
"Aaaaaaaahhhh aku benci kamu nanditaaaaaaa" Teriak Candra dibalik kemudi mobil, yang ia kendarai dengan kecepatan tinggi.
Kilasan adegan romantis itu selalu hadir di depan mata. Mencabik hati, melumpuhkan akal sehatnya.
Cinta memang buta, tidak mampu melihat kebenaran meskipun yang terjadi sudah sangat jelas tidak sesuai dengan pra duganya.
Logika yang tertutup prasangka pun semakin membuat hati yang rapuh semakin terpuruk.
Tidak ada tempat untuknya berkeluh. Tidak ada pelukan mama yang akan bisa menenangkan hatinya. Lelaki yang ia harapkan bisa menjadi sandaran hatinya kelak pun, kini telah menorehkan kecewa padanya.
Saat fokusnya terganggu, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yg menyebrang tanpa menoleh kiri kanan.
Mobil dengan kecepatan tinggi itu membanting setir ke kiri hingga menabrak sebuah pohon besar hingga terdengar benturan keras.
Kemacetan pun terjadi, dan banyak orang yang marah karena menganggap pengendara mobil ugal ugalan sehingga mengganggu lalu lintas.
Bersyukur ada orang baik hati yang segera menghubungi polisi.
Karena korban bukan hanya pengendara mobil saja, melainkan pengguna sepeda motor yang hampir ditabrak itu juga mengalami luka-luka. Karena meskipun bukan ditabrak mobil, motor itu jatuh ke selokan karena sang pengendara terkejut.
Setelah semua dievakuasi ke rumah sakit terdekat, polisi segera menghubungi keluarga korban.
Salah satu petugas memeriksa ponsel Candra dan menghubungi nomor telepon di log panggilan teratas. Dan hanya Satya lah orang yang paling sering Candra hubungi.
Dering ponsel yang ada pada saku celana Satya, mengagetkan sang empunya. Ia yang saat ini tengah menemani Nandita di UKS, memutuskan keluar ruangan agar tidak mengganggu istirahat wanita itu.
"Ya Can ada apa?" Tanya Satya begitu sambungan terhubung.
Ia mengernyitkan dahi saat yang menjawab di seberang sana bukanlah suara Candra, melainkan suara seorang laki-laki.
"Ya saya sendiri" Sahutnya lagi
"Apa??!! Bagaimana bisa pak?"
Satya begitu terkejut saat petugas kepolisian menerangkan bahwa Candra saat ini tengah berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan.
"Baik pak, saya segera kesana. Terimakasih atas informasinya" Ucapnya kemudian sambungan telepon terputus.
Ya kembali masuk ke ruang UKS menemui Nandita, yang masih terlelap efek obat yang diminumnya. Perawat sekolah menerangkan bahwa Nandita kelelahan dan kekurangan cairan tubuh.
__ADS_1
Karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat gadis itu, Satya memutuskan menitip pesan pada perawat yang berjaga.
"Mbak nanti kalau Nandita sudah sadar, bilang kalau saya keluar sebentar ya. Ada urusan sebentar. Kalau dia mau pulang, tolong pesankan grab aja. Nanti motornya biar saya dan teman yang lain antar ke rumahnya"
"Baik pak, nanti saya sampaikan pesan anda, kalau Mbaknya sudah bangun" ucap perawat itu sopan.
"Terimakasih mbak, saya keluar dulu" Satya pamit meninggalkan ruangan itu, menuju rumah sakit tempat Candra dirawat.
🌟🌟🌟
Satya melangkah dengan tergesa begitu motor yang ia kendarai terparkir rapi di parkiran rumah sakit.
Ia segera menuju ruang informasi untuk menanyakan ruangan tempat Candra dirawat.
Setelah mendapat informasi yang lengkap, ia segera menuju ruang perawatan.
Di dalam ruangan itu, terlihat kening Candra diperban, begitu juga beberapa bagian tubuh lainnya yang mengalami benturan saat kejadian.
Yang membuat Satya merasa iba, kaki kanan Candra terlihat mengalami cidera yang cukup parah. Karena kaki itu dipasangi perban elastis Medicrepe yang biasa digunakan untuk mengatasi nyeri sendi, patah tulang, keseleo, dan mengurangi nyeri pada bagian tubuh tersebut.
'itu berarti kaki Candra patah atau keseleo?' Gumam Satya.
"Kenapa belum ada keluarganya yang datang kesini pak?" Tanya Satya merasa heran, karena hanya petugas kepolisian saja yang ada di sana.
"Ooh kalau begitu biar saya saja yang menghubungi adiknya" Satya berinisiatif menghubungi Kiara.
Karena dulu Candra pernah mengirim pesan singkat melalui ponsel Kiara, sehingga Satya pun menyimpan nomor itu ke dalam memori ponselnya.
Selang sejam kemudian Kiara datang bersama Bima. Dia tampak begitu terkejut, dengan musibah yang menimpa sang kakak.
Wajahnya sembab menandakan ia sudah menangis cukup lama. Tentu saja dari awal ia menerima telepon dari Satya, ia sudah menangis.
Bima Sampai merasa kesal sekaligus iba pada sang adik. Ia kesal karena ia harus menenangkan Kiara, sementara ia sendiri merasa khawatir dengan keadaan sang kakak. Namun ia juga paham, Kiara sudah menganggap Candra seperti pengganti orang tua bagi mereka.
Sebab hanya Candra yang selalu ada saat adik-adiknya memerlukan peran orang tua.
" makasi ya kak Satya sudah mau menemani kakak aku di rumah sakit" Ucap Bima sebagai perwakilan dari keluarga Candra.
"Pak polisi, saya juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih, karena sudah bersedia menjaga kakak saya. Dan mohon maaf karena kakak saya sudah menciptakan ketidak nyamanan di wilayah tugas bapak-bapak sekalian."
__ADS_1
Ucap Bima pada dua orang polisi yang masih setia berada di rumah sakit hingga saat ini.
"Sudah tugas kami mas memastikan mbaknya mendapatkan perawatan dan juga pendampingan. Berhubung tadi saya hanya bisa menghubungi mas Satya saja, jadi hanya beliau yang saya beri tahukan."
"Bagaimana kejadiannya pak? Kenapa kakak saya sampai seperti ini" Kiara akhirnya bersuara setelah merasa lebih tenang
"Mbak Candra mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Saat sampai di pertigaan dekat pasar, ada sepeda motor yang hendak menyebrang tanpa menoleh kanan kiri. Alhasil mbak Candra kaget hendak mengerem dan mengarahkan mobilnya ke kiri jalan. Karena mobil melaju dengan kecepatan tinggi, mbak Candra kesulitan mengendalikan laju mobilnya. Lalu mobil yang dikendarainya menabrak sebuah pohon besar. Pengendara sepeda motor itu pun kaget dan akhirnya terjatuh juga. Dan saat ini masih ditangani oleh tim medis di rumah sakit ini juga."
Kiara kembali menangis mendengar penjelasan petugas kepolisian. Ia tak mengerti apa yang melatar belakangi sang kakak, hingga mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Gadis itu memasuki ruangan sang kakak. Candra masih belum sadar, meskipun dokter mengatakan kalau semua baik-baik saja.
Namun Candra seperti enggan membuka matanya.
Di usapnya pelan tangan sang kakak yang tidak terdapat selang infus. Dikecupnya kening gadis yang selama ini selalu memanjakannya itu.
"Kak Andra bangun,,,, Kia disini temenin kakak" Ucap gadis itu.
Namun sayang tidak ada respon dari sang kakak.
"Kalau kak Andra di sini lama, Kia sama siapa dong di rumah? Bangun dong kak, Kia janji ga akan boros belanja lagi. Kia akan selalu dengerin apa yang kakak bilang, Kia akan turuti semua maunya kak Andra. Tapi kakak bangun dulu" Ucapnya sambil terisak.
Semua itu tak luput dari penglihatan Satya. Ia yang hendak masuk ke ruangan Candra urung melangkahkan kakinya, saat mendengar ucapan Kiara.
Timbul rasa prihatin dan simpati pada sosok Kiara dan Candra.
Hubungan kakak beradik yang sangat dekat pikirnya.
Di sisi lain, setelah menjelaskan secara rinci kejadian yang menimpa Candra, petugas kepolisian segera undur diri.
Tentu saja setelah memastikan pengendara sepeda motor yang ikut mengalami kecelakaan itu, juga sudah mendapat penanganan dan dijaga oleh sanak keluarganya.
"terima kasih pak polisi karena sudah membawa bapak saya ke rumah sakit ini. Tapi kalau boleh saya tau, siapa yang akan menanggung biaya perawatan bapak saya pak? Karena kami tidak memiliki biaya untuk ini. Atau saya bawa pulang saja bapak saya ya pak??" Ucap salah seorang anak pengendara motor tersebut.
"Kondisi bapak anda masih belum stabil, harus dilakukan perawatan dan penanganan yang tepat. Apalagi bapak anda sudah berumur, kita kurangi resiko yang mungkin akan terjadi. Jadi untuk sementara keluarga bersabar dulu untuk membiarkan bapak dirawat disini. Untuk biayanya nanti akan saya bantu urus mencarikan bantuan."
"terimakasih pak polisi,, terimakasih banyak. Semoga bapak sehat selalu dan dimurahkan rejekinya" Pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu merasa sangat senang, karena polisi tersebut mau mencarikan bantuan untuk biaya perawatan ayahnya.
Bima segera menghubungi kedua orang tuanya. Bersyukur mereka sudah berada di bandara, memang hendak pulang setelah perjalanan bisnis.
__ADS_1
Mereka berdua memutuskan langsung menuju rumah sakit, tanpa memindahkan koper-koper mereka terlebih dahulu.
Nanti biar sopir yang mengurus semua itu pikir mereka.