
Adakah hal yang lebih sakit, dari melihat seorang yang kita sayang, terbaring tak berdaya antara hidup dan mati?
Semarah apapun Mira terhadap Safira, dia tetaplah seorang anak yang mengharapkan kasih sayang mommy-nya.
Sebenci apapun Mira terhadap tingkah laku Safira, di sudut hati terdalamnya, tetap ada nama wanita itu, yang diam-diam selalu ia rindukan.
Apakah dia gadis yang plin-plan? Sebentar benci hingga tidak ingin bertemu lagi, namun detik berikutnya ia menangis tersedu begitu takut kehilangan.
Tapi itulah yang ia rasakan. Segala marah dan bencinya, seketika menguap saat melihat kondisi sang mommy yang tidak berdaya seperti saat ini.
"Sayang, semua akan baik-baik saja ... Percaya sama Daddy. Sebentar lagi mommy kamu pasti akan sadar, dan kamu bisa menjenguknya." Hibur Gunadh yang merasa kasihan, melihat Namira tidak berhenti menangis sejak baru tiba di rumah sakit.
"Ya Mira, liat mata kamu udah bengkak gitu. Nggak cantik nanti diliat sama mommy kamu. Dikira Daddy kamu nggak urus anaknya lagi," goda Nandita mencoba mencairkan suasana.
Mira tersenyum tipis, berusaha sebisa mungkin menuruti ucapan dua orang dewasa yang menemaninya itu.
Hingga kurang lebih empat puluh menit mereka lewati dengan menunggu, barulah tim medis yang menangani Safira keluar dari ruang dimana wanita itu berada.
"Bagaimana kondisinya, dok?" Tanya Gunadh saat seorang dokter menghampirinya.
"Saat ini kondisi pasien mulai stabil, kita tunggu saja, semoga semakin membaik lagi kedepannya."
"Apa aku boleh temuin mommy aku, dok?" Namir yang tidak sabar, langsung ikut dalam percakapan Daddy-nya dangan sang dokter.
"Mohon bersabar dulu, ya ... Nanti kalau sudah memungkinkan untuk ditemui, pasti kami akan ijinkan. Untuk saat ini, pasien harus benar-benar dijaga agar tidak mengalami guncangan atau gangguan apapun dari luar." Terang dokter itu lagi.
Wajah Namira yang semula berbinar penuh harap, kini kembali diredupkan oleh larangan dokter yang menangani mommy-nya.
Bahunya melemas, ia kembali duduk di kursi ruang tunggu, tepat di depan pintu masuk ruang ICU.
__ADS_1
Tangisnya kembali pecah, tanpa bisa ditahannya lagi.
Kenapa begini nasib yang harus dia lewati? Tidakkah takdir berbelas kasih memberikan dia kebahagiaan saat ini?
Kenapa begitu mahal sentuhan kasih dari sosok yang melahirkan, ia rasakan?
Nandita menghampirinya. Tidak lagi mencoba membujuk, hanya menemani gadis belia itu menumpahkan kesedihannya.u
Mungkin dengan menangis, bisa meluruhkan sesak yang membelenggu dada gadis belia itu.
Waktu merayap begitu lambat bagi Mira. Detik demi detik menunggu, sungguh membuatnya tersiksa. Hingga senja berganti malam, gadis itu masih menunggu agar diijinkan masuk menemui sang mommy.
"Sayang, makan dulu ya ... Dari tadi lho kamu ngga makan apa-apa." Bujuk Nandita khawatir.
Namira hanya menggeleng. Entah kemana perginya rasa haus dan lapar itu. Rasanya Namira tidak membutuhkan apapun untuk lambungnya saat ini.
"Mira, makan dulu nak. Biar Daddy ngomong sama dokter, agar mengijinkan kamu masuk." Putus Gunadh akhirnya.
"Bener Dad? Apa dokter kasih ijin?"
"Ya ini Daddy usahakan. Mangkanya kmu makan dulu, kalau kmu nggak mau makan, Daddy nggak akan ngomong sama dokter." Ancam Gunadh pada sang putri.
Akhirnya, meski makanan yang masuk ke mulutnya begitu sulit ia telan, Namira tetap memaksakan dirinya untuk menelan semua makanan itu. Demi bisa bertemu dengan mommy-nya.
🌟🌟🌟
Perlahan gadis itu melangkah mendekati ranjang pasien. Namira yang sudah menggunakan pakaian khusus yang disediakan dokter, mencoba menguatkan hati saat dirinya semakin dekat dengan sosok yang berbaring di depannya itu.
"Mom ...." Panggilnya lirih, menyentuh tangan kecil tanpa daging tersebut.
__ADS_1
"Mommy bangun, ini aku Mira. Mommy cepat sadar, aku kangen." Ucapnya parau, menahan tangis.
Safira tidak memberi respon apapun, matanya masih tertutup rapat.
Mira memerhatikan sekelilingnya. Banyak sekali alat medis di ruangan itu, yang sebagian terhubung langsung ke tubuh mommy-nya.
"Mom ... Sebenarnya mommy sakit apa?" Tanya gadis itu lagi, namun tetap hanya alat-alat medis yang menyahuti setiap pertanyaan gadis belia itu. Sementara Safira, seolah nyaman dalam tidurnya, sama sekali tidak memberi reaksi apapun.
Waktu terus berputar. Detik, menit, jam, dan hari terlewati begitu saja. Namun kondisi Safira masih tetap sama. Namira tidak pernah lelah mengunjungi wanita yang melahirkannya itu, setiap kali pulang sekolah. Bahkan tiga sahabatnya beberapa kali ikut menemaninya di rumah sakit.emberi dukungan pada gadis belia itu.
"Daddy, nanti aku langsung ke rumah sakit ya." Pamitnya saat mereka tengah menikmati sarapan.
"Iya, tapi jangan lupa kamu jug harus menjaga kesehatanmu sendiri. Daddy nggak mau kmu sampai sakit karena kelelahan."
"Iya Dad ... Aku akan jaga diri kok. Mmm Dad ...." Namira menggantung ucapannya, membuat sang Daddy penasaran.
"Kenapa?" Tanya Gunadh, mengentikan suapan nasinya.
"Makasih ya, udah mau biayain pengobatan mommy. Makasih juga udah ijinin aku untuk tetap jaga dia." Ucap Mira sendu.
"Kamu kenapa harus ngomong seperti itu? Jangan terlalu banyak mikir yang berlebihan, Mira ... Udah sekarang kamu berangkat sekolah ya ... Hati-hati." Sahut Gunadh, yang sudah bangkit dari tempat duduknya.
^_________^^_________^^_________^
sedikit lagi GunTha akan tamat ya ....
jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian di setiap babnya.
jangan lupa juga intip karya temen mamak ya ...
__ADS_1