
Belum sempat ayah Darma menjawab pertanyaan Gunadh, seseorang sudah memanggil keduanya untuk kembali ke dalam ruangan sebab acara akan segera dimulai.
Tanpa berkata apapun lagi, akhirnya mereka berdua menuju tempat sebelumnya.
Gunadh harus berbesar hati, bahkan hanya sekadar berbincang sebentar pun begitu sulit untuknya.
"Yah ... Sampaikan salam saya untuk Dita, semoga dia bahagia. Saya permisi." Ucap Gunadh mengejutkan ayah Darma.
Tanpa menunggu jawaban pria paruh baya itu, Gunadh melangkah berbeda arah menuju pintu keluar.
Beberapa kali Ayah Darma memanggil namanya, namun laki-laki itu tak menoleh sedikit pun. Ia men-tuli kan telinganya, melangkah seolah tidak ada suara di belakang.
'Aku kira, aku bisa menghadapi ini sayang ... Tapi ternyata aku belum sehebat itu, untuk kuat melihatmu bersanding dengan laki-laki lain. Maaf, kembali aku menjadi pecundang. Aku telah kalah sebelum berperang.' Bisik hatinya, seolah berbicara pada Nandita.
Sakit, sesak, hancur, ia rasakan disaat bersamaan. Bahkan perpisahannya dengan Safira dulu, tidak meninggalkan rasa yang sesakit ini.
Bukan karena cintanya yang berbeda, tapi karena jalan perpisahan mereka yang tidak sama.
"Mas." Samar terdengar suara dari belakang, namun Gunadh mengacuhkannya,3ngiranitu hanya khayalannya saja.
"Mas Gunaaadh ...!" Suara yang sama, yang sangat ia kenal, berteriak memanggil namanya kembali.
Sejenak Gunadh menghentikan langkah, namun kembali ia tersadar, Tuhan tidak sebaik itu padanya.
__ADS_1
Nandita ada di dalam, sedang bertukar cincin bersama laki-laki lain. Tidak mungkin suara itu miliknya. Gunadh meyakinkan dirinya, kalau dia sedang berhalusinasi.
Melangkahkan kakinya kembali, Gunadh membunuh harapan yang sesaat lalu sempat menyala.
"Kenapa kamu harus hadir, kalau untuk pergi mas? Kenapa harus membawa harapan kalau untuk kamu kecewakan? Apa salahku? Kenapa takdir memberi rasa ini untukku? Membiarkan aku terluka berkali-kali sebab cinta yang aku miliki untukmu." Suara lantang dari belakang tubuhnya, begitu nyata.
Jantung Gunadh berdegup kencang. Mendengar suara itu begitu tajam menusuk hatinya, ia sadar tidak sedang mengkhayal saat ini.
"Untuk apa kamu datang? Apa ini cara kamu menghukum ku? Tidak kah ada sedikiiit saja rasa kasihan padaku? Kenapa harus sekejam ini?" Lirih Nandita lagi.
Sekuat tenaga pria itu melawan ledakan emosi, yang siap menggulungnya. Ia membalikkan tubuhnya meski terasa berat.
Sosok gadis yang amat ia rindukan, berdiri dengan gaun indah menjuntai menutup kaki.
Begitu cantik, dengan kulitnya yang semakin putih, namun tatapan terluka dan putus asa di matanya, membuat hati Gunadh teriris perih.
"Maaf sudah membuat kamu begitu tersiksa, karena telah memilih aku sebagai laki-laki yang kamu cinta. Maaf sudah menghadirkan begitu banyak luka, meski aku tidak sengaja melakukannya. Aku datang bukan untuk pergi, aku ingin meraih hatimu kembali. Tapi aku tidak bisa menantang takdir ...."
"Bukan tidak bisa mas! Tapi kamu tidak berusaha." Belum selesai ia berkata, Nandita sudah memotongnya. Tatapan terluka gadis itu, berubah menjadi tatapan kemarahan.
Nandita menarik sesuatu dari jari manisnya.
Sudah cukup rasanya ia mencurahkan segala perasaan yang ia pendam selama ini.
__ADS_1
"Mungkin benar ucapanmu mas, meski pun salah, aku akan menganggapnya benar. Takdir kita memang harus berpisah."
Nandita meraih tangan Gunadh, meletakkan benda mungil di telapak tangan laki-laki itu.
"Terimakasih telah menemaniku selama ini. Terimakasih telah menjagaku melalui cincin ini. Hari ini, orang lain menawarkan akan menjadi pelindung baru untukku. Aku melepas ikatan darimu. Berhenti berharap, suatu saat kamu hadir mencari aku. Setelah ini, aku adalah Nandita yang baru. Tidak lagi Nandita yang berharap bisa menjadi laut untukmu." Ucap gadis itu, dengan suara bergetar.
Mencoba tegar, tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang yang berhasil memporak porandakan hatinya, namun rasa sakit yang menghimpit dadanya membuat lelehan air mata tidak dapat ia tahan.
Dengan kasar ia menyeka pipinya, tidak perduli meski riasan di wajahnya akan rusak.
"Terimakasih untuk semua pelajaran hidup yang kamu berikan untukku. Semoga kamu bisa menemukan wanita yang tepat untuk mendampingi mu kelak."
Nandita berbalik, ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun tubuhnya terperangkap dekapan Gunadh yang begitu erat.
"Lepas mas ...!" Ucapnya meronta.
"Berapa banyak waktu aku lewati, dengan tersiksa karena merindukanmu? Tahukah kamu, aku menghitung tiap hari yang berganti, berharap bisa bertemu kamu. Siapa yang harus aku salahkan? Aku memberimu waktu untuk bisa menata hati, bisa menyembuhkan luka, bisa memaafkan segala kesalahan yang tanpa sengaja aku lakukan. Aku menunggu waktu yang tepat, untuk bisa membawamu kembali dalam hidupku. Memastikan tidak ada lagi masa lalu yang akan membuat hubungan kita hancur. Memastikan anakku menerima kamu dengan hati yang tulus, agar kamu nyaman berada di sisiku. Tapi apa kenyataan yang aku dapat? Setelah semua persiapan itu, setelah sulitnya aku menemukan kamu di negeri asing ini, aku mendapati waktuku telah habis untuk dapat meraihmu kembali." Ucap Gunadh panjang lebar.
"Kenapa begitu sulit untuk kita bertemu? Kenapa tidak mengabariku? Bukankah kamu tahu nomor ponselku? Apa aku harus menyalahkanmu saat ini?"
"Aku sudah menghubungimu berulang kali mas, mengirim pesan berpuluh kali, tapi tidak pernah ada balasan hingga kini." Nandita melepas dekapan Gunadh dengan paksa, namun sebelum tubuhnya berhasil lolos dari pria itu, suara tepuk tangan dari dalam hotel terdengar oleh keduanya.
"Hebat sekali, apa yang harus aku jelaskan pada tamuku, soal kejadian ini? Tidakkah kalian bisa menahan diri sebentaaar saja, hingga acara ini berakhir?" Suara Aslan terdengar dingin, menatap tajam ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Seketika Gunadh melepas pelukannya.
Nandita berlari mendekati Aslan, mencoba memberi penjelasan pada laki-laki itu.