karena pekerjaan yang memang sudah ia bereskan di hari-hari kemarin, ia juga ingin meluangkan waktu dengan sang putri.


Besok Namira akan ikut liburan bersama dengan keluarga sahabat-sahabatnya. Namun begitu, tidak terlihat raut bahagia yang terpancar dari gadis belia tersebut. Dan Gunadh menyadari hal itu.


Ia juga tidak ingin egois, bila menempuh perjalanan panjang saja ia sanggup lakukan demi Nandita, kenapa waktu satu hari tidak bisa ia berikan untuk sang putri?


"Miraaaa, sayang ..." Panggilnya begitu memasuki pintu utama rumah tersebut. Rencananya ia akan membuat kejutan untuk sang putri.


"Iya Dad ..." Namira muncul dari kamarnya dengan wajah lesu.


"Lagi ngapain sayang?"


"Gak ada. Lagi siapin pakaian untuk besok aja."


"Udah siap semuanya?"


Namira menggelengkan kepala


"Belum. Mira belum beli baju renang. Besok aja mampir pas lewatin mall."


"Ya sudah, kalau gitu gak usah tunggu besok. Sekarang aja yuk ..." Ajak Gunadh


"Kemana?" Tanya Mira dengan wajah bingung.


"Tadi katanya belum punya baju renang ... Sekarang aja belinya."


Wajah Mira berubah sumringah.


"Beneran Dad? Daddy mau temenin Mira untuk beli?"

__ADS_1


"Kenapa gak?"


"Udah, sana ganti baju dulu. Daddy juga mau mandi dulu. Habis itu kita jalan."


"Makasih dad ..." Dengan riang Namira masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap.


Rasa sedihnya lenyap seketika. Dengan senyum yang tidak pernah lenyap Namira bersiap.


"Sudah siap?" Tanya Gunadh ketika melihat Namira keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi siap untuk pergi.


"Siap Dad." Ucap Namira.


"Yuk nanti biar bisa santai di jalan."


"Mmm Dad, boleh telepon mommy gak? Biar kita bisa jalan bertiga." Namira ragu-ragu bertanya.


Gunadh yang tadi tersenyum ke arah sang putri, kini wajahnya berubah datar. Semenjak kesalahpahaman yang disebabkan oleh Safira, Gunadh kembali menjaga jarak dengan mantan istrinya itu.


Meski tidak secara terang-terangan laki-laki itu menyalahkan Safira, namun perubahan sikapnya dapat Mira rasakan. Sang Daddy menghindari mommynya. Namun Mira tidak tahu apa alasan sang Daddy melakukan itu pada sang mommy.


"Kita jalan berdua aja gak apa-apakan sayang?" Mencoba bicara setenang mungkin, Gunadh menolak usul anaknya.


"Mira mungkin lupa, sekarang Daddy ingatkan lagi. Antara mommy kamu sama Daddy udah gak ada urusan lagi selain soal kamu. Dulu kamu minta waktu 1 bulan untuk bisa merasakan rasanya memiliki orang tua utuh. Dan itu sudah Daddy penuhi permintaan kamu. Jadi sekarang, sudah cukup ya." Gunadh membelai rambut Namira dengan lembut.


Biar bagaimanapun, ia tidak ingin melukai perasaan anak itu lebih dalam lagi. Namun untuk memenuhi setiap keinginannya, bukan juga solusi yang tepat.


"Ya Dad, Mira minta maaf." Ucap gadis itu dengan kepala menunduk.


"Daddy yang mestinya minta maaf sama kamu sayang. Maaf, Daddy gak bisa kasih kamu keluarga yang utuh, seperti halnya orang lain. Tapi percayalah, Daddy sangat menyayangi kamu dan sangat bersyukur memiliki kamu dalam hidup Daddy." Dikecupnya kening sang putri.


"Sudah yuk, jangan sedih-sedihan begini. Kita jalan-jalan sekarang." Ucapnya memecah keharuan.


"Ya dad ... Ayo..." Mira juga segera menghempas rasa tidak enak di dalam hatinya, akibat obrolan barusan.


Sore ini, mereka akan habiskan waktu dengan keseruan ayah dan anak di dalam mall.


🌟🌟🌟


Waktu Safira untuk sang putri semakin berkurang. Ia kembali pada sifat aslinya yang cuek dan tidak terlalu perduli.


Hari-harinya sibuk dengan ke salon, shoping, dan malamnya olah tubuh bersama sang sugar Daddy.


Terakhir ia bertemu dengan Namira, ketika membelikan sang putri hadiah saat anak itu merajuk. Itu dua hari yang lalu. Selebihnya mereka hanya berkomunikasi lewat pesan singkat, dan itu pun tidak sering.


Hubungannya dengan Mira kembali merenggang ketika ia menolak menemani sang putri untuk pergi berlibur.


Drt


Drt


Ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk. Awalnya ia mengira sang putri yang mengirim pesan. Namun rupanya pesan itu dari orang lain.


T : " Kamu pasti kaget kalau dengar berita ini."

__ADS_1


Pesan dari gadis yang bernama Tasya yanga dalah sepupu Nandita.


S : "Apa?"


T : " Kamu tahu gak? Si Dita liburan ke Eropa 😱😱😱. Keren banget cewe munafik itu jalan-jalannya gak nanggung-nanggung."


Tasya memantik api di dada Safira.


S : " Terus? Maksud kamu apa kasih tahu saya soal ini?"


Meski kesal dan tidak terima, namun sebisa mungkin Safira menutupi rasa kalah di hatinya.


T : " Ya kamu gak mikir gitu? Duit dari mana itu yang dia pakai, bisa sampai ke Paris selama 14 hari."


S : " Bukan urusan saya dia dapet dari mana. Nge l ont e mungkin? Siapa yang tau?"


T : " Yakin kamu gak penasaran? Siapa tahu itu duit dari mantan suami kamu. Bukankah kamu punya anak bersama duda itu? Kalau duit dia dikasi ke si Dita terus, anak kamu nanti dapat apa?"


Deg


Safira sejenak berpikir. Benar juga. Kekayaan Gunadh kan menjadi hak si anak. Safira tidak ingin, kekayaan itu malah jatuh ke tangan yang lain.


Setidaknya meskipun ia tidak dapat secara langsung, Paling tidak ia bisa memanfaatkan sang putri untuk ikut menikmati harta itu nanti.


Bosan mengetik pesan, Safira memilih menghubungi nomor ponsel Tasya.


"Haloo."


"Dari mana kamu tahu soal gadis udik itu pergi ke Paris?" Tanpa basa-basi Safira langsung menyerang Tasya dengan pertanyaan inti.


"Santai boskuu. Katanya tidak perduli, kenapa emosi?" Tasya memainkan emosi Safira kembali.


"Gak usah banyak oceh kamu."


"Gak usah banyak tingkah juga kamu. Ingat disini aku dan kamu itu sama. Kita bekerja sama untuk bisa menghancurkan Nandita. Aku dan kamu tidak ada yang lebih membutuhkan siapa. Kita sama-sama saling membutuhkan. Jadi jaga bicara kamu." Tasya bicara dengan penuh peringatan.


Safira menarik nafas, mencoba meredakan emosi. Tasya bukan gadis polos seperti yang dia duga.


"Ok. Jadi kamu tahu darimana informasi ini?" Suara Safira sedikit lebih lembut dari sebelumnya.


"Kamu lupa? Aku tinggal di rumah besar kakek Cakra yang adalah kakek kandung gadis itu. Jadi, apapun informasi keluarga aku pasti tahu."


"Tujuanmu mengabari hal ini untuk apa? Tidak mungkin kan hanya sebagai bahan gosip yang tidak penting?"


"Mmm mungkin ini kesempatan kita untuk membuat gadis itu menjadi lebih buruk di hadapan banyak orang dan keluarganya." Ide dari Tasya.


"Keuntungan untukku apa?"


Tasya memutar bola matanya. Jengah dengan pertanyaan konyol dari mulut seorang Safira.


"Kamu gak mikir? Ini kesempatan kamu untuk merasa tersakiti oleh Nandita. Karena gara-gara dia, kamu sama Gunadh tidak bisa bersatu lagi. Padahal ada anak diantara kalian. Bahkan uang yang sedianya dipersiapkan untuk anakmu, kini dipakai untuk membiayai gaya hidup si munafik itu. Yaa pokoknya kamu atur dramanya, nanti aku kabarkan waktu eksekusinya." Terang Tasya


Safira mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2