
Nandita berusaha mengubur rasa malu dan gengsinya.
Menghubungi Candra dan Malikha, meminta pendapat keduanya mengenai masalah yang di hadapi.
Bahkan Biyanca yang selama ini tidak terlalu sering ikut campur urusan asmaranya pun ia mintai pendapat, agar tidak sala mengambil langkah.
"Hubungi Gunadh, dan katakan kalau dia tidak datang dalam satu Minggu ke depan, maka kisah kalian benar-benar berakhir." Saran Bian ketika ia hubungi tadi pagi.
Tidak berbeda jauh dengan ucapan Candra.
"Nggak ada salahnya menekan ego, membuang gengsi demi kebahagiaan yang menjadi impian kamu." Ucap calon mama muda itu.
"Kalau kakak memang nggak doyan sama bule Turki, ya mau nggak mau harus hubungi mas duda itu. Siapa coba yang mau sama kakak selain dia di negeri ini?" Jawaban menyebalkan dari sang adik pun memiliki makna yang sama.
Dirinya harus menghubungi Gunadh.
Namun si*alnya, sejak tadi sudah lebih dari sepuluh kali ia mencoba menghubungi lelaki itu, tidak sekali pun teleponnya tersambung.
Kemana perginya pria yang sudah memporak porandakan hatinya itu? Tidakkah Gunadh tau, kisah mereka kini di ujung tanduk?
"Kamu di mana sih mas? Udah ikhlas ia aku jadi milik laki-laki lain?" Cicitnya menatap layar ponsel, dengan wajah sendu.
Waktunya tidak banyak, tiga hari lagi ia harus bertunangan dengan Aslan, bila sampai dirinya kalah dalam tantangan yang ia sepakati dengan Oma.
Drt
Drt
Ponsel yang ia genggam bergetar.
💌 : "Jangan lupa, besok kamu dan Aslan fitting baju tunangan kalian." Pesan dari wanita tua yang dulu sangat ia hormati itu, membuat Nandita menjatuhkan tubuhnya lantai kamar, di samping ranjang berukuran sedang miliknya.
"makin lama makin ngeselin sih nenek satu inii ...!" Nandita berteriak sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasa sangat frustasi dengan keadaan yang saat ini dialaminya.
__ADS_1
Ia merasa terjebak, dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Bahkan kedua orang tuanya yang paling pertama ia hubungi, juga seakan mendukung keinginan Oma yang ternyata sudah menghubungi mereka terlebih dahulu.
"Aku harus gimana sekarang ... Mas Gunaaaaaaadh datang donk ... Masa iya kita beneran harus pisah sih?" Lirihnya putus asa.
Gadis itu kembali meraih ponsel yang ia lempar ke atas kasur beberapa saat lalu.
"Aku kayanya save nomor bibik," ucapnya sendiri sembari men-scroll kontak yang tertera di benda pipih itu.
Senyumnya terkembang, saat mendapati nomor itu masih aktif.
"Halooo," suara wanita yang sudah lama tidak ia sapa terdengar dari seberang.
"Mmm halo bik, ini aku Dita," sahutnya dengan sedikit gugup.
Menunggu beberapa saat, wanita tua itu menjawab dengan suara sedikit bergetar.
Tanpa sadar bibir Nandita melengkung, senyum Masin terbit di tengah kegundahan hatinya.
"Aku baik bik, sekarang lagi kerja di negeri orang, jadi nggak bisa main ke sana dulu. Mmm bibik apa kabar?"
"Bibik baik non, semuanya baik. Hanya saja akhir-akhir ini tuan semakin sibuk. Ini aja beliau lagi nggak ada di rumah, sudah sejak kemarin katanya pergi keluar kota. Nggak tau kemana." Bik Asih menjelaskan dengan lancar tanpa diminta. Suaranya kini terdengar biasa. Wanita itu sudah bisa menguasai emosinya.
"Masih sibuk dia bik?" Ragu-ragu Nandita membahas soal Gunadh. Meski begitu, ia bisa sedikit bernafas lega. Sebab sejak tadi ia bingung merangkai kata seperti apa, untuk menanyakan prihal pria itu. Namun tanpa diminta, sang asisten sudah menjelaskannya.
"Gitu ya bik? Terus Mira gimana kabarnya?"
"Non Mira baik-baik aja non, hanya sesekali bibik liat dia melamun. Dia kan memang begitu, sama kaya tuan. Masalahnya selalu ia pendam sendiri, nggak ingin orang lain tau sisi rapuhnya." Bik asih asyik mengghibah soal majikannya.
Wanita paruh baya itu merasa sudah sangat dekat dengan Nandita. Seakan gadis yang kini tengah berada di negara asal bunga tulip itu, adalah nyonya rumah itu sendiri. Sehingga bukan masalah untuk ia menceritakan apa yang terjadi selama ini di rumah besar itu.
Nandita hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.
__ADS_1
Tidak tau harus memberi respon seperti apa.
Hubungannya dengan Namira tidak baik-baik saja, meski tidak bisa ia pungkiri, rasa sayangnya pada gadis belia itu begitu besar, sama seperti ia menyayangi Malikha, sang adik.
Namun ia jug harus tau diri, siapa dia di mata Namira?
"Eh ngomong-ngomong non mau ada perlu apa telepon bibik? Maaf dari tadi bibik ngelantur, nggak inget kalau non lagi jauh." Wanita itu terkekeh dengan sikapnya sendiri.
"Eh, ngg nggak ada kok bik ... Aku cuman mau nanyain kabar kalian aja. Udah lama kan kita nggak ngobrol ...." Sahutnya dengan sedikit gugup.
"Ya udah, kalau gitu aku tutup dulu ya bik, maaf ganggu kerjaan bibik ...."
"Ah nggak kok non, bibik lagi mau siapin sayuran aja ini, mau buatkan non Mira makan malam."
"Ya udah kalau gitu lanjut aja bik. Bibik sehat-sehat ya, jangan suka begadang. Masih suka nonton mba Andin sama mas Al nggak?" Goda Nandita membuat bik Asih tertawa senang.
"Udah jarang non, nggak kuat bibik. Lagian ceritanya mbak Andin sama mas Al nggak habis-habis, lama-lama bosen juga nonton mereka." Ucap wanita itu lagi.
Nandita pun ikut terbahak, mendengar penuturan bik Asih.
"Ya sudah bik, aku tutup dulu. Daaa"
"Ya non, jaga diri dan kesehatan di sana ya ...."
"Iya bik,"
Sambungan telepon dimatikan, Nandita kembali menarik nafas panjang.
Ia benar-benar merasa buntu. Tidak tau harus berbuat apa saat ini.
Akhirnya ia memutuskan mengirimi pesan pada Gunadh.
Berharap semoga pria itu membaca sebelum acara pertunangannya digelar.
__ADS_1