
Gunadh merasa frustasi sebab begitu sulit mendapat alamat rumah, tempat tinggal Nandita.
Berulang kali ia menanyakan pada Satya dan Candra namun mereka seolah kompak tidak menerima panggilannya. Bahkan Malikha yang ia teror sejak dirinya tiba di hotel pun, entah mengapa ikut berubah menjadi manusia menyebalkan bagi Gunadh. Gadis itu begitu sulit membagi informasi mengenai keberadaan sang kakak.
"Kenapa sesulit ini menemukan kamu di kota ini sayang?" Lirih Gunadh menatap foto sang kekasih, yang tersimpan di galeri ponsel pintarnya.
Ting
Sebuah pesan masuk dari dari Malikha, memberi alamat rumah yang di diami sang kakak bersama orang tua angkatnya.
💌 : "Sorry mas, ini alamatnya. Tapi untuk nomor ponsel kak Dita, aku nggak mau kasih tau. Mas berjuang manual aja ya 😁😁😁" Malikha menambah beban Gunadh dengan menolak memberi nomor ponsel Nandita saat ini.
💌 : " Thank's" balas Gunadh singkat.
Pesan lain masuk disaat bersamaan.
💌 : "Ini alamat tempat kerja si Dita. Coba aja cari ke sana. Tapi dia tiap Sabtu sama Minggu libur sih ... Kalau alamat rumahnya aku nggak tau, nomor teleponnya juga dari kemarin nggak aktif. Candra aja sampai uring-uringan nggak bisa ngobrol sama dia." Tulis Satya panjang lebar.
💌 : "Makasih" tak kalah singkat balasan yang Gunadh tulis untuk Satya, seperti halnya dengan apa yang dilakukannya pada Malikha.
💌 : "Yup, semoga berhasil 💪💪"
Balas satya.
Gunadh memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana yang ia kenakan.
Menarik nafas dalam, kemudian kembali menyusuri kota yang masuk dalam 10 besar, kota terpadat di dunia.
Menaiki taksi, pria itu berharap segera bisa bertemu dengan sang kekasih.
'Tunggu aku sayang ... Sebisa mungkin aku akan berjuang untuk kita kembali bersama. Maaf terlalu lama aku membiarkan kamu memeluk luka dan kesepian seorang diri. Maaf aku menjadi manusia tak peka, yang hanya menuruti apa yang kamu mau, bukan apa yang kamu butuh.' sesalnya dalam hati.
Rintik hujan mengiringi laju kendaraan umum berwarna kuning itu.
Musim semi yang indah, dengan banyaknya bunga yang mulai bermekaran, tidak sedikit pun memberi kebahagiaan pada jiwa pria itu.
Tiba di alamat yang dikirim Malikha, sopir itu menghentikan kendaraannya.
Dengan bahasa Turki yang sedikit terbata, Gunadh meminta sopir taksi itu untuk menunggunya sebentar. Ia ingin memastikan terlebih dahulu, apakah alamat yang diberikan Malikha padanya itu benar.
Lama Gunadh berdiri di depan pintu bangunan itu, sembari menekan bel. Namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Ingin bertanya seperti yang biasa ia lakukan di Indonesia, tapi ini di luar negeri. Ia ragu melakukannya.
"Tuan, apakah masih lama?" Sopir taksi itu menghampirinya.
__ADS_1
"Sebentar lagi, belum ada jawaban dari pemilik rumah " sahutnya, sembari mencari celah untuk dapat melihat ke dalam.
"Sepertinya rumah ini kosong. Anda tidak akan dibukakan pintu, sebab tidak ada orang di dalam." Pria dengan tinggi yang hampir sama dengannya itu memberi Gunadh pendapat.
"Lalu kemana saya harus mencari tahu orang yang tinggal di sini, saat ini ada di mana?" Ucap Gunadh lemah.
Hari sudah beranjak sore, waktu yang ia miliki tidak lagi banyak untuk berjuang. Esok adalah hari di mana gadis itu akan disandingkan dengan pria lain. Gunadh merasa sangat frustasi.
"Lebih baik anda datang besok saja. Mungkin mereka sedang pergi berlibur atau ada keperluan." Sopir itu lumayan ramah, mau menemani dan meladeni Gunadh.
"Saya sudah tidak punya cukup waktu, ini hari terakhir yang saya miliki untuk bisa menemukan orang yang saya cari." Tanpa sadar, Gunadh menceritakan kesedihannya pada orang yang baru ia kenal.
"Ooh menyedihkan sekali. Tapi mau bagaiman lagi? Menunggu di sini juga sia-sia bukan?" Sopir itu melirik jam di tangannya.
Gunadh paham, sopir taksi itu pasti memikirkan setoran. Ia tidak bisa menahan terlalu lama pria itu di sini. Namun membiarkan dia pergi begitu saja, ia juga merasa ragu. Bagaimana nanti kalau ternyata benar rumah itu kosong?
"Tolong temani saya, nanti akan saya bayar tarif anda selama satu malam. Berapapun jumlahnya." Pinta Gunadh, membuat sang sopir merasa tidak tega.
"Hmm baiklah."
Mereka akhirnya menunggu beberapa saat. Lelah berdiri, Gunadh dan sopir taksi itu duduk di pinggir pagar rumah tersebut.
"Maaf tuan, sebenarnya siapa yang anda cari di tempat ini?" Sopir itu tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya. Apalagi melihat Gunadh yang gelisah sejak tadi.
Gunadh merasa dipermainkan, diolok-olok oleh orang-orang terdekat Nandita. Namun ia bisa apa? Dirinya kini berada diposisi sulit. Ingin marah, tapi masih membutuhkan bantuan mereka.
"Kenapa tidak menghubunginya saja? Bukan kah itu lebih mudah?"
Gunadh menatap sekilas sopir itu.
"Kalau saya tau nomor ponselnya, sudah sejak kemarin saya menghubunginya. Tidak menunggu saran dari orang lain untuk melakukan itu." Sahutnya ketus.
Bersyukur ia menemukan orang yang cukup sabar dan baik hati. Tidak seperti yang diceritakan orang-orang kalau penduduk asli Turki terkenal galak dan jutek.
Sopir itu membalas sahutan Gunadh dengan senyum masamnya. Ia menggaruk kepala meski tidak merasa gatal. Sekadar untuk menghilangkan rasa canggungnya.
Nada dering ponsel Gunadh, menghentikan obrolan keduanya. Gunadh sedikit menjauh saat menerima panggilan.
Sopir taksi itu menatap pria yang menjadi penumpangnya dengan rasa iba. Dari kegelisahan Gunadh, dapat ia rasakan kalau laki-laki itu tengah khawatir dan tidak berdaya.
"Pak bisa antar saya ke alamat hotel ini?" Ia menunjukkan nama hotel yang baru saja dikirim Satya sesaat setelah mereka mengakhiri obrolan.
"Oh tentu ..." Mereka bergegas kembali ke dalam mobil, kemudian sopir itu melajukan kendaraan tersebut.
__ADS_1
"Apakah tunangan anda ada di hotel itu?" Sang sopir tidak dapat membunyikan rasa penasarannya.
"Iya pak, besok dia akan melangsungkan pertunangan dengan pria lain di tempat itu." Sahut Gunadh dengan kepala tertunduk.
"APA?" Sopir taksi itu tentu terkejut. Kisah penumpangnya sudah seperti sebuah telenovela.
"Hhmm, dia akan bertunangan dengan orang lain di sini. Dan ini kesempatan terakhir saya untuk menemukan dan membawanya kembali." Sahut Gunadh dengan tatapan menerawang.
"Maaf tuan, dari mana anda tahu kalau dia akan bertunangan?"
"Dari keluarganya. Bahkan kata adiknya kedua orang tua kekasihku sudah terbang kemari untuk menghadiri acara itu." Jelas Gunadh.
Pria datar dan irit bicara itu, entah kenapa kali ini begitu lancar menceritakan kegelisahannya pada orang yang baru dikenalnya.
Hening,
Perjalanan 35 menit itu dilalui tanpa obrolan lagi.
Hingga mobil berwarna kuning itu memasuki area bangunan megah sebuah hotel berbintang.
"Tuan kita sudah sampai." Ucap sopir itu, sembari menyentuh lutut Gunadh yang ternyata tengah terlelap.
"Hah," Gunadh terkejut mendapati sentuhan di lututnya.
"Maaf tuan." Ucap sopir itu.
"Kita sudah tiba di hotel yang tuan maksud." Lanjutnya lagi.
Gunadh menurunkan kaca di sampingnya. Menatap bangunan megah tersebut dengan perasaan tidak menentu.
"Tuan,"
"Tunggu sebentar pak," ucapnya sembari memejamkan mata.
"Entah kenapa saya ragu untuk menemuinya saat ini." Ucap Gunadh lemah, merasa gagal dan tidak pantas.
^_________^^_________^^_________^
terimakasih yang masih setia mengikuti kelanjutan kisah GunTha 🙏🙏🙏
sembari menunggu up ku besok, bisa mampir ke sini juga ya ...
ke karya teman ku
__ADS_1